Dive Into You

Dive Into You
TERASA CANGGUNG NAMUN MENYENANGKAN


__ADS_3

Caraka ternyata masih harus dirawat untuk beberapa hari lagi. Bimo dan Gauri menjaga Caraka secara bergantian. Bimo berhasil mengalihkan kekhawatiran Fely terhadap Caraka dengan beralasan ada urusan penting di luar kota. Fely mulai curiga karena Caraka tidak pulang dan datang ke kantor selama dua hari ini.


Bimo mencoba meyakinkan Fely kalau keduanya ada sesuatu yang perlu diurus sehingga harus beberapa hari ke luar kota. Karena alasan itu Bimo mau tidak mau perlu mengambil cuti juga selama Caraka dirawat di rumah sakit. Terkadang dirinya akan ke kantornya sendiri untuk mengecek beberapa hal dan kembali ke rumah sakit ketika Gauri pulang.


"Harus hidup sembunyi-sembunyi gue gara-gara lo nih," curhat Bimo kepada Caraka yang sibuk memakan buah-buahan yang di potong Gauri.


"Ya daripada lo yang repot kalo nenek gue dateng kesini dan liat kondisi gue kayak gini," ucap Caraka ada benarnya juga.


Jika Fely tahu Caraka kembali seperti ini, akan banyak sekali pertanyaan yang akan diberikannya kepada Bimo. Bimo adalah orang yang diberi kepercayaan oleh Fely memastikan Caraka selalu datang konsultasi ke Dokternya selama di Sydney. Fely akan menanyai Bimo kenapa Caraka masih seperti ini.


"Duh ngebayanginnya aja udah pusing gue," ucap Bimo memegangi kepalanya.


"Kalian tuh ya, sebenernya Kak Bimo sama Kak Caraka udah kenal dari kapan sih?" tanya Gauri penasaran dengan hubungan mereka yang sudah lebih dari sekedar sahabat.


"Kita mungkin udah saling kenal dari sebelum kita lahir, hahha ... ayahnya Bimo udah kerja sama kakek gue dari masih muda banget jadi mereka udah dianggap kayak keluarga sendiri," jelas Caraka kepada Gauri.


Karena masih ada urusan yang harus dirinya lakukan, Bimo pamit pergi duluan dan akan kembali besok pagi. Besok pagi rencananya Gauri ada seminar untuk tugas akhirnya, sehingga harus ke kampus diantar oleh Bagas. Sebenarnya Caraka sudah meminta Gauri untuk pulang saja hari ini mempersiapkan besok. Namun, ditolak oleh Gauri.


Gauri berkata jika dirinya bisa belajar untuk besok disini. Lagipula jurusan yang diambil Gauri dan Caraka sama, jadi jika ada sesuatu yang Gauri tidak mengerti bisa langsung bertanya kepada Caraka. Caraka pun akhirnya membiarkan Gauri untuk ada disana. Dirinya juga senang bisa menghabiskan waktu bersama dengan Gauri.


Satrio ternyata mampir ke cafe Aura malam itu. Awalnya Satrio datang untuk mencari Gauri dan meminta maaf. Aura lalu menceritakan kalau Gauri malam ini tidak ada karena menjaga Caraka di rumah sakit. Mendengar itu Satrio tidak bisa melakukan apa-apa, lagipula Gauri sudah memberi garis yang jelas diantara keduanya saat itu.


Aura cukup kasihan melihat Satrio dengan raut wajah tidak bersemangat begitu. Dengan tersenyum Satrio hanya menitipkan salam untuk Gauri jika datang ke cafe. Merasa tidak enak, Aura pun mengejar Satrio sampai diluar cafe, "Lo gapapa kan?" tanya Aura.


"Gue udah ngerti kok, cuma ya emang masih kerasa aneh aja ... tapi gapapa, gue bukan cowo cengeng kali," senyum Satrio menyemangatinya dirinya sendiri.

__ADS_1


Aura tahu biasanya Satrio bukan lelaki yang lemah karena wanita. Tetapi untuk pertama kalinya Aura melihat kali ini Satrio benar-benar dibuat luluh oleh Gauri.


Sesaat setelah Satrio pergi, pundak Aura ditepuk oleh seseorang. Orang itu ternyata Bagas, hari ini Bagas mampir sebentar untuk mengobrol dengan Aura. Selain itu Aura juga memang mengundang Bagas untuk datang mencoba kue terbaru buatannya.


"Mana coba sini mau cobain kuenya," ucap Bagas tersenyum dengan hangat.


