Dive Into You

Dive Into You
GAURI KHAWATIR


__ADS_3

Setelah mengirim pesan kepada Caraka, Gauri yang sudah membereskan beberapa bajunya yang akan dibawa ke luar kota segera membawanya ke mobil. Ibu dan Ayahnya sudah bersiap di mobil. Rencananya mereka akan berangkat setelah menjemput Alan di rumah temannya. Karena ini kabar mendadak jadi semuanya serba cepat dan terburu-buru.


Bagas juga sudah dijalan menuju ke rumah kerabat mereka itu dan berencana langsung bertemu ditempat. Rumah kerabat mereka ada di Bandung sehingga tidak terlalu membutuhkan waktu lama jika menggunakan tol. Gauri dan keluarganya juga Bagas dan keluarganya sudah sampai dirumah kerabat mereka dan saling menyapa keluarga yang lain turut berduka cita.


Hingga saat itu masih belum ada yang  mengabari mereka terutama Bagas tentang apa yang terjadi di Jakarta. Baik pelatihnya maupun anggota tim yang lain masih terlalu syok melihat apa yang terjadi pada Mike. Suasana grup chat anggota tim renang pun sangat sepi tidak seperti biasanya. Bagas sendiri sebenarnya tahu kalau hari ini ada latihan khusus jadi pasti mereka semua terlalu lelah untuk bercanda di grup chat. Tapi tetap saja Bagas merasa ada yang aneh.


Tidak lama ada sebuah telepon masuk dari salah satu anggota tim yang ada di TKP kepada Bagas memberitahukan apa yang terjadi disana. Dirinya berfikir bahwa Bagas perlu tahu ini karena Mike dan Bagas berteman baik. Mendengar itu seluruh tubuh Bagas membeku, pikirannya serasa berkabut dan tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya. Yang ada didalam benaknya sekarang adalah keadaan Caraka yang pasti ada di tempat kejadian.


Bagas terus mencoba menelepon Caraka namun tidak kunjung diangkat. Dirinya terus mengirim pesan dengan tangan yang masih gemetar tidak percaya. Namun seberapa banyak telepon dan pesan yang dikirimkan tetap tidak ada respon dari Caraka. Itu yang membuat Bagas sangat khawatir. Ketika sedang kebingungan Gauri menghampiri Bagas karena melihat gerak-gerik sepupunya itu sangat aneh.

__ADS_1


"Kak Bagas kenapa?" tanya Gauri.


"Ri, gue ada kabar buruk lo dengerin baik-baik ya," ucap Bagas mendudukan Gauri di sebuah kursi.


Setelah mendengar cerita dari Bagas, Gauri langsung berlari menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya untuk menelepon Caraka. Sama saja dengan Bagas, telepon dari Gauri juga tidak kunjung diangkat oleh Caraka. Karena merasa sangat khawatir, Gauri memutuskan untuk mengajak Bagas pulang ke Jakarta sekarang juga.


"Kita balik Jakarta sekarang Kak."


Sebagian arena kolam masih terdapat banyak sisa darah milik Mike. Kejadian ini sungguh menyedihkan jika mengetahui bahwa di kolam itu banyak sekali kenangan perjuangan Mike sejak dia kecil hingga sekarang. Caraka keluar dari ruang loker, berjalan dengan perlahan dan tatapannya yang kosong. Sampai dia melihat tempat kejadian yang masih terdapat banyak sisa darah Mike. Tangannya masih menggenggam ponsel milik Mike, semua memori yang dia miliki dengan Mike seperti terus berjalan dikepalanya.

__ADS_1


Pelatih yang melihat Caraka seperti akan ambruk kapan saja mencoba membawanya keluar arena kolam untuk duduk di kursi yang ada diluar. Ponselnya masih terus berbunyi dan Caraka belum menyadari itu. Sang pelatih yang sempat mendengarnya hendak memberitahu Caraka namun tidak jadi karena Caraka seperti tidak ada disini, hanya ada raganya saja.


Sepanjang jalan kembali ke Jakarta Gauri masih terus menelepon Caraka. Raut wajahnya sangat khawatir, Gauri tahu seberapa penting kehadiran Mike dihidup Caraka selama ini. Selain itu dia pun tahu kalau mereka ada janji untuk bertemu hari ini. Tidak bisa Gauri bayangkan perasaan Caraka yang pada saat terakhirnya Mike tidak bisa ada disisinya, padahal mereka seharusnya bertemu.


"Kak bisa ngebut dikit ga sih? aku khawatir banget ini," ucap Gauri seperti ingin menangis.


"Iya iya tapi kita juga harus hati-hati ini udah malem Ri," jawab Bagas.


"Masih belum diangkat?" tanya Bagas.

__ADS_1


"Belum."


__ADS_2