Dive Into You

Dive Into You
BANYAK YANG BERUBAH


__ADS_3

Akhirnya setelah lelah selama berhari-hari menyiapkan ujian semester terakhir ini, Gauri berhasil menyelesaikannya dengan baik tanpa kendala apapun. Seperti baru kemarin Gauri memasuki ruangan untuk melakukan wawancara beasiswa. Sekarang dirinya sudah berada di tingkat akhir kuliahnya dan mendapatkan beasiswa full berkat hasil wawncaranya yang sangat memuaskan.


Kini semua mata kuliahnya telah selesai dan menyisakan seminar penelitian dan sidang tugas akhir. Terlihat beberapa langkah lagi memang, tetapi sebenarnya jalannya masih cukup panjang. Satrio yang sudah lebih dulu lulus sudah turun dari jabatan kebanggaannya yaitu ketua BEM dan digantikan oleh anggota yang dipilih langsung olehnya. Meskipun sudah lulus, Satrio masih menetap di kampus sebagai asisten dosen.


Banyak hal yang berubah sebelumnya dari kehidupan Gauri tetapi sudah mulai terbiasa seiring berjalannya waktu. Seperti kehidupannya tinggal bersama Aura dan di waktu yang sama part time di cafe nya. Saat liburan semester juga Gauri masih menyempatkan diri untuk mengunjungi orangtuanya. Namun, cukup disayangkan karena cafe Aura mulai mengalami penurunan pengunjung beberapa bulan ini.


Bahkan menggunakan Satrio pun masih tidak mempan. Satrio cukup populer di kampus bahkan hingga sekarang tetapi kehadirannya disana masih belum cukup juga membawa banyak pengunjung ke cafe Aura. "Kak Satrio udah mulai pudar nih kepopulerannya," lirikan tajam Gauri langsung mengenai Satrio. "Gimana nih, punya ide lain ga?" lanjutnya.


"Ga bisa ... kepopulerannya gue udah pudar? ga mungkin, coba Ri liat lagi muka gue emang ada yang rubah?" ucap Satrio yang mendekatkan wajahnya ke Gauri membuat pipinya memerah.


"Sana ah jangan deket-deket mukanya," kata Gauri mendorong Satrio menjauh.


Aura sudah kehabisan ide lagi dan hampir menyerah, tetapi terus dicegah oleh Gauri. Gauri tidak mau hasil kerja keras Aura selama ini membangun cafe ini sia-sia begitu saja.

__ADS_1


Karena harus mengisi kelas Satrio pun harus pamit lebih dulu ke kampus. Gauri juga harus bertemu dengan pembimbingnya sehingga mereka berdua pun pergi ke kampus bersama. Tidak lupa Gauri memberikan semangat kepada Aura, dirinya dan Satrio akan sebisa mungkin membantu Aura. Melihat keseriusan dan semangat Gauri membuat Aura termotivasi lagi dan tidak menyerah.


Meskipun sudah beberapa tahun berlalu Satrio masih setia menggunakan motor kesayangannya. Karena sering pergi bersama ke kampus kini Gauri punya helm nya sendiri yang selalu tergantung di motor Satrio. Banyak yang mencurigai hubungan keduanya tetapi mereka selalu bersikeras mengatakan tidak ada apa-apa antara keduanya. Satrio sudah Gauri anggap kakak sekaligus sahabatnya sendiri.


Ketengilan dan perhatian Satrio selama ini selalu Gauri anggap sebagai perasaan yang diberikan kakak kepada adiknya. Dari membantunya mengurus beasiswa saat itu hingga sekarang membantu mempromosikan cafe milik Aura. "Kak, nanti pulangnya gue sendiri aja ga perlu dianter sampe cafe ... mau ada yang gue urusin dulu," ucap Gauri. Satrio hanya memberi isyarat 'oke' dari kaca spion yang langsung diliat Gauri.


Sampai kampus mereka langsung berpisah di parkiran seperti biasa, Gauri menitipkan helmnya kepada Satrio kemudian langsung pergi. Terkadang ada beberapa mahasiswa yang tidak suka dengan kedekatan Gauri dan Satrio. Mereka bisa langsung melabrak Gauri dan meminta Gauri untuk menjauhi Satrio. Melihat itu Gauri hanya tertawa sambil berkata, "Kebalik kali, yang harusnya diminta menjauhi itu Kak Satrio dari saya ya bukan saya yang menjauh."


