Dive Into You

Dive Into You
SATRIO


__ADS_3

Semua mahasiswa baru sudah berkumpul di aula utama. Para senior BEM juga sudah berkumpul, acara pun dibuka oleh MC yang juga anggota BEM. Para mahasiswa antusias karena BEM universitas mereka cukup terkenal karena aktif berpartisipasi dalam banyak acara antar universitas di Jakarta. Setelah dibuka oleh MC majulah Satrio sebagai ketua BEM memberikan beberapa patah kata untuk para mahasiswa baru.


Begitu Satrio maju, terdengar dari seluruh penjuru aula suara riuh yang kagum akan dirinya. Gauri dan temannya yang duduk di posisi tengah tidak menyangka kalau Satrio se terkenal ini. "Fans nya banyak banget ya, Ri" ucap temannya. Gauri masih biasa saja hanya mungkin sedikit tidak menyangka saja. Gauri berpikir Satiro mungkin hanya tipikal senior populer yang banyak dikagumi wanita.


Acara semakin meriah dengan diundangnya salah satu alumni BEM yang kini sukses menjadi seorang entrepreneur dan membagi kisahnya disana. Beberapa kali ketika Gauri mengarahkan pandangannya ke sisi panggung matanya tidak sengaja bertatapan dengan Satrio yang kebetulan melihat kearahnya. Gauri yang salah tingkah kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Tidak terasa acara perkenalan BEM selama dua jam ini sudah berakhir. Banyak yang tertarik untuk bergabung menjadi BEM setelah melihat acara tadi. Teman Gauri yaitu Mila mengajak Gauri untuk ikut bergabung ke BEM. Gauri yang semasa SMA aktif OSIS pasti sudah terbiasa berada di lingkungan organisasi. Tetapi sayangnya Gauri menolak, dirinya sekarang hanya ingin fokus kuliah saja.


Gauri dan Mila mampir ke kantin sebentar sebelum melanjutkan kelas. Tidak disangka disana juga ada Satrio dan beberapa temannya. Saat Gauri akan membeli minuman di belakangnya sudah ada Satrio yang ingin mengantri juga. Satrio menepuk pundak Gauri pelan, "Ikut ngantri juga ya," ucap Satrio. Gauri yang kaget hanya tersenyum canggung.


Satrio lalu menepuk pundak Gauri lagi, "Jadi gimana? Tertarik gabung BEM ga?"


"Hah gimana Kak?" tanya Gauri.


"Iya, kamu tertarik gabung BEM ga? aku denger dulu aktif OSIS kan?" tanya Satrio.


"Dia tau dari mana gue aktif OSIS," gumam Gauri dalam hati bingung.

__ADS_1


"Pokoknya formulirnya udah di sebar ke kantor admin tiap jurusan, kalo tertarik bisa diisi nanti serahin aja ke sekre BEM." Satrio pun pergi.


Berbeda dengan Caraka, Satrio orangnya lebih proaktif dan spontan. Gauri yang tidak terbiasa dengan hal ini cukup bingung dibuatnya. Karena biasanya dalam hubungan Gauri dan Caraka, Gauri lah yang selalu proaktif dan memulai pembicaraan duluan. "Jadi dia tadi ngantri di belakang bukan mau beli minum tapi ngomong gitu doang ke gue," ucap Gauri dalam hati.


Selesai kelasnya Gauri menunggu Mila yang meminta dirinya mengantar ke sekre BEM. Ternyata Mila cukup tertarik untuk bergabung. Seperti yang Gauri dengar nantinya hanya akan dipilih lima orang saja mahasiswa baru di angkatannya. Mereka tidak terlalu banyak merekrut anggota agar lebih efisien dalam pembagian kerjanya. Sebuah aturan yang dibuat oleh Satrio dan cukup efektif hingga saat ini.


"Lo ga akan daftar juga Ri?" tanya Mila.


"Ga tertarik ah, entar jadi ga fokus kuliah malah sibuk sana sini," jawab Gauri.


"Tapi kan kalo kepilih bisa jadi tambahan poin di CV lamaran kerja nanti, Ri."


