Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
67


__ADS_3

"Shalat dulu, baru sambung tidur lagi."


Begitu Nanda bangun jam sembilan malam, Nuga sudah rapi. Tampaknya pria itu akan pergi ke suatu tempat. Mata Nanda yang setengah terbuka melirik Nuga dari atas ke bawah.


"Om tadi kemana? Kok lama banget pulang dari mushola? Sekarang mau pergi lagi dan aku nggak diajak?" Nanda protes. Dia belum pernah ditinggal sendirian di rumah—yang benar-benar sendirian, biasanya ada masih Nur atau Hima. Dan dari Magrib, dia ditinggal sampai ketiduran, lalu sekarang dia dibangunkan untuk ditinggal lagi?


"Mana kalau udah dibangunkan begini aku nggak bisa tidur lagi!" Nanda merosot turun sambil mengucek mata. Badannya lemas dan lelah. Digarap Nuga bak sawah, diuleni bagai adonan donat, membuat tulang Nanda terasa lunak. Tidur juga tidak membuat tenaganya pulih.


Nanda mendorong tubuh Nuga kasar saat melewatinya.


Nuga terkekeh, lalu menggendong Nanda begitu saja seolah Nanda adalah kapas, menuju kamar mandi. Meski kesal, Nanda diam saja. Dia tahu ini tidak baik, tapi bodo amat. Dia lelah sekali, mau meronta juga tidak ada tenaga. Jadi dia dengan santai melingkarkan kaki di pinggang Nuga, memeluk erat leher pria itu dan menjatuhkan kepala di ceruk leher Nuga.


"Dasar koala! Lelet dan tukang tidur!" Nuga gemas. Nanda ini punya dua sifat yang sangat aneh. Dia energik, sekaligus mageran. Ini mode mager dan pasrah, pas lincah, dia dan Hima bisa jadi pasangan yang pas buat merobohkan rumah.


Nuga menyalakan kran air panas, lalu duduk di tepian bak, memangku Nanda seperti memangku Hima. Mengelus punggung Nanda dengan lembut dan memijat di bagian pundak.


"Om, kalau aku Om begini kan terus, bisa jadi bakpao daging lama-lama akunya." Nanda mengatakan itu dengan suara lemas dan serak. Nuga terkekeh, lalu menjauhkan tubuh Nanda dari badannya.


Di tatap lekat wajah Nanda yang mengantuk dan berantakan oleh rambutnya yang panjang. Disibak pelan sampai wajah Nanda yang tembam itu terlihat semua. Nuga mencuri satu ciuman di atas bibir Nanda.


"Kayaknya aku beneran harus minta maaf sama kamu atas semua pikiran burukku ke kamu, Nda." Nuga mengarahkan wajah Nanda tetap menghadapnya, memaksa mata wanita itu terbuka walau sedikit saja.


"Hem?!"


"Kamu polos sekali untuk urusan hubungan suami istri." Nuga melepaskan tangan dan meraih tuas kran untuk mematikan aliran airnya.


Nanda membuka mata, wajah Nuga yang manis terlihat samar. "Ya, nikah itu rumit kalau di rumahku. Harus siapin ini dan itu, sama suami harus patuh, dan aku nggak suka. Kenapa enggak suami yang sesekali layani istri? Makanya aku pengen pacaran dulu, bahas ini itu, biar pas nikah nanti, istri tetap bisa berkarir dan suami bisa bantu urusan rumah tangga. Kita sama derajatnya di rumah, gitu, Om!"


Nuga membuka kancing baju Nanda, setelah meletakkan tangan lemas istri kecilnya itu di pundaknya. Nanda pasti belum sadar benar dengan apa yang diucapkannya, jadi Nuga kembali tersenyum, meski apa yang dikatakannya pasti sebuah kejujuran.

__ADS_1


"Bukan hubungan yang begitu itu, tapi ...." Nuga mendekatkan bibirnya ke telinga Nanda. Jambang di dagu menyentuh kulit Nanda hingga Nuga merasakan geliat kecil Nanda yang kegelian. Tangan Nuga yang selesai membuka kancing baju Nanda segera menelusup ke pinggang kecil Nanda lalu memeluknya. "... bercinta."


Nanda membuang napas yang sempat ditahannya sebab geli di badannya tak kunjung hilang. "Aku emang nggak tau persisnya gimana, hanya tahu katanya sakit ... dan itu benar, ditambah melelahkan, dan capeknya nggak ilang-ilang. Apa semua orang begini, tapi karena di rumah mertua jadinya jaim?"


"Mereka sudah terbiasa pastinya." Nuga melepas kaitan brà Nanda. Melepaskan atasan itu untuk dilempar ke keranjang pakaian kotor.


"Hebat, ya, mereka! Ibuk bangun subuh, Istrinya Mas Bagas dan Mas Dika juga bangun pagi-pagi kalau di rumahku. Padahal malamnya digelut sampai 3 kali." Nanda turun lalu memutar badan untuk membuka semua pakaiannya. Untuk yang ini, Nanda tidak malu seperti kebanyakan orang walau di depan suaminya. Nanda cuek sekali. Pikirannya sungguh simple, bahkan sudah dimasuki juga diperlakukan seperti oreo, jadi untuk apa malu?


