Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
7.


__ADS_3

Hima ngambek dan mengajak Nuga pulang adalah alasan Nuga mencari Nanda. Beruntung ada suara percikan air sehingga dia bisa mengetahui dimana Nanda berada.


Awalnya, Nuga tidak berniat mendobrak, tetapi suara Nanda membuatnya curiga. Nuga membuka pintu kamar mandi dengan perlahan sehingga dengan mudah Nuga menguping.


"Big no! Yang bener aja, dia itu sebaya sama kakak tertuaku! Bukan lagi Om-om, tapi Aki-aki!"


Entah mengapa Nuga menduga yang dibicarakan Nanda adalah dirinya. Bisa-bisanya Nanda bilang tua!


"Nda! Keluar ... kita pulang!" Nuga langsung menutup pintu kamar mandi, tanpa memperhatikan Nanda yang syok akibat ulahnya.


Langkah Nuga terayun dengan cepat saat menuruni tangga, lalu masih dengan wajah bersungutnya, Nuga menggendong Hima dan membawanya ke mobil. Perasaan kesalnya semakin menjadi-jadi karena ulah Nanda hari ini.


Nanda butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai ke mobil.


"Bisa cepet dikit, nggak? Hima sudah ngantuk ini!" Nuga membentak Nanda untuk pertama kalinya. Gadis muda itu sibuk dengan ponsel dan mengabaikan langkahnya. Nuga tidak suka jika seseorang mementingkan ponsel ketimbang keselamatan dan mengorbankan kedisiplinan.


Nanda berdecak, lalu duduk di sebelah Nuga. Begitu pintu menutup, Nuga langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi, sampai membuat Hima dan Nanda menjerit ketakutan.


"Pelan-pelan, Om!" Nanda berpegangan pada sisi jok, "kalau bosan hidup jangan ajak-ajak dong! Aku masih mau seneng-seneng dan lanjutin hidup, Om!"


"Percuma kalau lanjutin hidup dengan pacaran tidak jelas seperti tadi!" Nuga menyindir blak-blakan. Pria itu berdecak mengejek.

__ADS_1


"Om bilang begitu karena Om jomblo seumur hidup, makanya suka ngomel nggak jelas kalau ada orang yang seneng!" Nanda merasa dia keterlaluan. Tapi memangnya bisa mendebat Nuga yang pintar itu dengan isi otaknya yang minimalis itu? Dia hanya bisa mendebat untuk hal-hal kecil dan remeh, tetapi penting.


Benar saja. Ketika tatapan Nuga bertemu dengan Nanda, kemarahan tergambar di sana, tapi Nanda tetap tidak peduli. Semarah apapun, akan Nanda hadapi agar rasa kecewanya pada Nuga bisa terpuaskan.


"Kamu akan menyesal telah mengucapkan itu, Nda! Suatu saat, apa yang kamu banggakan sekarang, akan menjatuhkanmu hingga kamu merasa menyesal telah mengabaikan nasihatku !" Nuga mengecam, yang disambut cibiran oleh Nanda.


"Om bukan siapa-siapaku, jadi melarangku pacaran bukan haknya Om!"


Hah ... Nanda kesal sekali pada om-om satu ini. Apa dia tidak pernah muda? Tidak pernah pacaran? Lalu bagaimana bisa ada Hima? Apa Hima menetas dari batu? Apa Arum-arum itu dijodohkan begitu saja dengan Om Duda ini dulunya? Sampai pacaran dengan gan dengan tangan saja dilarang. Apa dulu Hima bisa ada karena Nuga dan istrinya pegangan tangan?


Kekhawatiran Nuga sama sekali tidak perlu dipikirkan. Nanda dan Axcel tau batasan dalam berpacaran yang sehat.


"Jadi aku harus jadi Bapak mu dulu, harus jadi Bagas dan Dika dulu, biar bisa nasehati kamu? Jadi guru kamu dulu, atau jadi suami kamu dulu, biar bisa mengendalikan kamu?" Nuga menyela dengan ketus.


"Amit-amit, deh!" Nanda melengos jijik. "baru jadi orang yang dikuasakan Ibuk sama Bapak sedikit aja begini galaknya, apalagi jadi Bapak Ibukku beneran?"


"Udah deh, Nda ... kamu jangan bantah Om! Apalagi kamu baru saja bikin kesalahan dan ketahuan bohong, bukannya takut terus minta maaf ... ini malah makin ngeyel dan merasa sok bener! Kalau gini terus, Om nyerah ngurusin kamu—"


"Bagus!" tukas Nanda seraya menoleh kembali ke arah Nuga. Tatapan Nanda meluapkan sejuta kemarahan. "Bagus kalau Om nyerah! Lagian siapa yang nyuruh Om buat ngurusin aku sampai sebegitunya ... Om itu cukup awasi aku saja sebenarnya, nggak perlu sampai nguntit aku kaya tadi! Itu hanya nunjukin kalau Om itu sebenarnya mirip Aki-aki yang kurang kerjaan!"


Nuga terkejut mendengar itu, sampai kakinya refleks menginjak rem, dan mobil berhenti mendadak. Kepala Nuga menoleh dengan cepat dan mencekal pergelangan tangan Nanda, lalu menarik gadis muda yang masih megap-megap memegang dadanya itu menghadapnya.

__ADS_1


Tatapan Nuga yang tersinggung atas perkataan Nanda langsung membuat nyali Nanda ciut seketika.


"Kalau begitu, jangan tinggal di rumahku! Kemasi barang-barangmu, dan pergilah dari hadapanku!"


Nanda yang masih dikuasai emosi, dengan senyum sinis mengangguk pelan, "oke! Aku akan pergi dari rumah Om ... dengan senang hati!"


Nanda menarik tangannya kasar, dan mendobrak pintu mobil dengan kasar. "Bukain pintunya!"


Nuga membuka pintu lalu melirik Nanda yang turun dan membanting keras daun pintu itu saat menutupnya.


Entah ini benar atau salah, tapi Nanda sudah kelewatan. Kesabaran Nuga telah habis ... Nuga menyerah.


Ekspresi Nuga sedikit rumit dan bimbang, tapi tangan dan kakinya bergerak melajukan mobil kembali.


"Dasar aki-aki kolot kesepian!"


Nuga mendengar makian itu samar-samar. Matanya dengan tajam melirik Nanda yang menatap ke arah mobilnya. Astaga, ingin rasanya Nuga memberi pelajaran pada bibir kurang ajar itu! Tapi bagaimana ... dia belum pernah membuka sekolah khusus untuk mengajari bibir lancang seperti itu agar sedikit lebih sopan.


"Dasar bocah labil!" Nuga bergumam, dengan terus mengabaikan perasaan tersinggung dan kesal pada Nanda.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2