Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
8.


__ADS_3

"Jadi kamu biarkan Nanda ndak pulang Sabtu nanti, Les?"


Lestari terperanjat ketika suara ibu mertuanya menggema di kamar. Dia baru saja mengatakan pada suaminya bahwa Nanda tidak bisa pulang karena pekerjaan barunya. "I-ibuk?"


Dia sama sekali tidak menyangka jika ibu mertuanya menguping pembicaraannya. Sejauh mana mertuanya itu mendengar, Lestari hanya bisa berdoa dalam hati.


Prasetyo berdiri dan menuntun ibunya masuk ke dalam kamar. "Duduk dulu, Bu ... Biar Pras jelaskan semuanya."


Yang Ti Padma mendengus sinis. "Pasti anak itu berencana mau kabur, to? Sama kaya empat tahun lalu, pas dia ngotot kuliah di sana!"


Pras diam, hanya menuntun ibunya duduk di ranjang dengan dipan terbuat dari kayu. Lestari segera berdiri dan berpura-pura menyisihkan tirai hiasan yang talinya terlepas karena termakan usia.


Padma menatap Lestari yang menunduk ketakutan. "Les ... anakmu kalau kamu manjakan terus, bisa ngelunjak! Nanti kamu yang rugi. Kamu ini diajari sama Ibuk buat ndidik anak yang bener biar jadi anak yang patuh, anak yang nurut, kok malah kaya gini, to kamu menerapkannya? Kamu malah dukung anakmu jadi pembangkang."


Lestari terdiam. Gerakan tangannya pun berhenti. Bukan itu mau Lestari sebenarnya, tapi anaknya ditekan berlebihan tentu seorang ibu tidak akan terima begitu saja, kan?

__ADS_1


Padmasari menoleh, menjatuhkan kerudung renda yang berat itu ke bahu. Rambut putih Padma yang belum sempat di semir ulang tersanggul rapi. "Kamu sekarang mau cari alasan apa lagi, ha? Ini wasiat orang yang sudah meninggal, loh ... harus segera dilaksakan. Kalau ndak, nanti bakal kualat. Mau kamu hidup ndak tenang karena arwah bapak mertuamu terus datengin kamu tiap malam."


"Buk sudah. Jangan marahi Lestari. Yang salah itu aku, pas Nanda minta kuliah aku izinin. Lestari bukan memanjakan Nanda ... yang ada aku yang nyuruh Lestari kasih izin Nanda ndak pulang Sabtu nanti." Pras menengahi. Dia kasihan pada istrinya yang terus saja dipojokkan dan disalahkan oleh ibunya tersebut.


Mata tua Padma membeliak. Tentu dia terkejut mengingat selama ini Pras selalu nurut padanya. Padmasari marah mendengar itu sehingga dia langsung menghardik putranya. "Walah, pantes to ... Bapak mu tiap malam datengi Ibuk nagih janji kapan nikahi cucunya dengan cucunya Kang Mas Said! Kamu to yang ndak mau nindakne wejangan Bapak mu?"


"Nanda baru saja kerja, Buk ... jadi kalau harus pulang pergi, kasihan. Kalau masih singsetan ndak dateng juga ndak apa-apa kan biasanya?" Pras mencoba meredakan amarah ibunya.


"Kalau jaman dulu iya, tapi kalau sekarang ya harus hadir demi menghormati keluarga Kang Mas Said, to?" Padma berdiri, tatapan tajam dan tegasnya tertuju pada Pras. Wanita tua itu masih tidak percaya pada kelakuan anak lelakinya ini, yang telah tega membantah semua ucapannya. Mendadak Padma curiga, ini juga salah satu akal-akalan Pras dan Lestari, mengingat Nanda enggan sekali menikah dengan keturunan Said itu.


"Ibuk ndak mau tau, Pras! Kamu urus surat-surat untuk pernikahan Nanda. Kalau Nanda hari itu tetap ndak datang, Ibuk akan minta tanggal pernikahan dipercepat. Bahkan hari Minggu nanti bisa saja akan jadi hari pernikahan Nanda dan Diwa!" ucap Padma tegas.


"Langgeng atau ndak itu tergantung sama didikan kalian! Kalau selama menikah kalian nuntun anak kalian jadi istri yang baik dan patuh, pernikahan juga akan langgeng. Setia tidaknya Diwa tergantung Nanda. Kalian ini orang generasi maju kok masih berpikiran kolot!" Padma melengos dengan gerakan leher penuh cemoohan.


"Sudahlah, capek jelasin sama kalian yang ndak mau berubah demi kebaikan anak! Pokok e kamu, Pras ... urus segera surat-suratnya, temui penghulu buat nikahno Nanda nanti. Jaga-jaga kalau anakmu itu mbelot!"

__ADS_1


Lestari yang memeluk tiang penyangga tirai dan Pras saling pandang. Gelengan kepala Lestari membuat Pras paham apa maksud istrinya tersebut. Namun sekarang, Pras tidak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakan apa mau ibunya. Dia takut ibunya berubah pikiran dan membuat semua menjadi kacau.


"Ibuk mau ke salon dulu, nanti malam antar Ibuk ke rumah Diwa, Ibuk mau kasih tau rencana Ibuk ini sekalian silaturahmi." Padma dengan anggun keluar dari kamar anaknya dan memanggil Tejo untuk mengantarkan dirinya ke salon langganan.


Sepeninggalan Ibunya, Pras membuang napas keras-keras seraya mengusap wajah. Entah bagaimana dia harus bertindak sekarang.


"Mas ... aku mesti gimana bilang ke Nanda?" Lestari menghampiri suaminya dengan tangan saling meremas karena cemas.


"Nanda sudah dewasa, Buk ... tidak usah mengatakan apa-apa. Siapkan saja acaranya dan berikan apa yang Nanda mau. Selama dia belum pulang, biarkan dia menikmati waktunya dengan bebas di sana." Pras menghembuskan napas yang menggembung di lehernya.


Pras pikir tidak perlu lagi mengulang-ulang ucapan ibunya yang malah membuat anak kecil kesayangannya semakin terpuruk.


Lestari mengangguk menatap suaminya yang tampak tak berdaya. Ia mengerti kalau suaminya selalu memendam sendiri perasaannya, beban, dan tekanan dari ibunya. Itu sebabnya apa kata Pras, ia berusaha manut, dia tidak ingin membuat suaminya semakin terbebani dengan keinginannya. "Baik Mas."


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2