Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
72


__ADS_3

"Itu yang dipakai buat jenang(dodol) dijemur tenanan sampai kering. Jemur yang bener, jangan sampai ketukar sama yang mau di buat tetel." Padmasari menunjuk orang yang menjemur ketan di halaman. "Nanti biar awet jenangnya."


Pandangannya beralih ke sekelompok orang yang menjemur padi, berjauhan dengan orang yang menjemur ketan. Telunjuknya menuding tegas ke arah mereka. "Diosak-asik! Nah, iya ... dibolak balik begitu, biar kering merata, nanti beras e bisa utuh-utuh, pas digiling! Nah, iyo ... bener begitu!"


Langkah Padmasari terayun ke sebelah rumah, dimana tetangga sedang mengupas bawang merah untuk dibuat bawang goreng. Ada yang sedang menampi beras, ada juga yang sedang mengupas kentang.


"Dipilah-pilah, loh, Yu ... Imah, Warti!" Padma sari duduk di kursi panjang yang tersedia. "Yang busuk-busuk dibuang. Pokoknya jangan buat malu keluargaku di depan keluarga besan."


"Siap Yang Ti," jawab mereka serentak seraya tersenyum. Sebagian besar mereka sudah hafal sifat Yang Ti, jadi apapun yang diucapkannya diiyakan saja. Mereka enggan membantah, atau berbicara banyak di hadapan Yang Ti, agar emosi mereka tetap stabil.


"Sedulur Ibu angkate Puji iku lak masih ono, toh? Masih hidup dan tinggal di sini, toh?" Yang Ti bertanya pada ibu-ibu itu, yang langsung diangguki pelan oleh mereka. "Tapi Puji ndak pernah nengok sedulure iku kan?"


"Pernah Yang Ti ... udah lama sekali tapine." Perempuan bernama Imah menjawab. "Udah jauh sih, mereka itu. Lha dulu mereka juga ndak baik sama Pak Puji, kok."


"Yo bener, lah, mereka ndak begitu baik." Yang Ti tersenyum sinis. "Orang Puji itu kegedean omong, ndak ada bukti juga. Sekarang anak-anak e loh, juga cuma jadi dosen sama jadi petani juga si Mas e Nuga. Wes, asline aku ndak setuju putuku nikah sama anak e Puji. Tapi Pras yang mekso-mekso."


Ibu-ibu itu saling tatap. Mereka menahan bibir agar tidak tersenyum penuh arti. Ini bisa jadi bahan gibah nantinya.


"Lha, nopo to, Yang Ti yang jadi masalahe? Nanda kayaknya sudah kadung cinta sama Mas Nuga, sampe kabur pas acara lamaran itu." Imah kembali berkata, bibirnya tersenyum penuh arti. Dia setengah memancing. Kejadian hari itu membuat tetangga menduga-duga. Sayang, keluarga Pras tidak ada yang memperjelas, jadi kebenarna berita itu masih simpang siur sampai sekarang.


"Ck ... kalian itu suka banget mancing-mancing." Padma sari berdiri, "Ndak benar kalau Nanda suka sama Nuga itu. Ini hanya salah paham. Mereka bisa nikah karena salah paham. Dan aku yakin, Nanda hanya terpak—"


"Ibuk!" Lestari sedikit berteriak memanggil ibunya. Tatapan wanita itu tampak kesal menatap ibu-ibu, lalu beralih ke Padma sari yang tak kalah jengkel ketika ucapannya disela.


Lestari tidak suka orang-orang—juga ibunya terus membahas Nanda. Mereka tidak tahu apa-apa, bahkan mertuanya juga tidak berusaha menutupi persoalan yang sebenarnya.


"Ada apa to, Les?" Padmasari bertanya ketus. Dia tidak suka ada yang mengganggu kesenangannya.

__ADS_1


"Paklik sama Bapaknya Diwa datang." Lestari menelan ludah saat mengatakan itu. "Nunggu Ibuk di dalam."


Mata Padmasari berbinar seketika. "Kok ndak bilang dari tadi toh!"


Langkah wanita tua itu sigap meninggalkan halaman samping menuju ruang tamu. Menyambut kerabat yang bersahabat lama dengan mendiang suaminya.


Sementara Lestari memberi tatapan ibu-ibu itu penuh peringatan agar tidak lagi kepo dengan urusan keluarganya.


