
Satrio mengantarkan Gauri sampai depan rumahnya, terlihat Aura memperhatikan mereka dari balik jendela. Dilihat dari ekspresi keduanya seperti ada sesuatu yang terjadi. Hingga akhirnya Gauri pun masuk kedalam dan disambut oleh Aura yang sudah siap memberikannya pertanyaan.
Tanpa melihat Aura, Gauri berjalan langsung menuju kamarnya dan menutup pintunya. Aura sangat yakin ada sesuatu yang terjadi diantara keduanya, karena hal ini sangat tidak biasa. Satrio biasa pergi dengan tawa khasnya sebelum menyuruh Gauri masuk kedalam. Namun, hari ini justru Satrio yang lebih dulu pergi.
"Gue takut terjadi sesuatu sama Caraka, Kak," ucap Gauri dengan raut wajah khawatir.
"Gue yakin dia ga akan kenapa-kenapa kok, lagian lo kenapa sih Ri ... lo tuh selalu keliatan acuh sama Caraka tapi sekarang se khawatir ini," ucap Satrio dengan nada suara yang berbeda dari biasanya.
Gauri tidak bisa berkata apapun sekarang, karena yang dikata Satrio memang ada benarnya. Semenjak kepulangan Caraka, Gauri seakan-akan mengacuhkan dan tidak memiliki perasaan apa-apa lagi padanya. Tetapi hatinya tidak bisa dibohongi. Caraka masih ada disana, dan tidak pernah sekalipun Gauri lupakan.
"Apa jangan-jangan acara nonton kita hari ini cuma jadi pelarian buat lo doang?" tanya Satrio, wajahnya sedikit kecewa.
"Lo apaan sih Kak, ga biasanya lo kayak gini ... gue pergi karena emang pengen nonton sama lo," jawab Gauri yang bingung karena tidak biasanya Satrio bertingkah seperti ini.
"Gue jujur bingung sama lo Ri, please jangan bikin hati gue bingung ... "ucap Satrio.
Gauri sepertinya tahu apa yang dimaksud Satrio dari percakapan ini, "Kak ... lo tau kan gue udah anggep lo sebagai kakak yang ga pernah gue punya."
"Lo selalu ada disamping gue kalo gue butuh lo, tapi ... lo tau sendiri kan, ga bisa lebih dari itu," lanjut Gauri.
Meskipun sakit rasanya mendengar itu langsung dari mulut Gauri, Satrio sebenarnya sudah mengira dan mengetahui hal ini dari lama. Tetapi tetap saja, rasanya berbeda saat mendengarnya langsung. Karena waktu semakin larut, Satrio memutuskan mengantarkan Gauri pulang.
Keesokan paginya Gauri masih terlihat diam saja dan tidak seperti biasanya. Hari ini dirinya tidak ada jadwal bimbingan ke kampus, sehingga waktunya full di cafe. Aura menyiapkan beberapa bahan yang perlu dibawa ke cafe sambil sesekali melirik Gauri yang sedang sarapan.
Mulut Aura rasanya sudah gatal ingin menanyakan apa yang terjadi semalam antara Gauri dan Satrio. Namun, beberapa kali tidak jadi dilakukan karena sepertinya suasana hati Gauri masih kurang baik. Hari ini mereka tidak dijemput Bagas, sehingga keduanya harus menaiki bis ke cafe.
__ADS_1
Meskipun jarak antara rumah mereka ke cafe tidak terlalu jauh dan bisa saja ditempuh dengan berjalan kaki. Tetapi karena ada beberapa bahan-bahan yang perlu dibawa, akan lebih mudah menggunakan bis. Setelah mandi dan siap-siap, Gauri membantu memasukkan bahan-bahan yang dibawa kedalam tas belanjaan.
Gauri masih diam saja di dalam bis. Aura hanya memegang pundaknya dan memberi isyarat kalau mereka harus bicara nanti. Gauri hanya menganggukan kepalanya menyetujui hal itu, karena Gauri juga ingin menceritakan hal ini kepada Aura.
Sesampainya di cafe, mereka membereskan bahan-bahan yang mereka bawa dan menyiapkan hal yang lain. Gauri bertugas membereskan meja dan kursi serta membersihkan beberapa pajangan yang ada dari debu yang menempel. Setelah semuanya selesai, Aura dan Gauri pun duduk didalam untuk membicarakan apa yang terjadi semalam.
Setelah mendengar cerita dari Gauri, Aura sebenarnya mengerti apa yang dirasakan Satrio. Mereka tidak bisa menyalahkan Satrio akan bereaksi seperti itu. Bahkan setelah menghabiskan waktu bersama, Gauri masih saja memikirkan lelaki lain yang jelas-jelas tidak ada disana. Aura juga mengerti kalau Satrio ingin memiliki hubungan lebih dengan Gauri.
Sejak dulu perasaan yang dimiliki Satrio sudah jelas terlihat oleh Aura. Karena sebelumnya tidak tahu hubungan Gauri dan Caraka, Aura bahkan menjadi orang yang selalu memberikan support kepada Satrio untuk terus mengejar cintanya Gauri. Namun, setelah mengetahui sudah ada seseorang di hati Gauri dan tidak pernah berubah setelah sekian lama, Aura pun berkata kepada Satrio untuk merelakan Gauri.
