
"Nda ...."
"Hem ...."
Hima menaikkan wajahnya, menatap Nanda yang hari ini kelelahan seperti biasa. Tangannya mengusap pipi Nanda, lalu menciumi dagu Nanda berulang-ulang. "Makasih, ya ... Udah mau jadi mama Hima beneran."
Nanda awalnya sudah mau memejamkan mata. Meski belum bermain yang benar-benar all out bin totalitas, Nanda tetap saja merasa lelah. Dia menahan pinggangnya, yang terkadang terasa nyeri dan gatal sepanjang mereka bermain. Walau Hima tidak pernah memaksanya, tapi tetap saja, Nanda ikut bergabung agar Hima tidak terus-terusan memanggilnya.
Nanda menunduk, menatap mata sayu Hima yang memang sudah hampir tertidur. "Emang Hima kenapa kok pengen Nda yang jadi Mama Hima? Kok bukan Bu Mey atau siapa gitu?"
Manik mata hitam itu berputar sebentar lalu kembali menatap Nanda diikuti senyum malu. "Hanya Nda yang bisa membuat Ayah jadi nggak jelas, hihihi. Ayah suka marah-marah sampai nggak bisa tidur, lupa kerjaan, lupa waktu, ngizinin Hima makan es krim banyak, jajan banyak, pokoknya sama Nda dunia Ayah jadi jungkir balik."
"Nda buruk dong, kalau gitu?"
"Nggak Nda ... tapi lebih baik. Coba lihat Tante Mey, dia itu kaku dan julid mulutnya—"
"Apa tadi?" Nanda melotot berpura-pura galak, lalu menjewer pipi Hima pelan. "Siapa yang ajarin berkata kaya gitu?"
"Hehehe ... maaf, Nda. Tapi bener kan? Tante Mey itu ju-lid. Mbak Nur bilang, tetangga juga bilang begitu. Kaya nggak ada kerjaan suka kepo sama hidup orang." Hima nyengir.
Nanda sampai geleng-geleng kepala mendengarnya. "Hima mulai sekarang nggak boleh ikut Mbak Cica sama Mbak Nur ke tetangga kalau cuma mau omongin orang. Bu Mey itu baik, loh ... perhatian, hanya sedikit berlebihan. Terutama sama keluarga kita karena—"
"Tante Mey ingin rebut posisi Nda yang udah lama banget di hati Ayah." Hima memeluk Nda erat-erat. Nanda tercengang. Anak ini serius apa tidak sih bicaranya?
"Nda itu harus jadi Mamanya Hima, karena sejak kecil, Hima hanya tau Nda itu Bunda ... bukan Nanda." Suara Hima tidak begitu jelas, tapi Nanda paham. Semua orang memang memanggilnya Nda, Hima ikut-ikutan. Tapi kasihan juga sih, untung Nanda memang tidak pernah menganggap Hima orang lain, meski dia tidak berpikir akan jadi anak sambungnya.
"Jangan tinggalin Hima ya, Nda." Hima melanjutkan, suaranya tertahan, seperti sedang menahan sakit dan kesedihan.
Nanda mengusap punggung Hima pelan dan lembut, teratur seraya mengecup rambut beraroma buah ini. "Nda udah jadi Mamanya Hima, dan Nda nggak akan ninggalin Hima selama Hima jadi anak yang baik. Sekarang, Hima tidur ya, udah malem. Kata Bu guru, Hima harus bangun pagi, buat ...?"
Hima melepaskan diri dari dada Nanda dan mendongak. "Sholat subuh sama Ayah dan Bunda."
"Pintar ...." Nanda membenamkan lagi kepala Hima ke dada. Dia merinding sebadan-badan. Meski pernah melakukan sholat bersama-sama, tapi kenapa ya, kali ini kok rasanya beda. Apa karena Hima menyebutnya Bunda?
__ADS_1
Sekali lagi Nanda mengusap dari rambut hingga ke punggung Hima. Menidurkan gadis muda yang begitu aktif ini, hingga dirinya perlahan ikut terlelap.
Di luar, Nuga baru saja masuk dengan Nur membukakan pintu pagar. Jam setengah sebelas malam. Meski sedikit lebih sore, tapi tetap saja, Hima sudah tidur berjam-jam lalu.
Nur mengunci pintu pagar dan melihat Nuga berjalan cepat masuk ke rumah tanpa membalas sapaannya tadi. Biasanya, Nuga akan bertanya banyak hal soal rumah dan Hima, tapi sekarang pria itu sudah menaiki tangga dalam sepuluh detik.
"Duda lama kesepian, ya, begitu." Nur tertawa lirih. "Kayaknya, Cica harus nemenin Hima ini, Nda mau dipake sama pemiliknya ... hihihi."
Nur segera masuk dan menutup pintu, sekilas dilihatnya lagi luar rumah, dan matanya yang jeli melihat seberang jalan dimana sebuah mobil terparkir. "Itu kan Bu Mey? Ya ampun, nongkrong di depan rumah inceran, dong. Kaya nggak punya harga diri aja sih, Bu."
Nur menggeleng, lalu masuk untuk membangunkan Cica agar menemani Hima di kamar atas.
