
Sepanjang jalan Caraka terus memikirkan apa yang akan dirinya katakan kepada Gauri. Bagaimana cara dirinya memulainya, hingga mempersiapkan reaksi yang akan keluar dari Gauri. Disisi lain Caraka tidak sabar untuk segera bertemu dengan Gauri, ia merasa sebentar lagi hubungan keduanya bisa mulai membaik setelah hari ini.
Gauri masih sibuk dengan beberapa pelanggan yang datang ke cafe, kebetulan Aura ada urusan sebentar sehingga Gauri harus mengambil alih cafe seorang diri. Tidak lama datang Satrio dengan beberapa temannya. Mereka berencana akan datang ke tempat reuni tetapi terlalu cepat waktunya sehingga memutuskan untuk menghabiskan waktu di cafe milik Aura.
Satrio cukup kaget melihat Gauri seorang diri melayani para pelanggan. Melihat itu Satrio akhirnya turun tangan langsung untuk membantu Gauri. Ia mencuci tangannya dan menggunakan apron untuk membantu mencuci beberapa piring kotor.
Gauri mulanya tidak melihat itu karena masih menyiapkan beberapa minuman pesanan. Namun, ketika pergi kebelakang untuk menyimpan piring kotor Gauri langsung kaget dengan pemandangan yang dirinya lihat. Ada Satrio sedang mencuci beberapa piring kotor seorang diri. Satrio cukup ahli mencuci piring sampai sama sekali tidak terdengar kehadirannya oleh Gauri.
"Dari kapan disini mas?" ledek Gauri melihat Satrio tangannya penuh dengan sabun.
Satrio yang kaget mendengar suara Gauri hampir saja memecahkan sebuah piring yang ada di tangannya. Untung saja dirinya sigap menangkap piring yang hampir terjatuh itu.
"Sumpah ga lucu, kaget banget tau ga?" kesal Satrio yang hampir jantungan karena sebuah piring.
"Lagian ga ada suaranya tiba-tiba udah jadi tukang cuci disini ... udah sana duduk diluar ngapain disini sih?" ucap Gauri cerewet.
Satrio yang awalnya berniat membantu ternyata hanya mendapat omelan dari Gauri. Meskipun mengomel, Gauri tetap mengucapkan terima kasih kepada Satrio saat dirinya berjalan keluar. Gauri hanya tidak mau merepotkan Satrio. Lagipula sebentar lagi Aura akan kembali jadi Gauri bisa sedikit beristirahat.
Tidak terasa hari sudah mulai gelap. Beberapa pelanggan juga sudah mulai pergi. Sekarang hanya tersisa beberapa ojek online yang menunggu pesanannya selesai dibuatkan. Aura membiarkan Gauri untuk beristirahat sebentar karena menangani pelanggan seorang diri tadi. Sementara itu Gauri yang diberi waktu beristirahat sedang memainkan ponselnya sambil menunggu Caraka.
__ADS_1
Mereka sudah membuat janji akan bertemu malam ini untuk menjelaskan semuanya. Caraka sedikit terlambat karena harus kembali lagi ke kantor. Ada sesuatu yang harus dibicarakan antara dirinya dan kakeknya. Caraka sempat mengabari Gauri akan datang terlambat.
Sempat bertukar nomor yang baru kini keduanya bisa saling menghubungi satu sama lain. Namun, meskipun begitu Gauri masih merasa canggung untuk menghubungi Caraka duluan. Tiba-tiba ada pesan masuk ke ponsel Gauri. Satrio memberi kabar akan datang ke cafe karena bosan pulang kerumahnya.
Gauri sempat bingung karena takut keduanya akan saling bertemu. Setelah kembali ia pikirkan, untuk apa Gauri harus merasa takut jika keduanya bertemu padahal sudah jelas tidak ada hubungan diantara mereka bertiga. Gauri pun membalas pesan Satrio, "Iya gapapa kalo mau kesini."
Entah akan seperti apa nantinya Gauri tidak mau terlalu memikirkannya. Justru dirinya penasaran jika bertemu langsung dengan Satrio akan bagaimana respon dari seorang Caraka yang terkenal kalem dan cool. Gauri ingin menguji sampai mana keinginan Caraka untuk memperbaiki hubungan diantara mereka.
Tidak butuh waktu lama Caraka akhirnya datang dan memarkirkan mobilnya tepat didepan cafe. Aura yang melihat kedatangan Caraka lalu menyambutnya dengan hangat dan menyuruhnya untuk duduk. Gauri pun kembali dari kamar mandi dan langsung menemui Caraka.