Aura kemudian mengajak lelaki jangkung itu masuk kedalam cafe karena dirinya sudah menyiapkan kue itu dari tadi. Namun, karena ada pengarahan sebentar di tempat latihan tadi Bagas jadi terlambat datang.


"Hampir aja saya mau kasih Satrio aja kue itu," goda Aura jahil.


"Oh, tadi Satrio yang datang ... mau ada apa?" tanya Bagas, menaruh barangnya disamping kursinya.


"Nyari Gauri, tapi tadi saya kasih tahu kalau Gauri di rumah sakit jagain Caraka," ucap Aura.


Aura mengangguk mengiyakan kata-kata Bagas barusan. Keduanya memang tidak ada hubungan lebih dari itu dan Satrio sendiri sangat tahu betul itu.


Aura dan Bagas kembali mengobrol dengan asik. Tidak ada yang mengganggu mereka karena cafe sebenarnya sudah tutup. Banyak hal yang mereka obrolkan, tetapi kebanyakan juga membahas Gauri dan Caraka. Sampai pada pembahasan siapa sebenarnya Bimo.


Bagas jujur kaget mendengar siapa Bimo selama ini. Dirinya juga tidak menyangka kalau Bimo bisa sekeren itu. Aura terus tertawa mendengar perkataan Bagas tentang Bimo. Namun, Bagas juga sempat penasaran tentang siapa pemilik gedung ini jika Bimo hanya sebagai pengelolannya saja.


"Apa jangan-jangan Caraka yang punya, haha ... " ucap Bagas sambil tertawa lepas, tetapi semakin lama semakin pelan dan terdiam.


"Tapi itu bukan ga mungkin loh, kata kamu Caraka dari keluarga berada kan?" tanya Aura yang kini ikut menaruh kecurigaan terhadap Caraka.


Keduanya kini terdiam sambil membayangkan jika benar Caraka adalah pemilik gedung ini. Tidak lama Bagas tertawa melihat mereka terlalu serius memikirkan ini. Aura pun ikut tertawa melihat Bagas tertawa.

__ADS_1


Caraka sibuk mengganti channel tv dengan remote nya, sedangkan Gauri sedang fokus memperhatikan layar laptopnya. Gauri memastikan lagi isi materi yang akan dirinya presentasikan besok. Dirinya tidak mau ada kesalahan disana, karena waktunya sudah tidak banyak. Gauri sudah beberapa kali menunda waktu seminarnya karena sibuk bekerja.


Caraka tersenyum gemas melihat wajah serius Gauri didepan laptopnya. Gauri terlihat berkomat kamit membacakan pembukaan seminarnya nanti sambil menaruh pulpen ditelingnya. Jika ada kalimat yang tidak disukainya ia akan langsung mencoret kertas yang dipegangnya dengan pulpen.


Ini pertama kalinya Caraka melihat sisi Gauri yang seperti sekarang. Rasanya menggemaskan dan lucu, dulu Caraka akan menjadi orang yang memaksa Gauri untuk belajar. Namun, sekarang melihat Gauri sudah tumbuh besar dan mandiri membuatnya bangga.


"Ga nyangka, yang dulu harus dipaksa-paksa buat belajar sekarang bisa fokus gitu," goda Caraka.


"Kalo ga kayak gini, beasiswa gue bisa dicabut tau ... ada tenggat waktu kelulusan soalnya," kesal Gauri terus saja digoda Caraka.


"Pasti keburu, gue percaya kok sama lo," ucap Caraka menyemangati Gauri.


"Makanya lo coba diem dulu deh Kak jangan gangguan gue, itu tv kalo gamau ditonton matiin aja deh ... " kesal Gauri.


Sudah dua malam mereka habiskan bersama, tetapi rasa canggung itu terkadang masih ada. Dibalik perkataan jahilnya, Caraka terlihat masih berhati-hati dengan kata-katanya. Dirinya masih takut Gauri akan tersinggung dengan itu.


Meskipun begitu, Caraka senang bisa terus bersama dengan Gauri dan menjahili nya. Hari ini dirinya juga melihat sisi berbeda dari Gauri. Sisi yang baru dilihatnya setelah Gauri dewasa seperti sekarang.


"Besok gue perlu dateng ga?" tanya Caraka tiba-tiba.


"Ih apaan sih ... kan belum boleh keluar rumah sakit gimana sih," kesal Gauri.


"Ya kirain butuh dukungan gitu dari gue," goda Caraka lagi.


"Ya ampun Caraka Adhitama, ini Kak Bimo pasti yang ajarin ... kok jadi lebih berani godain gue ya," ucap Gauri melirikan matanya tidak percaya dengan yang ia dengar.

__ADS_1


__ADS_2