Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
34


__ADS_3

Nanda mengusap air mata ketika Nuga masuk kamar, lalu berpura-pura mengambil air untuk membasuh muka. Ini tidak nyaman rasanya, dia ingin ke kamar mandi saja. Ini semua akan membuat kasurnya basah.


"Mau aku antar ke kamar mandi?"


Memangnya apa yang tidak diketahui Nuga soal Nanda? Bahkan dia lapar saja, Nuga bisa melihat dari gestur wajah Nanda yang memang jujur sekali. Nanda tidak bisa bohong dihadapan Nuga yang telah berpengalaman.


"Kalau nggak kuat, aku gendong."


Nanda hanya melirik sekilas. Dia mendengus. "Nggak perlu!"


Nuga meletakkan sarapan di ranjang yang berseberangan letaknya dari posisi Nanda duduk. Kemudian mendekati Nanda, untuk menarik kain kecil setengah basah itu dari tangan Nanda.


"Berbaring aja, biar aku yang bantu!"


Nanda mengangkat wajahnya, sampai bertemu tatap dengan Nuga yang membuat Nanda malah panas dingin. Tatapan galak itu sedikit terlihat ingin melindungi. Ada rasa hangat menguar dari sorot mata pria itu.


Nanda—terlepas dari kemarahan yang telah Nuga ungkapkan, tetap merasa Nuga peduli padanya. Dia tahu, tapi dia hanya sedang ingin merasa bebas. Bebas tanpa ada lagi kekangan yang mengikatnya.


Memilih Axcel juga bukan tanpa alasan. Menikah dengan pria modern dan keluarganya tidak terikat adat menjadi impian Nanda. Tidak harus Axcel sebenarnya, tapi bukan Nuga juga.


"Pakai ini!" Nuga merentangkan handuk yang diambil dari lemari Nanda untuk menutup tubuh Nanda. Kemudian berbalik tanpa diperintah lebih dulu.


Nanda sedikit tersentak, tetapi dia menurut. Tangannya gemetar, badannya berkeringat banyak meski udara di sini sangatlah dingin.


Agak lama, akhirnya Nanda mampu bersuara. "Aku bisa sendiri, Om ... nggak usah bantu aku."


Nanda menelan ludah, menatap punggung Nuga yang menurutnya punya mata.


"Nanti bantu ganti perban aja," lanjutnya semakin lirih.


"Nggak mungkin aku akan keluar kamar dan bilang aku nggak bantuin kamu! Udah jelas Ibuk naruh air di sini sengaja agar aku yang bantu kamu bersih-bersih." Nuga menduga, Nanda tidak mengerti maksud ibunya. Alasan mengapa harus Nuga yang berada disini dalam suasana canggung yang tak terduga.

__ADS_1


"Kalau gitu, Om jangan berbalik. Diam aja disana!" Nanda sedikit kesal. Dia tidak punya pilihan. Apa sebenarnya mau orang di rumah ini?


Nuga hanya mendengus tanpa menjawab. Kalau tidak mau dibantu ya, sudah ... pikirnya.


Meski tremor, Nanda bergerak cepat membasuh badannya, yang memang tidak bisa terkena air secara langsung. Tangannya tidak bisa leluasa menjangkau punggung. Sakit dan nyeri jika Nanda memutar badan.


Seakan mandi ditempat terbuka, Nanda berulang kali harus menahan diri agar tidak meneriaki Nuga jika pria itu bergerak sedikit saja, sehingga Nuga benar-benar diam dan bersedekap seperti patung mandor.


"Udah?!"


"Udah ... tapi belum pakai baju." Nanda melilitkan handuk di badan. Sebenarnya, mengelap badan seperti ini juga percuma, Nanda malah seperti habis maraton saking tegangnya.


Nuga bergerak ke lemari, seraya menggumam kesal. "Sama aja boong kalau belum pakai baju!"


Nanda memunggungi Nuga saat pintu lemari terbuka, agar pantulan dirinya tak terlihat di sana. Setelah menyebutkan pakaian apa yang ingin dipakainya, Nuga segera menyerahkan pakaian itu dan keluar kamar—Dia gerah.


"Perbannya kena air, Om." Baru saja tangan Nuga sudah membuka pintu sedikit, Nanda sudah memanggilnya. Pria itu menoleh, dan melihat Nanda sudah memakai baju, tapi bawahannya belum.


Nuga meraihnya, "Pakai dulu itu!"


"Ada luka dibawah pinggang sedikit, dan perih." Nanda menunduk. Jika saja dia bisa memutar pinggang maka dia tidak akan minta tolong. Ini susah sekali dan sakit.


