
Jalanan pagi itu cukup ramai tetapi karena mereka mengendarai motor, Satrio bisa melewati celah-celah diantara beberapa kendaraan didepannya. Seperti yang diminta Gauri, Satrio sebisa mungkin mengendarai motornya dengan cepat. Sehingga tanpa Satrio sadari tangan Gauri berada di pinggangnya menggenggam erat jaketnya. Lagi-lagi Satrio dibuat terdiam dengan tindakan mendadak dari Gauri.
"Lo pegangan kan? entar jatoh ini gue mau ngebut," ucap Satrio yang pura-pura tidak tahu Gauri sudah memegang jaketnya. Sebagai jawabannya Gauri pun semakin erat memegang jaketnya. Dibelakang untuk sejenak Gauri melupakan permasalahan keluarganya dan membiarkan angin yang berhembus kencang mengenai rambutnya. Rasanya seperti setiap angin yang mengenai itu juga ikut menghilangkan satu demi satu masalahnya.
Satrio sesekali melihat ke spion untuk melihat Gauri. Melihat Gauri yang tampak menikmati hembusan angin membuat senyum di wajah Satrio mereka. Tetapi Satrio tiba-tiba sadar kalau dia tidak boleh sampai memiliki perasaan kepada Gauri. Selama ini dirinya hanya bercanda dengan teman-temannya tentang menandai Gauri. Karena sering diceritakan oleh Aura, Satrio jadi penasaran dengan Gauri itulah kira-kira awal mula dirinya menandai Gauri.
Sesampainya di kampus Satrio menurunkan Gauri di pintu masuk karena dirinya harus memarkirkan motornya. "Makasih banget ya Kak, lo udah mau ditebengin gue sampe kampus," ucap Gauri sambil melepaskan helm dan memberikannya ke Satrio. "Iya, sama-sama yaudah sana ke kelas entar telat." Satrio menyalakan motornya dan menuju parkiran.
Berkat Satrio hari ini Gauri berhasil terlepas dari kesiapan beruntun. Karena hampir saja setelah terpaksa diturunkan ditengah jalan oleh bisanya, yang membuatnya terlambat ke kampus dan tidak bisa mengikuti kuis. Untung saja meskipun tanpa persiapan, Gauri berhasil mengerjakan kuisnya dengan baik. Tidak lama Bagas menelepon menanyakan Gauri selesai kuliah pukul berapa, karena dia akan menjemputnya.
Rencananya hari ini ada rapat bulanan di sekre BEM sehingga Gauri akan pulang sedikit terlambat. Akhirnya Bagas harus kerumah Gauri seorang diri. Seperti biasa, dirinya bertugas untuk menjemput ibunya yang ada dirumah Gauri. Ibu dan ayahnya Gauri akhirnya ditemukan dan pulang dengan selamat. Mereka pergi dari pagi karena masalah rumah.
Cukup besar kemungkinan mereka harus merelakan rumah mereka untuk dijual demi menutupi hutang Faisal. Sehingga ibu dan ayahnya Gauri sedari pagi pergi ke agen real estate dan beberapa agen penjualan rumah lainnya. Tidak lupa juga mampir ke kantor polisi untuk menanyakan kelanjutan kasus hilangnya rekan kerja Faisal. Sayangnya pihak polisi masih belum menemukan petunjuk apa-apa.
Setelah tahu Citra dan Faisal sudah pulang ke rumah, ibunya Bagas segera berangkat ke rumah mereka. Setelah Gauri menelepon Sinta terus menerus mencoba menelepon mereka bahkan menelepon ke beberapa teman-teman mereka. Sinta sangat khawatir kalau Citra dan Faisal akan melakukan hal yang terlarang karena hutang-hutangnya yang harus dilunasi.
Sedangkan di cafe Aura hari ini cukup ramai dengan pengunjung dan membuat Aura sibuk berada di dapur menyiapkan kue-kue sebagai dessert. Bimo juga menjadi salah satu pengunjung di cafe milik Aura itu. Bimo memesan beberapa croffle untuk dibawanya ke kantor. Tidak lama ponsel Bimo berdering dan ternyata itu dari Caraka.
__ADS_1
"Halo Bim, laptop gue rusak Bim ... gue harus gimana ini?" Caraka yang jauh disana tiba-tiba menelepon Bimo hanya untuk menanyakan tentang laptopnya yang rusak. Bimo sudah aneh dengan hal ini, karena meskipun dilihat dari luar Caraka adalah sosok yang sempurna tetapi ada beberapa celah tentang ketidaktahuannya mengenai dunia. Kehidupan Caraka didunia atlit membuat banyak hal sederhana yang tidak diketahuinya.
Jika itu terjadi, Bimo adalah jawaban dari setiap permasalahannya. Bimo yang selalu Caraka cari untuk pertama kali, bahkan mengenai laptopnya seperti hari ini. "Udah lo restart?" tanya Bimo masih dengan nada tenang. Caraka diam dan terdengar dari balik telepon sedang melakukan sesuatu. "Ka? restart doang Ka ga perlu lo obrak abrik laptopnya ... itu suara berisik apaan?" Bimo sudah sedikit menaikkan nada suaranya.
