Dive Into You

Dive Into You
PERJUANGAN


__ADS_3

Bagas sudah memulai awal karirnya sebagai pelatih dengan melatih beberapa atlit junior yang baru masuk bulan ini di tim nasional. Mereka mengingatkannya dengan dirinya saat kecil dulu bersama Mike dan Caraka. Masih penuh dengan semangat berlatih dan sering bercanda satu sama lain. Tiba-tiba Bagas teringat Caraka, yang juga sudah lama tidak saling berhubungan satu sama lain.


Pelatihnya pernah mengatakan kalau Caraka sekarang tinggal di Sydney dan tidak tahu akan kembali atau tidak. Melihat hubungan Caraka dan Gauri, Bagas pun jadi lebih berhati-hati untuk membahasnya dengan Gauri. Ia pun jadi merasa tidak enak untuk memulai kontak dengan Caraka lebih dulu. Sebenarnya Bagas juga sangat ingin tahu kabar sahabatnya itu.


Siang ini ada latihan beberapa anak didiknya, sehingga Bagas sudah stand by di tempat latihan. Menunggu anak-anak yang lain Bagas hanya duduk di pinggiran kolam sambil memainkan ponselnya. Hingga tiba-tiba muncul dari arah pintu masuk suara yang familiar di telinganya. Itu adalah Caraka yang berjalan masuk sambil mengucapkan selamat untuk Bagas yang sudah berhasil menjadi pelatih sesuai cita-citanya.


Berkat overthinking semalaman pagi tadi Caraka menghubungi salah satu pelatihnya untuk menanyakan kabar Bagas. Saat itu Caraka diberitahu jika Bagas hari ini akan memulai karirnya sebagai pelatih setelah melewati beberapa tahap pelatihan. Karena menjadi pelatih berbeda dari menjadi pemain sehingga Bagas harus melewati banyak proses untuk itu.


Caraka membawa beberapa makanan camilan kesukaan Bagas yang tidak pernah berubah. Tidak lupa juga membawakan makanan untuk anak-anak didik Bagas nanti. "Gue denger lo di Sydney, udah balik atau cuma mampir Indo bentar?" tanya Bagas penasaran. Awalnya terasa canggung karena cukup lama mereka tidak saling berhubungan.


"Gue beneran balik Indonesia sekarang, ga betah juga lama-lama disana sendiri," jawab Caraka, duduk disamping Bagas.


"Terus sekarang kegiatan lo apa?" tanya Bagas lagi.


"Jadi karyawan gue sekarang ... kerja di kantor Kakek," jawab Caraka tersenyum.


"Kerja di Kakek bukan sekedar karyawan dong Ka," ucap Bagas ikut tertawa.

__ADS_1


"Ya pokoknya gitu deh gue sekarang, pagi sampe sore didepan komputer,"


"Udah lama banget ga nyium bau ini."


Suasana duduk dipinggiran kolam sambil menatap kolam yang tenang tanpa ada orang disekitarnya adalah hal yang paling dirindukan oleh seorang Caraka. Terutama aroma kaporit yang berasal dari kolam yang baru dibersihkan itu menenangkannya. Keduanya banyak bercerita terutama mengingat masa-masa mereka dulu disana.


Hingga akhirnya terhenti ketika mengingat Mike. Caraka berkata kalau sampai saat ini dirinya masih belum berani ke makam Mike bahkan mengunjungi ibunya Mike pun Caraka tidak berani. Entah sepertinya masih ada halangan yang membuat dirinya pun masih tertahan untuk melakukan itu. Bagas hanya bisa mengingatkan Caraka kalau semua itu sudah berlalu, dan semua orang harus melanjutkan kehidupannya.


Tidak ada masa depan cerah jika terus terbelenggu di kenangan lama, apalagi kenangan itu adalah kenangan buruk yang tidak mau terulang lagi. Tidak baik jika membiarkan diri berada di situasi itu selamanya. "Lo ga akan bisa maju Ka kalo kayak gitu terus, Mike juga gamau lo kayak gitu," tegas Bagas kepada sahabatnya itu. Tidak lama beberapa anak didik Bagas berdatangan satu persatu.


