Dive Into You

Dive Into You
PERTEMUAN YANG TIDAK TERDUGA


__ADS_3

Suara riuh tepuk tangan memenuhi seisi aula pertemuan saat itu. Mereka meninggalkan kesan yang sangat indah untuk diingat oleh Satrio. Banyak anggota BEM yang lain mengucapkan kata perpisahan kepada Satrio. Melihat Satrio yang sudah kembali ke belakang panggung, Gauri pun bangkit dari duduknya dan segera keluar dari aula.


Gauri menunggu Satrio untuk keluar di taman yang tidak jauh dari aula pertemuan. Sembari memainkan ponselnya Gauri membiarkan rambut indahnya ditiup oleh angin yang membawa dedaunan kering. Terlalu serius hingga tidak menyadari kehadiran tangan seseorang yang meraih daun kering yang tersangkut di rambut Gauri.


Gauri lalu mengangkat kepalanya dan melihat Satrio disana. Salah satu junior nya memberitahu Satrio jika Gauri menunggunya di taman. "Sorry lama ya?" tanya Satrio duduk disamping Gauri.


"Gapapa ... kapan berangkat?" tanya Gauri mengarahkan tubuhnya menghadap Satrio.


"Awal bulan depan ... pertengahan bulan mulai semester baru soalnya disana," jawab Satrio.


"Cepet banget sih, terus baiknya kapan?" tanya Gauri sedih.


"Belum berangkat udah nanya baliknya kapan, gimana sih lo," jawab Satrio tertawa.


Gauri terdiam sejenak, membayangkan dirinya tidak bisa bertemu dengan Satrio untuk waktu yang lama nantinya. Satrio yang sudah dianggapnya sebagai sosok kakak laki-lakinya kini harus pergi ke tempat yang jauh. Gauri sebenarnya bahagia dengan keputusan Satrio. Namun, dirinya tidak bisa menutupi kesedihannya karena Satrio kini berada sangat jauh darinya.


Satrio mencoba mengalihkan pembicaraan mereka dengan menanyakan hubungannya dengan Caraka. Satrio ini sudah mengikhlaskan sepenuhnya hubungan Gauri dengan Caraka. Namun, hingga saat ini sayangnya keduanya belum pernah bertemu secara langsung.


"Gimana hubungan lo sama Caraka? Lo belum kenalin dia sama gue loh Ri," ucap Satrio sedikit kecewa dengan Gauri.


"Oh ... emang belum?"


"Hubungan gue sama Kak Caraka baik, way better than before malahan ... " jawab Gauri dengan senyuman yang merekah di wajahnya.


Satrio yang mendengar jawaban Gauri hanya bisa tersenyum lega. Keputusannya untuk mundur berbuah manis karena dirinya mungkin tidak bisa membayangkan jika Gauri tidak bersama dengan Caraka. Caraka itu sumber kebahagiaan Gauri.


Dengan mengingat Caraka di masa sulitnya membuat Gauri bisa kuat melalui itu. Satrio menyerahkan wanita yang disayanginya kepada lelaki yang siap mempertaruhkan apapun untuk Gauri. Hanya mengetahui itu saja sudah membuat Satrio tenang meninggalkan Gauri di Indonesia.


"Habis ini balik apa ke cafe?" tanya Satrio.

__ADS_1


"Cafe ... kenapa emangnya?" tanya Gauri kepada Satrio yang tiba-tiba saja menanyakan hal itu.


"Mau gue anter? udah lama kan ga gue boncengin motor?" Satrio ingin mengulang kembali memori indahnya dengan Gauri.


"Bawa helm dua emang?"


"Aman." Satrio mengulurkan tangannya mengajak Gauri pergi bersama.


Dengan senyuman indahnya Gauri meraih tangan Satrio. Keduanya pun berjalan menuju parkiran. Sepanjang jalan Gauri sedikit tertawa, mengingat semua memorinya dengan Satrio. Rasanya seperti memori itu melesat bergantian di dalam kepala Gauri.


Melewati setiap jalanan yang dahulu biasa mereka lewati. Gauri menikmati saat-saat ini, yang bahkan bisa jadi menjadi momen terakhirnya bisa berboncengan dengan Satrio. Setelah ini Satrio akan lebih sibuk menyiapkan keberangkatan. Gauri pun sibuk menyelesaikan tugas akhir yang sudah didepan matanya.


