Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
68


__ADS_3

Melihat bawaan kedua orang tuanya yang hanya sedikit, Nuga sedikit kecewa. Ada kemungkinan mereka berdua hanya sebentar di sini, lalu kembali ke Melbourne. Apa mereka betah di sana?


Bu Hapsari masih berbincang dengan Mey dan Pak Puji di ruang makan saat Nuga mengantarkan tas milik orang tuanya ke kamar.


"Mey, ini buat mami kamu, ya ... Ibuk nggak bisa bawa banyak. Sama Yan diomeli pas Ibuk mau bawa banyak barang." Bu Hapsari mengeluarkan beberapa botol selai, madu, dan bungkusan lembut sepertinya pakaian berbahan wol, lalu kotak berisi buah-buahan.


Keluarga Meylani pasti mampu membeli itu semua, tapi sebagai sahabat, Bu Hapsari hanya melakukan kebiasaan mereka. Wanita itu tersenyum canggung. "Ndak seberapa dibanding oleh-oleh mami kamu kalau dari Guangdong."


Mey tersenyum. Mengemas semua barang dengan gerakan lembut dan mengangkat satu botol madu manuka. "Kebetulan Mami kehabisan madu ini, Buk. Pasti Mami senang. Apalagi Ibuk pulang nggak bilang-bilang, Mami pasti terkejut."


Bu Hapsari masih tersenyum lebar saat mengambil godiebag dan menyerahkan pada Mey. Dia sedikit membantu memasukkan oleh-oleh itu ke dalam tas tersebut. "Bapak yang ajak pulang dadakan. Sebelumnya, Bapak mau mastiin dulu, apa benar Nuga sudah nikah sama Nanda atau hanya bohongan."


Gerakan tangan Mey berhenti dan menatap Bu Hapsari dengan perasaan terluka. Namun, Mey berusaha tersenyum. "Bapak hanya nggak mau terluka dua kali."


"Itu benar, tapi harusnya, Bapak tau watak Nuga, kan?" Bu Hapsari menoleh ke arah Pak Puji yang masih sibuk dengan ponselnya. Apalagi yang dilakukan pria itu selain terus berkomunikasi dengan besannya.


Namun, Pak Puji menghela napas, yang menandakan dia mendengarkan, tetapi enggan menanggapi. Semua itu benar, dan dia tidak mau membahasnya lagi dan lagi, hal itu akan membuat istrinya terus mengejeknya yang selalu tidak percaya pada Nuga.


Mey tertawa kecil. Segera diangkatnya tas yang maha berat itu. "Mey pulang dulu, ya, Buk. Belum mandi."


Pak Puji mengangkat wajah dan tersenyum. "Makasih, ya, Mey ... bilang sama Papi kamu, besok Bapak ke sana sore-sorean."


Mey mengangguk, lalu mencium tangan Bu Hapsari dan Pak Puji bergantian. "Segera istrirahat, Pak, Buk ... udah larut banget."


Kedua orang tua itu mengangguk. Jelas mereka bersikap baik pada Mey, sebab mereka tahu kalau Mey menyukai Nuga tetapi mereka tidak bisa membiarkan Mey bersama Nuga. Selain Nuga sudah dipatenkan untuk jadi suami Nanda, juga perbedaan keyakinan yang membuat mereka tidak pernah memberi kesempatan Mey untuk dekat.


Nuga muncul di saat yang tidak tepat. Barang bawaan Mey terlalu berat sehingga membuay tali tas itu putus. Mey memekik saat seluruh barang bawaannya menggelinding di lantai.

__ADS_1


"Ya Allah, Mey!" Bu Hapsari meraih tas sembarangan, lalu membawanya ke hadapan Mey dengan langkah cepat. "Kamu luka ndak, Mey?"


"Nggak kok, Buk." Mey menggeleng, lalu mengumpulkan seluruh barang yang terjatuh dengan cepat. "Saya yang ceroboh, Buk."


"Emang berat semua ini, Mey, dan tangan kamu terlalu kurus sehingga ndak kuat bawa beban berat." Bu Hapsari memeriksa botol kaca sebagai wadah madu dan selai, berharap tak ada yang pecah. "Aman semua, Mey, nggak ada yang pecah."


Hapsari menoleh ke arah Nuga yang berdiri diam tanpa memberi bantuan. "Ga ... bawakan tas Mey ini sampai ke meja makan rumahnya!"


Hapsari memerintah putranya dengan nada tegas yang tak mungkin dibantah Nuga. Jadi pria itu berjalan pelan mengambil tas yang berukuran lebih besar dan jauh lebih dari yang putus tadi.


