
Caraka masuk kedalam rumah bersama dengan Fely. Di ruang makan sudah ada Mbak Mimin yang menyambut Caraka dengan teriakan bahagianya. Caraka hanya tersenyum melihat Mbak Mimin yang semangat menyambut kedatangannya. Dari banyaknya pembantu dirumahnya hanya Mbak Mimin yang benar-benar bisa dekat dengan Caraka. Caraka pun hanya memakan masakan Neneknya dan Mbak Mimin.
Tanpa memberikan Caraka waktu untuk ke kamarnya, Fely langsung mengajak Caraka duduk untuk memakan berbagai masakan yang telah dibuatnya bersama Mimin. Sudah sangat lama Caraka tidak merasakan hal ini, karena selama ini dirinya selalu sendiri di apartemennya. Keadaan apartemennya akan sedikit ramai jika Bimo berkunjung ke Sydney. Selebihnya Caraka hanya menghabiskan waktu sendiri.
Fely tidak sabar mendengar semua cerita dari Caraka selama dirinya di Sydney. Cerita kegiatannya termasuk konsultasinya dengan dokternya disana. Namun, sepertinya Fely harus menanyakannya satu per satu jika tidak dirinya akan diledek cerewet oleh Caraka. "Oh iya Nek, nanti Bimo mampir kesini katanya malam ini mau menginap disini," ucap Caraka dan ditanggapi oleh isyarat 'oke' dari Fely.
Malam ini Gauri berencana memasak shabu-shabu menggunakan bahan yang ada di kulkas. Suasana hatinya dan Aura sedang bahagia karena banyaknya pengunjung yang datang sore tadi. Mereka bisa pulang lebih awal berkat para pengunjung itu. Sehingga malam ini akan mereka rayakan sekaligus membahas rencana mereka kedepannya. "Ayo lebih semangat lagi kedepannya," ucap Gauri menaikan gelasnya keatas bersamaan dengan Aura.
Keesokan paginya Gauri sudah membuat jadwal dengan dosen pembimbingnya membahas materi tugas akhirnya. Sedangkan Aura masih menyiapkan beberapa bahan yang perlu dibawanya ke cafe. Hari ini rencananya Bagas akan menjemput mereka karena kebetulan dirinya ada urusan di tempat latihan. Bagas sudah tidak se aktif dulu tetapi sedang mengambil pelatihan untuk menjadi pelatih disana.
Bagas pun menurunkan Aura di cafe sambil membantu membawakan beberapa bahan yang dibawanya dari rumah masuk kedalam cafe. Setelah memastikan semuanya sudah dibawa masuk, Bagas pun pamit pergi duluan mengantar Gauri ke kampus. Dijalan Bagas menanyakan kepada Gauri tentang kabar orangtuanya. Akhir-akhir ini Gauri sibuk jadi tidak sempat menghubungi mereka melalui video call. Namun, Alan selalu memberikan kabar setiap hari.
"Kabar mereka baik Kak, Ayah sama Ibu menikmati kegiatannya berkebun disana, Alan juga betah di sekolahnya," ucap Gauri.
"Syukurlah kalo mereka baik-baik saja disana," ucap Bagas lega mendengarnya.
__ADS_1
Jalanan hari ini tidak terlalu ramai sehingga mereka bisa lebih cepat sampai di tempat tujuan. Gauri pun turun dan memastikan kepada Bagas tidak perlu terlalu khawatir dengan orangtuanya, jika ada sesuatu dirinya pasti akan mengabari Bagas lebih dulu.
Pagi-pagi sekali Caraka sudah rapih dan akan bersiap pergi ke kantor. Kemarin kakeknya menyuruh Caraka juga mengurus beberapa hal di kantor selain mengelola gedung yang dimiliki Surya. Tampilannya sudah rapih sudah persis seperti CEO muda. Bimo juga sudah siap-siap dengan mobilnya. Fely hanya tersenyum bahagia melihat keadaan Caraka yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Meskipun dirinya tidak berharap secepat ini akan melihat Caraka mulai bekerja di kantor kakeknya, tetapi Fely bahagia karena Caraka sudah bisa melanjutkan kehidupannya kembali. Sempat putus asa melihat bagaimana kondisi Caraka dulu sepeninggalan Mike, kini Fely hanya bisa bersyukur karena masa itu telah berhasil dilewatinya.
Setelah urusan kantor selesai Caraka dan Bimo berencana untuk mampir ke salah satu gedung untuk melihat kondisi bisnis yang dijalankan disana. Karena meskipun berada di tengah kota dan beberapa tempat strategis lainnya masih saja ada masalah dengan pembayaran sewa dari beberapa gedung tersebut.
