Dive Into You

Dive Into You
CARAKA PINGSAN


__ADS_3

Dalam keadaan tubuh dan mentalnya yang belum seperti semula Caraka benar-benar memaksakan dirinya hingga ambruk seperti ini. Selama didalam ambulance Caraka masih belum sadarkan diri. Pelatihnya hanya bisa terus berdoa dalam hati. Caraka sudah dianggapnya seperti anak sendiri karena sudah bersama sejak kecil. Sebelumnya Caraka terlihat baik-baik saja, pelatihnya tidak menyangka dirinya akan tiba-tiba ambruk seperti ini.


Sesampainya di rumah sakit terdekat, Caraka langsung dibawa ke UGD. Staff yang datang menemani mereka mencoba menghubungi keluarga Caraka di Jakarta. Caraka langsung ditangani oleh dokter dan beberapa perawat yang sedang berjaga saat itu. Tampak jelas raut wajah kekhawatiran dari pelatihnya Caraka karena ini kali pertama Caraka sampai ambruk. Selama ini Caraka adalah anak yang kuat mau sebagaimana keras latihan yang dia lakukan.


"Iya Halo, ini neneknya Caraka ada apa ya? ada yang terjadi sama Caraka?" khawatir Fely.


"Sebelumnya saya meminta Ibu tenang dulu, jadi setelah kompetisi berakhir Caraka ambruk dan sekarang sedang dalam penanganan di rumah sakit terdekat." Staff menjelaskan dengan tenang agar Nenek Fely tidak panik.


"Apa? Jadi ... terus Caraka gimana? Saya kesana sekarang," suara Fely bergetar.


"Tenang dulu Bu, saya akan kabari update keadaan Caraka segera. Akan lebih baik jika-"


"Engga ... saya kesana sekarang, kirimi saya alamat rumah sakitnya," ucap Fely.


Nenek Fely jelas sangat cemas dan khawatir karena sebelumnya dirinya sudah mendapat perasaan tidak enak mengenai cucu kesayangannya itu. Tanpa menunggu Fely kemudian meminta asistennya di kantor untuk memesankan tiket pesawat ke Singapura dengan waktu paling cepat. Hari ini kebetulan suaminya sedang ada di luar kota mengurus beberapa kliennya, karena itu Fely akan berangkat dengan asistennya.

__ADS_1


Dokter melakukan CT scan pada Caraka karena kepalanya sempat terbentur saat pingsan tadi. Pelatihnya hanya meminta para dokter untuk melakukan yang terbaik. Caraka adalah salah satu atlit kebanggaan tim dan yang paling bisa diandalkan, maka dari itu keadaannya yang sekarang harus ditangani dengan serius. Dengan banyaknya proses pemeriksaan Caraka masih saja belum sadarkan diri.


Sementara di Indonesia Gauri sedang mengerjakan pre test untuk memasuki Universitas. Ditengah-tengah dirinya yang sedang mengerjakan test ponselnya pun bergetar dari dalam tas. Karena tasnya yang diletakkan di loker jadi Gauri tidak menyadari itu. Yang menelepon adalah Bagas yang baru saja mendapatkan kabar dari pelatih dan beberapa temannya mengenai Caraka.


"Si Gauri kemana sih telepon gue ga diangkat mulu dari tadi," khawatir Bagas.


"Caraka keadaannya gimana ya, ga pernah nih dia sampe kayak gini."


Nenek Fely sudah siap-siap dirumahnya menunggu asistennya untuk menjemput kemudian berangkat ke Singapura secepatnya. Sebelumnya Fely sudah menghubungi suaminya mengabari keadaan Caraka, dirinya berkata bahwa secepatnya akan menyusul Fely ke Singapura setelah urusan bisnisnya selesai. Tidak lama mobil asistennya tiba, Fely langsung naik kedalam mobil dan mereka pun berangkat.


Akhirnya hasil tes sudah keluar. Tetapi pihak rumah sakit masih menunggu keluarga Caraka untuk datang, karena tadi Fely sempat mengabari bahwa dirinya sudah dijalan menuju rumah sakit. Tidak lama Fely dan asistennya pun datang. Pihak dokter kemudian meminta Fely dan pelatihnya Caraka untuk ke ruangannya.


Di ruangannya dokter yang menangani Caraka menjelaskan mengenai hasil tes Caraka.


"Sebenarnya tidak ada masalah serius, semuanya hampir dalam keadaan yang tidak mengkhawatirkan. Setelah berdiskusi dengan beberapa dokter yang lain, ada sesuatu yang menjadi sebuah masalah. Tingkat stres dan tekanan yang ada di otaknya yang menyebabkan rasa tidak nyaman dan berpengaruh pada kerja jantungnya. Hal ini juga bisa mengarah kepada rasa sesak di dada."

__ADS_1


"Sepertinya saat kompetisi tadi Caraka memaksakan keadaannya yang seperti itu sehingga menyebabkan dirinya pingsan. Kemungkinan dirinya sendiri juga sudah mengetahui keadaannya namun mencoba mengabaikannya karena merasa bukan masalah besar. Ternyata ini bukanlah masalah yang bisa dirinya abaikan." lanjut dokter yang menangani Caraka menjelaskan.


Mendengar hal itu cukup mengagetkan bagi Fely maupun pelatihnya Caraka. Karena memang benar Caraka sama sekali tidak menunjukan hal itu pada mereka. Selama latihan juga dirinya tidak pernah menunjukan kalau dirinya tidak baik - baik saja. Setelah keluar dari ruangan dokter, Fely meneteskan air matanya tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


Setelah menyelesaikan pre test nya, Gauri melihat ponselnya dan melihat Bagas meneleponnya. "Kak Bagas ada apa ya nelpon gue jam segini." heran Gauri. Saat didalam bis Gauri pun menelepon kembali Bagas mau menanyakan ada apa menelepon dirinya jam segini padahal dirinya tahu kalau Gauri ada test hari ini.


"Halo Kak, ada apaan telepon gue jam segitu kan gue masih test," ucap Gauri.


"Caraka Ri ...."


"Kak Caraka kenapa?" khawatir Gauri.


"Caraka pingsan Ri, sekarang dia dirawat di rumah sakit Singapura ... gue masih belum tahu keadaannya gimana sih tapi ... halo Ri, lo dengerin gue ngomong ga sih?" kata Bagas merasa omongannya tidak didengar Gauri.


Mendengar Caraka pingsan membuat Gauri syok dan hanya terdiam sehingga tidak mendengar dan memberikan respon terhadap Bagas di telepon.

__ADS_1


__ADS_2