Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
58


__ADS_3

Malam itu dilalui penuh drama. Hima bahkan menelpon kepala sekolah agar diizinkan libur selama dua hari ke depan.


"Ayah ... bu guru mau bicara sama Ayah." Sekonyong–konyong Hima menyerahkan ponselpada Nuga yang malam itu sedang melakukan zoom meeting dengan beberapa dosen lain di kampusnya. Ada yang masalah darurat di lingkungan kampus, sehingga rapat dadakan diadakan.


Pria itu tercengang sesaat saat menerima ponsel yang masih menyala itu. Hima mencondongkan tubuh ke telinga Nuga, dia berbisik. "Hima hanya mau Bu Guru kasih izin ke Hima besok."


Nuga membuang napas pasrah. Jika Hima yang minta dia bisa apa? Sesaat dia menatap anaknya, yang dibalas endikan bahu yang begitu acuh dari Hima, sebelum gadis itu melesat keluar dari kamarnya.


Nuga menyerah, menggelengkan kepala, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga, tetapi belum sempat dia membuka mulut, seorang dosen berkaca mata memanggil dirinya.


"Pak Nuga ... kami butuh pendapat Bapak dalam hal ini."


Astaga ... Nuga bingung. Namun saat itu, Nanda keluar kamar mandi dan seolah itu adalah angin segar bagi Nuga. Nanda bisa menyelesaikan masalahnya.


"Tunggu sebentar ya, Bapak Ibu ... saya bicara dengan anak saya dulu." Nuga memohon izin, lalu mendekati Nanda yang—seperti biasa, memakai piama gambar kartun berwarna pastel.


"Nda ... Bu Guru Hima menelpon." Nuga menyerahkan ponsel begitu saja ke tangan Nanda, kemudian kembali menghadapi laptop. Terserah dia mau bilang apa nanti, yang jelas ... ya, itu akan terjadi.


"Om—" Nanda bingung menerima ponsel itu tetapi Nuga mengabaikannya, hanya tatapan licik pria itu yang diterima Nanda. Matanya mendelik tak terima, tetapi Nuga sudah meletakkan earpiece di telinga, kemudian melanjutkan rapat.


Nanda merengut. "Astaga ... menyebalkan sekali sih!"


Mau tak mau, Nanda menempelkan ponsel ke telinga dan menyapa—masih dengan suara yang terdengar kesal.


"Halo, Bu ... selamat malam," sapa Nanda sembari terus meneta suaranya hingga menjadi sangat normal. Bahkan dia menyematkan senyuman, walau lawan bicaranya tidak melihat wajahnya.


"Loh, kok kamu, Nda? Ayahnya Hima mana?"


Mendengar suara Ibu Kepala Sekolah, Nanda menutup mulut lalu menatap layar ponsel yang menampakkan nama kepala sekolah. Astaga ... Nanda kelabakan mencari alasan sampai dia gagap saat menjawab.


"Om lagi meeting ... jadi saya diminta mewakilinya."

__ADS_1


Kepala Sekolah terkikik, "Oh ... kirain kamu jadi ibunya Hima benaran, kaya yang diduga wali murid selama ini."


Nanda kaget. "Maksudnya, Bu?"


"Ya, maksudnya kamu nikah sama Ayahnya Hima, Nda ... kan dari awal wali murid menduga kamu mamanya Hima, mereka sering bergosip."


"Hah ...?!"


"Udah ... jangan syok begitu, Nda. Ibuk cuma mau nanya kenapa Hima minta izin libur dua hari ke depan?"


"Ah ... itu—anu, Bu ... Hima ingin ke kampung sodara Om Nuga. Ada acara nikahan." Nanda terpaksa berbohong, bibirnya tergigit dengan cemas, lalu melirik Nuga yang menatapnya kesal. Nanda memilih berbalik badan, lalu kabur. Astaga, dia lupa masih dihadapan Nuga yang tidak suka bila seseorang berbohong.


"Sama kamu juga?"


"Enggak, Bu ... saya besok masuk." Nanda spontan menjawab tanpa memikirkan apa efek dari kalimat yang diucapkannya ini.


