
Sepanjang jalan Bagas terus mencoba menelepon Aura, tetapi tidak kunjung diangkat. Sampai akhirnya Bagas berhasil menghubungi karyawan Aura yang ada disana. Sembari bersembunyi karyawan itu mengatakan bahwa keadaan menjadi lebih kacau karena sudah ada orang sekitar yang ikut campur. Karyawan itu meminta Bagas segera datang untuk membantu Aura dan Gauri.
Bagas semakin khawatir setelah mendengar itu. Saat ini Bagas mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang belum pernah dilakukannya. Akhirnya Bagas tiba di cafe yang sudah banyak orang disana. Untungnya orang-orang itu tidak ada yang berani masuk, melainkan hanya melihat dari luar.
Bagas kemudian segera masuk lalu berjalan ke arah Aura dan Gauri berada. Aura kaget karena Bagas tiba-tiba ada disana. Bagas lalu menggenggam tangan Aura dan Gauri kemudian mengarahkan mereka untuk berada dibelakangnya.
Sayangnya para pelanggan itu justru semakin emosi melihat kehadiran Bagas yang mencoba melindungi Aura dan Gauri. Tuduhan mereka semakin menjadi dan bersikeras akan melaporkan ini ke polisi dan memviralkannya. Bagas mencoba berbicara secara baik-baik dengan mereka, tetapi langsung ditolak.
Hingga akhirnya tiba lah polisi yang datang atas laporan salah satu pelanggan dalam kelompok itu. Melihat keadaan semakin kurang baik, akhirnya polisi itu membawa Gauri dan Aura beserta pelanggan-pelanggan itu ke kantor polisi terdekat.
Bagas terus mendampingi mereka dan tidak melepaskan genggaman tangannya. Aura dan Gauri hanya diam saja sepanjang perjalanan. Mereka pasti sangat kaget dengan kejadian ini. Terlebih lagi kini sudah melibatkan pihak kepolisian.
Terasa oleh Bagas tangan Aura yang terus bergetar ketakutan. Bagas mencoba menenangkan Aura dengan mengerahkan genggamannya. Disaat yang sama Gauri mencoba memberitahu Caraka dengan mengirimkan pesan padanya. Gauri tidakĀ bermaksud menambah pikiran Caraka, hanya saja saat ini menghubungi Caraka adalah caranya menenangkan diri.
Kebetulan Caraka sedang melakukan makan malam dengan beberapa investornya. Sehingga dirinya tidak sempat membaca pesan dari Gauri. Namun sebenarnya saat ini perasaan Caraka juga mengisyaratkan ada sesuatu yang terjadi.
Meskipun begitu Caraka tidak boleh terganggu dulu oleh hal lain. Makan malam ini sangat penting untuk kelanjutan proyek besar yang sedang dipegangnya. Dirinya harus berhasil meyakinkan investor itu untuk menaruh uang mereka pada proyeknya.
Bersamaan dengan nyaringnya suara sirine, mobil polisi itu masuk kedalam wilayah kantor polisi dan berhenti tepat didepan pintu masuk. Semua orang mau kedalam kantor polisi seraya didampingi oleh petugas yang datang bersama mereka.
"Kak gue takut," ucap Gauri, terlihat jelas raut wajahnya yang ketakutan.
"Tenang ada gue disini." Bagas terus mendampingi Gauri dan Aura.
__ADS_1
Proses investasi pun dimulai. Semua orang yang ada di tempat kejadian saat ini posisinya adalah sebagai saksi. Sehingga semuanya dimintai keterangan terkait kronologis kejadian tadi. Mereka ditanya di beberapa tempat dengan petugas yang berbeda agar mendapat jawaban yang jujur.
Bagas saat ini hanya menunggu di ruang tunggu. Ia tidak ikut ditanyai karena tidak ada ditempat saat kejadian itu terjadi. Bagas mencoba menghubungi Caraka ataupun Bimo tetapi ponsel keduanya tidak aktif. "Mereka lagi pada ngapain sih kok ga ada yang aktif nomernya," kesal Bagas.
Waktu yang dibutuhkan untuk sesi interogasi ini ternyata membutuhkan waktu lebih lama dari dugaan Bagas. Selama menunggu Bagas tidak bisa tenang karena khawatir dengan keduanya. Karena jumlah para pelanggan itu lebih banyak, sudah pasti saat kejadian terjadi Gauri dan Aura ditekan oleh mereka.
