
Meski badan terasa remuk, Nanda tetap bangun pagi. Meski tidak bisa memasak, dia tetap berdiri di depan kompor, menyalakan api, memasang panci, dan mengolah beberapa menu masakan. Telur ceplok dan nasi goreng.
Bu Hapsari pernah pulang beberapa kali, tetapi tidak pernah lebih dua hari. Nanda kenal dan ngobrol, tetapi karena kepulangan beliau hanya menghadiri acara, atau sibuk di pabrik, Nanda tidak pernah benar-benar tahu bagaimana Ibu dari suaminya tersebut. Yang jelas, Bu Hapsari baik dan banyak tertawa.
Tapi, semua orang berubah sikap, begitu status kita di mata orang tersebut berubah, kan? Bisa saja, saat masih menumpang, Bu Hapsari baik padanya, tapi setelah jadi menantu, bisa saja Bu Hapsari tidak menyukainya. Ya, kembali lagi ke rumus awal, Nanda terlalu biasa untuk orang luar biasa di rumah ini.
Insecure adalah nama lain dirinya, setelah Nda, atau panggilan baru Nuga untuknya. Little Peas.
Mungkin mata Nuga hijau saat melihatnya.
Hapsari Budiwiarti melihat menantunya sibuk di dapur. Satu yang tidak bisa dia lihat saat Nuga pertama kali melepas status lajangnya. Dia bukan menolak mentah-mentah, tapi menerima juga susah. Ini lebih ke keadaan saat itu. Dia mengerti keinginan suaminya, maksud Nuga, dan juga kondisi Arum. Tapi dia sendiri tentu tidak akan mampu membuat semua membaik tanpa ada keinginan dari pihak-pihak itu untuk berbaikan.
Nuga kelewat idealis, suaminya terlalu egois. Dia bisa apa selain meminta suaminya menepi. Nuga tidak bisa kemana-mana selain menunggu istrinya melahirkan. Hapsari senang, tapi tidak juga bisa lebih dari hal sewajarnya. Arum begitu baik, dia ikhlas menerima apapun perlakuan keluarga ini kepadanya.
Tidak mudah jadi Arum, tapi Hapsari juga tidak bisa membuat semuanya sesuai kemauan Arum. Pada akhirnya, Arum yang menyerah pada hidupnya. Hidup yang suram, yang mengerikan. Hapsari melihat dengan mata kepalanya sendiri, Arum yang lemah itu tidak pernah mengeluh atau menyalahkan Tuhan. Dia hanya mengatakan kalau dia lelah.
Mungkin tanpa menjatuhkan diri di hadapan ayah tirinya, Arum tetap akan pergi setelah beberapa hari melahirkan. Kondisi tubuhnya sudah rusak sangat parah.
Arum hanya tidak mau Nuga berkorban lebih banyak. Setelah menukar Hima dengan sejumlah uang yang luar biasa, Arum menutup mata dengan tenang.
Hapsari tahu, sebab dia mencari tahu semua tentang Arum. Dia tahu, sejauh apa ayah tiri mengalami ketakutan setelah kematian Arum. Hanya saja pria jahat itu bisa mengendalikan diri dengan baik di depan semua orang.
"Ada yang salah sama Nanda, Buk?" Nuga berdiri dibelakang ibunya dan berbisik. Membuat Hapsari kaget dan mengelus dada.
Wanita itu melirik sedikit ke posisi Nuga. "Harusnya Nanda jangan kamu biarkan masak! Sarapan pesen aja, toh kamu jarang sarapan."
Nuga mencibir Ibunya. "Siapa bilang, aku sarapan terus sejak Ibuk pergi."
Hapsari menoleh ka arah anaknya dengan tatapan tak percaya. "Kang ngibul!"
__ADS_1
Nuga terkekeh pelan. "Kan aku jadi Ibuk yang suka ngomel kalau nggak mau sarapan. Nanda dan Hima yang malas sarapan selalu aku awasi setiap pagi, jadi selain mereka terbiasa sarapan, asam lambungku jarang kambuh beberapa tahun ini."
Hapsari mencibir. "Bagus! Pola hidup akan berubah setelah ganti posisi, kan? Tanggung jawab kamu sebagai bapak, membuat kamu lebih dewasa dan teratur. Ibuk harus berterimakasih sama Arum yang udah menitipkan anaknya yang nakal ke kamu!"
Nuga tidak tahu, apa seorang ibu bisa dendam pada anaknya sendiri. Mungkin Nuga menyusahkan saat akan lahir jadi begitu melihat Nuga menderita, Bu Hapsari malah senang?
Hapsari meninggalkan Nuga dengan senyum senang. Pasti anak itu kesal sekarang.
Dia menyentuh lengan Nanda dan memutarnya. "Nggak usah terlalu baik jadi istrinya Nuga, Nda!"
Nanda membeliak, heran campur kaget.
"Bude ...." Nanda mengabaikan semuanya, justru dia segera mencium tangan Hapsari dan menanyakan kabar. "Bude pulang kok nggak kabar-kabar? Bude sehat, kan?"