Akhirnya Gauri pun memutuskan untuk ikut mendaftar BEM bersama dengan Mila. Untung saja di sekre BEM sedang tidak ada Satrio. Tidak mau berlama-lama Gauri pun segera pamit setelah menyerahkan formulir pendaftarannya. Terdengar suara tipis yang membicarakan Gauri dibelakang setelah dirinya pergi. Sepertinya beberapa dari mereka sudah tahu kalau Gauri ini yang sempat ditandai oleh Satrio saat Ospek.


Gauri pulang menggunakan bis sendirian karena Mila berbeda arah pulang dengannya. Dijalan Gauri hanya memainkan ponselnya dan sesekali menatap ke jendela melihat jalanan yang padat di sore hari. Di lampu merah dirinya melihat beberapa orang yang membawa tas besar khas para atlit, mereka membawanya dengan cara yang cukup unik yaitu dengan mengangkatnya kebelakang pundak. Melihat ciri khas itu mengingatkan Gauri kepada Caraka yang selalu membawa tasnya seperti itu.


"Si Bang Toyib kabarnya gimana ya sekarang?" tanya Gauri dalam hatinya.

__ADS_1


"Ih ... ih apaan sih malah inget orang itu, lupain Ri, lupain."


Gauri lalu memasang headsetnya dan menyalakan lagu kesukaannya. Gauri masih tidak terima jika dirinya mengingat nama Caraka. Meskipun begitu tetapi Gauri tetap saja tidak bisa menolak suara hatinya yang masih memikirkan Caraka.


Sesampainya dirumah ayahnya ternyata sudah pulang. Ayahnya lebih awal pulang karena ada sesuatu yang dikerjakan diluar kantornya. Gauri melihat ayahnya itu sedang mengobrol serius melalui ponselnya. "Bu, Ayah lagi ngobrol sama siapa sih serius banget gitu," tanya Gauri kepada ibunya. "Ibu juga gatau Ri, dari pulang sibuk banget telponan sama seseorang," jawab Citra. Sepertinya sedang ada yang direncakan oleh ayahnya dengan seseorang dibalik telepon itu.


Makan malam pun sudah siap, Gauri menarik Alan yang masih dikamarnya untuk turun kebawah. Saat makan malam ayahnya tiba-tiba ingin mengatakan sesuatu yang serius kepada anggota keluarganya. Ternyata tembakan Gauri benar, ayahnya itu akan memulai bisnis dengan teman baiknya. Dari tadi mereka saling hubungan membicarakan bisnis mereka itu. Rencananya sudah cukup matang, dan kini hanya masalah pembiayaannya saja.


Citra sebenarnya cukup khawatir karena ini kali pertama suaminya itu akan melakukan bisnis di bidang ini dan membutuhkan biaya yang cukup besar. Terlebih lagi uang itu adalah uang yang cukup besar bagi keluarga mereka. Faisal dan temannya itu sekarang juga masih mencari biaya yang mereka butuhkan itu. Gauri kini baru masuk kuliah, Alan juga masih butuh banyak biaya hal itu sebenarnya yang paling di khawatirkan oleh Citra.


"Kalian percaya kan sama Ayah?" tanya Faisal.


"Ayah tapi yakin? Ayah kan belum pernah bisnis di bidang ini," tanya Citra khawatir.


"Kalo aku sih gimana Ayah aja, gatau juga harus komen gimana," ucap Gauri.


"Pokoknya bisnis ini kalo berhasil bisa bikin hidup kita enak nantinya Ri," ucap Faisal optimis.

__ADS_1


Saat berada di dapur dan mencuci piring bersama, Gauri bertanya kepada ibunya apakah ibunya itu yakin dengan keputusan ayahnya. Tetapi Citra juga tidak punya pilihan lain selain mempercayai suaminya itu. Dirinya yakin niat suaminya baik untuk masa depan keluarga mereka, dan pasti tidak akan berniat buruk apalagi untuk keluarganya. Ketika ibunya berkata begitu, Gauri juga tidak ada pilihan lain selain mengikuti keputusan orang tuanya.


__ADS_2