Di kampus, Satrio yang baru saja keluar dari laboratorium melihat Gauri sedang duduk bersantai di salah satu kursi di taman kampus. "Heh, bengong aja kesambet lo," ucap Satrio mengagetkan Gauri yang sedang serius mendengarkan lagu melalui earphonenya.
"Baru beres ngajar?" tanya Gauri.
"Engga ... lagi ada projek penelitian baru sama beberapa dosen, nih makanya pake jubah," ucap Satrio sambil menumpukan jas laboratoriumnya di pangkuan Gauri untuk membereskan barang-barangnya kedalam tas.
Gauri yang kesal dengan kelakuan Satrio melemparkan jas laboratoriumnya dan beranjak pergi. Tepat setelah Gauri pergi Satrio mulai dikerumuni oleh para mahasiswa yang mencari perhatiannya. "Dasar dari dulu ga berubah," ucap Gauri sambil geleng kepala melihat Satrio yang masih saja di idolakan oleh banyak mahasiswa muda. Hari ini adalah jadwal part time nya di cafe milik Aura, sehingga Gauri buru-buru pergi menuju cafe.
__ADS_1
Hari pertamanya bekerja dikantor tidak seperti yang dibayangkan oleh Caraka. Awalnya dirinya mnegira tidak banyak yang bisa dikerjakannya karena kakeknya hanya memintanya mengurus beberapa hal saja. Ternyata asisten Surya memebrikan banyak sekali berkas-berkas kepada Caraka yang harus dirinya kerjakan. Caraka mengintip ke ruangan Bimo untuk meminta bantuan, tetapi sia-sia saja karena di meja Bimo pun menumpuk banyak sekali berkas yang harus dikerjakan.
Sedikit demi sedikit Caraka terbiasa dan mulai mengerti dengan pekerjaan yang diberikan padanya. Dirinya sangat serius bekerja hingga tidak mneyadari hari sudah siang dan Bimo sudah berada didepan pintu ruangannya untuk mengajak makan siang bersama. "Makan siang dulu Ka," ucap Bimo mengintip dari balik pintu. Jika tidak seperti itu, Caraka akan terlalu fokus dan lupa makan siang.
Ada sebuah toko rice bowl enak tepat didekat cafe milik Aura dan telah menjadi langganan Bimo juga. Bimo mengajak Caraka untuk pergi kesana sekalian nantinya bisa melihat keadaan cafe milik Aura. Cafe itu kebetulan ada didalam list penyewa yang bisnisnya perlu diperhatikan karena sudah mulai menurun performanya.
Kini di cafe Aura hanya ada tiga orang yang saling bergantian menjaga bagian depan jika ada pengunjung yang datang dan memesan. Karena sekarang giliran Gauri dan Aura, jadi pegawainya yang lain tidak bekerja hari ini. Sistem ini dilakukan untuk menekan biaya penggajian karyawan. Untungnya keadaan cafe hari ini cukup baik dan mambuat Aura sedikit lega.
Diperjalanan menuju tempat makan siang Caraka menanyakan kepada Bimo apa dirinya kenal dengan penyewa di gedung yang lain. Tetapi karena secara khusus Bimo hanya diminta mengawasi satu gedung itu saja, dirinya tidak begitu mengenal penyewa di gedung yang lain. Namun, untuk cafe milik Aura, Bimo berkata tidak perlu khawatir karena meskipun tidak kenal dekat tapi dirinya familiar dengan pemiliknya.
Mereka pun akhirnya sampai di tempat rice bowl yang dimaksud oleh Bimo. Tempatnya tepat berada didepan cafe milik Aura. Sebelum masuk, Caraka sempat melihat sekilas ke arah cafe Aura dan melihat kalau hari ini cukup banyak pengunjung yang datang. Caraka tidak sempat melihat ada Gauri yang tepat berdiri di meja kasir sedang menerima pesanan pengunjung yang datang.
Setelah makan, Caraka keluar sebentar karena keadaan didalam tempat makan cukup ramai karena jam makan siang. Dirinya tidak terbiasa dengan keadaan ramai seperti itu. Setelah keluar Caraka melihat-lihat keadaan sekitar sana sambil memperhatikan gedung kakeknya yang berada tepat didepannya. Jalanan disekitar cukup ramai karena posisinya yang hampir berada di tengah kota.
Terlalu serius memperhatikan keseluruah gedung sampai tidak menyadari ada sepasang mata yang melihatnya dari seberang jalan. Sepasang mata yang terus melihat ke arah yang sama mau seberapa ramai jalanan didepannya. Sampai sepasang mata itu menemui mata Caraka, dan membuat keduanya bertatapan untuk beberapa saat. Rasanya semua kenangan yang ada berlalu dikepala mereka saat itu. Ramainya jalanan tidak menghalangi Caraka dan Gauri untuk saling melihat satu sama lain.
__ADS_1