Dive Into You

Dive Into You
PEJUANG


__ADS_3

Beberapa hari setelah malam itu kini baik Caraka ataupun Gauri mulai menjalani hari-hari mereka seperti biasa. Juga tidak ada yang mencoba untuk saling menghubungi satu sama lain. Tidak ada penyelesaian dari pertemuan mereka malam itu. Hanya ada sebuah kejelasan yang pasti bahwa permasalahan diantara mereka tidak akan bisa semudah itu selesai jika Caraka tidak menceritakan kondisinya yang sebenarnya.


Gauri sibuk menyelesaikan tugas akhir dan part time di cafe milik Aura di waktu senggangnya. Caraka juga sering ke luar kota mendampingi kakek nya untuk melakukan perjalanan bisnis. Bimo sesekali mampir ke cafe untuk membeli kopi favoritnya dan kembali bekerja di kantornya di lantai empat gedung itu. Semua orang melakukan kegiatannya seperti biasa. Gauri dan Caraka bahkan sengaja menyibukkan diri untuk melupakan apa yang terjadi saat itu.


Hingga suatu hari Caraka mampir ke tempat latihan untuk bertemu dengan Bagas setelah sekian lama sempat tidak ada kabar. Bagas sempat mengira Caraka akan menghilang seperti sebelumnya. Caraka datang dengan raut wajah yang penuh pikiran. Setelah menyelesaikan latihan dengan beberapa anak didiknya, Bagas pun menghampiri Caraka.


"Kenapa muka lo dateng-dateng asem amat?" tanya Bagas jelas tidak senang dengan ekspresi wajah Caraka.


"Kayak ga terjadi apa-apa Gas, ada yang salah ya dari gue," balas Caraka.


"Maksud lo gimana sih, prolog dulu napa jangan langsung intinya," kesal Bagas tidak tahu apa yang sedang Caraka coba bicarakan.


"Gauri ... gue udah coba jelasin tapi dia sama sekali gamau denger, gue harus gimana sekarang?" ucap Caraka bingung apa yang harus dilakukannya lagi.


Bagas sebenarnya tahu apa yang harus dimulai dari penjelasan Caraka. Mau tidak mau Caraka harus mengatakan sejujurnya tentang kondisinya kepada Gauri. Bukan dengan maksud sebagai alasan tetapi agar Gauri tahu dasar dari semua permasalahan ini itu apa.


Caraka jelas terlihat masih ragu untuk menceritakan kondisi yang sebenarnya kepada Gauri. Apalagi dengan kenyataan meskipun sudah beberapa lama melakukan konsultasi kepada dokternya, kondisi itu tidak akan bisa benar-benar hilang. Hanya bisa dikurangi, tetapi tidak bisa hilang sepenuhnya.

__ADS_1


"Ada yang salah sama gue kayaknya, Gas." Caraka menundukkan kepalanya pasrah.


"Gue ga pernah kenal sama Caraka yang pengecut gini ya ... Caraka yang gue kenal itu pejuang, ga pernah tuh gue liat lo nyerah buat dapetin yang lo mau," tegas Bagas meyakinkan Caraka kalau dirinya pasti bisa menyelesaikan masalahnya.


"Gue juga yakin adik sepupu gue bukan orang berhati keras, pasti bisa Ka ... ada celahnya kok."


Setelah mengobrol banyak hal, Bagas juga memberikan beberapa nasihat kepada Caraka dari sudut pandang kakak sepupu Gauri. Gauri bukan wanita berhati keras dan sulit untuk mengerti keadaan seseorang. Caraka hanya perlu mencari waktu dan momen yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Namun, untuk sekarang ada baiknya membiarkan semuanya berjalan seperti biasa, jangan terburu-buru.


Mendengar itu Caraka pun melanjutkan kesibukannya seperti biasa, tetapi sekarang menambah satu kegiatan yaitu mampir ke cafe Aura setiap pagi. Meskipun tidak sampai saling mengobrol, Caraka hanya berharap bisa melihat Gauri. Terkadang dirinya pergi dengan Bimo, tetapi sesekali hanya seorang diri.


Memang seringnya tidak ada Gauri, tetapi ketika saatnya pas dan Gauri ada disana Caraka selalu berusaha memberi isyarat kalau dirinya akan terus berusaha sampai Gauri memaafkannya. Jujur Bimo sendiri kaget dengan kemajuan Caraka.


