
Caraka masih terus mengikuti Gauri dalam diam. Memperhatikan langkah demi langkah dan setiap tempat yang didatangi Gauri. Sampai Gauri tiba di halte bis untuk menunggu bis yang akan membawanya pulang. Caraka masih menjaga Gauri dari kejauhan dan berencana pulang setelah Gauri mendapatkan bisanya.
Tidak lama bis yang ditunggu Gauri tiba dan untungnya meskipun naik di wilayah yang cukup ramai, keadaan bis termasuk sepi. Setelah Gauri naik dan duduk didalam bis Caraka pun bisa tenang meninggalkan Gauri untuk kembali ke mobilnya.
Sepanjang jalan Caraka tidakĀ berhenti memikirkan bagaimana dirinya bisa memperbaiki hubungannya dengan Gauri. Sepertinya akan cukup sulit untuk Caraka membicarakan tentang kondisinya ke Gauri. Bahkan setelah membicarakan hal ini kepada Bagas satu-satunya cara adalah jujur dengan kondisinya ke Gauri.
Namun, sepertinya akhirnya Caraka memang harus jujur tentang kondisinya ke Gauri. "Ah ... sampe pusing banget gue mikirin ini," kesal Caraka dengan dirinya sendiri. Hari tiba-tiba turun hujan, dengan suara musik di radio mengingatkan momennya bersama dengan Gauri. Ternyata hal yang sama juga sedang dilakukan oleh Gauri.
Gauri terus memandang butiran hujan yang membasahi kaca jendela bis. Gauri memasang earphone nya dan mendengarkan lagu yang menjadi favorit antara dirinya dan Caraka. Seakan kembali mengingatkannya dengan momen kebersamaannya dengan Caraka.
Keesokan paginya udara begitu dingin ditemani dengan jalanan lembab yang diakibatkan hujan semalaman. Gauri masih bermalas malasan di atas kasurnya dan tidak ingin berangkat ke kampus. Padahal hari ini ada jadwal bimbingan dengan salah satu dosen pembimbingnya.
Sedangkan Aura sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk keduanya. Sudah beberapa kali Aura memanggil Gauri untuk sarapan tetapi tidak ada respon dari Gauri. Terdengar suara klakson mobil dari arah luar, Aura pun pergi melihat siapa yang datang pagi-pagi begini.
Ternyata itu adalah Bagas yang sengaja datang untuk mengantar Aura dan Gauri ke cafe, tidak lupa sekalian menumpang sarapan. Kebiasaannya masih tetap sama seperti dulu, tetapi sekarang Aura sudah terbiasa dengan itu. Melihat datangnya Bagas, Aura langsung menyiapkan sarapan tambahan untuknya.
"Gauri ga berangkat ke cafe, Ra?" tanya Bagas meletakkan tasnya di salah satu kursi makan.
__ADS_1
"Gauri hari ini ada bimbingan sama dosen, jadi ke kampus dulu baru ke cafe," jawab Aura memberikan piring berisi sandwich kepada Bagas.
"Oh ... yaudah paling nanti habis dari cafe gue anterin Gauri ke kampus ya ... " ucap Bagas yang kemudian berhenti sejenak karena tanpa sadar dari caranya bicara seperti meminta izin kepada Aura.
Aura hanya tersenyum melihat Bagas yang salah tingkah seperti itu. Bagas memang sering tidak sadar berbicara dengan nada yang sama sekali berbeda dari biasanya kepada Aura. Terkadang nada bicaranya begitu hangat, dan akan terdengar sangat agresif ketika khawatir kepada Aura.
"Pagi-pagi udah pacaran aja lo," ucap Gauri tiba-tiba datang dari arah belakang dan mengagetkan keduanya.
"Oh ... siapa yang pacaran, lo udah mandi belom kita harus cepet-cepet berangkat nih ... " kaget Bagas hingga membuat bicaranya gagap karena salah tingkah.
Pagi ini Caraka di kagetkan dengan ajakan kakeknya ke Singapura untuk menemaninya melihat proyek mereka disana. Rencana ini sama sekali tidak terduga karena awalnya Bimo lah yang akan menemani kakeknya ke Singapura. Namun, karena Bimo dibutuhkan untuk standby di kantor bertemu dengan beberapa klien sehingga diputuskanlah Caraka yang berangkat.
