
Itukah solusi Nuga? Kedengarannya egois sekali. Bagaimana perasaan Axcel jika ditinggalkan tanpa kejelasan, kan? Sakit hati itu pasti. Nuga tidak tau kan seberapa dalam mereka saling mencintai?
Nanda berdecak. "Om ... setidaknya aku harus bilang secara langsung pada Axcel kan? Aku hanya harus bilang ke dia, itu saja! Lewat telpon misalnya."
"Sekarang, Axcel ada di luar negeri, sedang menempuh pendidikan. Bagi orang tuanya pendidikan Axcel itu penting, jadi jangan bertindak tanpa pertimbangan dengan mengatakan itu sekarang. Percaya atau tidak, jarak bisa mengaburkan sekuat apapun perasaan." Nuga mencoba bersabar. Ini resiko. Tapi dia tidak ingin menyerah sekarang, setidaknya ... dua keluarga sudah berbicara dengan suasana jauh lebih baik. Dan Nuga tidak mau mengacaukan itu dengan kekonyolan Nanda.
Nanda menunduk, tampak apapun alasannya, tidak akan berhasil mengubah keputusan Nuga. Dan jika dipikir benar–benar, Nuga tidak salah mengatakan itu. Mungkinkah akan ada kesempatan baginya bertemu Axcel lagi?
Keduanya terdiam. Nuga puas akhirnya Nanda mau mendengarkan ucapannya.
"Apa yang dilakukan orang saat pacaran?"
"Hem?!" Nanda mendongak, bertemu pandang dengan Nuga yang bersedekap menghadapnya. Sorot mata pria itu masih sangat tajam, dan Nanda memutuskan untuk berhati–hati untuk menjawab. Dialihkan perlahan bola matanya ke arah lain.
Memangnya apa yang dilakukan? Kenapa begitu saja bertanya? Benarkah Om nggak pernah pacaran? Atau ini hanya jebakan lain yang dipasang oleh si Jenius Duda, eh Nuga?
"Ya, banyak, Om ... tapi nggak sampai yang kaya Om tuduhkan ke aku dulu." Suara Nanda sedikit lirih, ragu dan takut menguasainya sekarang. Dia ingat betapa hatinya sangat sakit saat dituduh hamil karena pacaran.
Nanda melirik sedikit ke arah Nuga yang masih sama posisi dan ekspresinya. "Jalan, nonton, makan, gandengan tangan, chatting romantis ... kaya gitu–gitulah."
"Hanya itu?" Nuga mencibir. "Tidak ada yang lain?"
"Apa memangnya yang bisa dilakukan saat pacaran?" Nanda tersinggung. Cuping hidungnya sampai melebar saat menghirup udara dari luar untuk membantu dadanya lebih banyak memproduksi kesabaran.
__ADS_1
"Ya, nggak tau, pokoknya nggak seru! Seru juga pacaran setelah resmi menikah." Nuga kembali meremehkan Nanda hingga Nanda berdiri dan mendatanginya. Nanda sudah siap bertempur. "Kalau cuma makan, jalan, nonton, sama Nur juga bisa ... ngapain harus pacaran segala? Kirain bakal ada something special gitu, kan? Kaya momen-momen susah dilupakan, berharga, sampai nggak bisa move on."
"Ck ... kita juga ada momen berkesan, hanya memang nggak bisa diungkapkan!" Nanda menghentakkan kakinya.
Nuga menaikkan alis. Merasa lucu melihat betapa Nanda sangat tersinggung dan marah. Hubungan pacaran yang dibanggakan ternyata diremehkan oleh orang lain. Nanda pasti tidak terima.
Nanda menatap Nuga dengan perasaan kesal. "Haish ... udah lah percuma ngomong sama Om! Kalau nggak boleh ya udah! Aku juga nggak bakal nekat kok! Terserah Om saja, atur bagaimana baiknya hidupku ini!"
Kaki Nanda siap beranjak pergi, tetapi Nuga menahannya.
