Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
56


__ADS_3

"Udah, Mbak?" Cica melongok di pintu, melihat Nur yang sedang berkemas untuk pulang kampung besok.


"Udah." Nur menutup tas bepergian berukuran sedang, kemudian berdiri dan mendekati Cica. "Hima mana?"


"Main diatas, aku ambil melon dan stroberi—"


Ucapan Cica terhenti saat Nur menarik lengan dan berbisik dramatis.


"Eh, Ca ... nanti kalau aku pulang, kamu awasi Hima, jaga dia jangan sampai ganggu emak bapak dia ninu-ninu ya!"


Keduanya saling pandang, lalu Cica mengangguk mantap seolah ini adalah misi yang dikerjakan berdua.


"Pokoknya, begitu Hima tidur, usir Nanda dari kamar! Oke ...!" Nur membulatkan jemarinya ke depan Cica yang kemudian dibalas oleh Cica dengan cara yang sama.


"Oke ...!"


"Mbak Nur sama Mbak Cica lagi apa?"


"Eh, Hima!" Kedua wanita beda usia itu langsung bubar, dan menoleh ke arah Hima yang menyusul ke bawah. Kompak menjawab Hima.


"Nggak ngapa-ngapain kok ... Hima kenapa turun?" Cica langsung menghambur dan menggendong Hima. "Kan tadi Mbak suruh nunggu, melonnya masih di kupas."


"Kelamaan, Mbak." Gadis kecil itu mengalungkan tangan ke leher Cica. "Makan dibawah aja sambil lihat Mbak Nur berkemas."


Nur menyahut. "Udah selesai kok, sekarang Mbak mau masak buat makan malam nanti. Hima mau dimasakin apa?"


Dia segera mengajak Cica ke dapur, sambil terus mengedipkan mata agar Cica jaga rahasia. Hima ini terkadang bocor kaya Nanda.


"Mau sup ayam jamur sama sosis panggang." Hima meletakkan dagu di pundak Cica.


"Oke, koki Nur siap membuatkan pesanan Nona Hima!" Nur memakai celemek, kemudian berlagak seperti chef di tivi-tivi.


Hima terkikik melihatnya.


"Mbak Cica bantu Mbak Nur ya, Hima ... kamu duduk di sini," ucap Cica seraya menurunkan Hima. Gadis kecil itu menurut.

__ADS_1


Cica segera mengambil beberapa sayuran dari kulkas, membiarkan Nur membersihkan ayam dan memasak nasi. Namun kegiatan mereka berdua terhenti saat Hima dengan santai menyeletuk.


"Kenapa Nda harus diusir dari kamar Hima dan bobo sama Ayah, Mbak?"


Napas Nur dan Cica terhenti seketika, perlahan mereka saling pandang, lantas menggeleng dengan senyum aneh di bibir mereka.


"Ndak ada yang ngusir, kok, Him ... hanya Nda harus urus Ayah setelah Hima bobo. Kan selain jadi Mamanya Hima, Nda kan istrinya Ayah." Nur segera mencari alasan yang logis untuk memberi pengertian pada Hima. Sikunya berulang kali menyikut Cica yang sudah hampir pingsan agar segera membantunya merangkai alasan.


"Dulu, Nda belum jadi istrinya Ayah, ya, Mbak ... Makanya Nda sama aku terus setiap malam? Kalau gitu, Nda nggak usah jadi istrinya Ayah saja biar aku bisa bobo sama Nda tiap hari," oceh Hima enteng.


"Eh, bukan gitu maksudnya." Cica segera menyahut. Anak kecil ini sungguh berbahaya pikirannya. "Untuk sekarang-sekarang aja, Hima ... nanti kalau udah ada adek bayi, Nda bakal sering bobo sama Hima, kok. Nda tetap harus jadi istri Ayah juga, biar Nda nggak jadi istri orang lain. Emang Hima mau kehilangan Nda?"


"Nggak mau dong!" Hima menggeleng. "Nda itu Mamanya Hima."


"Makanya, Hima harus nurut sekarang. Biarkan Ayah sama Nda sering bersama agar Hima cepet punya dedek bayi, ngerti kan? Nanti Hima bisa tidur sama Nda setiap hari." Cica memainkan trik dengan baik. Hima akan nurut jika ditakut-takuti Nda akan pergi.


