Dive Into You

Dive Into You
KEPUTUSAN BESAR GAURI


__ADS_3

Gauri semalaman terus berfikir tentang kuliahnya kedepan. Apakah akan dia relakan atau dilanjutkan. Namun, untuk melanjutkan pun bukan keputusan yang mudah. Gauri tidak mau bergantung kepada keluarganya Bagas. Karena besok tidak ada jadwal kuliah, Gauri memanfaatkannya dengan merenungi ini semalaman. Dirinya membayangkan jika ada Caraka, keputusan apa yang akan dibuatnya.


Gauri mungkin bisa saja meminta pendapat Bagas, tetapi pasti Bagas akan cenderung meminta Gauri untuk tinggal bersama keluarganya. Gauri tidak mau jika seperti itu, jika dirinya memilih untuk melanjutkan kuliahnya Gauri ingin menyelesaikannya dengan kemampuannya sendiri. Terlalu lelah berfikir, lama kelamaan Gauri pun tertidur.


Sementara di apartemennya Caraka sedang mempersiapkan berkas-berkas yang akan dia ajukan untuk melengkapi dokumen pendaftaran S2 nya di University of Sydney. Di banyaknya berkas yang saling bertumpuk tiba-tiba terselip foto polaroid antara dirinya dan Gauri. Foto itu diambil saat keduanya pergi ke taman bermain untuk pertama kalinya bersama. "Gauri apa kabar ya? foto ini diambil jauh banget sebelum kejadian itu terjadi ... seandainya kejadian itu ga pernah terjadi, sekarang kita lagi apa ya?" ucap Caraka dalam kesendiriannya.


Keesokan paginya Gauri langsung berangkat ke kampus tanpa sarapan. Dirinya masih belum siap untuk ditanya oleh ibu dan ayahnya tentang keputusan kuliahnya. Meskipun tidak ada jadwal kuliah, Gauri merasa lebih baik dirinya keluar dan mencari udara segar untuk berfikir daripada hanya dirumah. Saat itu jam menunjukan pukul delapan pagi, Gauri berencana untuk mampir ke cafe milik Aura.


Jarak antara rumahnya dan cafe milik Aura tidak begitu jauh, sehingga Gauri memutuskan untuk berjalan kaki kesana. Selain lebih praktis juga untuk mengulur waktu karena jam buka cafe Aura yaitu pukul sembilan pagi. Gauri sengaja berjalan dengan santai dan melihat sekelilingnya tentang bagaimana semua orang berjalan dengan terburu-buru seakan-akan dikejar sesuatu.


"Semua orang buru-buru banget sih keliatannya, kayaknya gue doang yang jalan santai gini," ucap Gauri seorang diri ditengah lalu lalang sibuk semua orang. Gauri sesekali mengecek ponselnya melihat jika ada yang menghubungi dirinya. Nyatanya ponselnya tampak tenang bahkan sebelum dirinya keluar dari rumah. Hari ini sepertinya Gauri akan cukup lama berada di cafe milik Aura, mungkin sampai menemukan jawaban dari keputusannya.


Gauri ternyata sampai di cafe tepat bersamaan dengan Aura. Aura kaget karena tidak biasanya Gauri datang sepagi ini ke cafe nya. Namun, melihat sekejap saja Aura sudah bisa menebak jika Gauri sedang banyak pikiran dan ingin bercerita dengannya. Setelah Aura membuka cafe nya, dia pun menyuruh Gauri masuk dan duduk ditempat duduknya yang biasa.


Beberapa karyawan Aura pun mulai berdatangan satu per satu. Aura menyiapkan minuman favorit Gauri yaitu milky chocolate dengan extra topping choco powder dan membawakannya kepada Gauri. "Jadi? apa yang mau diceritain?" tanya Aura langsung ke intinya. Terlihat jelas di wajahnya kalau saat ini Gaura sedang mendapat masalah.


"Lo lagi ga sibuk emang Kak?" tanya Gauri kepada Aura karena Gauri akan cukup menyita waktu Aura jika bercerita sekarang.


"Justru karena baru buka jadi anak-anak biar siap-siap dulu, gue bisa disini dengerin Gauri cerita," ucap Aura meyakinkan Gauri kalau dirinya bisa mulai cerita sekarang.

__ADS_1


"Oke ... jadi gini Kak ceritanya." Gauri memulai ceritanya kepada Aura.


Aura mendengar cerita Gauri dengan serius dan menyimak satu demi satu kalimat yang dikatakan Gauri. Aura mencoba mencerna seluruh cerita Gauri dan menyimpulkan dalam kepalanya. "Oke, jadi sebenernya Gauri pengen lanjutin kuliah disini ... tapi bingung sama biaya dan harus tinggal dimana kalau rumah dijual?" tanya Aura. Aura langsung mendapatkan inti dari permasalahan Gauri.


