Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
53


__ADS_3

"Bertanggung jawab tidak harus menikahi, kan, Om?"


Mereka berdua di dalam mobil, menuju entah kemana setelah pulang dari rumah orang tua angkat Arum yang sangat ramah. Pasangan Baskoro adalah teman dari bapak Arum, yang telah meninggal sebelum Arum lahir. Sejak kecil, Arum sudah dianggap anak oleh mereka, tetapi pisah sejak ibu Arum menikah lagi dan tinggal bersama di kota yang berbeda.


Begitu yang Pak Baskoro ungkap saat mereka makan siang. Mereka baik dan menerima Nanda, meski Nanda terlalu terbuka menceritakan semuanya.


Nanda menatap Nuga yang terlalu fokus pada jalanan, diam, dan—astaga, tidak ada ekspresi sama sekali. Dia melanjutkan untuk menjelaskan.


"Maksudku, Om kesusahan dengan berselisih sama Bapak Ibuk, kesusahan jaga Hima sendirian pas masih dirawat kan? Ya, aku paham kenapa Bapak marah, hidup Om berantakan gara-gara itu ...!"


Nuga membuang muka dan napas lelahnya ke samping, dia tidak tahu bagaimana menjelaskan. Tapi keadaan memaksa. Apa dia tega membiarkan wanita yang bahkan jauh lebih muda dan labil dari Nanda itu hidup sendirian? Dia hanya tidak tega, dan sejak Hima lahir, walau memang harus bolak balik ke rumah sakit, Nuga masih bisa bekerja. Dia bisa menghandle semuanya, di bantu Baskoro dan istrinya. Dia hanya dijauhi keluarganya, mereka tidak bisa menerima, Arum dan segala kondisinya.


"Tapi aku yakin, Om ... Bapak sama Ibuk dan Mas Yan tahu kalau Hima bukan anaknya Om!" Nanda akhirnya mengubah posisi duduknya menghadap Nuga. "Kalau mereka tau Hima darah daging Om, aku yakin mereka bisa menerima dan nggak mungkin mereka meninggalkan rumah selama ini, kan?"


"Nda ...." Nuga akhirnya menoleh, "Sebenarnya, kamu ini sedang keberatan yang mana? Aku tuduh macam-macam itu, atau kamu hanya tidak terima status duda beranak satu ini, sih?"


"Ya, semuanya ... Tapi setelah dengar cerita Pak Bas tadi, aku bisa apa soal Arum? Aneh aja gitu, kan? Jaman sekarang ya, hidup itu hidup kamu, kamu yang berulah, kamu yang bertanggung jawab, Om hanya bertindak spontan, menolong, dan nggak ada kaitan apa-apa sama Arum, kan?" Ekspresi Nanda keras, dia merasa Nuga sudah gila dengan menambahi kepalanya dengan beban.


"Jika saja aku sedikit lebih muda saat bertemu Arum, mungkin itu yang terjadi. Sayangnya, saat itu aku udah tau gimana berpikir rasanya melihat orang mati, padahal aku bisa menyelamatkan." Nuga tenang dan tenang menjelaskan. Dia bahkan sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Hima benar, orang dewasa itu rumit! Aku nggak paham dengan keputusan Om itu." Nanda kembali duduk menghadap depan, kakinya menyilang, tangannya bersedekap. Wajahnya kesal sekali sampai berulang kali dia membuang napas keras-keras.


Nuga meraih tangan Nanda, lalu mengisi sela jemari Nanda dengan jari-jarinya. "Tapi tolong mengerti dan terima keputusanku buat tetap pertahankan kamu, ya? Yang di masa lalu, biar jadi milikku saja."


"Ya ... tapi—"


"Jika aku nggak nikah sama Arum, nggak akan ada Hima yang bisa kamu setir jadi mirip kamu. Semuanya mirip kamu, sampai dia sakit pas tau kamu mau nikah." Nuga serius. Mereka mirip, karena sering bersama Nanda, dan memang Nanda yang membentuk Hima jadi seperti sekarang ini. Dia hanya bagian dari nafkah saja.


Mobil berbelok ke sebuah gedung yang Nanda pikir itu adalah gedung yang merupakan apartemen paling mahal yang ada di sini.


Sebelum turun, Nuga mendekatkan diri di sisi Nanda. "Tanpa ada Hima, aku nggak punya alasan buat kasih perhatian ke kamu."


Nanda merengut, tapi wajahnya memerah, sementara Nuga terkekeh seraya menjauhkan tubuhnya dan turun. "Kita ketemu satu orang lagi, dan semua selesai. Biarkan Arum tenang di sana. Hidup kita tidak ada hubungannya sama Arum lagi."


Nanda turun, tangannya kembali di gandeng Nuga. Mereka masuk begitu saja. Nanda mengerutkan kening, saat petugas di sana hanya menundukkan wajah saat melewati lobi. Bahkan saat masuk ke lift, mereka masih setia mengikuti dan sopan. Terkesan takut begitu.


"Om ... jangan bilang, kita mau anu—"


"Diam dan ikuti saja! Kepalaku mau pecah mendengar suaramu sepagian ini!"

__ADS_1


Nanda membeliak lalu menarik kasar tangannya. "Oh, gitu! Baru sehari aja udah kaya gitu ke aku! Gimana besok-besok?!"


"Besok-besok, kamu kesusahan bicara karena jika sekali aja kamu ngomel, aku bakal cium kamu sampai habis napas kamu!" Nuga pura-pura saja sih, tapi Nanda langsung diam meski wajahnya cemberut.


Tiba di lantai 7, lift terbuka, dan mereka sampai menghadapi pintu dengan plakat 702. Nuga memencet bel.


Nanda diam saja, meski ingin sekali bertanya. Dugaan awal, Nuga ingin melakukan hubungan badan dengannya pertama kali di sini, di apartemen mahal yang akan dijadikan sebagai hadiah pernikahan. Biasanya begitu, kan? Nuga dan keluarganya kan kaya raya. Harga di sini, pasti tidak memberatkan mereka.


"Haih, sayangnya aku udah bikin Om ilfil duluan dengan sok marahin dia sejak kemarin!" batin Nanda seraya memutar bibirnya yang mengerucut. Mata gadis muda itu mengamati setiap lekuk bagian depan apartemen ini. Indah dan menawan.


Nuga menekan bel lagi, sebab si empunya unit belum membuka pintu juga.


Tak berapa lama kemudian, pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita cantik yang kehilangan senyum saat melihat Nanda terlebih Nuga.


"Nuga—"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2