Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
36.


__ADS_3

Mereka berdua diantarkan oleh Bagas yang memang akan berkunjung ke rumah keluarga Dani—istri Bagas, yang ada di Jakarta.


Setelah berbincang sebentar, mereka berdua pamit dan melanjutkan perjalanan. Hima sudah menyambut kedatangan Nda-nya, meski dia tidak diizinkan turun.


Melepas kepergian Bagas, Nanda sedikit menitikkan air mata. Bagas memang paling menyayanginya. Nanda paling dekat dengan kakak pertamanya ini.


"Ipar kamu sayang banget sama kamu, kelihatannya." Nuga mengomentari apa yang dilihatnya tadi pagi. "Hanya Yuna yang ada sedikit ketidakcocokan sama kamu."


Nanda menyeka matanya dengan kedua belah tangannya. Napasnya terhela berat. "Yuna makin parah sejak Diwa menolaknya. Meski agak aneh sih, soalnya Yuna yang nggak mau dijodoh-jodohkan, mungkin karena itu Diwa milih aku."


"Dulu kenapa kamu nggak cerita kalau alasan kamu ngebet pacaran itu hanya karena ingin merasakan punya pacar aja?" Nuga menatap Nanda.


Wanita itu tertawa, seperti sekarang membahas itu hanya membuatnya sakit. "Aku udah mau jujur, tapi Om selalu aja motong omonganku dengan gaya Om yang galak itu!"


Oke ... itu memang benar. Tapi ada kala dia melunak pada Nanda. Seharusnya dia bisa membaca situasi kan?


"Sorry untuk hal itu." Nuga sedikit tersenyum. Nanda benar, siapa memang yang berani padaya saat marah? Jelas hanya Nanda yang berani membantah. Yang lain langsung tertunduk dan patuh.


Nanda tertawa mengejek, dan itu membuat pinggangnya sakit. "Terlambat, Om ... semua permintaan maaf nggak berguna sekarang."


"Sebagai bentuk penyesalan, adakah yang bisa aku lakukan? Kita sudah menikah, walau kamu nggak nerima, dan kita nggak bisa selamanya menyangkal itu kan?"


Nanda sudah berbalik, tetapi segera berhenti mendengar ucapan Nuga. "Memang ... tapi melupakan seseorang tidak mudah, Om. Aku harus bisa menghilangkan Axcel dari hatiku, baru Om bisa masuk. Om tau itu sulit."


Nuga mengangguk. "Oke ... tampaknya kita akan masing-masing dulu sampai kamu bersedia menerima semua ini."


"Ya ...." Nanda menghela napas, "Senang Om bisa mengerti."


Nuga merasakan betapa dingin sikap Nanda itu. Dan sayangnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak masalah, asal Nanda bisa bebas dari kekangan keluarganya. Di sini, adat dan kebiasaan bisa disesuaikan dengan zaman. Nuga akui, Eyang Nanda berlebihan.


Kasihan Nanda. Dia sendirian memberontak. Hanya bisa lari, menghindar, dan ketika sudah tertangkap, Nanda hanya bisa mengharap belas kasihan. Beruntung pria yang dijodohkan dengan Nanda ini pengertian dan mau melepaskan.


***


"Nda nggak jadi nikah?" Hima menyela, wajah pucat gadis itu berbinar saat mendengar cerita Nanda di hadapan Nur dan Cica.

__ADS_1


"Jadilah, Hima ... gimana sih? Nikah sama Ayah lah." Nur berdecak seraya mengusap rambut Hima. Entah mengapa dua orang itu kesenangan Nanda menikah dengan Nuga.


Tapi Nanda menahan diri agar tidak mengomel pada Nur di depan Hima.


"Bapak ih, suka kelamaan kalau mikir. Udah tau Hima suka sama Nda ... ya, kan, Hima?!" Cica mengusap pipi Hima dengan gemas. "Jadi Hima sekarang nggak boleh nakal lagi, karena udah punya Nda."


Hima langsung merangsek ke perlukan Nanda yang langsung mengaduh karena lukanya ditekan Hima erat.


"Maaf-maaf, Nda." Hima ketakutan, lalu membuka baju Nanda yang langsung memperlihatkan luka di pinggang Nanda.


"Nggak apa-apa, Hima ... tapi sebaiknya jangan diulangi, ya. Sakit baget ini." Nanda menangis beneran, meski dia tertawa.


Hima meringis melihatnya, lalu meniup luka itu pelan-pelan. "Kata Ayah, kalau perih itu ditiup, jadi perihnya ilang."


