Dive Into You

Dive Into You
SEMUA TERUNGKAP


__ADS_3

Tatapan Gauri ternyata dirasakan oleh Caraka. Caraka yang sedang fokus menyetir cukup terganggu dengan tatapan itu. "Lagi nyetir nih ... sesi mengagumi wajahnya bisa ditunda nanti aja ga?" ucap Caraka sembari menyetir. Setelah mendengar itu Gauri pun berhenti menatap Caraka dan menyarankan mereka untuk berhenti di suatu tempat.


"Mau kemana dulu sih emang? kamu ga cape apa?" tanya Caraka.


"Cape ... jadi ngantuk, tapi gamau tidur jadi mau mampir beli kopi dulu," jawab Gauri mencari lokasi coffee shop terdekat.


Caraka hanya bisa menuruti kemauan Gauri. Lagi pula Caraka sudah mengambil cuti untuk hari ini. Dirinya berjanji akan menemani Gauri kemana pun setelah dari kantor polisi. Hari ini sudah dirinya dedikasikan sepenuhnya untuk Gauri.


Sampai lah mereka di coffee shop yang direkomendasikan oleh salah satu akun di sosial media yang dilihat Gauri. Dalam hatinya Caraka sudah bersiap dengan berbagai pertanyaan yang sudah ingin ditanyakan oleh Gauri semenjak didalam mobil.


"Oke ... jadi mau tanya apa?" tanya Caraka kepada Gauri yang terlihat tenang.


"Maksudnya?" tanya Gauri kembali, dirinya yang menjadi bingung sekarang.


"Aku kirain ngajak kesini mau nanya sesuatu gitu tentang tadi di kantor polisi," ucap Caraka to the point.


"Oh ... aku sih nunggu Kak Caraka yang cerita, selama ini dirahasiain pasti ada sesuatu kan?"


"Aku gamau maksa." Gauri terlihat jauh lebih dewasa sekarang.


Sembari mengembangkan senyumnya Caraka merasa Gauri sudah benar-benar berubah menjadi wanita dewasa. Caranya berpikir dan menghadapi sebuah permasalahan berubah dari Gauri yang dulu. Caraka kemudian mengelus lembut kepala Gauri menunjukan seberapa bangganya dia pada Gauri yang sekarang.


Sempat salah tingkah hingga kedua pipinya memerah, Gauri cepat-cepat menurunkan tangan Caraka dari kepalanya. Hubungan yang mereka miliki memang tidak seperti pasangan pada umumnya. Bahkan diantara mereka tidak ada yang mengatakan perasaannya satu sama lain dengan lantang.


Masing-masing dari mereka berpikir jika perasaan itu akan lebih dalam jika ditunjukkan dengan perbuatan dari pada sekedar perkataan belaka. Gauri memahami betul sifat Caraka yang sulit untuk mengungkapkan perasaannya, tetapi juga sangat pandai menunjukannya dengan perbuatannya.


Caraka pun merasa sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan wanita seperti Gauri. Sejak pertama mereka bertemu, Gauri lah satu-satunya orang yang menerobos masuk ke tembok yang selama ini dibangun didalam hati Caraka. Membuat hari-hari Caraka lebih berwarna.


"Sorry ya ... " ucap Caraka secara tiba-tiba.


Gauri kaget mendengar perkataan Caraka yang mendadak, "Sorry kenapa?"

__ADS_1


"Sorry dulu ga ada disaat kamu butuh seseorang yang bisa jadi pundak untuk bersandar." Tatap Caraka dalam kepada Gauri.


"Udah dimaafin dari lama ... meskipun ga ada, tapi berkat semua kenangan yang pernah Kak Caraka kasih ke aku bikin aku kuat selama itu," jelas Gauri tersenyum hangat.


Ramainya coffee shop saat itu terasa tidak berarti untuk Gauri dan Caraka. Mereka benar-benar jatuh kedalam dunia mereka sendiri. Banyaknya halangan dan permasalahan membuat hubungan mereka kini lebih kuat dan dalam. Seperti tidak ada yang bisa memisahkan mereka lagi sekarang.


Hari semakin larut, Caraka memutuskan untuk mengantar Gauri pulang. Caraka juga yakin Aura sudah diantar dengan selamat oleh Bagas. Sepanjang perjalanan Gauri terus menatap jendela dan mengagumi indahnya lampu jalan dan gedung-gedung tinggal di kota Jakarta.


Sesampainya didepan rumah, Caraka mengatakan sesuatu kepada Gauri sebelum turun, "Aku ga ada niat nyembunyiin, sebelumnya juga kakek cuma minta aku buat ngelola gedung itu ... tapi setelah tau ada kamu disana, aku mutusin beli gedung itu deh ... jadi bisa bener-bener jagain kamu."


Gauri sebenarnya akan mengerti jika akhirnya Caraka tidak menceritakan alasannya merahasiakan kepemilikan gedung itu. Tetapi mendengar penjelasan dari Caraka membuat Gauri senang. Sebesar itu ternyata keinginan Caraka untuk menjaga Gauri.


"Makasih ya ... yaudah aku turun dulu," ucap Gauri sembari membuka pintu mobil dan turun.


