
Nanda sudah siap untuk pulang bersama Nuga. Tetapi sebelum itu, Pras dan Padma mengajak Nuga berbicara terlebih dahulu soal bagaimana rencana mereka.
Ketiganya masuk ke kamar Padma yang merupakan ruangan paling luas, dengan satu set kursi tua berada di tengah-tengah ruangan. Nuga berpikir, mereka sedang berada di paviliun ibu suri. Semuanya antik dan berkilau, berbeda dengan ruangan yang lain.
"Mas ... saya nitip Nanda sekali lagi, dan tolong, sebelum kalian menikah secara resmi, jangan menjamah Nanda." Pras sampai menunduk demi memohon dengan sangat apa yang dititahkan oleh sesepuh desa soal nikah bawah tangan kemarin.
"Sesepuh telah mewanti-wanti, dan sedang mengusahakan agar kalian menikah dalam waktu dekat." Padma masih terlihat marah pada Nuga. Tapi tidak berani berkata lebih tinggi sedikit saja dari ini. Nuga juga punya sesuatu yang tidak bisa Padma singgung.
"Sebenarnya, ada yang ingin saya luruskan di sini, Bapak dan Eyang. Tapi sebelumnya saya minta maaf lebih dulu jika apa yang saya ucapkan ini membuat Bapak dan Eyang terkejut atau bisa saja semakin marah pada saya." Nuga menatap Padma dan Pras bergantian.
Pras dan Padma juga saling tatap sebelum mengangguk, membiarkan Nuga melanjutkan ucapannya.
"Saya sebenarnya menyukai Nanda sejak awal saya bertemu Nanda, tapi saya merasa tidak pantas mengingat usia dan status saya yang saya yakin, susah bagi Nanda maupun Bapak Ibu menerima." Nuga menjeda dengan mengambil napas.
"Kemarin, pas Nanda bilang mau dijodohkan, saya merasa bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Jadi ketika saya tau Nanda balik lagi buat nyari saya, jadi saya berani nikahi Nanda. Tidak peduli bagaimana Bapak sama Eyang dan keluarga membenci saya. Dan Nanda tidak hamil, Pak ... itu hanya alasan saya agar kalian mudah memberi restu. Saya takut jika saya tidak cepat, Nanda benar-benar akan kalian nikahkan dengan lelaki pilihan kalian."
__ADS_1
Padma membeliak. Pras menahan napas. Kemudian mereka beristigfar bersamaan.
"Maaf jika saya kelewatan kemarin, Pak ... Yang." Nuga menundukkan kepala. Lebih baik begini, soal hamil, itu tidak bisa dibohongi, sebab Nanda pasti tidak mau merealisasikan kehamilan dalam waktu dekat. Lebih baik dia sibuk menaklukan Nanda, daripada harus menghadapi tekanan dari keluarga Nanda yang mengerikan ini.
Mereka sudah menikah. Jadi bisa apa mereka sekarang?
Pras lemas seketika.
"Saya janji akan bahagiakan Nanda, Pak. Lagian, Bapak juga selalu mendorong saya agar lebih berani mengungkapkan perasan, hanya saya kelewat rendah diri di depan putri Bapak yang luar biasa itu. Bahkan Hima sampai sakit saat tau Nanda menikah dan tidak akan kembali ke rumah kami."
Itu benar, Pak Puji memang selalu menjodoh-jodohkan Nanda dengannya. Ini tidak bohong, hanya ditambah-tambahin sedikit. Astaga ....
Bagi Pras, membatalkan pernikahan akan membuat hidup Nanda makin sulit. Dan jujur saja, melihat sikap dan karakter Nanda, sedikit mustahil jika sampai dia melanggar batas yang selalu dia tegaskan pada Nanda.
"Enak banget kamu putusin begitu!" Padma meraung tidak terima. "Kalau ini hanya pura-pura... sebaiknya pisahkan mereka dan balik lagi sama Diwa! Sesuai sama perintah Almarhum Bapak, Pras!"
__ADS_1
"Buk, sekali aja dengar aku!" Pras membentak, seraya menoleh ke arah Padma, membuat Padma diam seketika. "Biar Nanda tidak tinggal di sini. Rumah ini akan diwarisi Yuna yang sebentar lagi bercerai dan sudah dipecat dari pekerjaannya. Yuna akan ngemong kita, nanti. Berhenti gadang-gadang Nanda jadi apa yang Ibuk mau. Nanda punya impian, biar dia disana meraihnya. Setidaknya sekarang, Nanda sudah punya suami yang akan menjaganya, saya bisa lega melepas Nanda di sana!"
Padma terkejut dua kali. Pantas Yuna tidak buru-buru balik ke Jakarta, rupanya begitu!
"Ndak mau Ibuk sama Yuna! Dia kasar dan angkuh!" Padma membuang muka dengan perasaan kecewa.
"Itu karena Ibuk selalu membanding-bandingkan mereka. Yuna begitu karena dulu Ibuk memanjakan Yuna. Baru setelah Diwa milih Nanda, Ibuk baru melirik Nanda, kan?" Pras seakan tidak kuasa lagi menahan kemarahannya.
Padma berkaca-kaca. Ucapan Pras benar. Dulu dia berharap, Diwa memilih Yuna yang pintar dan cantik, tidak tahunya dimata Diwa, Nanda yang pemalu dan tidak begitu pintar itu jadi pilihan Diwa. Lelaki dari keluarga yang begitu dihargai oleh Padma dan suaminya.
"Sekarang berangkatlah, Mas ... Bapak titip Nanda. Untuk pernikahan, jika memang tidak ada masalah, Bapak bisa urus dan akan Bapak kabari secepatnya." Pras berdiri dan membawa Nuga keluar kamar Padma.
Ini langkah terakhirnya membebaskan Nanda dari kekejaman keluarga ini. Dia tidak peduli, asal Nuga menyayangi Nanda, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat dirinya tenang.
*
__ADS_1
*
*