
Pagi ini Bimo harus bergantian jaga dengan Gauri. Karena takut tidak sempat pulang dulu, Gauri meminta Bimo datang lebih pagi. Melihat sibuknya Gauri pagi ini membuat Caraka yang masih tertidur tiba-tiba bangun. Semalaman Caraka tidak tidur karena sibuk memandang Gauri dan mereview hasil laporan yang akan dibahas Bimo hari ini.
"Eh sorry, ngebangunin ya?" tanya Gauri menyadari Caraka yang terbangun karena dirinya.
"Jam segini udah mau pulang?" ucap Caraka bernada serak karena bangun tidur.
"Iya, gue takut ga keburu siap-siap dulu dirumah jadi minta Kak Bimo dateng lebih pagi ... tapi ini belum dateng juga."
Caraka membenarkan posisinya menjadi terduduk untuk melihat ponselnya. Dirinya mencoba menelepon Bimo yang juga tidak diangkat. Caraka berpikir jika Bimo sepertinya masih tidur, karena semalam mereka juga sempat membahas laporan.
"Yaudah mandi sama siap-siap disini aja," ucap Caraka tenang, tetapi membuat Gauri yang mendengarnya sangat kaget.
"Ih ... gue kan ga bawa baju ganti, ga bawa alat mandi juga."
"Kalo alat mandi disini ada, gue pake punya sendiri jadi yang disediain sini masih ga gue pake," ucap Caraka.
Fasilitas di kamar inap Caraka memang seperti hotel karena dilengkapi banyak perlengkapan yang dibutuhkan selama rawat inap termasuk alat mandi. Caraka kemudian menelepon asistennya untuk menyiapkan apa saja yang dibutuhkan Gauri. Gauri semakin kaget karena semudah itu Caraka meminta tolong kepada asistennya.
"Asisten gue kebetulan ada yang cewe, dia pasti tau apa aja yang dibutuhin." Caraka kembali melanjutkan percakapannya melalui telepon.
"Oh katanya 20 menitan lagi sampe, lo bisa nunggu kan? atau sambil nunggu mandi aja," tanya Caraka kepada Gauri yang hanya duduk dan menyimak dengan kagum.
Sesuai suruhan Caraka, Gauri pun mandi dengan alat mandi yang ada. Didalam Gauri hanya bisa kagum dengan Caraka yang sangat terlihat seperti tuan muda ketika seperti itu. Tidak mau menghabiskan waktu lama Gauri segera mendi dan siap-siap dengan skin care dan makeup yang dibawanya.
Tepat setelah Gauri selesai mandi, asisten Caraka datang dengan membawa baju dan sepatu yang dibutuhkan Gauri untuk seminar hari ini. Karena sesama wanita, asisten Gauri masuk ke kamar mandi untuk memberikan itu semua kepada Gauri.
__ADS_1
Caraka meminta asistennya itu untuk tidak terlalu banyak bertanya tentang kenapa dirinya ada di rumah sakit. Asistennya juga sudah berjanji tidak akan memberi tahu Fely mengenai hal ini. Selain membawa pesanan Caraka untuk Gauri, asistennya juga membawa beberapa laporan yang harus dibaca Caraka.
Tidak lama Gauri pun keluar dari kamar mandi sudah rapih dan cantik. Meskipun menggunakan make up sederhana kecantikan Gauri tetap terpancar. Untung saja selera asisten Caraka itu cukup baik karena mampu memilihkan baju yang pas dengan kepribadian Gauri.
"Cantik." Caraka tersenyum lebar melihat Gauri.
"Apaan sih ... gue buru-buru nih takut telat," ucap Gauri segera merapihkan barang-barangnya.
"Lo biar dianter sama asisten gue aja ya, sekalian ke kantor lagi soalnya ... iya kan?" lirik Caraka memberi isyarat untuk mengiyakan saja perkataannya.
"Oh kalo ga ngerepotin sih boleh aja," kata Gauri malu-malu.
Bimo datang jauh dari janjinya dengan Gauri. Mereka janji saling bertukar jaga pukul delapan pagi. Namun, Bimo datang pukul sepuluh pagi. Hanya tatapan sinis yang diberikan Caraka kepada Bimo saat dirinya datang. Bimo yang juga merasa malu karena terlambat dua jam dari janjinya hanya bisa senyum-senyum saja.
"Jam berapa ini Bim, yaudah ayok langsung bahas laporannya," kesal Caraka.
"Kita mulai dari yang semalem sempet kepotong aja, Ka." Wajah mereka berubah menjadi lebih serius membahas pekerjaan.