Gauri sebenarnya masih terdaftar sebagai anggota BEM, tetapi karena semakin sibuk dirinya sudah jarang ada disana. Mungkin hanya jika ada acara-acara penting yang membutuhkan banyak orang yang turun, Gauri sebisa mungkin membantu. Selain itu juga masih banyak yang perlu dilakukan oleh Gauri, sepertinya waktu 24 jam sehari itu kurang baginya.


"Kali ini dua cup ya ice americano nya sama brownies nya satu," pesan Bimo yang tidak biasanya memesan dua cup.


"Hari ini ada teman yang mampir?" tanya Aura sambil menyiapkan pesanan.

__ADS_1


"Iya, baru pulang dari luar jadi saya ajak mampir." Bimo mengeluarkan kartunya untuk membayar pesanannya. Tidak perlu menunggu lama pesanan Bimo pun selesai dan langsung dibawanya ke lantai atas.


Sampai sore ini pelanggan yang mampir di cafe nya baru ada lima orang termasuk Gauri dan Satrio tadi pagi. Aura sudah ingin menyerah, tetapi dirinya masih melihat semangat di mata Gauri. Aura tidak mau mengecewakan Gauri jika dirinya menyerah begitu saja. Selain itu Aura sudah terlanjur membayar biasa sewa selama satu tahun. Akan sayang sekali jika berhenti di awal tahun seperti ini.


Selesai dengan urusan kampusnya, Gauri buru-buru menaiki bis menuju suatu tempat. Bis yang dinaiki Gauri berhenti di sebuah toko buku klasik yang ramai pengunjung. Ketika masuk Gauri sudah terlihat kenal dengan sang pemilik toko tersebut dan ternyata Gauri juga bekerja part time disana. Gauri tidak ingin membebani Aura, sehingga dirinya mengambil kesempatan kerja part time disana.


Uangnya nanti bisa dirinya gunakan untuk membantu Aura membayar uang sewa cafe nya. Selama ini Aura sudah banyak membantunya sehingga kini gilirannya membantu Aura. Toko buku tersebut kebetulan dulu tempat Satrio part time di awal kuliahnya. Ayahnya yang sangat ketat tidak memberikan dirinya banyak uang jajan, karena itu Satrio sempat bekerja disana.


Gauri melakukan kerja part time mulai dari pukul enam sore hingga sebelas malam. Di waktu terutama pada malam minggu toko buku itu akan kedatangan banyak pelanggan. Belakangan ini buku dan suasana klasik sedang banyak digemari anak muda. Karena disana juga disediakan makanan dan minuman ringan banyak pasangan muda mudi yang betah berlama-lama disana.


Dalam satu minggu Gauri membagi waktu kerja part time nya menjadi empat hari di cafe Aura, sisanya di toko buku. Keduanya dilakukan di jam yang kurang lebih sama sehingga tidak mengganggu waktu kuliahnya yang kebanyakan diwaktu pagi hingga sore hari. Terlebih lagi sekarang Gauri sudah tidak ada mata kuliah yang harus dihadiri membuat waktunya lebih fleksibel.


Terkadang ada Satrio yang mampir kesana untuk mencari bahan mengajar. Meskipun sudah beberapa lama ini Satrio bekerja sebagai asisten dosen, tetapi Gauri masih saja menertawakannya. Gauri terbiasa dengan kejahilan Satrio sehingga melihat wajah seriusnya mencari bahan ajar di toko buku maupun saat mengajar di kelas masih terlihat aneh di mata Gauri.

__ADS_1


Sementara di rumah Caraka, Fely mengangkat sebuah telepon dari seseorang yang disapa dengan nada riang darinya. "Kok ga mampir kerumah dulu sih? sekarang ada dimana?" tanya Fely kepada seseorang di telepon. Fely yang sedang sibuk mengurus tanamannya sampai tidak sempat membuka sarung tangannya. Wajahnya merekah selama mereka mengobrol lewat telepon. "Ya udah nanti kalo udah selesai langsung kerumah ya Ka," ucap Fely,


__ADS_2