Mendengar itu Caraka bahagia karena masih ada yang mengingatnya dari hal yang positif bukan hal negatifnya. Caraka melihat ke arah Bagas yang dibalas senyuman dari Bagas untuknya. Seakan-akan senyuman itu memiliki arti bahwa Caraka tidak perlu merasa takut lagi karena masa lalunya, masih banyak orang yang mengingat berbagai prestasinya.


Setelah berfoto bersama dan menonton latihan mereka sebentar, Caraka pun berpamitan kepada Bagas dan akan menemuinya lagi nanti. Sebelum kembali ke kantor tiba-tiba ada panggilan masuk ke ponselnya dan ternyata dari asistennya yang mengingatkan Caraka akan rapat hari ini. "Oke, balik lagi jadi karyawan gue .... " Caraka menyalakan mesin mobil dan pergi menuju kantor.


Gauri sedang membereskan beberapa sisa makanan dan piring kotor milik salah satu pelanggan di meja nya. Sedangkan Aura sedang mempersiapkan pesanan yang sedang ditunggu ojek online. Sedikit demi sedikit keadaan cafe nya mulai membaik semenjak Bimo menyarankan untuk mengadakan pemesanan melalui ojek online.


Sebenarnya ide itu berasal dari Caraka. Setelah melihat keadaan cafe beberapa hari ini, Caraka meminta Bimo untuk menyampaikan saran itu untuk Aura untuk memperluas cafe nya menjangkau konsumen di luar sana. Untungnya saran itu terlihat berhasil, karena cukup banyak ojek online yang mengantri menunggu pesanannya selesai dibuat.

__ADS_1


"Pelanggan langganan kita itu baik juga ya Kak, ngasih kita saran dan berhasil lagi sarannya," ucap Gauri bahagia melihat mereka sibuk dari pagi tadi.


"Iya kalau dia datang lagi, Kakak mau kasih service free cake sebagai ucapa terima kasih," ucap Aura yang masih sibuk melayani pesanan para ojek online.


Mereka membagi tugasnya, Aura menangani pesanan online sedangkan Gauri pesanan yang datang di cafe.


Malam ini setelah pekerjaannya selesai Caraka berencana untuk mampir ke cafe dan melihat apa sarannya berjalan dengan baik atau tidak. Caraka beralasan kepada Bimo kalau dirinya hanya akan menilai kemajuan yang ada di cafe itu bukan untuk menemui Gauri. Namun, Bimo hanya memandang Caraka dengan tatapan tidak percaya.


Sayangnya mereka selesai lebih malam dari biasanya. Rapat yang berlangsung cukup lama karena pembahasannya yang panjang. Setelah keluar dari ruang rapat Caraka langsung berlari menuju ruangannya untuk mengambil tas dan segera pulang. "Eh, mau kemana lo buru-buru amat," ucap Bimo memberhentikannya.


"Gue harus cepet kesana keburu Gauri pulang," balasnya sambil kembali berlari dengan terburu-buru. Caraka tidak mau kehilangan kesempatannya untuk bertemu Gauri hari ini. Caraka langsung menjalankan mobilnya menuju cafe milik Aura untuk menemui Gauri.


Sesampainya didepan cafe ternyata sudah tutup. Mereka tutup lebih awal karena penjualan hari ini diluar dugaan mereka. Semua bahan yang disiapkan sudah habis diluar jadwal tutup mereka. Gauri dan Aura pun keluar dari cafe untuk pulang dan tidak lupa mengunci cafe mereka. Caraka langsung bersiap untuk turun, tetapi didahului oleh Satrio.


Satrio menjemput Gauri didepan cafe dengan motornya. Kedatangannya disambut senyuman oleh Gauri yang langsung meraih helm dan memakainya. Meninggalkan Aura yang masih mengunci cafe nya Gauri pun pulang duluan bersama dengan Satrio. Rasa cemburu memenuhi hati dan isi kepala Caraka melihat mereka berdua. Caraka merasa dikalahkan oleh Satrio dan dirinya tidak terima itu.


"Sial gue diduluin lagi sama laki-laki itu," kesal Caraka memukul stir mobilnya. Satrio akhirnya berhasil memunculkan jiwa kompetitif Caraka semasa menjadi atlit. Setelah selama ini memendam itu, sekarang Caraka tidak mau tinggal diam dan dikalahkan oleh Satrio. Ia langsung kembali menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2