
"Senang seharian pacaran?" Nuga muncul dengan wajah mengerikannya. Tangan Nuga bersedekap di dada, tatapan mata pria itu menyiratkan kemarahan yang siap meledak.
Nanda awalnya ingin mengatakan siapa Diwa sebenarnya, tapi akan lebih baik kalau Nuga tidak usah tau apa-apa soal Diwa. Bagus jika duda kolot ini nanti dibuat tengsin berat ketika tau siapa Diwa.
"Iya, aku seneng seharian jalan sama pacar ... kenapa? Om mau marahin aku karena jalan sama cowok lagi? Kan yang kemarin udah Om marahin, jadi kita putus karena dia takut dibunuh sama Om!"
"Bagus!" sahut Nuga puas. "Yang ini pun juga sama! Akan Om buat dia mundur dari rencana mencoba mendekati kamu, karena barusan Ibuk telpon kalau kamu akan dinikahkan sebentar lagi! Lagipula, wanita yang akan dinikahkan kenapa masih jalan sama cowok lain?"
Nanda menaikkan alisnya, bibirnya tersenyum senang mengetahui Nuga tidak tahu bahwa dia sedang jalan sama pria yang dibicarakan barusan. "Ini namanya menikmati hidup, Om ... Om saja yang nggak tau tapi sok tau. Udah deh, Om ... mending Om urus tuh, Tante Mey yang sibuk ngejar-ngejar Om terus, sampai kucing betina yang deket sama Om aja dicemburui."
Astaga ... kata-kata gadis ini sungguh menyakitkan sekali. "Kamu yang sok tau, Nda ... kalau kelakuan kamu kaya gini, mending aku kasih tau saja orang tua kamu, agar kamu dinikahkan secepatnya. Kasihan calon suami kamu nantinya kalau kamu udah dinikmati banyak pria!"
Meski itu tidak benar, tapi Nanda sebagai wanita merasa kata-kata Nuga teramat menyakitkan dan merendahkan. Dia walau ingin pacaran tapi tidak pernah menyerahkan tubuhnya begitu saja. Usianya sekarang, jelas dia tahu apa yang merugikan dan tidak. Untuk sejauh itu, tak pernah terpikirkan oleh Nanda.
Mata Nanda yang panas dan basah, menatap mata Nuga yang masih dipenuhi amarah. "Terserah Om mau melakukan apa, tapi yang jelas, aku nggak pernah merendahkan diri pada pria manapun. Meski aku urakan, tapi aku tau arti menjaga nama baik keluarga."
Nanda menyelonong masuk, melewati Nuga yang mendadak terdiam, menyadari kalau dia mungkin kelewatan. Dia tau, tidak semua wanita akan berakhir seperti Arum, tapi Nuga tau semua berawal dari apa yang dilakukan Nanda sekarang.
Kalau bisa, gadis sebaik Nanda jangan sampai mengalami apa yang dialami Arum. Bagus jika Nanda dinikahkan sekarang, karena bagi kaum fuckboy, Nanda tipe sempurna untuk dimainkan. Polos, tulus, dan gayanya yang santai, tetapi jual mahal tentu membuat pucekboy penasaran menaklukkan Nanda.
__ADS_1
"Satu lagi, Om!" Nanda menghentikan langkah. "Besok aku pindah dari sini. Biar Om nggak lagi melihat wanita sepertiku berkeliaran di depan Om. Aku ucapin makasih atas bantuannya, selama ini. Nanti Ibuk sama Bapak akan kemari, biar pamit sama Bapak dan Ibunya Om."
Nanda berlari usai mengatakan itu. Entah mengapa, ucapan Nuga tadi membuatnya sangat sakit. Dia dan Nuga cukup baik selama ini berhubungan walau terkesan over protektif. Tapi tidak seperti ini juga akhir dari sebuah hubungan yang erat itu. Nanda cukup merasa terlindungi dan seakan dia punya seseorang saat tinggal disini. Nuga diakui Nanda membuatnya berpikiran luas dan berpengalaman lebih matang. Tapi, kenapa ketika dia memiliki hubungan baru dengan pria, walau Nuga mengenalnya, tetap tidak direstui.
Seharusnya tidak seperti ini semuanya berakhir.
Keduanya merasa aneh dan asing akan perasaan sakit yang mereka alami.
***
Sabtu pagi, Nanda sudah siap berangkat mengajar di sekolah Hima lagi. Meski dia benar-benar pindah tapi tidak terlalu jauh dari sekolah. Dia juga masih mengantar Hima pulang walau Hima terus saja merengek minta Nda-nya kembali ke rumah.
Ponsel Nanda berdering saat dia menutup pintu kamar kos yang baru dua hari ditempatinya. Bergegas Nanda mengambil ponsel tersebut, disaat yang bersamaan, mobil Diwa muncul di depan pagar.
"Ya, Cel." Nanda tersenyum seraya melambai ke arah Diwa yang sudah turun dari mobil dan bersandar pada pintu mobil.
"Nda ... aku ke Jakarta hari ini, buat urus persiapan ke Jerman. Mungkin Senin pas kamu wisuda aku nggak bisa dateng. Karena persiapannya butuh waktu yang cukup lama."
"Ya ampun, nggak apa-apa kali, Cel. Udah aku wisuda bisa sama Bapak dan Ibuk. Kamu fokus sama persiapan kamu aja, ya ... jangan mikirin aku terus. Ini kan demi masa depan kita juga."
__ADS_1
Nanda sekarang menatap masa depannya di depan mata. Bukan Axcel meski dia menyayangi pria itu sepenuh hati. Tapi mungkin, memang jodoh mereka hanya 6 bulan ini saja setelah bertahun-tahun saling memendam perasaan.
"Ya ampun, Ayangku makin dewasa aja, ya. Makasih ya, Ayang atas pengertian kamu. Kamu bilang kaya gitu bikin aku pengen cepet-cepet selesai kuliah dan nikah sama kamu."
"Gombal ...! Udah, ya, Cel ... Aku harus berangkat. See you." Nanda harus segera mematikan panggilan ini, karena Diwa sudah dekat dengannya. Jangan sampai Diwa tahu kalau dia sedang menjalin hubungan dengan pria lain.
"See you, Ayang. Love you."
"Lo—"
"Ayo, berangkat, Calon Istriku." Diwa yang sudah berjarak selangkah dari Nanda, berkata keras-keras.
Mata Nanda membeliak, bibirnya bergetar ketakutan. Axcel pasti mendengar suara Diwa ... dan sialnya, pasti Diwa juga mendengar ucapan cinta Axcel untuknya.
"A‐A ...."
*
*
__ADS_1
*
Maklum, Nanda cuma ngebet pacaran, nggak tau gimana berbohong dan bermain pro. Gak kaya otor yang pinter berkelit🤣