Gauri kini bingung apa yang harus dilakukannya kepada Satrio. Rasanya akan sangat canggung sekarang, apalagi setelah apa yang terjadi semalam. Gauri menyayangi Satrio, tetapi hanya sebagai kakak. Rasa sayang yang jelas berbeda dengan yang diberikan Gauri kepada Caraka.
"Kasih Satrio waktu ya Ri, yakin deh sekarang dia juga lagi mikirin kedepannya sama kamu harus gimana," ucap Aura menenangkan Gauri.
"Iya, Kak."
Setelah mendapat pesanannya Bimo pun berpamitan kepada Aura lalu pergi. Tanpa mereka sadari Gauri dan Aura saling bertatapan dan memikirkan hal yang sama. Gauri lalu meminta izin kepada Aura untuk melihat keluar menyusul Bimo.
Namun, sayang sekali Bimo sudah tidak terlihat dimana-mana. "Ga mungkin pergi secepet itu, tapi kemana ya," gumam Gauri dalam hatinya. Bimo memang tidak pergi jauh, setelah keluar dari cafe dirinya langsung naik ke kantornya di lantai empat gedung itu.
Gauri kemudian kembali dengan wajah tertunduk karena tidak berhasil menemukan Bimo. Aura kemudian ingat kalau Bimo bekerja juga di lantai empat gedung ini. Kemudian menyarankan Gauri untuk mencoba datang kesana jika benar ingin mencari Caraka.
Awalnya Gauri merasa ragu, selain itu dirinya juga tidak terlalu mengenal dekat Bimo rasanya akan sangat canggung jika dirinya datang kesana begitu saja. Melihat Gauri yang sebenarnya ingin kesana tetapi tidak berani, Aura memutuskan untuk pergi kesana seorang diri.
"Lagipula kita masih ada hutang free cake ke Bimo, jadi sekalian kasih itu aja ... tenang biar aku aja yang kesana ya," ucap Aura yang dibalas dengan senyuman sumringah dari Gauri.
__ADS_1
"Nanti pas jam makan siang aja kali ya kesananya, semoga masih disana," lanjut Aura.
Setelah memastikan keadaan cafe mulai terkendali dan bisa meninggalkan Gauri seorang diri disana, Aura pun pergi ke lantai empat untuk menghampiri Bimo. Jujur selama ini Aura belum pernah menginjak bagian atas gedung yang di sewa nya selama ini. Selain karena tidak ada keperluan, juga isinya hanya kantor-kantor yang terlihat sepi.
Kebetulan Aura melihat Bimo yang masuk kedalam sebuah kantor lalu langsung mengikutinya. Sesaat setelah Bimo menutup pintunya Aura kemudian mengetuk pintu itu beberapa kali. Tidak lama Bimo langsung membukakan pintu dan kaget karena melihat Aura didepannya.
Aura lalu tersenyum dan menyapa Bimo, tetapi tidak sengaja melihat seseorang yang dikenalinya ada didalam kantor Bimo dan memanggil Bimo dengan panggilan 'Pak' . Aura yang kebingungan lalu menatap Bimo dan kembali menatap seseorang itu secara bergantian. Mengetahui Aura yang bingung, Bimo mempersilahkan Aura untuk masuk kedalam.
Ternyata seseorang yang dilihatnya adalah Pak Candra, orang yang selama ini dikenal Aura adalah pemilik gedung ini. Selama ini Aura selalu berurusan dengan Pak Candra ini masalah penyewaan gedung dan membayar selama ini. Dirinya juga sempat ditegur cukup keras oleh Pak Candra ini karena cafe nya yang mulai sepi.
"Pak Candra, kok ada disini ... terus kok manggil Bimo panggilan pak sih, ini gimana sih?" tanya Aura kebingungan dengan apa yang dilihatnya.
"Ga boleh emang saya dipanggil pak?" tanya Bimo tersenyum.
"Tapi ... tapi beda, saya baru pertama kali liat Pak Candra keliatan sungkan didepan orang lain," jawab Aura melirik Pak Candra.
Karena sudah terlanjur seperti ini dan Aura sepertinya curiga dengan hubungan antara Bimo dan Pak Candra, Bimo memutuskan memberitahukan yang sebenarnya kepada Aura.
"Pak Candra ini karyawan saya," ucap Bimo semakin membuat Aura kaget.
"Terus berarti gedung ini .... " Aura yang kaget tidak bisa meneruskan kata-katanya.
"Oh bukan, saya juga bukan yang punya gedung ini ... saya cuma mengelola aja, yang punya ada orang lain lagi," jawab Bimo tidak ingin Aura semakin kaget.
"Terus yang punya siapa?" tanya Aura sudah terlanjur seperti ini, dirinya berfikir sekalian saja tanya semuanya.
__ADS_1
Bimo hampir saja menjawab pertanyaan Aura, tetapi berhasil menahan dirinya, "Ada orang lain lagi."
"Orang lain itu apa jangan-jangan ... " ucap Aura membuat Bimo terlihat salah tingkah dan terus berusaha menjaga rahasia.