"Oh, ya udah ... Tapi kamu udah sembuh, kan?"


"Udah, Bu ... saya udah sembuh." Nanda tersenyum.


"Makasih, ya, Bu." Nanda segera menyudahi panggilan itu setelah mengucap salam. Ini sudah malam, mungkin Bu Hartati ingin beristirahat.


"Ya ampun, Hima ... Nda sampai harus bohong demi memintakan izin kamu," desah Nanda pelan seraya menengadahkan kepala. Dia lelah.


"Dikasih izin?"


"Ommoo ...!" Nanda terkejut sampai berjengit dan memegangi dadanya. Mata pengantin yang masih gadis itu mendelik kesal ke arah Nuga yang dengan santainya bersedekap dengan kaca mata masih bertengger di pangkal hidungnya. Bersandar malas di ambang pintu kamar, menatap Nanda dengan sedikit senyum tertahan di bibirnya.


"Bisa nggak sih, nggak ngagetin?!"


"Sampai bohong segala pada kepala sekolah ...." Nuga berjalan pelan ke depan Nanda, masih bersedekap, lalu mencondongkan tubuh ke depan, lalu berbisik. "Sudah siap ubah status, ya?"

__ADS_1


Nanda makin melebarkan mata. "Status apaan? Bukannya aku udah berubah status dari gadis jadi istri?"


"Belum ...," sahut Nuga. "Belum dari gadis jadi ... wanita."


Nanda merengut lalu mundur perlahan. Wajahnya memanas tanpa aba-aba, bahkan telinganya ikut panas.


Duda ... bahasanya beuh! Bahaya ... bisa jebol perawan kalau gini terus. Belum apa-apa kaki udah lemes aja, gimana nanti... tulang bisa lepas semua.


Nanda keluarkan pandangan ke segala Arah untuk menyangkal Nuga, tapi tampaknya tidak bisa. Ucapan Tasya selama empat tahun berteman melayang tanpa bisa dicegah di benaknya.


"Pria dewasa itu kaya api di dalam air ... tidak kelihatan gerakannya, tapi tau-tau kamu panas dan terbakar dari dalam. Tau-tau kamu meleleh dan pasrah. Mendesah dan ketagihan."


Sialnya itu benar. Meski entah ini perasaan apa, tapi kata-kata itu ... sungguh aneh dan membuat tengkuk Nanda merinding.


"Ada atau nggak ada Hima, cepat atau lambat, sekarang atau nanti ... Aku pasti akan melakukannya ... menolak artinya berdosa, melakukannya mendapat pahala." Nuga mengatakan itu ringan sekali. Seakan tidak peduli bagaimana perasaan Nanda saat ini. Cinta itu urusan belakang ... karena setiap dari belakang ... perasaan aneh selalu datang.


Nanda mendelik kesal melirik Nuga. Bibirnya berdecak. "Jangan bawa-bawa dosa dan pahala, deh, Om ... aku—"


"Kalau begitu ... aku menawarkan pengalaman baru yang tidak bisa dilakukan saat hubungan belum halal." Nuga menyeringai. "Ingat ... tantangan kamu waktu itu, bisa dibilang kamu kalah telak! Setelah menikah, terbukti kamu makin dekat dan terbuka sama aku. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan pas pacaran. Benar, kan?"


Nanda terdiam, menatap lantai dengan pikiran kosong. Benarkah Kalau dia makin dekat dengan Nuga?


"Stimulus yang didapat saat pacaran, nggak akan sedekat sekarang. Ada batasan yang kamu nggak berani langgar, sementara kita ... kamu bahkan makin mahir berciuman."


Nuga menaikkan alisnya saat Nanda menoleh. "Rapatku sudah selesai ... aku tunggu di kamar."


Nanda semakin kaget. Takut. Bagaimana ini? Dia belum mau ... belum siap. Itu ... Itu, katanya sakit.


Nuga masih dengan senyumnya yang penuh kemenangan berbalik ke kamar. Senang rasanya menggoda Nanda.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2