
Gauri masih kebingungan ketika Citra memeluknya dan mengatakan hal itu. Meski begitu firasat Gauri mengatakan ini bukan hal yang baik. Gauri melirik kearah ayahnya yang terduduk lemas di meja makan ditemani Alan yang duduk disampingnya. Suasana dirumah Gauri yang biasanya ceria dan hangat sekarang berubah menjadi sedih dan suram. Dari keheningan malam diluar hanya terdengar suara tangisan Citra yang memikirkan bagaimana nasib mereka kedepannya.
Beberapa saat menenangkan diri ayahnya mulai memberanikan bercerita kepada seluruh anggota keluarganya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Gauri mendengarkan dengan sesama sambil menenangkan ibunya dan menggenggam tangannya. Inti dari permasalahannya adalah Faisal bersama dengan dua temannya membuka bisnis bersama, uang untuk investasi dikumpulkan kepada salah satu orang, lalu orang tersebut lah yang melakukan survei lapangan.
Pada awalnya bisnis mereka mendapatkan progress yang baik, disini posisi ayahnya Gauri masih juga bekerja ditempat biasa. Setelah melihat hasil yang baik, mereka pun memberanikan diri untuk lebih banyak investasi. Namun sayangnya seperti sudah direncanakan oleh salah satu rekan mereka itu, untuk survey lapangan kali ini dirinya kabur dan menghilang. Bahkan tidak dapat dideteksi keberadaannya, meskipun sudah dicari oleh pihak yang berwajib.
Hari dimana Citra, Faisal, dan Sinta mengobrol serius kala itu adalah hari pertama rekan kerjanya itu hilang dan mereka juga langsung melaporkan hilangnya keesokan harinya ke kantor polisi. "Terus sekarang uangnya hilang semua Yah?" tanya Gauri menatap langsung ke mata ayahnya. "Sedang Ayah usahakan ya Nak, setidaknya ada beberapa yang bisa kita ambil," jawab Faisal lirih sedikit pesimis.
Di kamarnya Gauri tidak bisa tertidur dan hanya memikirkan permasalahan yang terjadi kepada keluarganya. Disaat seperti ini Gauri tiba-tiba teringat Caraka. Gauri sedih karena Caraka tidak ada disampingnya saat ada permasalahan berat seperti ini terjadi padanya. "Lo dimana sih Kak, gue butuh lo sekarang ... jujur gue ga sanggup ngehadepin ini sendiri," gumam Gauri sambil menangis dan memeluk bonekanya.
Seperti memiliki koneksi diantara mereka tiba-tiba Caraka juga memikirkan Gauri. Carakam merasa bersalah karena tidak menghubungi Gauri saat dirinya ke Jakarta kemarin. Tetapi dirinya berpikir kalau Gauri juga sudah bahagia dengan orang lain sekarang. Caraka tidak mau mengganggu kebagahagiaan Gauri. Tetapi perasaannya tiba-tiba tidak enak saat mengingat Gauri. Rasanya seperti ada yang terjadi dengan Gauri di Jakarta.
Perasaan itu adalah perasaan yang sama saat dirinya mengkhawatirkan Mike. Setelah kejadian Mike dulu, Caraka sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau tidak akan membiarkan seseorang yang dekat dengannya merasakan apa yang dirasakan Mike saat itu. Caraka sudah mengambil ponselnya dan membuka kontak hendak menelepon Gauri, tetapi terhenti "Gue masih ga sanggup denger suara kekecewaan dari lo Ri." Caraka menurunkan niatnya dan melemparkan ponselnya.
__ADS_1
Keesokan paginya hanya ada Alan yang duduk di meja makan sedang memakan sarapannya seorang diri. Gauri kemudian mencari keberadaan ibu dan ayahnya. Tetapi tidak bisa dirinya temukan, bahkan mobilnya pun tidak ada. Gauri kemudian bertanya kepada Alan, "Ibu sama Ayah pergi kemana Lan?" tetapi Alan hanya menggeleng tidak tahu. Sejak Alan bangun ibu dan ayahnya sudah tidak ada dirumah.