Caraka tiba-tiba menutup teleponnya meninggalkan Bimo dalam kekesalan. Rasanya ingin langsung melabrak sahabatnya itu tetapi karena Caraka berjarak sangat jauh dari dirinya, Bimo harus menahan diri dan memilih mematikan ponselnya. Tepat saat itu Aura keluar membawa pesanan milik Bimo. Aura mengenali Bimo yang sering dilihatnya berada di sekitar gedung.
"Mas nya suka ada disekitar gedung sini kan ya?" tanya Aura mengenali Bimo.
"Oh iya, saya ada kantor kecil di lantai empat gedung ini jadi sering kesini," jawab Bimo menjelaskan kenapa dirinya sering terlihat disekitar gedung.
"Oh gitu, sering-sering mampir sini ya ... terima kasih," ucap Aura dengan senyum yang lebar.
Ruang sekre BEM sudah penuh dengan beberapa anggota yang bisa hadir di rapat bulanan hari itu. Satrio membuka rapat dengan memaparkan hasil kerja BEM selama satu bulan kebelakang. Rapat bulanan tidak memakan waktu lama karena banyak anggota yang memiliki keperluan lain terkait kuliahnya. Sesuai motto BEM mereka yaitu selalu utamakan kuliah.
Diluar ternyata sudah hampir gelap, Gauri harus segera pulang karena banyak yang harus dirinya diskusikan dengan orang tuanya. Bagas juga mengabari Gauri kalau dirinya masih disana bersama sang ibu untuk menunggu Gauri. Sehingga Gauri pun cepat-cepat keluar dan berjalan menuju halte bis. Satrio yang melihat Gauri berjalan terburu-buru tadinya hendak menawarkan tumpangan lagi.
Tetapi Satrio tiba-tiba dipanggil oleh dosennya yang membuat dirinya menurunkan niat untuk memberikan Gauri tumpangan lagi. Gauri berjalan cukup cepat sehingga sekarang dirinya sudah sampai di halte bis. Dirinya berdoa semoga kali ini bisanya tidak ada kendala seperti tadi pagi. Seluruh tubuhnya sudah lelah dan rasanya ingin segera pulang dan beristirahat.
__ADS_1
Meskipun sebenarnya sesampainya dirumah pun Gauri tidak bisa langsung beristirahat. Karena banyak hal yang harus diobrolkan diantara keluarganya. Gauri sudah memikirkan banyak kemungkinan terburuk. Yang Gauri utamakan sekarang adalah nasib Alan nanti kedepannya. Gauri akan memastikan Alan akan tetap bersekolah dan menikmati masa mudanya tanpa memikirkan masalah ini.
Sampai dirumah Sinta menyambut Gauri didepan pintu dan langsung menyuruh Gauri bersih-bersih dahulu. Ibu dan ayahnya sudah menunggu Gauri di meja makan. Sedangkan Bagas sedang mengajak Alan keluar sebentar untuk mengalihkan perhatian Alan. Setelah bersih-bersih Gauri langsung menyusul orang tuanya duduk di meja makan.
Disana Sinta hanya menyimak saja dan tidak mau ikut campur dulu dalam pembicaraan ini. Sebelumnya Sinta dan orang tua Gauri juga sudah panjang lebar membahas hal ini. Faisal menjelaskan kepada Gauri alasannya pergi keluar tanpa pamit tadi pagi. Faisal menjelaskan mereka sudah mendapatkan seseorang yang siap membeli rumah mereka jika kemungkinan terburuk terjadi.
Faisal juga berkata bahwa polisi pun masih belum bisa menemukan jejak rekan kerja ayahnya itu. Sehingga kemungkinan terburuk adalah menjual rumah mereka, membayar hutang dari hasil itu lalu pindah ke pedesaan untuk memulai hidup baru disana. Kebetulan desa itu adalah kampung halaman Citra. "Terus sekolah Alan gimana, Yah?" tanya Gauri khawatir tentang kelanjutan sekolah Alan.
"Disana juga ga desa-desa banget Ri, Alan bisa kita pindahin sekolahnya kesana," jawab Faisal berusaha tenang.
"Terus aku? Kuliah ku gimana?" tanya Gauri yang tidak kalah khawatir dengan masa depannya.
"Itu Ri, yang mau kami bahas sekarang ... kamu kan harus tetep lanjut kuliah, tapi Ayah juga bingung dengan biayanya nanti," jawab Faisal jujur mengungkapkan ke khawatirannya.
"Gauri bisa minta waktu buat mikirin ini engga?" tanya Gauri pada ibu dan ayahnya.
"Boleh ... kami akan kasih berapa pun lama nya yang Gauri butuhin buat berpikir ya, jangan terburu-buru," ucap Citra menenangkan anaknya.
__ADS_1
Ini bukanlah keputusan yang mudah untuk Gauri. Dirinya tidak bisa merelakan impian dan cita-citanya begitu saja. Tetapi disatu sisi dirinya juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini, "Seandainya aja ada lo Kak, lo pasti bisa bantu kasih gue jawaban dari permasalahan ini ... disaat kayak gini lo malah hilang, disaat gue bener-bener butuhin lo, lo malah ga ada ... Caraka Adhitama."