
Malam itu setelah menyelesaikan semua pekerjaannya Caraka langsung bertemu dengan Bagas untuk embahas masalah ini. Ternyata Bagas belum tahu mengenai adanya sekelompok orang yang memfitnah cafe Aura. Cukup lama mereka mengobrol kemudian mereka pun memutuskan untuk mencari dan menangkap orang ini sendiri tanpa bantuan polisi.
Mereka akan lakukan ini secara diam-diam, jangan sampai Gauri ataupun Aura mengetahuinya. Bimo akan mencoba mencari banyak informasi tentang kelompok ini. Sedangkan Bagas seperti biasa akan meminta bantuan teman-temannya untuk mengawasi gerak-gerik mereka.
Caraka mendapat tugas untuk mengalihkan perhatian Gauri dan Aura. Karena semakin lama keadaan cafe mereka yang sepi akan menimbulkan kecurigaan bagi mereka. Akhirnya Caraka diam-diam mempromosikan cafe Aura kepada karyawannya.
Caraka bahkan meminta tolong kepada neneknya untuk mempromosikan cafe Aura kepada teman-temannya. Segala cara Caraka lakukan agar Gauri dan Aura tidak menyadari adanya sabotase terhadap cafe mereka. Kini setiap ada rapat dan memerlukan konsumsi, Caraka meminta untuk membelinya di cafe Aura.
"Pasti kamu ya Kak?" tanya Gauri kepada Caraka yang sedang menyeruput kopinya.
"Apaan emang?" kaget Caraka tiba-tiba mendengar pertanyaan seperti itu dari Gauri.
"Iya ... cafe mendadak rame terus banyak karyawan dari kantor kamu kesini," ucap Gauri mengetahui perbuatan Caraka.
Gauri dan Aura sebenarnya senang jika cafe nya kembali ramai. Namun, ada sesuatu yang masih mengganjal hatinya. Sempat ada seseorang yang mengatakan kasus mereka kemarin kepada Aura yang sedang berada di luar cafe. Seseorang mengira Aura adalah pengunjung cafe sehingga mengatakan hal itu.
"Pokoknya sekarang ga usah mikirin apa-apa ... kalian fokus aja melayani pelanggan kayak biasa," ucap Caraka meyakinkan Gauri.
"Kalau ada sesuatu biar kita yang beresin ... " lanjutnya tersenyum hangat.
Gauri percaya sepenuhnya kepada Caraka. Gauri mencoba mengesampingkan pikiran negatifnya dan fokus melakukan apa yang harus dirinya lakukan menuruti perkataan Caraka. Gauri yakin jika memang ada yang aneh, Caraka dan Bagas pasti yang akan berdiri didepan dan membela mereka.
Keesokan harinya Caraka sedang mempersiapkan berkas untuk rapat hari ini, tiba-tiba dikejutkan dengan telepon masuk dari Bagas. Bagas memberi kabar baik, teman-temannya berhasil menemukan markas atau tempat berkumpulnya segerombol orang penyebar berita fitnah itu.
Mereka menyiapkan rencana untuk langsung mendatangi mereka jika kondisi memungkinkan. Caraka akan menyiapkan banyak hal yang bisa memojokan mereka nanti. Terakhir Bimo memberi kabar kalau hasil pencariannya sudah hampir selesai.
Tidak dengan kekerasan, Caraka akan membuat mereka mundur dan mengakui kesalahan mereka dengan sendirinya. Dengan menyiapkan amunisi yang akan membuat mereka tidak punya pilihan lain selain pergi menjauh.
__ADS_1
Hari ini di kampus Gauri bertemu dengan Satrio, setelah cukup lama mereka tidak bertemu. Satrio sedang mengurus beberapa berkas di bagian administrasi yayasan. Gauri yang pertama kali melihat, perlahan maju berniat mengagetkan Satrio.
Ketika sudah hampir dekat, tidak disangka Satrio malah berbalik. Hampir saja mereka bertabrakan, karena itu Gauri tidak sengaja menjatuhkan berkas-bekas milik Satrio. Gauri yang panik membantu Satrio mengambil dan merapihkan berkas yang berserakan di lantai.
Sampai ada satu berkas yang menarik perhatian Gauri. Berkas itu bertuliskan program S2 di Amerika. Ternyata Satrio berniat mengambil lanjutan kuliahnya di Amerika. Universitas ini memiliki kerja sama dengan kampus mereka sehingga Satrio mendapat rekomendasi dari salah satu profesornya.
Gauri terdiam sembari menyerahkan berkas yang dipegangnya. Satrio menyadari itu kemudian berkata, "Udah lama kita ga ngobrol bareng ... mau ke cafe depan ga?" ajak Satrio berniat menceritakan semuanya kepada Gauri.