Hal ini cukup aneh karena baru pertama kali mereka pergi tanpa memberitahunya. Tetapi ibunya masih sempat menyiapkan sarapan untuk Gauri dan Alan. Gauri yang khawatir mencoba menelepon ibunya tetapi tidak juga diangkat, sama halnya dengan ponsel ayahnya. Gauri yang khawatir memutuskan untuk menelepon ibunya Bagas yaitu Sinta siapa tahu dirinya mengetahui keberadaan ibu dan ayahnya.
"Iya Ri, ada apa telepon Tante pagi-pagi?" jawab Sinta.
"Tante, maaf kalo Gauri mengganggu ... tapi tante kira-kira tahu engga ya Ibu sama Ayah pergi kemana?" tanya Gauri khawatir.
"Aduh Ri, tante gatau tuh tumben banget mereka pergi ga ngasih tahu kamu," heran Sinta.
"Yaudah mending kamu ke kampus aja, terus Alan juga harus berangkat sekolah kan ... nanti tante coba cari mereka kalo udah ada kabar tante langsung hubungi kamu, ya?" ucap Sinta menenangkan Gauri.
"Iya deh, makasih ya Tante."
__ADS_1
Setelah bersiap-siap, Gauri lebih dulu mengantar Alan kerumah temannya yang biasa berangkat bersama lalu pergi menuju halte bis. Sambil menunggu bis, Gauri tidak bisa melepaskan pandangannya dari ponselnya. Siapa tahu ibunya akan mengirimkan pesan padanya. Kepalanya sampai sakit memikirkan persoalan yang terjadi pada keluarganya. Gauri sebagai anak pertama merasa harus melakukan sesuatu untuk membantu orang tuanya.
Tidak lama bis yang ditunggu pun datang, Gauri lalu naik bersama penumpang lainnya. Sepanjang jalan Gauri tidak bisa berhenti berpikir, ditambah lagi pagi ini dirinya ada kuis yang belum dirinya persiapkan semalam. Semalaman Gauri sibuk menangis sambil memikirkan banyak hal, sampai kemungkinan terburuk akan kehilangan rumahnya.
Seperti sudah jatuh tertimpa tangga, bis yang Gauri naiki mengalami ban bocor. Hal ini menyebabkan semua penumpang harus turun dan menunggu selama 20 menit lagi sampai bis selanjutnya tiba. Rasanya Gauri ingin menangis dengan semua ujian yang datang bertubi-tubi ini. Tetapi Gauri harus menahannya karena dirinya sudah dewasa dan harus bertindak layaknya perempuan dewasa. Tidak boleh membiarkan perasaannya mengontrol dirinya.
Tiba-tiba didepannya berhenti sebuah motor, seseorang itu kemudian membuka kaca helmnya dan ternyata itu adalah Satrio. Sebuah kebetulan Satrio melewati jalan itu, mengingat arah rumahnya dan rumah Gauri sangat berbeda. "Heh ... jangan bengong sini naik ke kampus bareng gue." Gauri yang saat itu sedang melamun lalu kaget ketika melihat Satrio didepan matanya. Yang terpikir oleh Gauri adalah kenapa ada Satrio disaat seperti ini.
"Eh, ayo malah lanjut ngelamun ... entar keburu telat gue ke kampusnya," kesal Satrio yang menyodorkan helm kepada Gauri.
"Oh ... iya oke ayo, gue pagi ini ada kuis jadi ngebut ya," ucap Gauri yang tidak punya pilihan lain selain menaiki motor Satrio.
"Ngebut? Hahha ... jangan nyesel ya lo nyuruh gue ngebut," goda Satrio kepada Gauri yang sedang sibuk memasang helmnya.
__ADS_1
Tangan Satrio sudah bergerak akan membantu Gauri tetapi dirinya tarik kembali, lalu memilih untuk menyalakan mesin motornya. "Udah siap belom?" tanya Satrio. "Udah ayo cepetan," jawab Gauri sedikit berteriak.
Satrio tadinya hendak menanyakan kepada Gauri kenapa dia bisa ada disana duduk sambil melamun. Diantara banyaknya penumpang yang diturunkan bersama dengan Gauri, hanya Gauri yang terduduk lemas dengan tatapan kosong disana. Satrio kebetulan semalam menginap dirumah temannya yang tidak jauh dari rumah Gauri sehingga pagi ini dirinya muncul dijalanan itu dan bisa bertemu dengan Gauri.