"Biar jadi surprise buat kalian." Langsung dipeluknya Nanda erat-erat. Sejak kecil, perasaan Hapsari pada anak-anak Pras memang tidak berubah. Wajah innocent yang dimiliki Nanda terutama, Hapsari terpikat. "Ibuk, Alhamdulillah sehat, Nak."
"Maaf, Buk ... semalam aku nggak—"
Nanda tersenyum kikuk, atas pemakluman mertuanya ini. Apalagi setelah dia berpikir Bu Hapsari akan berubah sikap padanya. Dia sungguh malu.
"Masak apa?" Mengusap pipi Nanda, Hapsari langsung melongok ke atas kompor dimana masakan Nanda sudah siap, tinggal menunggu telur rebus yang biasa Nuga santap setiap pagi.
"Ehm ... itu." Nanda menunduk, meremas bajunya sendiri. Ya Allah, dia malu banget. Dihadapan mertuanya tentu masakan ini bukan apa-apa. Masakan yang di buatnya, tidak membutuhkan skill dan usaha yang luar biasa. "Nasi goreng sama telur mata sapi, dan telur ayam kampung buat Om, Buk."
Bu Hapsari excited tanpa dibuat-buat. Dia mendatangi masakan Nanda. "Ibuk bantu siapkan, ya."
Nanda mengangguk. Senang dan berdebar. Andai di rumah, pasti Yang Ti akan mencibir masakan Nanda. Ini diluar bayangannya. Perasaan Nanda jauh lebih baik dan lega sekarang.
Nuga melihat semuanya, di pertemuan pertama, dia yakin Nanda sedang menjaga image, walau itu tidak perlu, tapi Nanda melakukan semuanya dengan baik. Tak ada kesan tengil dan bar-bar. Semua aman dan Nuga lega.
__ADS_1
Dia segera duduk di meja makan. Menunggu masakan Nanda dihidangkan. Lain kali, dia yang akan menyiapkan sarapan untuk Nanda. Semoga kedua orang tuanya segera kembali lagi ke Melbourne, jadi dia tak sungkan menjadi pelayan untuk istrinya yang luar biasa menggairahkàn.
Tak berselang lama, Pak Puji juga sudah turun. Dia berdehem agar Nuga yang sedang memperhatikan ibu dan istrinya memasak, menyadari kedatangannya.
"Kapan ke rumah orang tua Nanda, Ga?" Pak Puji duduk di seberang Nuga. "Banyak yang harus kita bahas."
"Nunggu Nanda sempat saja, Pak." Nuga menghela napas lega. Bapak sudah bersikap normal kembali padanya. Meski belum ada kata-kata spesifik yang membawa mereka ke arah berbaikan, tapi obrolan ini jauh lebih santai dari terakhir kali mereka berbicara. "Nanda bekerja soalnya."
Pak Puji tersenyum. "Usahakan minggu ini, ya! Ke rumah Nanda harus diutamakan."
Nuga mengangguk.
"Panggil lagi Pak Sarwono, Ga. Ndak mungkin Nanda kemana-mana naik motor lagi." Puji Ananta tak bisa lagi menahan senyummya. "Bapak udah siapkan mobilnya."
Nuga bersikap biasa saja walau dia terkejut bukan main. Dia saja harus beli mobil sendiri, lah ... Nanda kok mudah sekali dapat mobilnya. Modalnya hanya harus jadi istrinya saja. Kurang asem memang si Nanda.
"Sopir Nanda aku, Pak. Nggak usahlah pakai sopir segala. Nanti biar aku ajari dia nyetir kalau memang diperlukan." Nuga segera beralih ke ponselnya. "Untuk mobil, Nanda juga nggak perlu-perlu banget, kok."
"Kamu ndak bisa nolak. Yang kami beri kan Nanda," ujar Pak Puji. "bukan kamu."
Nuga melirik Pak Puji sedikit kesal. Mungkin keinginan punya anak perempuan membuat bapaknya bersikap lunak pada menantunya.
"Kalau Nanda ingin tinggal sendiri, jangan sungkan bilang sama Bapak. Dia bisa milih, mau dibuatkan atau beli yang sudah jadi." Puji melanjutkan seraya meraih ponselnya. Dia sama sekali tidak peduli pada ekspresi kesal Nuga.
Nuga mendengus kesal. Astaga, mari diperjelas. Nuga sejak kecil dijejali kata-kata: kalau mau sesuatu harus usaha dan bekerja. Ya, Nuga naik motor, naik mobil, tapi itu miliki Bapak Ibunya. Dia hanya pinjam. Satu mobil dipakai untuk keluarga, dia harus mengalah jika Yan atau Bapak memakainya.
Nuga punya motor setelah dia lulus SMA. Dia punya mobil sendiri setelah bekerja. Buka cafe saja dia masih nyicil beli tempatnya. Ini apa-apaan? Rumah, mobil, lalu apalagi nanti? Dasar Nanda!
*
__ADS_1
*
*