"Mereka hanya melakukannya sekali ... hanya pria spesial yang bisa melakukannya berkali-kali."


Nanda yang sudah masuk ke bathup mendongak. Membiarkan Nuga yang duduk di sebelahnya melihat tanda merah di dadanya.


"Om special kalau gitu?"


Nuga mengangguk sedikit narsis. "Paling spesial di kelasnya."


"Kelas duda tua, maksudnya?" Nanda jengah. Nuga terkekeh, meski geli di sebut duda. Padahal dia bukan duda lagi. Kalau tua itu iya.


"Aku keluar sebentar, ya ... mandinya jangan lama-lama!" Sembari masih terkekeh, Nuga mencium puncak kepala Nanda dan meninggalkan seonggok daging kesukaannya itu. Kedua orang tuanya sudah menunggu di bandara.


Nanda mengangguk. Perlahan memejamkan mata, dia mulai nyaman, sebab Nuga tak lagi galak padanya. Selalu dikasari, meski bukan bapak dan ibunya, membuat Nanda luluh dengan perlakukan lembut penuh kasih sayang. Setidaknya, dia tidak bersuamikan pria kasar, mengingat suami baginya adalah partner, bukan atasan yang wajib dihormati, bukan majikan yang wajib dilayani, dan bukan raja yang wajib disembah. Dia ingin punya suami yang mengayomi, menyayangi, dan pengertian. Axcel sudah punya semua itu, tapi Nuga memiliki poin plus ... tahu apa keinginan terpendamnya sebelum dia mengungkapkannya.


Pria dewasa selalu selangkah di depan pria seumuran. Nanda tak bisa memungkiri hal itu.


Di luar, Nuga baru saja membuka saat sebuah mobil putih yang Nuga kenal memasuki halaman.


"Mey ...," gumam Nuga, seraya terus mengamati mobil itu berhenti.


Mey turun dari balik kursi kemudi, mengabaikan Nuga dan membuka pintu untuk seorang wanita 60 tahunan. "Pelan-pelan, Buk ...!"

__ADS_1


Mey mengamit lengan wanita itu dan menutup pintu dengan pelan.


"Ya Allah, Mey ... makasih loh, udah jemput Ibuk sama Bapak. Kok bisa pas ya, ketemunya tadi, padahal kita ndak janjian." Dialah Bu Hapsari yang humoris dan santai. Berbeda dengan Pak Puji yang wajahnya 11 12 sama Nuga. Tubuhnya tinggi besar, kulitnya gelap, dan rambutnya putih. Wajahnya sama menyeramkan dengan Nuga.


"Ga ... Kamu ini kok malah ngelamun di situ! Sini bantu Ibuk masuk!"


Nuga tersentak lalu menghampiri ibunya. Dia berhenti disebelah Mey dan berkata pelan demi sebuah kesopanan. "Makasih, ya, Mey."


Mey sama sekali tidak tersenyum. Wanita itu dingin dan mengabaikan Nuga. "Kebetulan saja aku lagi di sana."


Nuga tidak tahu harus bagaimana menghadapi Mey. Mey seharusnya bisa bersikap lebih baik, tapi mungkin Mey merasa mengabaikan Nuga itu bisa membuat hatinya lega, jadi Nuga membiarkan saja. Itu bukan kewajibannya untuk membuat perasaan Mey membaik.


"Mana mantuku?!" Bu Hapsari menampar lengan Nuga kuat-kuat, sampai membuat Pak Puji dan Mey menoleh.


"Dia di kamar, sudah tidur kelamaan nunggu kedatangan Ibuk." Nuga sampai lupa mencium tangan ibunya, jadi dia bergegas melakukannya. Tentu sambil menghindari tatapan menyelidik Ibunya.


"Wes mbok garap wae, toh, bojomu iku! Makane keselen! Dasar wes ngebet temenan awakmu iku, Ga!" Sekali lagi, Bu Hapsari membuat suasana menjadi sangat tidak nyaman untuk Mey. Nuga sebenarnya tertawa geli saat menunduk, tapi begitu menegakkan tubuhnya, wajahnya kembali datar.


Bu Hapsari menatap anaknya lurus-lurus sambil menggeleng. "Ndak usah jaga imej di depan Ibuk, kamu sama Bapak kamu itu podo!"


Nuga dan Pak Puji saling tatap, tetapi belum memutuskan untuk saling sapa. Empat tahun mereka tidak saling berbicara, tidak saling menanyakan kabar, meski Nuga merasa ingin melakukannya lebih dulu, tapi dia tau, bapaknya bukan orang yang mudah saat berseteru. Hanya menanyakan kabar misalnya, tidak akan membuat pria yang hampir berusia 70 tahun itu luluh.


Yah, setelah Nanda berada di ranjangnya ... pasti semua akan membaik. Sebab hanya itu yang membuat seorang Puji mau kembali pulang ke tanah air.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2