"Kita kencan setelah kau sembuh!"
"Maksudnya?!"
Mata Nanda nyaris dibuat jatuh ketika melihat ponsel spek dewa yang tidak akan panas saat digunakan untuk nonton drama berada didepan matanya. Selama ini, Nanda ingin ponsel itu, tapi dia belum punya cukup uang. "Aku nggak butuh ini kok. Masih ada laptop."
"Dimana laptop kamu? Apa kamu chat dengan Axcel lewat email?" Nuga membuka dus ponsel. "Sudah ada nomornya, kalau tidak suka dengan pengaturan yang aku buat, sesuaikan saja. Kita akan mulai chatting romantis mulai besok."
"Katanya nggak seru ... kok malah ngajak ngedate? Ngajak chattingan pula ... kalau nggak ada perasaan, nggak ada chemistry, walau hanya chatting doang tetap nggak akan bisa jalan." Nanda menerima ponsel itu dan mengangkatnya. "Free kan, Om?"
"Free ...." Nuga menjawab dengan santainya. Ya, free lah untuk istri kan? "Itulah kenapa aku bilang pacaran sebelum nikah itu nggak ada seru–serunya, beda kalau udah nikah. Nggak perlu chemistry- chemistry an, asal saling mengerti, semua bisa jalan. Pacaran mah apa, udah nggak bisa ngapa–ngapain—"
"Emang kalau pacaran setelah nikah bisa apa? Berantem? Bertengkar kaya gini?" Nanda kali ini mencemooh Nuga. "Dasarnya Om aja yang suka war!"
__ADS_1
"Oke ... mari kita lihat apa yang bisa dilakukan pacaran setelah menikah. Kita mulai dengan chatting yang kamu maksud itu besok. Kamu menunjukkan sekali, aku sekali ... setelah satu bulan, katakan enak yang mana!" Nuga menantang.
"Sama Om ngelakuinnya? Yakin?" Nanda mencibir. "Oke ... tapi Om nggak boleh marah, nggak boleh membentak, nggak boleh curang!"
Tangan Nanda terulur untuk membuat kesepakatan dengan Nuga.
"Deal!" Nuga menyambutnya hingga tangan Nanda bergoyang.
"Awas kalau Om ingkar! Aku akan nuntut cerai!" Nanda mengancam.
"Nggak akan!" Nanda berdecih melihat tekad Nuga. Namun, dia memutuskan untuk tidak memperpanjang, dan segera melihat ponsel barunya.
Katakan saja Nuga gila, tapi dia tidak punya waktu sampai pernikahan resmi mereka digelar dan kedua orang tuanya pulang. Nanda orangnya bocor, bisa saja dengan bujukan licik ibunya, Nanda akan mengatakan semuanya. Nanda tidak mempan disuap, jahil, dan senang melihat orang menderita. Jadi dia tidak punya pilihan. Chat romantis bukan hal yang sulit, toh dia penah menikah dan mengatakan kalimat romantis untuk Arum. Itu mudah sekali.
"Betewe, thanks hapenya, Om ... ini bagus banget." Nanda tersenyum setelah puas memandangi ponsel mahal ini.
Nuga hanya menggeleng menanggapi ucapan terimakasih Nanda yang terlalu apa adanya. Beneran masih polos pikirannya. Atau jika ingin dipeluk seperti yang dilakukan Nanda pada Axcel, diperlukan euforia khusus? Mungkin Mey harus berada di sekitar Nuga agar Nanda memeluknya suka rela. Ah, itu ... jadi kepikiran lagi, kan?
Nuga pernah tegang dan berakhir di kamar mandi. Semalam hampir saja, kali ini dia bertekad hanya akan berakhir dengan Nanda yang menyelesaikannya. Ya, hanya caranya memang harus lembut, kan? Nanda tidak suka dipaksa. Itu prinsip Nuga saat mendekati Nanda. Cinta bisa datang belakangan, setelah keduanya terbiasa.
*
*
__ADS_1
*