"Baru dateng?" tanya Gauri singkat.
"Engga nungguin kok, jadi gimana mau mulai sekarang?" tidak tahu apa yang ada didalam hati Gauri, tetapi dari caranya berbicara dengan Caraka benar-benar berbeda dari biasanya. Gauri terdengar dingin dan seperti terpaksa mendengar penjelasan Caraka.
Caraka sepertinya merasakan adanya perbedaan dari bagaimana respon Gauri terharap dirinya. Namun, Caraka tidak mudah menyerah intinya hari ini dirinya harus menjelaskan semuanya sampai tidak ada lagi hal yang mengganjal diantara keduanya. "Gue terpaksa pergi, gue ga ada pilihan lain selain pergi, Ri."
Gauri tampak acuh tak acuh dengan penjelasan Caraka. Sepertinya ada hal yang ingin didengar Gauri selain itu. "Dan ga ada waktu jadinya buat ngabarin gue dulu sebelum pergi?" tanya Gauri langsung ke intinya. Mendengar pertanyaan Gauri, Caraka kembali teringat bahwa Gauri bahkan sepertinya tidak tahu kondisi dirinya saat itu.
"Yang gue pengen denger adalah alasan lo pergi gitu aja ninggalin gue, kenapa ga ngabarin kapan dan kemana perginya, dan lo tuh bener-bener ada kabarnya lagi semenjak itu ... lo sadar akan itu ga sih Kak?" kesal Gauri menganggap Caraka tidak benar-benar tahu inti permasalahannya dimana. Gauri mencoba menahan air matanya untuk jatuh. Dirinya tidak mau terlihat lemah didepan Caraka.
__ADS_1
Pikiran dan batinnya saling berperang satu sama lain. Gauri ingin sekali membenci Caraka hingga tidak mau menemuinya lagi, tetapi hatinya merasa sakit jika tidak melihat Caraka. Gauri membenci kenyataan bahwa masih ada ruang kosong untuk Caraka di hatinya bahkan setelah apa yang terjadi diantara mereka.
Caraka hanya terdiam mendengar pertanyaan dari Gauri yang bertubi-tubi menyerangnya. Kebenaran mengenai kondisinya yang selalu dirinya coba rahasiakan dari Gauri selama ini tidak mau ia ungkapkan begitu saja. Udara diantara mereka sangat terasa berat. Gauri yang mencoba menahan tangisnya, dan Caraka yang entah harus menjelaskan dari mana.
Disaat yang bersamaan datanglah Satrio yang langsung menyapa Aura yang dari tadi memperhatikan Caraka dan Gauri dari kejauhan. "Gauri ada?" tanya Satrio kepada Aura, yang hanya dibalas dengan arahan pandangannya ke tempat duduk Gauri dan Caraka. Gauri yang mendengar suara Satrio lalu beranjak pergi dan menarik tangan laki-laki itu untuk pergi dari cafe meninggalkan Caraka.
"Eh ... mau kemana Ri?" tanya Satrio, tangannya ditarik oleh Gauri keluar cafe dan menuju motornya.
"Helm ... " pintar Gauri singkat.
Satrio yang awalnya kebingungan hanya mengikuti yang diminta Gauri. Namun, setelah melihat kedalam cafe sepertinya Satrio tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang diinginkan Gauri sekarang.
"Cepet naik, pegangan," ucap Satrio menjalankan motornya.
Motor Satrio melaju kencang menjauhi cafe menuju ke arah yang dirinya bahkan tidak tahu, yang penting sekarang adalah membawa Gauri pergi jauh dari sana. Seperti sebuah kebiasaan, Satrio memperhatikan raut wajah Gauri dari kaca spionnya. Sesekali terlihat Gauri mengusap air mata dari pipinya dengan cepat karena tidak mau Satrio menyadarinya.
Satrio yang melihat itu hanya bisa diam sambil mengendarai motornya melaju di jalanan kota yang mulai sepi. Satrio membiarkan Gauri melepaskan semua emosinya. Dirinya tidak akan berhenti hingga Gauri merasa puas. Motor Satrio terus berjalan menyusuri jalanan kota yang dihiasi banyak lampu jalanan. Di saat yang bersamaan sambil mengendarai mobilnya Caraka merasa bodoh dan marah dengan dirinya sendiri atas apa yang terjadi hari ini.
"Gue gatau apa Gauri masih mau kasih gue kesempatan atau engga setelah ini ... bodoh banget lo Ka, bodoh."
__ADS_1