
Keesokan harinya Caraka sudah tiba di kantor lebih pagi dari karyawan yang lain. Besok Caraka akan pergi untuk perjalanan bisnis lagi, tetapi kali ini dengan Bimo. Sehingga dirinya pagi-pagi sekali sudah di kantor menyiapkan bahan dan dokumen yang akan dirinya sampaikan kepada investor.
Perjalanan kali ini cukup penting karena pertama kalinya Caraka melakukan pitching kepada investor secara langsung. Selama ini dirinya hanya menemani kakek nya dan menyimak apa yang dilakukannya. Namun, Caraka cukup yakin karena kali ini ia membawa Bimo bersamanya. Karena Bimo lebih berpengalaman dari dirinya.
Karena tidak ada jadwal dengan dosennya, hari ini Gauri full time di cafe Aura. Sembari sesekali mengerjakan revisi penelitiannya. Semalaman Gauri asyik menceritakan hidupnya akhir-akhir ini dengan ibunya melalui video call. Ibunya juga memberitahu Gauri tentang Alan yang mendapat beasiswa di sekolahnya karena tim sepak bolanya.
Gauri senang karena kabar keluarganya disana baik-baik saja. Sudah lama sepertinya Gauri tidak mengunjungi mereka. Kali ini Gauri berencana untuk membawa Caraka bersamanya mengunjungi keluarganya. Entah kapan, karena Caraka akhir-akhir ini sangat sibuk.
Gauri mengerti karena bebannya sungguh berat, selain memegang beberapa projek besar ada beban latar belakangnya sebagai cucu dari pemilik perusahaan. Membuat Caraka terlihat tidak boleh melakukan kesalahan. Kejadian debat panas kemarin antara Caraka dan karyawannya adalah contoh bagaimana beberapa karyawan disana memandangnya.
Sebelum ke kantor tadi Caraka sempat mengabari Gauri kalau dirinya akan pergi ke luar kota beberapa hari karena urusan bisnis. Gauri sempat sedih karena tidak bisa bertemu dengan Caraka. Setelah hari itu mereka sama sekali belum bertemu lagi.
Pagi ini saja Bimo yang biasanya mampir membeli kopi tidak terlihat batang hidungnya. Menurut Aura juga beberapa hari ini Bimo tidak terlihat ke cafe atau ke kantornya di gedung ini. Aura hanya melihat Pak Candra untuk membayar sewa cafe.
"Sibuk banget deh pasti mereka," ucap Gauri sedih.
"Biarin lah Ri, kalo ga giat kerja gitu gimana mau nikahin kamu," ledek Aura kepada Gauri.
"Ih kok jadi kesana sih arah pembicaraannya, yang ada Kak Aura dulu tuh sama Kak Bagas ... dasar bucin," ucap Gauri melawan Aura dengan ledakan yang sama.
Siang ini cafe sudah di booked oleh acara pertemuan pelatih tim nasional renang atas rekomendasi Bagas. Karena itu Aura dan Gauri sudah sibuk menyiapkan semuanya, dari kursi-kursi hingga makanan yang akan disajikan. Acara pertemuan akan dihadiri kurang lebih 15 orang termasuk staff.
"Kak Bagas jago juga marketingnya, sampe ngadain acara pertemuan disini," ungkap Gauri sembari menyiapkan cup yang akan dipakai.
"Iya, kita harus kasih yang maksimal Ri ... biar nanti pada mampir lagi." Aura pergi ke dapur menyiapkan makanan.
Sementara beberapa ojek online sudah berdatangan mengambil pesanan mereka. Akhir-akhir ini bisa dibilang penjualan di cafe Aura semakin hari semakin membaik membuat Aura merasa lebih tenang sekarang. Aura juga kembali mempekerjakan karyawannya yang sempat di rumahkan karena keadaan cafe sedang sulit.
__ADS_1
Jam makan siang akhirnya tiba, seperti biasa cafe Aura sudah mulai dipenuhi oleh pengunjung. Gauri menyempatkan untuk menghubungi Caraka untuk mengingatkannya makan siang. Gauri tahu betul kebiasaan Caraka melewatkan makan jika sedang banyak yang dikerjakan. Namun, teleponnya tidak kunjung diangkat. Membuat Gauri sedikit khawatir.
Tidak lama dari luar terdengar suara Aura memanggilnya. Awalnya Gauri mengira jika Aura pasti membutuhkan bantuannya karena pengunjung yang datang bersamaan. Tetapi setelah buru-buru keluar Gauri melihat lelaki yang sedari tadi di khawatirkan nya berdiri mengantri bersama Bimo. Seketika senyum sumringah terpancar di wajah Gauri.
"Kok udah disini lagi?" tanya Gauri penasaran, sejak tadi teleponnya tidak kunjung diangkat.
"Heh, jangan ngobrol itu bantuin Aura bikin pesenan." Caraka memberhentikan Gauri yang mulai cerewet.
Memang benar, antrian akan menumpuk jika Gauri tidak segera membantu Aura.
