Dive Into You

Dive Into You
APAKAH INI KEPUTUSAN YANG BENAR?


__ADS_3

Gauri mencoba melepaskan genggaman tangan Caraka di tangannya. Namun, genggaman itu begitu erat begitu juga dengan tatapan dalam seorang Caraka. Hari sudah terlalu malam bagi keduanya untuk saling berbicara. Caraka meminta waktu kepada Gauri untuk bisa menceritakan semuanya. Sayangnya malam ini ada hal yang lebih penting untuk Gauri lakukan.


Akhirnya mereka membuat janji besok setelah cafe tutup akan bertemu dan membicarakan semuanya. Setelah mendengar itu Caraka pun melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Gauri pergi. Ia berharap pembicaraan besok akan memberikan hasil yang baik bagi hubungan mereka.


Sepanjang jalan ke super market banyak yang dipikirkan oleh Gauri. Di satu sisi dirinya merasa kalau akhirnya bisa mendengar penjelasan dari Caraka setelah bertahun-tahun, tetapi di sisi lain Gauri ragu apakah hubungan mereka akan kembali seperti sebelumnya. Setelah apa yang terjadi kepada keduanya, Gauri hanya berharap yang terbaik untuk kedepannya.


Bukannya pulang ke rumah, ternyata Caraka pergi ke rumah Bimo. Malam ini entah kenapa dirinya merasa lelah meskipun belum sempat berbicara serius dengan Gauri. Caraka tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi besok ketika mereka saling bicara. Mobil Bimo sudah terparkir didepan rumahnya tetapi Bimo tidak kunjung keluar.


Caraka akhirnya menelepon Bimo untuk membukakan pintu gerbang untuknya. Pintu gerbangnya hanya bisa dibuka melalui akses yang ada di ponsel Bimo sehingga tidak sembarang orang bisa masuk. Sistem ini dipasang karena dulu sempat ada pencuri yang masuk kerumahnya.


Setelah menunggu hampir lima menit akhirnya pintu gerbang terbuka. Caraka kemudian memasukan mobilnya kedalam diiringi dengan gerbang yang kembali tertutup. "Sistem kayak gini harus gue pasang dirumah nih," ucap Caraka sendiri didalam mobil yang takjub dengan teknologi yang dipasang Bimo.


"Lo kok malah kesini sih bukannya pulang, tumben banget," ucap Bimo dari teras rumahnya.


"Cape gue, dari cafe lebih deket ke rumah lo daripada rumah gue," balas Caraka berjalan menuju rumah Bimo.


Bimo tinggal sendirian sekarang karena ayahnya sudah menikah lagi dan tinggal dengan keluarga barunya. Sama hal nya dengan dirumah Caraka, disini ada kamar khusus yang disiapkan jika Caraka menginap.


"Di rumah gue ga ada makanan, lo udah makan?" tanya Bimo.

__ADS_1


"Belum ... pesen aja deh, lo belum makan juga kan?" ucap Caraka membuka ponselnya untuk memesan makanan melalui ojek online.


"Udah nih ya gue pesen ... entar kalo dateng ambil aja langsung udah gue bayar kok, gue mandi dulu ini."


Aura menunggu Gauri di pinggir jalan karena tahu belanjaannya akan cukup banyak. Dari kejauhan sudah terlihat Gauri yang sibuk membawa tas belanja di kedua tangannya. Aura pun berjalan mendekatin Gauri dan membawa salah satu tas belanjanya lalu mereka pun berjalan pulang bersama.


"Tadi di luar cafe gue ketemu Caraka, Kak," ucap Gauri tiba-tiba.


"Terus? kalian sempet ngobrol apa?" tanya Aura.


"Kita cuma bikin janji besok setelah cafe tutup mau ngobrolin semuanya, biar ga berlarut-larut," ucap Gauri, tetapi nada suaranya menunjukan keraguan.


"Ini keputusan yang bener kan Kak?" ragu Gauri.


"Bener, ga baik kalo di nanti-nanti terus mau sampe kapan juga kalian mau kayak gitu terus." Gauri menatap kelangit setelah mendengar jawaban dari Aura.