Setelah melihat Gauri aman sampai masuk kedalam rumah, Caraka langsung menyalakan mesin mobilnya dan pulang.


Beberapa hari setelah proses lanjutan di kantor polisi. Akhirnya ditetapkan lah bahwa Aura dan Gauri tidak bersalah. Namun karena kurangnya tuduhan yang memberatkan lawan sehingga mereka hanya dikenai ganti rugi sebesar uang yang telah disepakati bersama.


Caraka yang juga ada disana masih merasa ada yang janggal. Dirinya masih penasaran dengan motif mereka melakukan hal itu di cafe Aura. Caraka tidak berhenti menatap tajam kepada mereka. Hingga salah satu diantaranya merasa ditatap oleh Caraka hanya bisa memalingkan pandangannya.


"Gas lo g ngerasa ada yang aneh?" tanya Caraka berisik kepada Bagas.


"Iya sih ... tujuan mereka kayak gitu ngapain coba?" jawab Bagas yang juga merasa ada yang aneh.


Tidak mungkin mereka melakukan itu tanpa niat atau motif apapun dibaliknya. Caraka dan Bagas pun akhirnya memutuskan untuk menyelidiki ini sendiri.


Dua hari setelah keputusan oleh pihak kepolisian, Aura mulai membuka cafe nya kembali. Dirinya masih sedikit gelisah karena takut masalah kemarin akan memengaruhi pelanggannya yang lain. Tidak lama Gauri dan karyawan Aura yang lain datang dan menyapa Aura dengan ceria.


Kebetulan dari luar mereka sudah melihat wajah kurang bersemangat dari Aura. Sehingga mereka sepakat untuk masuk dan menyapa Aura dengan wajah bahagia, seperti tidak terjadi apa-apa. Kini mereka melakukan tugas masing-masing seperti biasa.


Keadaan jalanan yang cukup sepi membuat Gauri masih bisa berfikir positif tentang hari ini. Semakin lama tetapi Aura semakin khawatir karena belum juga ada pengunjung yang datang. Rupanya di pertigaan depan ada sekelompok orang yang berusaha menyabotase cafe Aura.

__ADS_1


Tidak lama muncul Bimo yang datang seorang diri membeli kopi favoritnya dan kue yang ada di etalase. Gauri tampak celingukan mencari seseorang yang mungkin akan datang bersama Bimo. Sayangnya hari ini Bimo hanya datang seorang diri.


"Ga ikut, Ri" ucap Bimo mengerti siapa yang dicari Gauri.


"Oh .... " Wajahnya kecewa mendengar jawaban dari Bimo.


"Dia udah ambil cuti beberapa hari kemaren jadi sekarang gue taliin di kursi buat beresin kerjaannya," jelas Bimo.


"Sorry nih sebelumnya gue kurung cowo lo dikantor ... kalo ga gitu kabur dia kesini," lanjut Bimo seraya tertawa.


Setelah mendapatkan pesanannya Bimo pun pamit dan kembali ke kantor. Bimo sengaja tidak membawa mobilnya melainkan menaiki motor kesayangannya. Di pertigaan Bimo melihat segerombolan orang yang mencurigakan.


Saat di lampu merah, seseorang memberikan sebuah selebaran padanya. Selebaran yang berisi tulisan yang memfitnah cafe Aura. Kejadian kemarin mereka buat sebagai topik utama di selebaran tersebut. Bimo langsung melipat dan mengantungi selebaran itu dan berniat akan menunjukannya kepada Caraka.


Sesampainya di kantor tanpa menunggu lama Bimo kemudian menyerahkan selebaran yang tadi didapatnya kepada Caraka. Awalnya Caraka bingung karena Bimo tidak mengatakan sepatah kata apapun. Setelah membuka dan membaca tulisannya, tatapan Caraka berubah.


Tatapan dingin itu kembali keluar. Seketika Caraka menelepon Bagas untuk memberitahukan tentang ini.


"Mereka tau ga tapi ada yang kayak begini?" tanya Caraka kepada Bimo sembari mencoba menelepon Bagas.


Belum sempat Bimo jawab, panggilan Caraka ternyata langsung diangkat oleh Bagas.


"Gas ... lo bisa ke kantor gue sekarang ga? ada yang perlu kita lakuin segera," ucap Caraka mengatur nada suaranya yang masih emosi.


"Oke, sore gue kesana ... aman kan?" tanya Bagas merasa ada sesuatu yang terjadi.


"Aman .... " Caraka menarik nafas dalam dan mencoba kembali bekerja.


Bimo akhirnya keluar dari ruangan Caraka dan kembali ke ruangannya. Tidak lama dirinya menutup pintu terdengar suara suatu barang yang terlempar dari dalam ruangan Caraka. Semua karyawan yang mendengar itu seketika kaget, lalu mencoba di tenangkan oleh Bimo yang sudah paham betul mengenai Caraka.


"Gue akan pastiin lo nyesel udah berurusan sama orang terdekat gue." Caraka setelah membanting telepon yang ada diruangan nya.

__ADS_1


__ADS_2