Sementara Nuga langsung mandi dan menengok anaknya, walau sudah dipastikan tidur.
Saat masuk, dilihatnya Nanda sedang menggaruk pinggang yang luka. Wanita itu berdecak pelan, karena setiap menggaruk pasti mengenai bagian yang masih basah dan terasa perih.
Nuga akan melakukan bagiannya. Asyiknya pacaran setelah menikah itu seperti apa, lalu bedanya sama chat gombal tidak berguna itu apa—Nuga akan menunjukkannya.
"Mau aku bantu—"
Nanda refleks menampar tangan Nuga, marah dan kesal meski ditahan-tahan agar Hima tidak terganggu.
"Menyentuh istri kan nggak apa-apa." Nuga mengendik acuh, lalu mengusap lagi pinggang Nanda dengan gerakan lembut dan teratur. "Ini gatal kan?"
Nanda terdiam. Ya, memang istrinya, tapi apa harus pegang-pegang di situ juga? Tapi emang enak sih, di situ rasanya gatal tak tertahan.
"Jadi enak pacaran sebelum nikah apa setelah nikah?"
Nanda memikirkan, tapi tidak punya jawaban. Dia belum pacaran setelah menikah, yang ada malah ribut setiap hari, jadi asyiknya dimana?
"Sebelum nikah, kalau kamu minta tolong pacarmu melakukan ini, kamu bisa berakhir dengan punya bayi. Kalau udah nikah, semua yang dilarang saat pacaran, jadi diperbolehkan." Nuga masih mengusap pinggang Nanda. Matanya fokus pada wajah Nanda yang sedikit merah.
"Udah reda belum?" Nuga menelan ludah, lalu ketika Nanda memejamkan mata, Nuga bertanya. "Gimana perasaan kamu?"
__ADS_1
Nanda tidak berani menoleh. Di adegan drama, ini bisa berakhir dengan sebuah ciuman. Apa ciuman pertamanya akan di berikan pada Nuga? Itu kan berarti sekali, tapi ... Nuga adalah suaminya. Adududuh ... masa iya, dia harus benar-benar berakhir ditangan duda, tua lagi?
Nuga sepertinya beranjak dari ranjang dan berpindah ke sisi Hima. Pria itu tersenyum saat mencium kening Hima, kemudian menatap Nanda yang mengintip.
Nuga maju sedikit untuk mencium kening Nanda. "Pacaran emang bisa kaya gini? Pasti nunggu aniversary atau pas ketemuan, kan? Bayangkan kalau sudah nikah, setiap menit kita bisa lakukan ini."
Nanda memejamkan mata rapat-rapat, memeluk lengan erat-erat. Sisa perasaan lemas setelah dibelai Nuga saja belum hilang, kini sudah diserang dengan ciuman hangat di kening dan mata.
Nanda bisa gila. Atau bahkan jadi ubur-ubur. Mungkin meleleh seperti lilin yang dipanaskan.
Perlahan tangan Nuga membelai pipi Nanda, lalu sebuah ciuman mendarat di sana.
"Gimana, Baby ... masih belum mau menyerah dan mengakui? Pipi kamu merah dan panas loh?" Nuga tertawa dalam hati. Nanda pasti ketakutan. Rasakan kamu, Nda!
"Om ... udaahh, ya!" Nanda kali ini menggeliat, mata sedikit membuka, tangannya menekan dada Nuga yang ternyata sudah ikut berbaring mengungkung Hima di tengah. Jarak mereka sangat dekat, dan Nuga tidak mau melepaskannya.
Ada perasaan berdesir yang aneh, Nanda merasakan jutaan bulu membelai kulit tubuhnya. Ada jutaan serangga kecil menggelitiki ujung sarafnya yang sensitif, rasa panas memenuhi aliran darahnya. Nuga mengantarkan panas yang membuat perasaan Nanda jadi berbeda. Asing sekali perasaan ini dan Nanda baru pertama kali merasakan. Nanda tidak tau apa, tapi tubuhnya gemetar dan ada perasaan ingin meledak.
Nanda ingin sekali mendongak, dan membalas Nuga yang masih memperlakukan pipi dan sisi telinganya lembut. Tapi Nanda mati-matian menahan diri.
"Astaga ... aku kenapa?"
Wajah Nanda semakin panas, tangannya gemetar mencengkeram dada Nuga. Gerakan Nuga cepat, menyambar bibir Nanda yang bergetar diluar kendali. Begini saja, Nanda sudah hampir pingsan dibuatnya.
"Ini ciuman itu?"
Nuga mengecupnya pelan, lalu melepaskannya. Berkata "Have a nice dream, Baby ..." lalu mengecupnya lagi. Sesekali Nuga menghembuskan napasnya yang hangat di depan Nanda, lalu dengan polosnya, Nanda mendesah kecil. Seperti terganggu, terusik, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Bobo, ya ... masih ada waktu satu minggu sampai kamu nyerah, Baby ...." Nuga terkekeh pelan. Membiarkan Nanda penasaran rasanya berciuman seperti di drama yang ditontonnya. Tersiksa kan, Nda?
*
*
__ADS_1
*
Semoga oleng lagi🤲🏻