Hal yang sama sedang dilakukan Caraka dan Bimo. Caraka menceritakan kepada Bimo tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Gauri tadi didepan cafe. Sama seperti Gauri, Caraka juga merasakan keraguan. Apakah lebih baik jika mereka membiarkan saja hal ini atau lebih baik diselesaikan?


Keduanya sebenarnya tahu jika hal ini terus menerus ditunda akan berakhir kurang baik. Tidak mungkin selamanya mereka mempunyai hubungan canggung seperti ini. Hubungan lebih dari sepuluh tahun yang mereka lewati bersama seperti tidak ada artinya lagi. Caraka pun merasa tidak enak dengan Bagas yang terpaksa berada di situasi seperti ini.

__ADS_1


Keesokan paginya Caraka dan Bimo sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Karena tidak membawa baju ganti, Caraka pun meminjam baju milik Bimo. Style dan bentuk tubuh mereka cukup mirip sehingga tidak ada kesulitan bagi Caraka memilih baju Bimo. Mereka berencana membeli sarapan di perjalanan nanti. Keduanya akan membawa mobil mereka masing-masing karena Caraka harus menemui Gauri setelah bekerja.


Pagi ini Gauri juga ada janji bertemu dengan dosennya sehingga harus berangkat ke kampus lebih awal dari biasanya. Gauri mendapat dosen pembimbing yang sibuk dan jarang ada di kampus, sehingga waktu yang disediakan beliau terpaksa Gauri turuti mau jam berapa pun. "Kak Aura, gue berangkat ya ... nanti sarapan di kampus aja."


Setelah keluar dari kampus tiba-tiba ada Satrio yang sudah stand by menjemputnya. Gauri kaget melihat Satrio berdiri didepan rumahnya sambil memegang helm miliknya. Satrio tidak memberi kabar apapun kepada Gauri sebelumnya. Yang membuatnya lebih kaget adalah Satrio bisa tahu darimana kalau hari ini Gauri berangkat ke kampus lebih pagi.


"Kok tiba-tiba disini ga ngabarin gue dulu," tanya Gauri kaget.


"Kaget kan? heran kan? keren kan gue?" tidak menjawab, Satrio malah terus bercanda kepada Gauri.


"Iya gue kebetulan denger Ayah teleponan sama dosen pembimbing lo, jadi tau jadwal bimbingan hari ini pagi banget ... terus gue jemput deh kebetulan ada urusan di kampus juga dari pagi, puas sama jawaban gue?" lanjut Satrio memberikan helm kepada Gauri.


Seperti biasa sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam. Sebenarnya Satrio memang lebih suka seperti ini, karena lebih tenang. Sesekali Satrio akan melihat Gauri dari kaca spionnya lalu kembali menatap kedepan. Sudah banyak hal yang mereka lalui bersama di atas motor ini. Dari Gauri yang menangis sepanjang jalan tanpa bersuara hingga tawa cekikikannya karena candaan Satrio.


Sesampainya di kampus Gauri langsung sedikit berlari menuju ruangan dosen pembimbingnya karena dirinya hampir terlambat dari jadwal yang ada. Sedangkan Satrio kembali mengendarai motornya menuju rumahnya. Sebenarnya Satrio tidak ada urusan di kampus hari ini, karena kebetulan Satrio libur mengajar. Itu hanya alasan yang dibuatnya agar Gauri mau diantar ke kampus.


Satrio tahu betul jika Gauri berangkat menggunakan bis, Gauri bisa lebih terlambat datang ke kampus karena terlalu ramai penumpang. Sehingga ia berinisiatif mengantar Gauri dengan membuat alasan yang meyakinkan. Sudah banyak sekali momen yang dilakukannya untuk Gauri, tetapi Satrio tidak mau memaksakan perasaan Gauri padanya.


Gauri sebenarnya sudah tahu tentang perasaan Satrio kepada dirinya dari Aura. Namun, dirinya masih sulit untuk menerima perasaan Satrio. Gauri sangat berterima kasih atas semua bantuan yang Satrio lakukan untuknya, tetapi masih ada sebuah ruang di hati Gauri yang masih menunggu pemiliknya untuk kembali.

__ADS_1


__ADS_2