"Iya Kak, lo punya solusi engga?" tanya Gauri sangat serius.


"Gimana ya, karena baru semester awal bisa aja Gauri ajuin beasiswa ... tapi itu akan butuh waktu, jadi gimana kalo sama gue aja buat sementara?" tanya Aura kepada Gauri.


"Maksudnya sama lo Kak?" bingung Gauri dengan maksud Aura tadi.


"Jadi sambil ajuin beasiswa dikampus, Gauri bisa kerja part time disini ... trs tinggalnya sama gue deh, gimana?" tanya Aura mengajukan penawaran yang terlihat menarik dan cukup menguntungkan.


Ternyata tidak membutuhkan waktu lama, Gauri langsung mendapat solusi dari Aura. Sekarang sisanya tinggal meyakinkan kedua orang tuanya untuk tinggal sendiri di Jakarta. Karena mau bagaimana pun keadaannya mereka pasti akan khawatir jika mendengar keputusan Gauri akan melanjutkan kuliahnya di Jakarta. Meskipun masih ada Bagas dan keluarganya, tetap saja akan berbeda.


Sekarang hal pertama yang harus Gauri lakukan adalah bertanya kepada yayasan kampus mengenai beasiswa. Bagaimana cara mendaftarnya dan apa saja dokumen yang diperlukan. "Apa tanya ke Kak Satrio ya, ah ... engga deh mending gue coba cari sendiri dulu," ucap Gauri sendiri di meja nya. Gauri akhirnya mencoba mencari-cari informasi lewat website kampusnya. Nantinya jika tidak ada, Gauri akan bertanya langsung ke kantor yayasan.


Berbeda dari rencananya tadi pagi, Gauri pergi meninggalkan cafe Aura tepat setelah jam makan siang. Tujuan selanjutnya adalah kantor yayasan kampusnya. Setelah berpamitan dengan Aura, Gauri keluar dan menaiki bis menuju kampusnya. Gauri sudah bertekad untuk mengumpulkan semua informasi terkait beasiswa pada hari ini. Jadi selain ke kantor yayasan Gauri juga akan ke sekre BEM dan bertanya kepada para seniornya disana.


Sesampainya di kampus ternyata Gauri harus bertemu dengan orang yang paling dihindarinya di kantor yayasan. Satrio ada urusan dengan seseorang dari yayasan sehingga dirinya juga ada disana. Awalnya Gauri akan langsung mundur dan datang di lain waktu, tetapi Satrio terlanjur melihatnya. "Gauri, ada apa disini?" tanya Satrio kepada Gauri yang sudah berdiri didepan pintu bersiap pergi lagi.

__ADS_1


"Oh hai Kak, engga ini gue mau ada perlu tanya tentang beasiswa," ungkap Gauri yang sudah tidak bisa berbohong tentang tujuannya kesana.


"Beasiswa? kenapa ga langsung tanya gue?" tanya Caraka percaya diri.


"Emang lo tau Kak?" tanya Gauri lagi.


"Tau, berkas nya soalnya nanti di kolektifkan di BEM ... gue sendiri yang koordinir," ucap Satrio yang ternyata mengkoordinasi pengumpulan berkas beasiswa.


"Sekarang kalo ga salah kebetulan lagi dibuka lagi, tapi waktunya udah mepet sekitar dua harian lagi," lanjut Satrio.


Gauri sempat ragu apakah dirinya bisa menyiapkan semuanya dalam dua hari. Tetapi dirinya tidak punya pilihan lain lagi demi melanjutkan kuliahnya disini Gauri harus mendapatkan beasiswa itu. "Berkas yang perlu disiapinnya banyak Kak?" tanya Gauri kepada Satrio.


"Lumayan sih, tapi kalo lo bener mau nanti gue bantu ... sebagai ketua yang mengayomi anggotanya gue punya tanggung jawab bantu kalian tentang urusan kampus," ucap Satrio.


"Oke deh, nanti gue bisa minta detail berkas yang diperluinnya apa aja kan?" tanya Gauri.


"Boleh, nanti gue kirim ke lo ... udah ya gue duluan ada kuliah lagi." Satrio berlalu pergi meninggalkan Gauri.


Gauri cukup lega jalannya untuk mendapatkan beasiswa bisa dipermudah berkat Satrio yang akan membantunya. Gauri tidak menduga orang yang ingin dihindarinya adalah orang yang sekarang membantunya mendapatkan beasiswa.

__ADS_1


__ADS_2