Bagas percaya kalau Aura tidak akan teledor dengan cake nya. Gauri juga pasti akan mengecek ulang semuanya sebelum diantarkan ke pelanggan. Apalagi ini bukanlah pelanggan biasa, mereka adalah pelanggan yang sengaja memesan tempat disana untuk acara spesial.
"Tapi dipikir lagi ada yang aneh sebenernya dari ini," gumam Bagas mencoba merunutkan kronologis kejadian yang sempat diceritakan karyawan Aura.
"Gauri terus menawarkan diri untuk menelepon ambulans kepada pelanggan yang sempat muntah darah, tetapi terus saja ditolak oleh mereka." Bagas merasa ada kejanggalan disini.
Tidak lama Bagas mendapat telepon dari Bimo. Ternyata Bimo duluan yang membaca pesan yang dikirimkan Bagas untuknya. Bimo menjelaskan jika Caraka sekarang masih berdiskusi dengan pihak investor, sehingga dirinya tidak bisa memberitahukan tentang ini kepadanya.
"Dia pasti udah ngerti harus ngapain kalo lo hubungi ... ga akan lama kok, kalo udah beres semua gue sama Caraka langsung balik Jakarta."
Caraka memang tidak salah menunjuk Bimo sebagai orang kepercayaannya. Karena dibalik ketidak seriusannya, Bimo adalah orang yang cekatan dan tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi sebuah masalah.
Bagas akhirnya bisa merasa lega setelah mendapat telepon dan arahan dari Bimo. Proses investasi akhirnya selesai juga. Para pelanggan itu tampak berjalan keluar dengan percaya diri. Melihat itu Bagas merasa pasti ada sesuatu yang terjadi.
Ternyata benar saja, saat ini pihak polisi masih mencoba mengumpulkan bukti yang menunjukan keteledoran Aura. Namun, melihat korban berada di pihak pelanggan hal ini bisa lebih memberatkan Aura. Selama proses pengumpulan bukti jika memungkinkan mereka akan banyak datang ke cafe.
Sehingga akan sulit bagi Aura untuk membuka cafe nya jika hal itu benar perlu dilakukan. Bagas berjalan kedalam dan melihat keduanya terduduk lemas tidak melakukan apa-apa. Terlihat jelas dari tatapan Aura yang masih menahan tangisannya.
__ADS_1
Bagas lalu mengajak keduanya untuk pulang dan menenangkan diri dirumah. Gauri merasa kasihan kepada Aura yang saat ini sangat tertekan. Sepanjang jalan Aura tidak mengatakan apapun. Gauri masih melihat ponselnya dan menunggu balasan dari Caraka.
Sesampainya dirumah, Aura berjalan menuju dapur untuk mengambil minum tetapi berhenti lalu terduduk di lantai. Tidak bisa menahan lagi tangisannya Aura pun menangis dengan sejadinya. Bagas yang kaget kemudian bergegas memeluk Aura mencoba menenangkan.
"Saya harus gimana sekarang ... saya selalu memastikan semuanya aman, jadi ga mungkin ada benda tajam didalam kuenya." kata-kata Aura banyak terpotong sembari menangis.
Beberapa saat puas menangis, Aura pun tertidur di kamarnya. Di ruang tamu Gauri masih melihat ponselnya yang sunyi tidak kunjung ada balasan dari Caraka. Bagas keluar dari kamar Aura kemudian mengatakan apa yang dikatakan Bimo padanya.
"Kalo udah beres, mereka secepat mungkin pulang kok ... jadi lo tenang aja ya," ucap Bagas memperlihatkan senyuman hangatnya kepada adik sepupunya itu.
"Iya ... makasih ya Kak, lo dampingin kita terus tadi selama disana ... jujur gue takut banget sebenernya," ungkap Gauri.
"Kejadian tadi kayak ngingetin gue waktu banyak orang yang menekan gue karena lindungin Kak Caraka," lanjutnya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Nama yang muncul di layar adalah Caraka, ternyata Caraka yang menelepon Gauri. Suara Caraka yang terdengar di telinga Gauri seketika membuatnya merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Halo ... ini gue sama Bimo udah di airport buat langsung terbang ke Jakarta, tungguin ya," ucap Caraka dengan suara tergesa-gesa.
"Loh, udah beres emang urusannya?" tanya Gauri khawatir jika karena dirinya Caraka meninggalkan urusannya.
"Udah ... mereka mau invest di proyek kita," jawab Caraka.
"Jadi tenang aja ya, kita hadapi masalah ini sama-sama ... ga usah khawatir." Suara itu, suara hangat yang langsung menenangkan perasaan kacau dan ketakutan Gauri.
__ADS_1