
Air mata Gauri masih membasahi kedua pipinya dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Tangannya kini menggenggam erat tangan lelaki yang tidak berdaya didepannya. Tangannya begitu dingin, meskipun keduanya sama-sama basah kuyup karena masuk kedalam kolam tetapi tangan lelaki ini masih lebih dingin darinya.
Bagas juga terlihat khawatir melihat keadaan Caraka. Dirinya juga merasa bersalah karena ini semua adalah rencananya. Bagas sebelumnya sudah tahu bagaimana kondisi Caraka, tetapi ini adalah pertama kalinya ia melihatnya secara langsung.
Tidak lama datang Bimo dan Aura, ia sengaja tidak memberitahukan ini kepada neneknya Caraka. Kalau sampai tahu, Fely akan sangat khawatir. Kebetulan saat di telepon tadi Bimo sedang menunggu pesanan kopinya di cafe milik Aura. Mengetahui ada Gauri juga disana, Aura memutuskan untuk ikut Bimo ke rumah sakit.
Meskipun kondisinya sudah stabil, Caraka masih belum juga sadarkan diri. Bimo yang sebelumnya sudah pernah melihat keadaan Caraka seperti ini mencoba menenangkan Gauri, "Begitu sadar, Caraka akan baik-baik aja kok ga perlu khawatir," ucapnya.
Aura juga disana untuk menenangkan Gauri. Sepanjang perjalanan tadi Bimo sudah menceritakan kondisi Caraka kepada Aura, dan memintanya untuk menenangkan Gauri karena pasti ini sangat mengejutkan baginya. Jika penderitanya sudah benar-benar bisa memaafkan dirinya dan menerima apa yang terjadi, maka dengan sendirinya gejala itu akan hilang sendiri. Itulah yang selalu dikatakan dokternya Caraka di Sydney.
Rupanya dari hati Caraka yang paling dalam masih ada rasa bersalah atas semua yang terjadi di masa lalu. Apalagi permasalahannya dengan Gauri juga ikut menambah rasa bersalahnya. Itu yang menyebabkan gejala itu masih ada pada diri Caraka.
Sedikit demi sedikit tangan Caraka yang terus digenggam oleh Gauri mulai menghangat. Mata Caraka juga mulai terbuka dan yang dilihatnya pertama kali adalah Gauri yang tertidur disampingnya. Sejak tadi Gauri tidak mau pergi kemana pun sampai Caraka sadar. Sehingga yang lain memilih untuk membelikan Gauri makan dan membawanya ke ruangan Caraka.
Ketika semua orang turun ke bawah untuk mencari makan malam, Gauri tidak sengaja tertidur. Saat itulah Caraka bangun dan melihat ada Gauri disampingnya. Caraka terus memperhatikan wajah Gauri. Wajah yang sudah sangat lama tidak dilihatnya sedekat ini. Wajah yang tenang, karena selama ini setiap bertemu dengan Caraka, Gauri selalu memperlihatkan raut wajah yang dingin.
Tidak lama Gauri pun terbangun karena merasa ada yang menatapnya. Mata mereka sekarang saling bertatapan. Untuk beberapa saat keduanya masih pada posisi seperti itu, hingga Gauri menjauhkan tubuhnya dan terlihat canggung. Meski begitu tangannya masih menggenggam tangan Caraka.
"Lo udah mendingan Kak?" tanya Gauri pelan.
"Lebih baik ... sorry ya, lo pasti kaget banget tadi," ucap Caraka dengan nada suara yang hangat.
__ADS_1
"Lo sebenernya kenapa sih?" tanya Gauri kembali.
Aura belum memberitahu Gauri, sengaja karena ingin Caraka sendiri yang menceritakan kondisinya kepada Gauri. Caraka pun akhirnya jujur kepada Gauri mengenai kondisinya juga penyebabnya. Gauri mendengarkan penjelasan Caraka dengan raut wajah yang sulit dijelaskan. Raut wajah khawatir, sedih, dan kecewa bercampur menjadi satu.
Gauri kecewa karena kenapa Caraka tidak jujur kepadanya sejak dulu. Kenapa harus merahasiakan ini dari dirinya. Disaat yang sama Gauri juga sedih karena membayangkan seberapa takutnya Caraka harus mengalami ini sendirian. Gauri ingin ada disana, ingin memeluk dan menenangkan Caraka.
"Sekarang udah ada gue, kalo lo ngerasa perasaan ga enak lo bisa dateng ke gue," ucap Gauri tersenyum menenangkan.
