Dive Into You

Dive Into You
GILIRAN AKU YANG BELA KAMU


__ADS_3

Keesokan paginya Gauri berada di dapur sedang menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Semalam Bagas memutuskan untuk menginap disana karena khawatir dengan keduanya. Kamar Aura masih gelap dan tidak terlihat adanya kehidupan.


Gauri yang khawatir akhirnya mencoba masuk kesana untuk melihat keadaan Aura. "Kak, gue boleh masuk?" tanya Gauri dengan berhati-hati. Tidak ada jawaban dari Aura, melainkan hanya terdengar suara kunci dibuka yang mengisyaratkan Gauri diperbolehkan masuk.


Setelah masuk Gauri mencoba berbicara pelan-pelan kepada Aura dan menenangkannya. Gauri mengajak Aura untuk keluar dari kamar dan sarapan jika tidak ingin kalah dari orang-orang itu. Aura merasa dirinya tidak bersalah, tetapi karena kurangnya bukti para pelanggan itu mengambil kesempatan itu untuk menyerang balik Aura.


Aura merasa kesal dan sedih karena polisi bahkan terlihat tidak mempercayainya. Gauri berkata kepada Aura untuk jangan menyerah dengan terus mengurung diri di kamar. Mereka akan lebih senang jika melihat keadaan Aura seperti ini.


Sekuat tenaga Gauri membujuk Aura untuk keluar, tetapi masih gagal. Tidak lama terdengar suara seseorang dari pintu depan, "Tenang deh ada Kak Bagas didepan," ucap Gauri mengetahui Bagas ada didepan, sehingga dirinya merasa tidak perlu terburu-buru menyambut tamu itu.


Ternyata itu adalah Caraka dan Bimo yang baru saja landing di bandara, langsung bergegas ke rumah Aura. Gauri langsung sedikit berlari menghampiri Caraka dan menyambutnya degan pelukan erat. Rasanya seperti semua ketakutannya hilang seketika.


Sama halnya dengan Caraka yang sepanjang perjalanan tidak berhenti khawatir memikirkan Gauri. Bagas dan Bimo hanya geleng kepala melihat kebucinan mereka berdua. "Aura mana Gas?" tanya Bimo mencari Aura tetapi tidak terlihat.


"Aura masih di kamarnya, tadi udah diajak Gauri keluar buat sarapan tapi tetep mau dikamarnya," jawab Bagas.


"Tapi tadi sarapannya udah gue anter ke kamar ... " ucap Gauri menambahkan.


"Siang nanti ada pengacara gue yang bakal dateng kesini buat tanya-tanya tentang kejadian kemaren, Aura bisa nemuin ga ya?" tanya Caraka, meletakkan tasnya dan duduk di kursi makan.


Gauri melihat ke arah kamar Aura yang gelap dan berkata, "Nanti coba aku tanyain ya."


Sembari sarapan bersama mereka mengobrol tentang kejadian kemarin. Gauri yang jelas berada disana menceritakan kronologinya kepada Caraka dan Bimo. Bimo yang mendengar cerita dari Gauri merasa ada yang aneh dari kejadian kemarin.

__ADS_1


Bimo merasa ada unsur kesengajaan dari para pelanggan itu. Gerak gerik dan perilaku mereka yang aneh karena fokus meminta pertanggung jawaban dan terkesan mengabaikan seseorang yang katanya terluka. Gauri juga mengatakan kalau sebenarnya mereka tidak melihat secara langsung saat salah satu pelanggan itu muntah darah.


Mendengar obrolan mereka dari dalam, perlahan Aura pun keluar dari kamarnya. Dirinya langsung melihat ke arah Bimo dan merasa sangat bersalah, "Maafin saya ya Bimo, saya takut karena kejadian kemarin bisa merusak reputasi gedung kamu."


Sesaat Bimo melihat ke arah Caraka sebelum menjawab perkataan Aura tadi. Bimo merasa sebagai pemilik gedung Caraka bahkan sama sekali tidak mempermasalahkan itu.


"Lebih baik kita fokusnya ke urusannya dengan polisi dulu aja ya ... " ucap Bimo menenangkan Aura.


"Kita bersihin nama baik kamu sama cafe ya," lanjutnya.