Seperti biasa di lampu merah, Satrio akan mengecek Gauri dari kaca spion. Tidak seperti sebelumnya kini Gauri kembali menatap Satrio dengan senyuman. Rasa nyaman yang dimiliki Gauri terhadap Satrio sepenuhnya seperti seorang adik kepada kakaknya.


Sesampainya di cafe ternyata ada Bimo dan Caraka yang mampir di jam istirahatnya. Sempat ada perasaan canggung pada Satrio, dirinya tidak ingin Caraka sampai salah paham padanya. Gauri turun dan menyerahkan helmnya kepada Satrio yang masih diatas motornya.


Caraka yang melihat dari dalam cafe kemudian keluar dan menghampiri mereka. Dengan ramah dan senyuman hangat Caraka menghampiri dan mengulurkan tangannya kepada Satrio.


"Gue Caraka ... Satrio ya?" tanya Caraka dengan hangat.


"Iya, salam kenal ya ... Gauri banyak cerita tentang lo," jawab Satrio terasa masih canggung.


"Gauri juga banyak cerita tentang lo."


"Masuk dulu?" tanya Caraka.


Jelas terlihat dari gerak geriknya Satrio sangat merasa canggung dengan Caraka. Terkadang Caraka memang bisa memunculkan aura tenang yang justru membuat seseorang tidak nyaman dengannya. Dari dalam terlihat Aura yang melambaikan tangannya memberi isyarat kepada Satrio untuk masuk kedalam.


Didalam Satrio dan Caraka duduk bersama sembari saling mengobrol satu sama lain. Bimo dan Gauri melihat mereka dari kejauhan dan merasa ada aura aneh yang meliputi keduanya. Rasanya seperti melihat seseorang yang sedang di tindas oleh atasannya di kantor.

__ADS_1


Bimo yang tidak tahan dengan itu kemudian menghampiri mereka, "Ka ... lo jangan bikin anak orang takut dong," ucap Bimo mencoba mencairkan suasana. Bimo memutuskan untuk ikut duduk disana bersama mereka.


"Oh, gue Bimo asisten pribadi Caraka." Caraka langsung melirik Bimo tidak setuju.


"Bukan, dia ini salah satu dari tiga sahabat deket gue," jelas Caraka meluruskan perkataan Bimo tadi.


"By the way, thank you ya ... lo udah selalu ada disamping Gauri di saat sulitnya dia."


"Jujur gue seneng ada seseorang kayak lo disamping Gauri," tutur Caraka.


Kini obrolan mereka mulai mencari berkat kehadiran Bimo disana, dan Caraka yang selalu memulai duluan pembicaraan. Disamping Caraka, Satrio berubah menjadi seorang introvert yang tidak banyak bicara. Gauri dan Aura yang melihat itu hanya cekikikan dibalik counter kasir.


"Jarang banget loh liat Satrio diem kalem kayak gitu, cuma Caraka doang yang bisa bikin dia kayak gitu," ucap Aura seraya tertawa puas.


Hingga sampai pada Caraka membahas rencana Satrio ke Amerika untuk melanjutkan S2 nya disana.


"Sebenernya ada yang gue mau lakuin buat Gauri," tutur Caraka sedikit berbisik.


"Ngelakuin apa?" tanya Satrio kepadanya.


Caraka kemudian mendekat dan membisikan sesuatu di telinga Satrio. Satrio kaget dengan yang dikatakan Caraka.


"Gue pergi awal bulan depan sih, bisa dilakuin sebelum itu?" tanya Satrio serius.


"Bisa ... aman, lo tinggal hadir aja nanti gue kasih tau detail nya."


Caraka dan Satrio akhirnya bertukar nomor telepon masing-masing sebelum akhirnya Caraka dan Bimo harus kembali ke kantor.


Sedikit demi sedikit Caraka memberitahu orang-orang yang ada di sekitar Gauri tentang rencananya. Bahkan alasan Caraka siang ini mampir ke cafe yaitu untuk menceritakan hal ini kepada Aura sebelum Gauri tiba. Sedangkan Bagas?

__ADS_1


Tentu saja orang pertama yang mengetahui ini jelas Bagas. Bagas bahkan menjadi orang yang membuat Caraka berani memutuskan hal ini. Setelah mendapat restu darinya, Caraka menjadi lebih berani melakukan semua persiapan yang diperlukan. Termasuk menghubungi orang tua Gauri.


__ADS_2