Nuga membuang napas keras-keras. "Hadap sana! Pakai selimut buat nutup kaki kamu!"


Nadanya memang suka memerintah, dan Nanda sudah terbiasa. Nuga bukan galak sebenarnya, tapi emang dia begitu gaya bicaranya. Nanda saja yang salah paham dan bertingkah seolah dia dikasari.


"Jangan keras-keras, ya, Om! Jangan kasar." Nanda meringis duluan setelah berbalik badan, lalu Nuga sedikit membungkuk untuk melihat luka Nanda yang bentuknya tak beraturan. Pantas darahnya banyak sekali, sepanjang ini—dari bawah tulang belikat sampai bawah pinggang, hanya tidak lurus.


Nuga melepas perekat yang menutup luka itu, membuat Nanda mendesis dalam dan panjang. Nuga akhirnya terpaksa menyentuh kulit putih Nanda yang sejak tadi dihindarinya. Dia takut Nanda memarahinya.


"Sakit ...." Nanda merintih seraya memejamkan mata. Lama kelamaan dia menggigit bibir dan menengadahkan wajah. Setelah efek bius dan obat hilang, rasanya cenut-cenut dan ngilu. Seluruh permukaan kulit Nanda seakan ikut sakit dan bagian yang luka sudah kebas saking sakitnya.

__ADS_1


"Tahan sedikit, jangan cengeng! Ini kan salah kamu yang nekat motoran malam-malam pas hujan! Salah siapa coba? Bela-belain ketemu pacar, nggak taunya pacarnya udah kabur." Nuga masih sempat mengomel. Sedikit cemburu juga sebenarnya. Nanda yang wanita punya keberanian sebesar itu demi pria yang dicintainya, sementara dia, selalu malas mengusahakan perasaan dan cintanya. Baginya, wanita ada banyak selain yang sedang disukainya, bisa saja besok dia cinta sama yang lain, begitu seterusnya. Cinta itu rumit, Nuga tidak suka hal yang rumit.


"Dulu Mamanya Hima lihat Om dari apanya sih? Ku harap di surga sana, dia tidak sedang menangis dan menyesal telah menikah sama Om." Nanda berkata di sela bibirnya, menahan rasa sakit yang Nuga berikan. Ini memang sakit sekali, tapi Nanda tidak berani mengeluh, atau Nuga dengan senang hati mengomelinya.


Nuga tersenyum miring, "kamu nggak akan ngerti apa yang bisa aku berikan untuk wanita sebaik Arum. Arum bahkan bersujud di kakiku setiap hari saking senang dan berterimakasih karena bersedia menikah dengannya."


"Cih ... sombong! Bersujud biar nggak digampar sama Om pasti." Nanda mencemooh.


"Tunggu sampai kamu paham apa yang kamu ucapkan! Aku yakin kamu nyesel pernah bilang kaya gini ke aku!" Nuga meneteskan lebih banyak cairan kemerahan itu di punggung Nanda yang kini di posisikan sedikit bungkuk.


"Ssshh ... perih!" Nanda mendesis kesakitan hingga air matanya benar-benar lolos dari sudut matanya. "Ya ampun, Om. Jangan dendam deh, aku hanya bercanda tadi."


Nuga memiringkan senyumnya, lalu menegakkan kembali punggung Nanda yang perlahan ditiupnya agar tidak perih.


Namun Nanda malah mendesah keras, entah untuk apa, yang jelas Nuga dibuat membeku di depan punggung Nanda.


Nuga menekan ludahnya susah payah. Astaga, anak ini kurang ajar sekali!


Di depan pintu juga demikian. Laras sampai harus mundur mendengar suara Nanda. "Astagfirullah, Nanda."


Wajah Laras menjadi merah padam. Keringatnya bercucuran. Suara itu mengingatkan dirinya pada sesuatu. Tetapi Laras segera tersenyum dan berlalu dari sana. "Nda ... Mbak nggak nyangka kamu begitu."


Di ruang tengah, Laras berpapasan dengan suaminya yang heran melihat tangan istrinya masih penuh dengan segelas jus.


"Kok balik? Nanda belum selesai ganti bajunya?" Mata Dika melirik jam, hampir setengah jam dari perginya Nuga ke kamar tadi.


"Mereka masih ada urusan, Mas ...." Laras tersenyum malu. Dika langsung membulatkan bibir. Mereka pasti lupa kalau di rumah ini telah terjadi pernikahan dan hal-hal umum mengenai pernikahan.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2