Bimo memberi sinyal kepada Caraka. Caraka yang melihat itu hanya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Bimo. Tidak lama Aura mendapat telepon dari pihak kepolisian. Mereka mengatakan jika proses investigasi akan dimulai hari ini.


Setelah menutup teleponnya Aura hanya bisa menarik nafas dalam. Dirinya sama sekali tidak menyangka jika harus berada didalam situasi seperti ini. Namun, Aura juga bersyukur karena dirinya dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Bagas juga selalu sigap berada disampingnya.


"Iya Kak, kita pasti bakal ada terus dampingin Kak Aura kok ... tenang aja," ucap Gauri menenangkan Aura.


Ketiga lelaki yang selalu siap siaga menjaga dua wanita ini juga mengangguk mengiyakan perkataan Gauri.


Sejak tadi karyawan Aura terlihat ragu-ragu sambil terus memperhatikan ponselnya. Ada sesuatu yang ingin dirinya sampaikan kepada Aura. Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk menelepon Aura, mengajaknya bertemu.


Karena semua orang sedang berkumpul dirumahnya, Aura pun meminta  karyawannya itu untuk datang ke rumahnya. Saat semua orang dibawa ke kantor polisi kemarin, hanya dirinya lah yang tidak kesana. Ada sebuah bukti penting yang dimilikinya sehingga memilih pergi sebelum polisi datang.


Dirinya pun sampai dirumah Aura siang ini. Tidak mau karyawannya merasa kurang nyaman karena kehadiran Caraka, Bimo dan Bagas mereka pun bertemu di teras rumah. Ternyata karyawannya ini merekam semua kejadian kemarin.

__ADS_1


Hari itu dirinya hendak memberikan kabar kepada orang tuanya kalau akan pulang terlambat. Untuk meyakinkan mereka dia pun merekam apa yang terjadi sehingga dirinya tidak bisa pulang. Saat itu kebetulan tidak sengaja karyawan itu turut merekam para pelanggan nakal itu.


Terlihat jelas didalam video yang direkamnya kalau korban yang sempat muntah darah itu tidak benar-benar mengalami itu. Itu hanya rekayasa yang dibuatnya. Dari delapan orang yang ada disana, lima orang yang terus menekan Aura dan Gauri yang terlihat saling bekerja sama.


Aura sangat berterima kasih kepada karyawannya itu. Aura sangat berhutang budi padanya. Karyawannya itu juga melakukan ini karena merasa Aura sudah menolongnya dengan memanggilnya kembali untuk bekerja di cafe. Karena sebenarnya dirinya sedang butuh uang untuk menebus obat orang tuanya yang sakit.


Setelah menyerahkan hasil rekamannya, akhirnya karyawan Aura itu pun pulang. Sebelumnya Aura sempat meminta maaf karena harus menutup cafe untuk sementara, karena proses penyelidikan polisi. "Kalau butuh uang atau butuh sesuatu bilang ya, saya minta maaf sekali kita harus libur beberapa hari ... " ucap Aura tersenyum hangat.


Didalam Aura dan Gauri sudah ditunggu oleh tiga orang lelaki yang penasaran dengan apa yang mereka bicarakan diluar. Aura kemudian menunjukan video rekaman yang karyawannya rekam di hari kejadian. Bagas, Bimo, dan Caraka melihat isi video itu dengan baik.


"Tapi agak sulit kalo mau langsung pake bukti ini, Ra." Bimo melihat ke arah Aura.


"Padahal kan ini bukti yang jelas Bimo," ucap Aura kurang setuju dengan yang dikatakan Bimo.


"Karyawan kamu bisa kena nanti karena pas kemaren di kantor polisi dia ga ada," jawab Bimo tenang.


Akhirnya mereka memutuskan menyimpan video ini untuk berjaya-jaga dan sebagai senjata terakhir nanti. Rencana mereka tetap seperti di awal, yaitu menggunakan pengacara Caraka untuk membela Aura. Jika pihak mereka semakin menekan dan tidak terima, bukti video itu baru digunakan.


Gauri melihat ke arah Caraka dengan tatapan sedih, dan tanpa sengaja dilihat oleh Caraka.


"Kenapa?" berbisik kepada Gauri.


"Kita bisa menang dan balikin nama baik Kak Aura sama cafe nya kan?" tanya Gauri pelan.

__ADS_1


"Bisa ... tenang aja ada aku disini," ucap Caraka percaya diri.


__ADS_2