Dive Into You

Dive Into You
BEASISWA


__ADS_3

Gauri sampai dirumahnya dan  berencana menceritakan semua rencananya kepada kedua orang tuanya. Kebetulan ayahnya juga sudah ada dirumah dan mereka semua sedang berkumpul di meja makan. Setelah mandi dan berganti pakaian, Gauri menghampiri kedua orangtuanya dan Alan. Gauri merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakannya kepada mereka.


"Ada yang mau Gauri ceritain ke kalian, bisa dengerin dulu bentar?" tanya Gauri kepada mereka.


"Iya Ri, kenapa? apa yang mau diceritain?" tanya Citra dengan tenang.


"Jadi aku udah memutuskan untuk tetap di Jakarta dan lanjutin kuliah," ungkap Gauri langsung ke intinya.


"Tapi kamu nanti mau tinggal dimana?" tanya Faisal khawatir dengan keputusan anaknya itu.


"Aku udh diskusiin sama Kak Aura kalo bakal tinggal dirumahnya dan bayar sewa kalo ada uang ... untuk biaya kuliah, lagi Gauri usahain buat dapet beasiswa jadi Ayah sama Ibu ga perlu khawatir tentang aku disini." Gauri menjelaskan dengan tenang semua rencananya.


Faisal hanya terdiam mendengar perkataan Gauri, dalam hatinya dia merasa tidak berhasil melindungi keluarganya. Karena dengan kenyataan ini berarti Gauri akan tinggal terpisah dengan anggota keluarganya yang lain. Ini karena ketidakmampuannya dalam menjaga keluarganya. Gauri melihat ayahnya terdiam dan berfikir dalam. Gauri tahu betul apa yang ada dalam pikiran ayahnya sekarang.


"Pokoknya Gauri berharap kita harus tetep bahagia apapun yang terjadi kedepannya ... Gauri bakal baik-baik aja disini, dan Gauri juga berharap Ayah, Ibu, dan Alan juga baik-baik disana." Gauri mencoba tersenyum tegar agar kedua orangtuanya terutama sang Ayah tidak menyalahkan diri mereka karena ini. Tidak ada yang mau hal ini terjadi, tetapi apa boleh buat jika akhirnya memang harus begini.


Mereka saling menguatkan semalaman dan mengobrol banyak hal. Juga saling berbagi keinginan mereka untuk kedepannya. Sampai hari mulai larut Alan yang besok harus bersekolah pagi pamit tidur lebih dulu. Sama halnya dengan Gauri yang harus mulai cepa-cepat mengumpulkan berkas untuk pengajuan beasiswanya besok pagi. Satrio sudah berjanji akan membantunya mengurus persyaratan beasiswa.


Keesokan paginya semua orang memulai hari dengan pikiran yang positif setelah semalaman berbagi cerita dan keluh kesah bersama. Faisal bersama Citra berangkat menuju kantor real estate yang bersedia membantu mengurus penjualan rumah mereka, Alan berangkat ke sekolah, dan Gauri juga berangkat ke kampus menggunakan bis seperti biasa.


Satrio yang semalaman menginap di sekre BEM sudah menunggu Gauri di depan ruang administrasi yayasan. Gauri buru-buru mengeluarkan dokumen yang sudah dirinya atur dari semalam. Ada beberapa yang masih kurang terkait formulir pengajuan karena kemarin belum sempat diberikan oleh Satrio. Satrio langsung  buru-buru ke ruang sekre untuk mengambil formulirnya itu.

__ADS_1


Masih ada satu atau dua pegawai yayasan yang datang dan melihat Gauri sedang berdiri seperti menunggu seseorang disana. Tidak lama Satrio muncu dengan formulir itu sambil mengatur nafasnya karena setengah berlari tadi. Satrio juga sekalian membawakan amplop untuk Gauri melengkapi semua persyaratan beasiswanya. "Udah semua kan ya ini? makasih banyak ya Kak," senyum Gauri tulus kepada Satrio yang membuatnya salah tingkah.


"Kira-kira pengumuman seleksi awalnya di minggu ketiga bulan ini, agak lama sih soalnya banyak yang ngajuin," ungkap Satrio.


"Iya gapapa kok, seleksinya nanti ada berapa banyak emang?" tanya Gauri lagi kepada Satrio.