"Ayo!"


Nuga langsung berjalan ke pintu depan tanpa menunggu Mey yang masih pamit. Mey baru bisa menyusul Nuga saat Nuga sudah memundurkan mobil Mey.


"Ndak usah repot sih, Mas!" ujar Mey ketus saat Nuga sudah sampai di sisi jalan. Dia berdiri di luar mobil, siap mengambil alih kemudi. "Nggak usah beneran anter aku!"


Nuga menoleh tanpa mematikan mesin mobil. Tatapannya tak ramah. "Nggak akan ada yang berubah, Mey! Aku anter kamu atau pura-pura anter kamu, nggak akan membuat Ibuk atau Bapak memintaku menceraikan Nanda."


"Mengantar kamu pulang, karena Ibuk nggak enak hati sama kamu. Dan aku anter kamu, bukan untuk membuat kamu sakit hati atau bagaimana. Aku hanya berbuat baik pada teman dan tetangga. Dari dulu, aku baik ke kamu hanya sebatas itu. Kamu yang selalu mengartikan berbeda semua kebaikanku."


Mey menunduk, air matanya turun dengan deras. Dia tahu, dia paham, tapi Mey tetap tidak bisa berhenti menyukai Nuga walau jelas Nuga hanya menganggapnya teman.


"Kamu harus tau, aku baik ke semua orang. Aku baik pada teman dan tetangga." Nuga menegaskan. "Ke kamu apalagi. Kita besar bareng, jadi nggak ada yang spesial diantara kita."


"Sejak awal Nanda di sini, aku tau Mas selalu perhatian ke dia. Melarang, mengawasi, membantu, dan Mas tersenyum padanya." Mey mengusap air matanya. "Aku tau aku tidak pernah spesial, aku hanya mencoba. Mungkin kebersamaan kita bisa membuat Mas memikirkan perasaanku."


Mey mengangkat wajah, menoleh dan tersenyum getir pada Nuga. "Semoga Mas bahagia sama pilihan Mas. Sekalian aku mau pamit, hari ini aku resign ... aku—"

__ADS_1


Jangan harap Nuga akan terkejut dan mengatakan tidak perlu sampai demikian. Pria itu bergeming dengan tangan masih memegang kemudi.


Mey makin merasa miris dan getir melihat itu. Dia tertawa sumbang sambil mengalihkan pandangan. "Ini nggak penting juga, sebenarnya ... jadi sebaiknya Mas turun. Aku bisa pulang sendiri."


"Aku hanya nggak mau kalau sampai Ibuk nanya mami kamu dimana, sedang apa, jika aku nggak beneran anter kamu." Nuga lurus menatap jalan. "Sebaiknya kamu cepat."


May menahan tangisnya, lalu duduk di bagian belakang. Dia tidak ingin melihat Nuga lagi.


***


Ketika Nuga kembali—sesuai dugaannya, Bu Hapsari masih duduk di meja makan untuk menginterogasi Nuga. Mami Mey baru saja mematikan panggilan telepon tepat saat Nuga masuk ke ruang tamu. Wanita itu bertanya banyak hal tentang Mami Meylani. Emak-emak memang lebay dan rumpi.


"Buk ... Tante Ling kan udah nelpon sendiri! Ibuk udah bisa nebak gimana Tante Ling pas dapet oleh-oleh dari Ibuk, kan?" Nuga bersungut. "Udah malem ... Ibuk tidur, biar capek nya ilang!"


Bu Hapsari berdecak seraya menepis tangan Nuga yang terulur untuk mendorongnya ke kamar. "Ish, kamu ini! Nyuruh-nyuruh Ibuk tidur cepet, biar bisa naikin istri kamu itu, toh!"


Nuga menghela napas. "Nanda udah tidur! Udah sana!"


Didorongnya tubùh sang ibu menuju kamar. "Cuci kaki dan gosok gigi, doa dulu sebelum tidur, biar boboknya pulas dan nggak diganggu setan."


"Kamu itu apa-apaan toh, Ga!" Bu Hapsari kesal, tetapi tertawa juga. Nuga memang selalu usil padanya.


Nuga tertawa kecil lalu menuju kamarnya yang sengaja di kunci dari luar. Nanda tidak boleh keluar malam ini, sebab selain lelah, kedua orang tuanya pasti akan begadang untuk ngobrol dengan Nanda.


"Oh, bagus, ya! Pantas aku dikunciin, ternyata mau anter tetangga sebelah, toh!"


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2