Dive Into You

Dive Into You
TANTANGAN BARU


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Gauri mendapat kabar bahwa dirinya berhasil lolos tahap awal seleksi beasiswa. Hari ini kebetulan tepat sekali dengan tanda tangan perjanjian jual beli rumahnya antara Faisal dan pihak real estate. Gauri berharap kabar gembira ini akan menjadi awal dari perjuangannya. Karena mulai lusa dirinya akan benar-benar tinggal terpisah dari keluarganya dan di Jakarta seorang diri.


Gauri pun langsung berangkat ke kampus untuk memastikan kabar yang diberikan kepadanya. Setelah sampai ke bagian administrasi yayasan, ternyata benar bahwa Gauri berhasil lolos. Jika sesuai rencana tahap wawancara akan dilaksanakan tiga hari dari hari ini. Apabila Gauri menyanggupi, Gauri perlu mengisi sebuah formulir yang disediakan.


Setelah mengisi formulir dan memastikan mekanisme wawancaranya bagaimana, didepan gedung Gauri bertemu dengan Mila. Sudah lama sekali Gauri tidak bertemu dengan sahabat SMA nya itu karena mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. "Gauri ... gue denger lo ngajuin beasiswa?" tanya Mila penasaran.


"Hahaha ... iya kebetulan gue ngajuin beasiswa tinggal tahap wawancara, doain gue ya Mil," minta Gauri.


"Pasti dong gue doain lo, tapi kenapa tiba-tiba ajuin beasiswa, Ri?" tanya Mila karena memang ini semua serba tiba-tiba.


"Nanti gue ceritain ya, kapan dong kita kumpul di cafe Kak Aura ... nanti disana gue ceritain." Gauri pun pamit pergi duluan karena harus masuk kelas.


Semua hal ini serba mendadak dan tidak ada yang menyangka akan datang hal seperti ini terjadi. Namun, Gauri tidak bisa terus menerus menangis kejadian ini. Dirinya harus bangkit demi melihat keluarganya merasa tenang meninggalkannya di Jakarta seorang diri. Meskipun terkadang Gauri menemukan ayahnya hanya duduk diteras depan dengan tatapan penuh pikiran.


Selesai kelas Gauri berencana menuju ruang sekre BEM karena harus mengerjakan sesuatu disana. Tidak terlihat tanda-tanda kehidupan disana, tetapi malah lebih bagus karena Gauri bisa lebih fokus mengerjakan tugasnya. Gauri pun masuk dan menyalakan laptopnya untuk memulai kegiatannya. Ketika sedang serius tiba-tiba ada suara erangan dari balik gorden belakangnya.

__ADS_1


Gauri sempat membeku karena ketakutan. Pikirannya hanya dipenuhi dengan hal-hal mistis yang sering diceritakan seniornya tentang ruangan sekre BEM. Gauri tidak berani menengok ke arah belakang dan mencoba menutupi ketakutannya dengan memasang earphone nya. Sesaat tidak terdengar lagi suara erangan itu, Gauri berpikir mungkin bukan apa-apa.


Namun, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundak Gauri. Tangan itu terasa dingin meskipun dari balik baju yang dipakai Gauri. Disana Gauri hanya menutup matanya dan membaca semua doa yang diingatnya. Tangan itu lalu berpindah menarik earphone yang dipakai Gauri sehingga terlepas. Tidak bisa menahan rasa takutnya Gauri pun teriak dan menangis ketakutan.


Reaksi itu membuat Satrio tertawa terbahak-bahak, tetapi lama kelamaan menghilang mengingat mungkin dirinya keterlaluan menjahili Gauri. Satrio mencoba menepuk tepuk punggung Gauri menenangkan dan terus berkata kalau ini dirinya, bukan hantu atau makhluk apapun yang Gauri bayangkan. "Duh udah dong, maafin gue," ucap Satrio merasa bersalah karena Gauri belum berhenti menangis.


Diketahui bahwa tangisan itu adalah hasil dari luapan emosinya selama ini. Gauri selalu menahan tangisannya dan kali ini tidak tertahankan lagi. Satrio yang jahil sekarang menjadi korban yang bingung dengan reaksi yang diberikan Gauri ini. "Udah dong Ri nangisnya, kalo ada yang denger dikiranya gue ngapa-ngapain lo," ucap Satrio mulai khawatir.


Setelah kurang lebih lima menit akhirnya Gauri berhenti menangis dan merasa lebih tenang. Mata Gauri menjadi sembab karena menangis terus menerus. Satrio memberikan es batu yang dibalutnya dengan sapu tangan untuk mengurangi sembab di mata Gauri. Untung saja hari ini tidak ada yang datang ke ruangan itu, kalau saja ada bisa muncul pikiran negatif di benak mereka.