"Kalo gasalah buat tahun ini cuma dua, jadi dari seleksi saringan awal nanti langsung ke wawancara ... " ucap Satrio.


"Jadi di pengumuman nanti bakal banyak banget yang ga lolos," lanjutnya.


Sekarang tidak ada kata pesimis didalam kamus Gauri. Dirinya harus optimis bisa lolos dan mendapatkan beasiswa itu. Gauri sudah tidak punya waktu untuk manja-manja dan lemah, dengan permasalahan yang menimpa keluarganya seharusnya bisa membuat Gauri lebih dewasa lagi. Apalagi kedepannya Gauri akan hidup seorang diri tanpa keluarganya.


"Iya deh terserah Kak Satrio aja." Gauri pergi meninggalkan Satrio karena lelah mendengar kata-kata narsistik dari Satrio.


Kebetulan sore ini Bagas meminta bertemu dengan Gauri di cafe milik Aura, jadi setelah menyelesaikan kuliahnya Gauri langsung pergi menuju cafe Kak Aura. Sepertinya ada yang mau didiskusikan oleh Bagas dengannya. Citra ternyata sudah bercerita dengan Sinta tentang rencana Gauri yang akan tetap berkuliah di Jakarta dan tinggal dengan Aura. Mumpung bertemu di cafe Aura, Bagas berencana sekalian menanyakan kepada Aura tentang ini.


Sepertinya Bagas agak kecewa karena Gauri memilih tinggal di rumah seseorang yang secara umum adalah orang asing dibanding dirinya. Gauri selalu saja menolak untuk tinggal dirumahnya dan memilih tinggal dengan Aura. Sinta sebenarnya tidak masalah Gauri akan tinggal dimana, selama mereka masih bisa memantaunya. Rumah Aura juga tidak terlalu jauh dari rumah Gauri yang sekarang.


Bagas yang tiba lebih dulu memesan minum kepada Aura yang kebetulan sedang menjaga didepan. Terlihat jelas ada sesuatu yang berbeda dari wajah Bagas. "Pasti masalah Gauri mau tinggal sama saya kan?" tanya Aura to the point.


"Bisa dibilang iya," kata Bagas singkat.

__ADS_1


"To the point banget sih jawabnya." Aura memberikan minuman pesanan Bagas kepadanya.


Tidak lama muncul Gauri yang datang diantar oleh Satrio. Sebelumnya mereka sempat bertemu di halte depan bis. Karena akan menuju ke arah yang sama Satrio memutuskan untuk mengantar Gauri sekalian ke cafe Aura. Satrio tidak mempir melainkan langsung pergi karena ada urusan lain. Setelah Satrio pergi, Gauri langsung buru-buru masuk kedalam.


"Sorry Kak nunggu lama ya?" kata Gauri yang menyadari ekspresi Bagas tidak seperti biasanya.


Gauri melihat kearah counter dimana Aura berada seperti meminta bantuan, "Ngobrolnya langsung biar ada Kak Aura nya ya?"


Aura pun mendatangi mereka dan membantu Gauri menjelaskan kepada Bagas alasan Gauri memilih tinggal bersamanya dari pada dengan Bagas dan keluarganya. Dengan penyampaian baik dan tenang oleh Aura, setidaknya bisa membuat Bagas sedikit mengerti tentang alasan sebenarnya.


Disana Gauri sekalian menjelaskan kemajuannya mengurus beasiswa di kampus. Juga tentang Satrio yang bersedia membantunya melengkapi berkas yang dibutuhkan. Gauri bercerita kalau dirinya tidak menyangka ada sisi Satrio yang seperti itu dalam dirinya. Gauri pikir Satrio itu hanya senior yang narsis. Melihat adik sepupunya itu cukup antusias menceritakan tentang Satrio padanya Bagas pun berkata, "Gue seneng lo udah mulai tertarik ke cowo lain, Ri."


"Ih apaan sih, kan gue bilang-"


"Ga mau mikirin itu dulu tapi mau fokus beresin kuliah ... iya gitu kan?" ucap Bagas cepat.


"Iya kayak gitu, pokoknya gitu ... yang sekarang mau gue pikirin ya kelanjutan kuliah gue doang," tegas Gauri.


"Tapi tadi gue sempet denger kabar Caraka dari salah satu pelatih, lo mau denger?" tanya Bagas menggoda Gauri.


"Engga ... gue mau lupain nama itu." Gauri beranjak pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2