
Caraka keluar dari mobilnya dengan senyuman hangat menyambut Gauri. Sama halnya dengan Caraka, Gauri yang kaget melihat kehadiran Caraka juga ikut tersenyum dibuatnya. Gauri sama sekali tidak menyangka akan melihat Caraka menjemputnya.
Beberapa teman Gauri yang menemaninya tadi berbisik satu sama lain menanyakan siapa lelaki tampan yang tersenyum kepada Gauri itu. Hanya Mila yang mengenal siapa lelaki itu, dan berkata kepada temannya yang lain kalau lelaki itu pacarnya Gauri namanya Caraka.
Sampai hari ini sepertinya kata pacaran tidak pernah mereka katakan secara terang-terangan. Yang sangat jelas pasti adalah Gauri dan Caraka saling menyayangi satu sama lain, dan rasa ini lebih dari sekedar sahabat dekat. Tidak disangka Satrio juga melihat momen itu.
Satrio keluar dari parkiran dan tidak sengaja melihat Gauri dan Caraka didepan kampusnya. Mulanya Satrio hanya melihat Gauri saja, dan sudah berniat akan mengucapkan selamat kepadanya. Tetapi ketika melihat kearah mana senyuman itu Gauri berikan, Satrio secara otomatis mengudurkan niatnya untuk menyapa Gauri.
"Tadi gimana seminarnya?" tanya Caraka mengelus kepala Gauri pelan.
"Sukses dong, berkat seseorang yang meskipun sibuk kerja masih mau jawab pertanyaan aku semalem," ucap Gauri tersenyum didepan Caraka.
Menyadari percakapan manis ini disaksikan teman-teman Gauri, Caraka pun mengajak Gauri masuk kedalam mobil.
Sepanjang jalan Gauri tidak berhenti melepaskan pandangannya dari Caraka. Terlihat jelas arti dari tatapan itu. Gauri masih tidak terbiasa dengan sisi Caraka yang seperti ini. Caraka yang sekarang bisa mengungkapkan perasaannya dengan jelas.
"Emang bisa kenyang ngeliatin gitu terus?" tanya Caraka dengan pandangan fokus menyetir.
"Masih aneh dan ga biasa nih gue sama perlakuan lo tadi," heran Gauri, terus memandang Caraka.
"Perlakuan yang mana?" tanya Caraka pura-pura tidak tahu.
"Tadi ... ngelus kepala guem, tatapannya juga manis banget," ucap Gauri.
Tiba-tiba Caraka memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Kini Caraka membalas Gauri dengan menatapnya dalam. Dengan tatapan itu Caraka berkata, "Kenapa? ga suka dielus kepalanya?" tanya Caraka membuat Gauri salah tingkah dengan pertanyaan itu. "Mulai sekarang gue akan berusaha buat lebih nunjukin seberapa sayangnya gue ke lo."
Gauri masih terdiam dan dibuat heran dengan Caraka yang seperti ini. Namun, meskipun heran Gauri senang dengan sikap Caraka yang sekarang. Dahulu Caraka memang selalu memiliki senyum dan pandangan hangat kepadanya. Tetapi ada aura yang berbeda dengan cara Caraka memandang dan tersenyum padanya. Kali ini terlihat lebih percaya diri dan tidak ada keraguan.
__ADS_1
Setelah puas saling bertatapan kini Caraka kembali mengendarai mobilnya ke sebuah tempat makan. Tempat makan ini sekarang menjadi tempat makan favoritnya setelah dikenalkan oleh Bimo. Sebuah warung rice bowl yang posisinya tepat didepan cafe milik Aura.
Sambil tertawa Gauri tidak menyangka Caraka akan membawanya kesini. Namun jujur selama bekerja di cafe dan tinggal di daerah sana, Gauri belum pernah mencoba rice bowl itu. Tempatnya kecil dan selalu ramai. Caraka berniat membeli rice bowl itu dan makan didalam mobilnya sambil berkeliling Jakarta.
"Banyak hal yang berubah dari Jakarta, dan gue yakin juga banyak yang terlah terjadi selama itu sama lo ... jadi gue pengen kita bisa ceritain semuanya sambil mengenang tempat yang dulu kita sering datengin," jelas Caraka.
Gauri hanya mengangguk mengiyakan rencana Caraka itu. Gauri juga senang bisa menghabiskan banyak waktu dengan Caraka.
Gauri juga ingin tahu apa saja yang terjadi dengan Caraka selama dirinya di Sydney. Gauri tidak sabar dengan rencana Caraka itu, bahkan sudah menyiapkan playlist lagu untuk diputar selama perjalanan. Caraka yang melihat tingkah Gauri hanya bisa melihatnya gemas.
