
Kantor administrasi kampus pagi ini terasa ramai dan tidak seperti biasanya. Gauri hanya duduk seorang diri didepan ruangan dosen pembimbingnya untuk mengambil berkas persetujuan sidangnya. Setelah beberapa hari Gauri selalu berada didepan laptopnya sepanjang malam, hari ini akhirnya dosennya menandatangani surat persetujuan sidangnya.
Meskipun jadwal pastinya belum ditentukan, tetapi Gauri merasa langkahnya sebentar lagi akan mencapai garis finish. Tidak lama namanya dipanggil masuk. Dengan langkah percaya diri Gauri pun masuk menemui dosennya.
Semua orang yang menghadiri rapat pagi ini tidak menyangka jika perdebatan saat itu akhirnya hari ini berhasil dimenangkan Caraka. Caraka berhasil membuktikan jika dirinya pantas berada di posisinya saat ini. Kakek nya sama sekali tidak turut andil dalam persetujuan investor di salah satu proyek mereka.
"Setelah ini saya harap kita bisa saling bekerja sama dengan semaksimal mungkin tanpa memandang latar belakang masing-masing." Caraka menutup rapat hari ini dengan kalimat yang bijaksana.
Salah satu pegawai yang sempat berdebat panas dengan Caraka akhirnya mengakui kemampuannya. Kini mereka akan berusaha saling bekerja sama demi kemajuan perusahaan.
Baru saja sampai di ruangannya tiba-tiba Caraka mendapat telepon dari Gauri, "Iya kenapa?" tanyanya dengan nada suara yang hangat. Saat itu Gauri menceritakan betapa senangnya ia berhasil mendapat tanda tangan persetujuan sidang dari dosennya. Selain itu hari ini juga Gauri bisa mendapat jadwal sidangnya.
"Seneng banget pokoknya ... oh iya nanti bisa mampir ke cafe ga?" tanya Gauri.
"Mau ada apa emang?" heran Caraka karena tidak biasanya Gauri menanyakan hal ini.
"Aku baru belajar bikin kue dari Kak Aura, karena hari ini suasana hatiku lagi bagus nanti aku bikinin."
"Gimana?" tanya Gauri lagi.
"Hahaha ... oke, nanti kesana," jawab Caraka sembari tertawa manis.
Caraka berfikir dengan serius. Banyak hal yang perlu dirinya pertimbangkan agar bisa melakukan rencananya. Caraka dikejar waktu karena awal bulan depan Satrio sudah berangkat, sedangkan dirinya juga ingin agar Gauri menyelesaikan sidangnya dahulu.
Kini dirinya hanya bisa menunggu jadwal sidang Gauri keluar, baru bisa melanjutkan rencananya. Saat jam makan siang nanti dirinya berniat menelepon ayah Gauri. Caraka berniat datang kesana untuk memberitahu semua rencananya.
__ADS_1
Gauri bersama beberapa mahasiswa lainnya kini tengah sama-sama cemas menunggu jadwal sidangnya keluar. Mereka berdiri didepan mading ruangan administrasi jurusan. Gauri tidak berhenti berdoa dalam hatinya. Dirinya ingin bisa sidang sebelum Satrio berangkat ke Amerika.
Seseorang keluar dari sebuah ruangan dan membawa secarik kertas dan menempelkannya di dinding.
Caraka datang saat keadaan cafe mulai kondusif sehingga bisa sedikit mengobrol dengan Aura. Caraka menanyakan kemana Gauri karena sejak dirinya mengantri sama sekali tidak terlihat kehadiran Gauri disana.
"Gauri lagi dibelakang, kan bikinin kamu kue," jawab Aura sembari mengambil pesanan Caraka.
"Beneran ternyata ... kirain cuma asal ngomong doang." Caraka memberikan kartunya kepada Aura.
"Dia serius banget belajar bikin kue, katanya nenek Kak Caraka suka kue jadi dia mau coba bikinin," tutur Aura.
Gauri terus menatap Caraka yang sedang mencoba kue buatannya. Tatapan itu sebenarnya membuat Caraka justru terbebani daripada menikmati kuenya.
"Biarin aja Caraka makan dulu kuenya Ri, jangan diliatin kayak gitu," ujar Aura yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan.
Dari dalam kantung apronnya Gauri mengeluarkan secarik kertas. Di kertas itu tertulis jadwal sidang Gauri. Setelah melihatnya Caraka kaget juga senang. Gauri akan melakukan sidangnya senin minggu depan. Secara otomatis Caraka kemudian memeluk Gauri hangat dan erat sembari mengucapkan selamat.