Gauri didampingi beberapa teman satu kelasnya dan Mila sedang duduk menunggu gilirannya melakukan seminar. Karena diantar oleh asisten Caraka, Gauri bisa sampai lebih cepat dan punya waktu untuk menyiapkan mentalnya. Saat ini Mila juga sedang di tahap sidang akhir, mereka berjanji untuk saling mendampingi satu sama lain karena itu Mila menyempatkan datang.
Namun, Gauri merasa ada yang kurang dari hari ini. Satrio biasanya menjadi orang yang selalu menyempatkan waktunya untuk hadir di momen seperti ini, sekarang tidak ada. Sudah beberapa hari ini Satrio memang sama sekali tidak terlihat oleh Gauri.
Entah memang tidak ke kampus, atau memang sengaja menghindar dari Gauri. Gauri masih merasa tidak enak untuk menanyakan kabar Satrio lebih dahulu. Aura masih belum menceritakan kepada Gauri tentang Satrio yang sempat mampir ke cafe untuk mencarinya.
Akhirnya nama Gauri dipanggil untuk masuk ke ruangan menyiapkan seminarnya. Dengan menarik nafas panjang dirinya dan beberapa temannya pun masuk kedalam. Di kampus Gauri teman yang mendampingi diizinkan untuk menyaksikan seminar sebagai penonton yang nantinya bisa mengajukan pertanyaan.
__ADS_1
Seminar Gauri akan membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam termasuk sesi tanya jawab dan saran. Dari ruangannya Satrio diberitahu salah satu temannya kalau hari ini Gauri ada seminar penelitiannya. Satrio masih merasa canggung jika harus kesana. Tetapi Satrio juga tidak bisa terus menghindar dari Gauri seperti ini.
Di ruangan rawat rumah sakit, Bimo menutup laptopnya dan menarik nafas panjang. Dirinya dan Caraka sempat berdebat karena isi laporan yang mereka bahas tadi. Ada beberapa hasil yang kurang disepakati keduanya, dan itu adalah hal yang biasa.
Hari ini cukup melelahkan untuk Caraka yang masih tahap recovery. Keduanya kini kelaparan karena pusing membahas pekerjaan tadi. Bimo akhirnya memutuskan memesan makanan melalui online. Saat itu tiba-tiba Caraka teringat Gauri dan seminarnya.
"Gauri seminarnya udah beres belum ya?" gumam Caraka seorang sendiri, tidak sengaja terdengar Bimo.
"Hah gimana? Lo ngomong sama gue?" tanya Bimo merasa kalau Caraka berbicara dengan dirinya.
Caraka memandang aneh Bimo, "Apa sih orang gue ngomong sendiri."
Karena penasaran Caraka pun mencoba mengirim pesan kepada Gauri menanyakan bagaimana seminarnya. Meskipun tahu setelah seminar Gauri akan kembali kali kesana, tetapi Caraka tetap ingin menanyakannya sekarang. Caraka saat ini lebih bucin kepada Gauri daripada dulu.
Sekarang Caraka sudah tahu bagaimana rasanya tanpa Gauri dan itu sangat tidak menyenangkan baginya. Setiap hari di Sydney Caraka akan membuka ponselnya hanya untuk melihat update social media Gauri. Karena itu kini dirinya lebih menghargai waktunya bersama Gauri.
Di ruangan seminar Gauri berhasil menyelesaikannya dengan lancar dan tanpa banyak perbaikan dari dosen pembimbing dan pengujinya. Setelah ditutup para dosen pun keluar menyisakan Gauri dan teman-temannya yang masih didalam membereskan barang yang tertinggal.
Gauri sempat mengecek ponselnya dan tersenyum saat melihat pesan dari Caraka. Gauri senang karena akhirnya Caraka ada disampingnya lagi. Tidak ada yang Gauri khawatirkan lagi sekarang karena sudah ada Caraka yang akan selalu siap bersamanya.
Ketika berjalan keluar dengan teman-temannya, Gauri melihat mobil yang familiar untuknya. Gauri dibuat semakin kaget ketika melihat siapa yang keluar dari mobil itu.
"Udah beres?" tanya Caraka tersenyum hangat kepada Gauri.
Gauri terlalu kaget untuk menjawab, dirinya masih mencerna keadaannya. Kenapa tiba-tiba ada Caraka didepan kampusnya. Bukannya harusnya dia di rumah sakit.
__ADS_1
Keadaan itu mengingatkan Gauri saat dulu Caraka selalu menjemputnya di sekolah secara mendadak. Gauri kemudian menjawab pertanyaan Caraka dengan senyuman bahagia, "Udah, yuk pulang."