Kepala Lestari rasanya ingin meledak rasanya memikirkan Nanda. Resepsi sebentar lagi digelar walau harinya belum pasti. Namun, segala persiapan telah dilakukan, undangan secara terbuka dinyatakan, bahkan untuk kali ini, mertuanya mengatakan tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun. Mertuanya itu sedang menunjukkan power di hadapan keluarga Puji Ananta, yang entah mengapa, Lestari merasa dia juga ikut dimusuhi mertuanya.


Lestari segera meninggalkan ibu-ibu itu untuk melanjutkan pekerjaan rumahnya yang lain.


"Tau ndak kenapa Yang Ti ndak suka sama Pak Puji?" Yu Minem yang sejak tadi menampi beras, mendekat begitu Lestari telah lenyap dari pandangan mereka. Ketiga orang itu menggeleng, lalu menunduk semakin dalam, saat Yu Minem berkata sangat pelan.


"Dulu, pas tau Lestari dekat sama Puji, orang tua Lestari langsung mengirim Lestari ke Padang, dan setelah setahun berselang, Lestari diminta pulang untuk menikah sama Mas Pras." Yu Minem menatap ketiga orang itu bergantian. "Aku rasa, Mas Pras menikahi Lestari karena dia sahabatan erat sama Pak Puji. Jagain jodoh sahabat gitu."


Warti yang paling kalem menyela. "Kaya apa juga, Lestari memang cantik. Wajar Pras demen, tapi yang paling disayangkan, menikah sama Pras, malah membuat Lestari yang cantik jelita itu jadi kaya orang penyakitan. Kurus kering begitu, lihaten toh, matanya yang selalu kelelahan itu. Kasihan kan?"


Mereka mengangguk setuju. Lalu Warti menambahkan.


"Ditambah dua anak perempuannya itu nasibnya mirip-mirip sama dia. Apa ndak semakin nyesek? Nanda milih duda, Yuna punya suami mapan juga ditinggalkan demi milih berondong muda yang pas-pasan. Gimana itu perasaan kalian kalau jadi Lestari?"


Mereka saling pandang, merasa kasihan pada Lestari, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya mereka bubar dengan wajah yang terbebani. Warti memang tahu segalanya soal keluarga ini. Jawabannya membuat semua orang diam dan iba pada akhirnya.


Didalam, Lestari sedang mengurus anak Yuna yang sejak semalam rewel karena sakit. Yuna sendiri pergi ke Jakarta dengan alasan ingin mengurus surat cerai dan harta gono gini. Selain itu, dia juga menyelesaikan urusan pekerjaan meski telah diberhentikan.


"Les ... ada tamu kok ndak dibuatkan minum, toh!" Yang Ti datang dan memasang wajah kesal pada Lestari yang menggendong anak Yuna.

__ADS_1


"Maaf, Buk ... Rachel rewel. Biar saya suruh Yu Warti aja ya, yang buat." Lestari bersiap memanggil Warti diluar, tetapu Yang Ti dengan ketus melarang.


"Wes, ndak usah!" Tatapan wanita tua itu langsung berubah galak dan tidak suka. "Biar Ibuk sendiri saja! Lagian mereka itu tamuku, biar aku sendiri yang ngajeni!"


Napas Lestari berhenti untuk sesaat melihat ekspresi marah sang mertua yang kini sudah membuang muka seraya melangkah menuju dapur.


"Papaa ...." Rachel merintih seraya memejamkan mata. Badan gadis kecil itu sangat panas dan tak kunjung turun.


Lestari menunduk, mengusap kening cucunya dengan sayang, lalu mengambil handuk basah untuk mengompres Rachel kembali.


"Papa masih kerja, Sayang." Lestari berbisik dengan air mata berderai.


Rachel memanggil nama Papanya sejak seminggu ini, tetapi meski diberitahu dua hari lalu, Seto, suami Yuna sama sekali tidak peduli pada anaknya. Hal ini membuat Lestari makin kelelahan dan tertekan.


"Dari dulu memang anakmu itu menyusahkan! Ndak pernah manut dan pembangkang. Itu hasil dari sikap keras kepala anakmu, dan sebentar lagi, Nanda juga akan dapat nasib yang sama! Kalian memang suka semaunya, ndak mau dengar apa kata orang tua!" Padma dengan bengisnya tak mempedulikan Lestari. Dia seakan menuduh semua salah Lestari. Padahal jelas Lestari bilang pada Pras untuk tidak melanjutkan pernikahan Nanda dengan Nuga.


Bukan tidak setuju pada pilihan Nanda, tetapi jika boleh, dia ingin hidup tenang di sisa umurnya ini.


Lestari jatuh terduduk dengan cucu digendongan, menatap kosong ke arah televisi yang menyala.


"Yaa Allah ... dalem pasrah."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2