"Hima ikut Mbak Nur saja besok, biar Nda sama Ayah puas berduaan tanpa gangguan Hima."


Cica dan Nur tercengang menatap Hima yang terus mengoceh tanpa menghiraukan keterkejutan dua wanita dewasa itu.


Gadis kecil itu akhirnya menatap Nur dan Cica bergantian. Bingung melihat ekspresi keduanya yang bengong menatapnya.


"Bantu Hima kemas baju, ya, Mbak Cica, aku mau ikut Mbak Nur ke kampung besok." Tanpa aba-aba, Hima turun dari kursi dan meraih tangan Cica untuk diseret ke lantai atas. Cica tidak sempat berunding dengan Nur untuk menyikapi keputusan mendadak Hima.


Sementara di restoran sebuah mall, Nanda meneguk air mineral dingin begitu rakusnya setelah memutar mall hingga kakinya mati rasa.


Bahkan ketika makanan datang, dia tanpa babibu langsung melahap makanan pesanannya. Nuga menggelengkan kepala melihat itu semua. Namun dia senang, setidaknya, Nanda sudah tidak bermuka galak lagi.


Nuga baru saja akan menyuapkan makanan ke mulutnya, ponsel Nuga berdering keras. Memaksa pria itu menjawabnya.


"Ya, Hima." Nuga menyandarkan punggung di sandaran kursi, matanya menatap Nanda yang mendongak sekilas sebelum kembali menunduk dan melanjutkan makan.


"Ini udah mau pulang ... Hima tadi dibelikan sesuatu sama Nda." Pria itu tersenyum, memalingkan wajah ke arah lain, yang tanpa sengaja melihat beberapa orang menatapnya. Nuga mengalihkan perhatian ke arah lain, hal yang sama terjadi. Nuga heran, kemudian memilih kembali menghadapi meja agar tidak melihat orang-orang yang menatapnya.


"Iya, Ayah ajak Nda makan ini. Ayah nggak apa-apain Nda kok." Kening Nuga kini berkerut. "Emang siapa yang bilang Nda diapa-apain sama Ayah?"

__ADS_1


Nanda akhirnya berhenti makan dan menatap Nuga. Bibirnya berkata tanpa suara. "Ada apa?"


Nuga menggeleng, "Jangan dengerin Mbak Nur, mereka ngawur. Ayah sama Nda lagi belanja kok."


"Oke anak Ayah yang cantik, ini udah mau pulang. Anak Ayah jangan nakal, ya—apa?"


Nuga berdiri mendadak, membuat Nanda terkejut.


"Besok kan sekolah, Hima! Mana boleh bolos gitu aja? Lagian rumah Mbak Nur jauh, kamu sama siapa nanti di sana?" Wajah Nuga tampak tegang.


"Ya tapi—apa? Sama mbak Cica? Astagfirullah Nak ... kamu kok malah gitu sih? Dengerin Ayah, ya ... Hima sekolah bes—"


Nuga menghembuskan napas keras saat ucapannya disela oleh Hima di seberang sana. Terlihat dia sangat kesal.


"Nda sakit, bukan bolos kemarin. Hima jangan cari alasan! Tunggu Ayah pulang, dan kita bicara! Oke ...!" Nuga mematikan panggilan itu dan meletakkan ponsel di meja dengan gusar.


"Hima kenapa?" Nanda bertanya setelah selesai menyantap spageti pesanannya, kemudian beralih ke menu penutup berupa cake penuh dengan krim. Dia menggeser dengan acuh piring-piring di depannya.


"Mau ikut Nur ke kampung, katanya biar nggak mengganggu kita." Nuga menjawab tanpa sadar, lalu mendesah berat saat Nanda seperti tersedak makanannya.


"Uhuk-uhuk!"


"Minum dulu—" Diraihnya botol air mineral sisa minumnya, yang langsung dirampas kasar oleh Nanda dan diteguk cepat. "Nda ... itu bekasku! Belum aku lap kali!"


Nanda membeliak, terdengar tegukan besar masuk ke lambungnya, meski Nanda menjauhkan botol itu. Nuga tersenyum penuh arti saat melihatnya.


*


*


*


Maaf up nya 1 dulu, rencana mau oleng hari ini, tapi gagal karena masih meratapi Papa Harris😄


Mau up Nayra dulu, ya ... doakan bisa oleng 2-2nya biar cepet tamat😄

__ADS_1


__ADS_2