Rencananya Caraka akan memberanikan diri untuk kembali bicara dengan Gauri hari ini. Terpaksa Caraka harus mengundur rencana itu. Mereka akan berada di Singapura selama satu minggu. "Gue perlu kabarin Gauri ga ya? biasanya dia kan liat gue tiap hari mampir ke cafe ... kalo tiba-tiba gue ga ada nanti dipikirnya ngilang lagi," gumam Caraka dalam hati.
Caraka lalu menelepon Bagas untuk meminta sarannya. Didalam mobil, ponsel Bagas berbunyi dan tanpa melihat siapa yang menelepon, Bagas pun mengangkatnya dengan mode speaker. Mode yang bisa didengarkan langsung oleh pengemudi beserta penumpangnya, dan disini posisinya Gauri dan Aura masih ada didalam mobil Bagas.
"Gas ... ini gue Caraka, gue bingung nih lo lagi dimana nih? Halo, Bagas? dengerin gue ga sih?" Bagas yang kaget langsung menutup teleponnya dan mendadak berhenti di pinggir jalan. Bagas lalu melihat ke arah Gauri dan tersenyum malu seperti seseorang yang dipergoki melakukan kesalahan.
__ADS_1
"Jadi gini Ri, bias gue jelasin-" (terpotong)
"Ga usah dijelasin Kak, gue ga masalah lo masih berhubungan sama Caraka kok ga ada yang larang," ucap Gauri tenang menanggapi Bagas.
"Oh, oke ... ini gue juga baru lagi kok kontekan sama Caraka, dia kan emang baru dateng ke Jakarta kan ya ... " canggung Bagas masih mencoba menjelaskan.
Tidak tahan dengan ke canggungan ini, Bagas memutuskan melanjutkan perjalanan sambil menyalakan radio untuk mencairkan suasana. Sedangkan di lain tempat Caraka kesal karena teleponnya tiba-tiba dimatikan oleh Bagas tanpa berbicara satu kata pun. Dirinya pun memutuskan menelepon Bimo untuk meminta sarannya.
Sebenarnya Caraka tidak cukup yakin dengan saran yang diberikan Bimo. Karena Bimo itu terkenal playboy dan selalu memiliki banyak wanita yang dekat dengannya. Terkadang saran-sarannya terdengar terlalu to the point dan terlihat tidak memikirkan akibatnya.
Setelah sampai didepan cafe, Aura turun duluan dengan membawa beberapa bahan yang akan digunakan di cafe. Karena takut terjebak macet, Bagas dan Gauri pun harus langsung pergi dan tidak bisa membantu Aura membuka cafe nya. "Kalo udah beres aku langsung kesini ya Kak," ucap Gauri berpamitan.
Diperjalanan suasana entah kenapa kembali canggung. Suara musik yang muncul di radio seperti sudah tidak mempan lagi menyangkal ke canggungan antara dua sepupu ini. Bagas terus menerus memperhatikan Gauri, dirinya takut mengecewakan adik sepupunya itu.
Merasa terus diperhatikan Gauri pun berbicara, "Gue gapapa Kak beneran, sebenernya juga gue ga benci sama Caraka ... jujur gabisa gue benci sama dia," ucap Gauri akhirnya jujur dengan perasaannya kepada Bagas. Tanpa Gauri katakan pun Bagas bisa mengerti alasan Gauri seperti ini hanya ingin Caraka jujur kepadanya tentang semuanya. Gauri hanya kecewa, tetapi tidak sampai membencinya.
Sifat Caraka yang selalu menutupi perasaannya, menganggap semua masalahnya bisa dirinya selesaikan sendiri itu lah yang sering tidak disukai Gauri. Ini salah satunya, merahasiakan kondisinya dari Gauri dan membuat masalah mereka semakin lama tidak terselesaikan. Caraka yang akhirnya memilih untuk pergi dan berharap kesalahpahamannya dengan Gauri akan hilang seiring berjalannya waktu adalah keputusan yang salah.
__ADS_1