Hingga sampai giliran Caraka dan Bimo. Bahkan sebelum membuka mulutnya, Gauri sudah tahu apa yang akan dipesan oleh Caraka. Kini Gauri juga bahkan sudah tahu pesanan Bimo yang biasa.
"Habis makan didepan?" tanya Gauri kepada Caraka.
"Iya ... penuh banget jadi kita mau makan dikantor aja," jawab Bimo memotong Caraka yang akan menjawab pertanyaan Gauri.
Setelah menunggu beberapa saat pesanan mereka siap, "Nanti pulang jam berapa?" tanya Caraka, sembari mengambil pesanannya. Caraka berniat mengajak Gauri makan malam bersama sebelum dirinya pergi ke luar kota besok. Caraka akan menjemput Gauri dirumahnya, lalu makan di tempat makan favorit Gauri yang selalu dibicarakannya.
"Nanti malem ketemu lagi ya, aku jemput." Caraka mengelus kepala Gauri lembut.
"Oke ... ditunggu, mau siapin perut ga makan dulu soalnya mau di traktir Kak Caraka ... " goda Gauri kepada Caraka yang memandangnya hangat.
Tidak lama setelah adegan romantis antara Caraka dan Gauri, datanglah Bagas dan para pelatih yang lain. Bagas seperti melihat Caraka sebelum keluar dari mobilnya. Karena masih didepan cafe, Gauri yang menyambut Bagas dan pelatih lain.
"Selamat datang, silahkan masuk," ucap Gauri dengan senyuman.
Bagas kemudian menarik tangan Gauri pelan, berniat memastikan sesuatu, "Tadi Caraka?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, kenapa?" tanya Gauri penasaran.
"Kalo kita dateng lebih cepet Caraka bisa ketemu sama kepala tim," ucap Bagas.
"Kalo ketemu emang kenapa? Ga akan ada apa-apa kan?" tanya Gauri khawatir.
"Engga sih ... udah lama aja mereka ga ketemu, dulu waktu Caraka ada masalah dia yang selalu usahain Caraka biar ga mundur."
Setelah dipikir lagi, orang-orang ini adalah orang yang pasti tahu betul kondisi Caraka saat itu bagaimana. Alangkah baiknya jika mereka bisa melihat Caraka yang kondisinya jauh lebih baik dan lebih bahagia. Memikirkan itu memunculkan senyuman di wajah Gauri.
Caraka melakukan peregangan ringan di kursi kerjanya, karena seharian ini dirinya seperti terkunci diatas kursi dan mejanya. Bimo yang sudah lebih dulu menyelesaikan pekerjaannya mampir sebentar ke ruangan Caraka. Disana mereka sempat berbicara sebentar mengenai jadwal mereka besok.
"Ga usah terlalu terbebani Ka," ucap Bimo yang melihat Caraka yang khawatir tentang besok.
"Coba deh lebih rileks ... investor bisa liat jelas kalo lawan bicaranya tegang dan banyak beban kayak lo sekarang gitu," lanjut Bimo.
"Cerewet lo, kayak nenek gue aja ... makanya malem ini gue mau ketemu Gauri biar lebih rileks," ucap Caraka menggoda Bimo yang jelas mulai lelah dengan kebucinan keduanya.
Gauri sudah menunggu Caraka didepan rumahnya. Sedari tadi Gauri sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Caraka. Kebetulan di rumah Aura ada Bagas yang setelah pertemuannya tadi menemani mereka di cafe bahkan mengantar mereka pulang.
Tidak lama terdengar suara mobil Caraka yang sangat dikenal Gauri. Dengan wajah penuh senyuman dan semangat Gauri menghampiri Caraka dan langsung memeluknya. Jika ini adalah rumah Gauri, sudah pasti Caraka akan dimarahin habis-habiskan oleh ayahnya Gauri karena memeluk anaknya di muka umum seperti ini. Sekarang hanya ada Bagas yang terus menatap keduanya.
"Eh, ada Bagas juga disini Ri?" tanya Caraka menyadari ada sebuah tatapan yang memandangnya sinis.
"Ka ... mau bawa sepupu kesayangan gue kemana malem-malem begini?" tanya Bagas menginterogasi Caraka.
"Apaan sih Kak, yuk ah kita berangkat keburu rame tempat makan nya." Gauri menarik Caraka masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Jarak tempat makannya sebenarnya tidak terlalu jauh, kurang lebih membutuhkan waktu 15 menit menggunakan mobil. Didalam mobil Caraka tidak bisa menahan tawanya melihat kelakuan sahabatnya itu yang tiba-tiba over protektif terhadap Gauri. Gauri yang membayangkan kejadian tadi juga ikut tertawa, "Padahal seneng tuh dia bisa berduaan sama Kak Aura."
Sesampainya ditempat makan ternyata benar yang dikatakan Gauri. Keadaannya sudah penuh dengan orang yang mengantri. Namun, karena Gauri sudah sering membahas tempat ini dan bagaimana senangnya jika dirinya bisa makan bersama Caraka disini membuat Caraka memutuskan untuk menunggu saja di antrian. Mereka berniat memakannya didalam mobil sembari mendengar lagu-lagu favorit mereka.