"Tadi tangan lo kok dingin banget sih Kak, kayak beneran hantu tau ga?" kesal Gauri merasa dibohongi.


"Tapi jujur deh, gue ga tau kalo tangan gue bakal dingin kayak gitu," lanjut Satrio memberi penjelasan.


"Gapapa ... lagian gue juga mau minta maaf udah bikin lo bingung soalnya gue nangis terus ga berhenti tadi," ucap Gauri yang sama-sama merasa bersalahnya dengan Satrio.

__ADS_1


Karena sudah terlanjur begini, Gauri pun sekalian saja menceritakan permasalahannya kepada Satrio. Mendengar itu Satrio cukup kaget dan kasihan dengan apa yang menimpa Gauri. Yang bisa dilakukannya hanya menjadi pendengar yang baik jika Gauri mau bercerita padanya. Satrio berjanji akan hal itu, kalau Gauri membutuhkan seseorang untuk mendengar ceritanya dirinya akan ada disana sebisa mungkin.


Sebagai tanda maafnya Satrio menawarkan dirinya untuk mengantar Gauri pulang. Satrio berpikir sepertinya Gauri akan ditatap oleh semua orang di bis jika pulang dengan keadaan mata seperti itu. Gauri tidak percaya dengan ucapan Satrio, kemudian melihatnya melalui layar ponselnya. Benar saja keadaan matanya sekarang pasti menjadi pusat perhatian.


Tidak ada pilihan lain selain menerima tawaran Satrio untuk mengantarkannya pulang. Mereka pun turun dan menuju parkiran bersama, sampai ada seseorang yang mereka kenal menyapa Satrio. Dengan sigap Satrio menutupi wajah Gauri dengan jaketnya dan menyuruh Gauri jalan duluan ke parkiran. Awalnya temannya itu merasa bingung siapa seseorang itu, tetapi Satrio berhasil mengalihkan perhatiannya.


Gauri tampak kebingungan di parkiran karena tidak tahu keberadaan motor Satrio. "Maju dua motor lagi .... " suara Satrio muncul dari arah belakang setelah melihat Gauri hanya berdiri saja disana tampak kebingungan. "Bisa-bisanya lupa, waktu itu kan pernah gue boncengin," lanjut Satrio mengoceh. Gauri sama sekali tidak mendengar ocehan itu lalu hanya berlalu menuju motor yang dimaksud Satrio.


"Gue cuma hapal sampe tempat lo diturunin bis waktu itu doang ya tapi, nanti arahin aja selanjutnya kemana," ucap Satrio sembari menyerahkan helm kepada Gauri.


"Oke, nanti gue arahin ... ga perlu ngebut ya biasain aja," ucap Gauri yang tidak mau cepat sampai rumahnya apalagi mengingat matanya yang masih sangat sembab.


"Siap ... gue bawa muter dulu aja deh sampe sembabnya ilang." Satrio menyalakan motornya dan menjalankannya dengan kecepatan biasa.


Setelah hari itu Gauri belum juga sempat bertemu dengan Satrio untuk mengucapkan terima kasih. Hari ini adalah hari wawncaranya, dirinya berharap bisa mendapat bisik-bisik informatif dari orang dalam yaitu Satrio. Namun karena belum juga melihat batang hidungnya, Gauri memutuskan menyiapkan materi wawncaranya seorang diri di sekre BEM.

__ADS_1


Menurut beberapa anggota BEM yang lain, Satrio pergi ke luar kota dengan dosennya untuk menyelesaikan riset projeknya. Tidak lama lagi giliran Gauri untuk wawancara, dirinya sudah meminta doa orangtuanya melalui video call tadi pagi. Karena posisi rumah mereka disana tepat di sebuah desa kecil sehingga sinyalnya pun banyak terputus. Rupanya sekarang adalah saatnya Gauri dipanggil untuk wawancara.


Gauri terlihat tegang sehingga tangannya terasa dingin, tetapi tiba-tiba dirinya mengingat sebuah tips dari Caraka untuk mengurangi rasa tegang. Mengambil napas panjang dan memberikan diri sendiri kata-kata positif bahwa 'pasti bisa, gue keren, ini pasti bisa dilaluin'. Tips itu yang selalu diajarkan oleh Caraka pada Gauri. Dengan melakukan hal itu, Gauri masuk ke ruangan wawancara dengan lebih tenang dan percaya diri.


__ADS_2