Sampai ditempat rice bowl Caraka masuk untuk membeli makanan, sedangkan Gauri pergi ke seberang jalan untuk membeli kopi yang akan dibawanya dijalan. Aura kaget melihat Gauri yang tiba-tiba matang ke cafe tanpa mengabari nya dulu, "Hai Kak, hehe... sorry kaget ya gue ga ngabarin dulu," ucap Gauri senyum-senyum.
"Gue mau beli ice vanilla latte dama biasa minuman kesukaan gue."
Aura mulai curiga dengan gelaat Gauri yang aneh karena terus saja tersenyum, "Caraka?"
"Bucin banget sih kalian berdua beneran deh," heran Aura geleng-geleng kepala melihat kebuinan pasangan ini.
Setelah minumannya selesai, Aura tiba-tiba mengingat sesuatu yang harus dirinya sampaikan kepada Gauri. Hal itu ternyata tentang Satrio yang sempat datang saat Gauri di rumah sakit. Satrio datang untuk mencari Gauri tetapi karena tidak ada ia pergi begitu saja.
Gauri sendiri juga merasa harus ada yang diluruskan antara mereka. Rasanya tidak nyaman jika terus begini dengan Satrio. Terlebih lagi Satrio adalah sosok yang selalu ada disamping Gauri saat Caraka tidak ada disana. Satrio yang sudah dianggap kakak oleh Gauri dan sekarang saling berjauhana itu rasanya sedih.
"Nanti gue bakal ketemu dan ngobrol sama Kak Satrio deh ya," ucap Gauri.
Terlihat dari dalam cafe, Caraka sudah keluar dan membawa bungkusan berisi rice bowl untuk mereka dan melihat ke arah cafe. Menyadari itu Gauri pun langsung berpamitan kepada Aura lalu pergi keluar. Dari raut wajah Aura terlihat perasaan lega karena akhirnya mereka bisa kembali bersama lagi.
Selama tinggal bersama, Aura terkadang menemukan Gauri sedih dan terdiam memikirkan seseorang. Tetapi sekarang sumber kesedihan Gauri yang selalu dipikirkannya sudah kembali ada disampingnya. Itu membuat perasaan Aura lega dan bahagia.
__ADS_1
Karena keduanya sama-sama dalam keadaan lapar, mereka memutuskan untuk ke sebuah taman terdekat dan makan disana. Sambil mengeluarkan minuman yang tadi dipesan Gauri, Caraka tersenyum tidak menyangka Gauri masih ingat minuman kesukaannya.
"Jujur deh, dulu yang lebih suka lo kan ke gue?" tanya Caraka menatap curiga.
"Maksudnya?" tanya Gauri tidak mengerti arah pembicaraan Caraka.
"Ini buktinya minuman kesukaan gue, lo selalu inget."
Dengan raut wajah tidak percaya dengan yang didengarnya Gauri sedikit kesal, "Kepedean banget sih ... itu ya karena emang minuman lo gampang diingat aja, basic banget soalnya."
Sambil memakan rice bowl dan mengobrol mereka menertawakan kelakuan masing-masing. Disana mereka juga menceritakan banyak hal yang masih mereka ingat dengan jelas. Termasuk gaya Caraka membawa tasnya.
"Gue bahkan inget banget cara lo bawa tas," ungkap Gauri.
"Emang ada yang aneh sama cara gue bawa tas?" tanya Caraka penasaran.
Gauri lalu berdiri sambil memperagakan cara unik Caraka membawa tasnya. Merasa kalau kebiasaan itu benar adanya Caraka lalu tertawa terbahak-bahak melihat Gauri bisa memperagakannya dengan sangat mirip.
"Tapi jujur gue ga ngerasa itu aneh sih emang kebiasaan aja dari jaman renang dulu," ucap Caraka.
Tiba-tiba suasana hening dan keduanya terdiam. Saat itu Caraka terfikirkan sesuatu. Rasanya aneh ketika melihat hubungan mereka semakin dekat tetapi cara memanggil satu sama lain masih seperti itu.
"Ngerasa aneh ga sih kalo kita masih lo gue manggil satu sama lain?" tanya Caraka.
Gauri terdiam karena menyadari hal itu memang jadi sedikit canggung.
"Yaudah ganti jadi aku kamu?" tanya Gauri sambil sedikit tersenyum karena aku kamu juga terdengar canggung bagi mereka.
__ADS_1
"Pelan-pelan aja gantinya biar ga kerasa canggung," ucap Caraka.