Nanda geli sendiri, ingat tadi pagi juga ditiup hingga nyaris saja membuat Nanda ingin pingsan. Tiupan Nuga merambat dari pinggang ke seluruh tubuh. Ya ampun, dia memang awam sentuhan pria, tapi kalau diperlakukan begitu, Nanda tidak tahan.


"Udah, Hima ... Udah nggak sakit lagi, kok." Nanda menurunkan bajunya, lalu memangku Hima. Memeluk bocah itu di leher. "Besok Hima udah sekolah belum?"


"Kata Dokter harus istirahat seminggu paling tidak." Nur menyahut, "takut panasnya kambuh lagi."


"Ndak lah, dia hanya kena gejala tipes." Nur bergeser ke sisi Nanda, lalu berbisik. "Selamat atas pernikahan kamu, ya, Nda. Hihihi, sekarang aku harus panggil kamu Ibuk. Bu Nuga."


Nanda berdecak mendengar guyonan Nur. Dia benci diingatkan terus soal itu. Hanya dia sekarang tidak bisa terlalu terbuka pada mereka berdua. Cica merangkul Nanda. Mengusap punggung Nanda pelan.


"Cinta akan datang di waktu yang tepat, Nda." Cica berbisik. "Aku dulu juga begitu, meski nyesel sekarang, karena dia udah pergi saat aku lagi cinta-cintanya sama dia."


Nanda tercenung. Benarkah itu? Tapi sulit sekali kan? Nanda tipe orang idealis pada sesuatu yang dia inginkan.


Entahlah ....


Nuga barusan menyelesaikan beberapa panggilan dan pekerjaan yang masuk dan terbengkalai selama dia pergi. Mendadak dia ingat kalau Nanda kerap mengalami nyeri di ulu hati. Dia takut Nanda mengalami luka serius dan belum sempat terdeteksi, sehinggga Nuga bergegas menuju kamar Nanda yang berada di sebelah kamar Hima.


Ketika dia membuka pintu, terdengar suara tawa dari dalam. Seperti biasa, Nanda selalu memberi suasana meriah pada rumah ini.


Namun, ketika Nuga masuk, tawa itu lenyap berganti ketegangan menyelimuti.

__ADS_1


"Maaf ganggu, tapi Nda harus ikut Ayah sebentar." Nuga sedikit tersenyum, lalu mendekat ke ranjang. Dimana Nanda berada di tengah, diapit begitu posesif terutama oleh Hima.


"Kemana, Yah?" Tentu Hima lebih dulu bertanya, mewakili semua keingintahuan tertahan dari yang lain.


"Nda harus diperiksa lagi lukanya, biar cepet sembuh." Nuga menatap Nanda lamat, lalu mundur. "Aku tunggu di luar."


Nur segera berdiri ketika Nuga keluar, lalu membantu Nanda berganti pakaian. "Cepet, Nda ... entar Bapak marah lagi."


Nanda tidak bisa cepat tapi berusaha, lalu berjalan sendirian ke mobil, dimana Nuga telah menunggu.


Nanda tidak berusaha membuka obrolan apapun sepanjang perjalanan ke rumah sakit dimana dia dirawat kemarin, sehingga suasana mobil menjadi sangat sunyi.


Sebenarnya itu membuat Nuga tertekan, ternyata Nanda yang ceria jauh lebih menyenangkan.


Setelah mendaftar, Nuga dan Nanda duduk di ruang tunggu dengan menjaga satu bangku kosong di antara mereka.


"Aku ke toilet dulu." Nuga tidak tahan, astaga ... bicara apa memangnya untuk mencairkan kebisuan Nanda. Nuga tidak punya bahan, dan Nanda tampak nyaman dengan sikap diamnya.


"Nitip ponsel, ya." Nuga mengulurkan ponsel yang langsung diterima begitu saja dan dimasukkan ke dalam tas.


Nanda mendengus pelan sebagai jawaban.


Dia baru menyadari saat meraba isi tas salempang yang dia bawa, bahwa sekarang dia belum punya ponsel lagi. Nanda menghembuskan napas keras-keras. Astaga ....


Saat dia sedang kalut, mendadak seseorang mengetuk pundanya dua kali.


"Mbak istrinya Pak Nuga?" Otomatis Nanda mengangguk—sejenak Nanda ngelag, tapi kemudian dia berpikir bodo amat. Terserahlah.


"Saya Yessa, teman almarhum istri Pak Nuga," ucap wanita bertubuh ramping itu seraya mengulurkan tangan. "Oh, ya ... dimana putrinya Pak Nuga, Mbak?"


Nanda kali ini benar-benar terkejut melihat penampilan Yessa. Cantik dan tampak cerdas. Kalau temannya begini, Arum pas muda seperti apa cantiknya? Astaga ...!


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2