Bagas berdiri didepan mobilnya menunggu Caraka keluar dari kantornya. Mereka berencana berangkat ke rumah orang tua Gauri pagi ini. Sebelumnya Caraka sudah menelepon ayahnya Gauri untuk memberitahukan jika hari ini dirinya dan Bagas akan mampir kesana karena ada hal yang ingin dirinya sampaikan.
"Gauri ga tau kan kalo gue mau ke rumah orang tuanya?" tanya Caraka kepada Bagas.
"Aman ... bahkan Aura juga gatau," jawab Bagas menyalakan mesin mobilnya.
Perjalanan kesana kira-kira membutuhkan waktu sekitar empat jam. Bagas dan Caraka akan saling bergantian menyetir nantinya. Caraka saat ini masih harus melakukan konfirmasi pekerjaan dengan Bimo, sehingga Bagas yang menyetir pertama.
__ADS_1
Tidak terasa akhirnya mereka sampai juga di rumah orang tua Gauri. Mereka disambut hangat oleh ayahnya Gauri dengan senyuman yang merekah di wajahnya persis seperti Gauri. Faisal memeluk Caraka dengan hangat, sudah sangat lama sekali mereka tidak bertemu. Bagas juga menyapa Faisal yang kemudian disusul ibunya Gauri yang turut menyambut mereka.
"Jadi maksud saya datang langsung kesini menemui om itu karena .... " Jantung Caraka berdegup kencang, kata-kata itu tidak mudah diucapkan terutama didepan Faisal.
"Karena ... saya ingin menikahi Gauri om."
Faisal terdiam, sama hal nya dengan Citra sampai kembali menaruh gelas yang hendak diminumnya. Meskipun cukup mendadak, tetapi Faisal sudah bisa menduga ini. Gauri sering bercerita tentang hubungan mereka yang semakin baik akhir-akhir ini. Gauri bahkan berkata bahwa bertemu kembali dengan Caraka seperti mendapatkan hadiah utama sebuah perlombaan.
Rasa bahagianya tidak bisa lagi digambarkan. Setiap hari rasanya semakin tumbuh dan bahagia. Mendengar perkataan Caraka barusan hanya bisa dibalas dengan senyuman oleh Faisal. Citra kemudian menggenggam tangan Caraka, "Tante bahagia jika Gauri bisa bersama dengan lelaki yang selalu membawa kebahagiaan untuknya."
Caraka berhasil mendapat restu dari kedua orang tua Gauri, adiknya juga kakak sepupu kesayangannya. Kakek dan neneknya pun sudah merestui, bahkan sebelum dirinya bertanya. Kini tinggal bagaimana Caraka bisa mengutarakannya kepada Gauri.
Pagi ini Gauri terlihat lebih sibuk dari biasanya. Bahkan sejak subuh Gauri sudah mempersiapkan banyak hal yang akan dibawanya hari ini. Aura juga turut membantu Gauri membereskan barang-barangnya. Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Gauri.
Sidangnya hari ini akan dilakukan pukul sepuluh pagi. Bahkan Caraka kini sudah siap di teras depan menjemput Gauri dan mengantarnya ke kampus. Setelah sidangnya selesai Caraka sudah berjanji akan mengajaknya ke suatu tempat, membuat Gauri semakin tidak sabar dengan hari ini.
Sebelum turun dari mobil, Gauri meminjam tangan Caraka sebentar. Sembari menutup mata Gauri menggenggam erat tangan Caraka. Gauri meminta keberuntungan Caraka selama bertanding dahulu untuk ditularkan padanya hari ini.
Tingkah menggemaskan Gauri membuat Caraka tidak berhenti tersenyum. Setelah berdoa dan meminta Caraka untuk mendoakannya juga Gauri pun turun dari mobil. Caraka membantu Gauri membawa beberapa barangnya hingga gerbang kampus karena disana sudah ada teman-teman Gauri yang menunggu nya.
"Jangan lupa kabarin kalo udah beres, nanti aku jemput," ucap Caraka mengelus pelan kepala Gauri.
"Siap bos ... " tutur Gauri sembari tertawa.
"Udah sana nanti telat ke kantor, bye." Bersama teman-temannya Gauri pun masuk kedalam.
__ADS_1
"Good luck ... aku pastiin hari ini bakal jadi hari paling bahagia buat kamu."