"Jadi lo udah maafin gue?" tanya Caraka, menatap Gauri.
"Udah gue maafin dari lama, gue ga bener benci sama lo kok ... gue cuma nunggu lo untuk buka hati lo dan ceritain semuanya ke gue."
"Gue nunggu lo bisa jujur sama perasaan lo sendiri," lanjut Gauri.
Beberapa tahun yang mereka lewatkan berjauhan pasti akan menimbulkan rasa canggung. Namun, mereka akan memulainya dengan perlahan. Caraka juga meminta maaf kepada Gauri tidak ada disaat dirinya berada dalam masalah tentang keluarganya.
Dengan dewasa Gauri juga sudah memaafkan Caraka tentang hal itu. Gauri mengerti dengan keadaannya, dan merasa beruntung meskipun tidak ada Caraka masih ada orang-orang baik yang membantunya. Gauri juga bercerita kalau dirinya selalu mengingat Caraka di saat apapun.
Bagas yang melihat mereka berdua dari balik pintu ikut merasa senang. Selama ini Bagas selalu berharap mereka berdua bisa berbaikan dan kembali seperti dulu. Sulit rasanya berada diantara permasalahan adik sepupu kesayangannya dan sahabatnya.
Bimo pun pamit pulang dan akan kembali besok karena ada beberapa berkas yang perlu ditanda tangani oleh Caraka. Aura juga ikut pulang dan diantar oleh Bagas yang harus melatih besok pagi. Bagas juga berjanji akan datang lagi besok. Sekarang hanya meninggalkan Gauri yang menginap untuk menemani Caraka.
__ADS_1
Gauri sudah bersiap akan tidur, tetapi dihentikan oleh Caraka. Masih ada pertanyaan yang perlu dijawab oleh Gauri, "Terus laki-laki yang selalu bareng sama lo itu siapa?" tanya Caraka penasaran. Pertanyaan ini selalu membayanginya semenjak pertama kali melihat Satrio dan Gauri bersama.
"Satrio ... senior gue di kampus," jawab Gauri.
"Iya terus dia siapa?" tanya Caraka masih penasaran karena pertanyaannya belum dijawab Gauri dengan benar.
"Siapa gimana sih, kan udah dibilang senior gue di kampus," jawab Gauri kebingungan.
"Iya hubungan sama lo apa? temen aja atau .... "
"Temen yang udah gue anggep kakak, dia yang bantu gue urus beasiswa kuliah," jelas Gauri.
Raut wajah Caraka kini terlihat sekilas kekecewaan. Jika saja dirinya ada disana untuk membantu Gauri, maka Gauri tidak akan membutuhkan Satrio. Gauri yang melihat ekspresi wajah Caraka berubah kemudian menjelaskan lagi, "Dia emang bantu gue, tapi Kak Satrio sendiri tahu batasannya kok ... gue juga udah jelasin ada ruang di hati gue yang masih menunggu pemilik aslinya untuk kembali, bukan digantikan."
Caraka jadi salah tingkah mendengar perkataan Gauri. Dirinya kini hanya senyum-senyum sambil memainkan remote tv yang dari tadi hanya dia pegang tapi tidak digunakan. Gauri melihat tingkah Caraka yang seperti itu mengingatkannya dulu ketika salah tingkah Caraka akan melakukan hal yang tidak jelas seperti itu.
Kini mereka menghabiskan malam bersama. Caraka tidak bisa tidur dan malah terus memperhatikan Gauri yang sudah tertidur lebih dulu. Caraka merasa hari ini adalah harinya yang paling bahagia, meskipun hampir kehilangan nyawanya. Untuk pertama kali kondisinya yang tiba-tiba muncul hari ini berakhir membawa kebahagiaan untuknya.
Dirinya merasa tenang karena tidak ada lagi yang perlu ditutupinya dari Gauri. Mereka juga sudah saling jujur dengan perasaan masing-masing dan Gauri sudah memaafkannya. Sekarang yang tersisa adalah perlahan mengembalikan lagi hubungan diantara keduanya.
Caraka juga sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau sekarang ia akan melakukan inisiatif duluan. Biasanya Gauri yang lebih aktif dan berinisiatif duluan terhadap hubungan keduanya. Namun, kali ini Caraka akan lebih berani. Caraka tidak mau dikata pengecut oleh Bimo.
__ADS_1
"Gue akan ganti waktu itu dengan hari-hari bahagia kedepannya."