Pagi itu Gauri diantar Satrio ke cafe lalu memutuskan untuk diam sebentar disana sampai jam mengajaknya tiba. Satrio duduk di kursinya yang seperti biasa. Tidak lama Caraka mampir ke cafe dan membeli kopinya seperti biasa. Dirinya kemudian melihat adanya Satrio disana sedang mengobrol dengan Gauri , dan sedikit dibuat cemburu.


Caraka pura-pura tidak menyadari kehadiran Gauri, kemudian bertanya kepada Aura. Aura pun menjawab dengan menunjukan tangannya ke arah dimana Gauri berada. Caraka lalu menengok dan tepat disaat Gauri juga melihat kearahnya. Dengan sengaja Caraka mengeluarkan tatapan dinginnya kepada Satrio. Seolah-olah ingin mengatakan 'jangan deketin cewe gue.'


Setelah memberikan tatapan dingin penuh dengan peringatan itu, Caraka pun pamit pergi dan berkata akan kembali besok. Sayangnya karena ada suatu urusan cafe Aura harus tutup besok. Caraka kecewa mendengarnya karena artinya besok tidak ada kesempatan baginya bertemu Gauri, tetapi bersikap cool lalu berlalu pergi.

__ADS_1


Efek dari itu seharian Caraka murung di kantor dan seperti orang yang tidak bersemangat hidup. Bimo heran melihat tingkah aneh Caraka, "Duh ni anak kenapa lagi sih?"


Seperti cenayang Caraka tiba-tiba menjawab pertanyaan dalam hati Bimo, "Besok cafe nya tutup Bim, gue jadi gabisa liat Gauri," ucap Caraka tiba-tiba.


"Jangan kayak orang susah, datengin rumahnya ajak ketemu," jawab Bimo memilih cara agresif untuk kembali mendekati Gauri.


"Gabisa gitu Bim ... harus pelan-pelan sama dia tuh jangan dipaksa, ah lo ga ngerti perempuan ... " ledek Caraka kepada Bimo.


Sepulang kantor rencananya akan diadakan acara makan malam bersama untuk merayakan keberhasilan salah satu proyek mereka. Caraka yang sejak pagi suasana hatinya kurang baik memutuskan untuk tidak ikut dan langsung pulang.


Di perjalanan pulang Caraka tidak sengaja melihat Gauri yang sedang berjalan sendiri di keramaian jalanan malam itu. Gauri sengaja melewati jalanan yang terkenal dengan festival kulinernya di malam hari. Caraka lalu memarkirkan mobilnya lalu berjalan mengikuti Gauri dari belakang.


Sebisa mungkin dirinya berjalan tanpa diketahui oleh Gauri. Ketika Gauri berhenti di sebuah tempat jajanan pinggir jalan, dirinya pun ikut berhenti. Tiba-tiba Caraka mengingat momen pertama kali mereka bertemu, keduanya dan Bagas menghabiskan waktu berjalan-jalan melihat bazar di tempat kompetisi renang.


Saat itu masih jelas di ingatan Caraka bagaimana Gauri berjalan masuk ke dunianya yang tidak berwarna dan mengubahnya menjadi lebih berwarna. Bagaimana Gauri yang pertama menarik tangannya dengan erat dan mengajaknya menikmati acara bazar bersama.


Sebenarnya saat itu perasaan Caraka sedang tidak baik. Ia sedang sangat merindukan kedua orang tuanya, kakek dan neneknya juga sibuk dengan bisnis mereka sehingga tidak bisa menemaninya disana. Di saat itu Gauri seakan-akan menariknya keluar dari kesedihan yang menyelimutinya.

__ADS_1


Dan itu lah momen dimana seorang Caraka jatuh cinta pada Gauri. Meskipun keduanya masih sangat kecil untuk mengerti yang namanya cinta, tetapi Caraka tahu betul kalau perasaannya ini berbeda dari sekedar temanĀ  biasa. Senyuman Gauri dan setiap gerak geriknya saat itu masih sangat Caraka ingat.


Sambil menatap Gauri yang sekarang berjalan didepannya, Caraka kembali jatuh cinta. Perasaan yang sama saat itu kembali muncul bahkan semakin kuat, andai saja Gauri tidak berjalan didepannya melainkan disampingnya menggenggam tangannya seperti saat itu. Jika saat itu kembali terulang, Caraka berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan membiarkan genggaman itu terlepas lagi.


__ADS_2