Gauri terduduk dengan posisi canggung menunggu Satrio membawaa pesanan minuman mereka. Dalam hatinya banyak sekali yang ingin dirinya tanyakan kepada Satrio. Salah satunya bahkan apa Satrio pergi karena dirinya. Gauri tidak mau kalau memang itu adalah salah satu alasannya.
"Nih, minuman yang biasa ... cemilannya katanya nyusul," ucap Satrio meletakkan minuman mereka diatas meja.
Sebelum memulai pertanyaannya Gauri menyeruput minumannya dengan sedikit agresif. Membuat Satrio terkejut melihatnya dan sedikit tertawa.
"Tenang Ri, ga akan ada yang ambil minuman lo," ucap Satrio tertawa.
"Disana kampusnya bagus Ri buat jurusan gue," jawab Satrio tenang.
Sambil menaikan salah satu alisnya, Gauri tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban Satrio.
Satrio menyadari kalau Gauri masih tidak puas dengan jawabannya. Dirinya mencoba menjelaskan dengan perlahan agar Gauri mengerti kalau ini tidak ada hubungannya dengan Gauri. "Jangan kepedean ya, gue pergi kesana gara-gara lo." Satrio meledek Gauri.
"Dih lagian siapa yang kepedean ... kan siapa tau, siapa tau doang," kesal Gauri diledek oleh Satrio.
"Ya pokoknya lo kalo disana jangan sombong terus ga hubungi gue loh," lanjutnya.
"Iya tenang aja," ucap Satrio tersenyum.
__ADS_1
Malam ini Caraka, Bagas, dan Bimo berencana menghampiri markas berkumpulnya orang-orang itu. Bimo dan Caraka sudah membawa amunisi nya dan siap untuk diluncurkan. Bagas sudah berada di lokasi mengintai tempat itu dari kejauhan.
Setelah semua berkumpul, Bagas memimpin untuk segera masuk kedalam karena keadaan sudah cukup aman. Orang-orang itu jelas tidak suka dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba. Apalagi datang langsung ke markas mereka.
Sebelumnya Caraka sudah meminta beberapa orang untuk berjaga diluar jika ada sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Bagas mengawali pembicaraan mereka dengan baik-baik dan tidak berniat melakukan tindakan apapun. Kini suasana cukup tegang dan semua orang berada di posisi bersiaga.
Untungnya salah satu ketua yang berbicara dengan Bagas bisa menerimanya dan berdiskusi dengan baik. Setelah membuka dengan baik, Bagas kemudian menyerahkan sisanya kepada Caraka. Caraka mengatakan maksud dari kedatangan mereka kesana adalah terkait dengan berita bohong yang mereka sebarkan.
Ternyata mereka juga adalah orang suruhan. Mereka melakukan itu karena dibayar oleh seseorang untuk menghancurkan cafe Aura. Alasannya juga mereka tidak benar tau pasti. Caraka kemudian meminta mereka untuk memanggil orang itu kesini.
Awalnya ketua itu tidak mau, tetapi setelah diberi ancaman mengenai bisnis ilegal mereka ketua itu pun menuruti kemauan Caraka. Entah apa yang dikatakan ketua itu kepada orang yang menyuruhnya, tetapi akhirnya orang itu akan datang kesana sekarang juga.
Saat ini waktu menunjukan pukul sebelas malam. Mereka bertiga masih menunggu orang itu untuk datang sembari mengancam si ketua untuk tidak melakukan apa-apa jika tidak ingin menyesal nantinya. Semua ini cara lakukan tanpa sepengetahuan Gauri dan Aura.
Tiba-tiba masuk telepon dari Gauri yang sama sekali tidak diduga oleh Caraka.
"Jam segini kok belum tidur sih ni anak," gumam Caraka.
"Siapa Ka?" tanya Bagas, menengok ke arah Caraka.
"Gauri ... jam segini kok masih belum tidur sih dia," ucap Caraka, me reject telepon dari Gauri.
Di kamarnya Gauri bingung karena tidak biasanya Caraka menolak panggilan teleponnya. "Lagi di kantor kah? lagi sibuk mungkin ya? lagi apa sih?" Gauri bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
Sementara di markas, orang yang menyuruh si ketua akhirnya tiba. Tidak mau dipergoki, Caraka, Bagas, dan Bimo bersembunyi sampai suasana cukup aman. Sembari mengintip dari balik lemari tempat mereka bersembunyi, Caraka berusaha melihat siapa orang itu.
Ternyata dia adalah salah satu orang yang memfitnak Aura dan Gauri di cafe hingga mereka berurusan dengan polisi. Orang itu datang dengan satu orang lainnya, dan alangkah lebih kagetnya ternyata orang yang dibawanya itu adalah orang yang sama yang mengintai cafe Aura beberapa hari kebelakang.
__ADS_1
"Lo ternyata orangnya." Caraka tersenyum sinis menaikkan sedikit ujung bibirnya.