
Caraka dan Bimo sudah duduk di tempat yang cukup strategis dan bisa terlihat jelas langsung ke arena kolam. Setelah berbicara sebentar dengan pelatihnya Caraka kembali ke tempat duduknya. Hari ini dirinya sengaja menggunakan topi dan hoodie agar tidak terlalu menarik perhatian orang lain. Tidak lama ada seseorang yang terlihat familiar oleh Caraka, ternyata itu adalah Gauri.
Caraka yang melihat Gauri dari belakang sempat sedikit menurunkan topinya agar tidak terlihat oleh Gauri, tetapi ada hal yang mengganggu Caraka. Orang itu adalah Satrio yang terlihat sangat akrab dengan Gauri. Setelah pertandingan dimulai Caraka bahkan tidak fokus dengan para atlit yang bertanding, melainkan kepada Gauri dan Satrio. Tidak sekalipun pandangannya teralihkan dari mereka berdua.
"Itu teman kampusnya Gauri kah?" tanya Caraka dalam hati.
"Tapi kok akrab banget sih, siapa ya dia? kayak ga pernah ada di postingan Gauri." kepala Caraka kini penuh dengan pertanyaan tentang siapa seseorang disamping Gauri itu. Puncaknya adalah ketika Satrio berniat memindahkan kamera yang dibawanya kepada Gauri. Mata Caraka melotot melihat keduanya seperti itu. Rasanya Caraka ingin berlari kesana dan menarik Gauri untuk pergi bersamanya.
Bimo yang berada di samping Caraka saja bisa merasakan aura kecemburuan yang keluar dari Caraka. "Kenapa sih lo Ka? Kayak gelisah gitu," tanya Bimo sambil menggerakkan matanya kearah pandangan Caraka. Bimo akhirnya menemukan sumber dari kegelisahan Caraka ini. Bimo hanya menghembuskan nafasnya dalam dan berkata dalam hatinya, "Lo sendiri yang ninggalin sekarang Gauri nya sama cowo lain repot kan lo."
Sekarang adalah giliran Bagas yang bertanding, sebelumnya raihan waktunya sudah cukup baik dari performa sebelumnya. Para pelatih berharap hari ini Bagas bisa lebih baik lagi. Caraka berdoa dalam hati semoga sahabatnya itu bisa memenangkan medali emas menggantikan dirinya dan Mike. Gauri juga memfokuskan kameranya kepada Bagas.
__ADS_1
Prittttt
Suara peluit mengiringi dimulainya pertandingan yang sudah dimulai dengan baik oleh Bagas. Saat ini posisinya masih menjadi yang pertama, tetapi salah satu saingannya berada tepat di sampingnya yang berarti perbedaan waktu mereka saat ini tidak begitu jauh. Bagas terus berusaha untuk mengungguli peserta yang lain. Keadaan di dalam stadion utama benar-benar hening, mereka sangat serius seperti mereka yang sedang mengikuti pertandingan.
Prittttt
Peluit tanda berakhirnya pertandingan ini. Raihan waktu akan diperlihatkan sebentar lagi melalui layar besar yang bisa dilihat oleh seluruh penonton yang hadir disana. Ternyata Bagas berhasil mendapatkan raihan waktu paling cepat yang berarti dirinya otomatis mendapatkan medali emas dari cabang ini. Teriakan penonton dan suporter juga sesama anggota tim mengiringi kemenangan Bagas hari ini. Seluruh pelatih juga turut senang dan saling bersalaman satu sama lain.
Sebelum raihan waktu keluar di layar Gauri terus berdoa sambil menutup matanya. Satrio hanya tertawa melihat perilaku junior nya itu. "Tuh udah keluar tuh," seru Satrio pada Gauri yang masih menutup matanya. Gauri sedikit demi sedikit membuka matanya dan langsung berteriak kegirangan melihat hasilnya. Tanpa disadari memeluk Satrio yang berada disampingnya. Satrio terlalu kaget untuk melepaskan pelukan Gauri yang tiba-tiba itu. Sayangnya Caraka melihat keduanya yang sedang berpelukan itu.
Tanpa langsung dilepas, Satrio membalas dengan menepuk-nepuk punggung Gauri. Namun tidak lama setelah sadar dengan apa yang dirinya lakukan, Gauri langsung melepaskan pelukannya. Kini keduanya hanya saling diam dan memalingkan tatapan masing-masing. "Duh tadi gue ngapain sih ... malu-maluin banget, kalo ada yang liat gimana nih," ucap Gauri dalam hati bersamaan dengan pipinya yang memerah. Hal yang sama juga ada didalam benak Satrio, dirinya merasa bodoh dengan tidak langsung melepaskan pelukan Gauri.
__ADS_1
Bagas bersama dengan anggota tim yang lain dan para pelatih merayakan kemenangannya di ruang tunggu. Perwakilan tim nasional Indonesia kali ini berhasil mendapatkan dua medali emas, sisanya mendapat perak dan perunggu. Bagas sangat senang dan bangga karena salah satu medali emas berhasil didapatkan olehnya. Ini kal pertamanya mendapat medali emas di kejuaraan besar seperti ini.
Disaat yang sama ibunya menelepon Bagas untuk mengucapkan selamat. Karena keadaan cukup ramai ibunya dan Citra tidak bisa langsung menemuinya. Ibunya berpesan kepada Bagas untuk segera pulang dan jangan mampir kemana-mana dahulu. Pesan Gauri juga muncul bersama dengan video rekaman detik-detik kemenangannya. "Gue bangga banget sama lo, karena menang gue izinin lo sarapan dirumah selama seminggu ... deal?" isi pesan Gauri yang terkesan bercanda ini sebenarnya tersirat rasa bangganya kepada Bagas.
Setelah acara kejuaraan ini hampir selesai beberapa anggota BEM yang lain sudah ada yang pamit pulang duluan karena semua laporan yang dibutuhkan sudah didapatkan. Gauri juga mau tidak mau harus kembali ke kampus karena ada sesuatu yang harus dikerjakannya. Dirinya cukup canggung sekarang kepada Satrio setelah apa yang terjadi tadi. Untung saja Satrio tidak ikut kembali ke kampus bersama mereka. Dirinya harus melaporkan sesuatu kepada perwakilan jurusan media broadcasting.
Mendengar Satrio tidak ikut kembali dengan mereka membuat hati Gauri lega. Dirinya pun cepat-cepat naik ke van kampus karena tidak mau sampai Satrio berubah pikiran. Sebelum naik, ada seseorang yang menarik perhatian Gauri. Gauri mencoba memperhatikan sekumpulan orang diserang van nya. Dirinya merasa melihat Caraka disana. Tetapi dirinya menolak itu meskipun hatinya masih ingin memastikan apa benar itu Caraka. "Bukan, ga mungkin Kak Caraka ada disini," ucapnya dalam hati.
Memang benar yang tidak sengaja dilihat oleh Gauri adalah Caraka. Caraka dan Bimo buru-buru keluar sebelum ada yang mengenalinya. Terutama jika media mengetahui kehadirannya di kejuaraan hari ini. Bisa-bisa ada pemberitaan aneh lagi tentang dirinya. Caraka yang sedikit panik karena banyaknya orang yang bergerak bersamaan ditambah jepretan kamera disana sini. Bimo merangkul Caraka untuk melindunginya agar bisa keluar dengan aman.
Setelah semuanya masuk kedalam van, pak supir pun menjalankan van nya. Tidak lama ada suara ketukan dijendela belakang, dan itu adalah Satrio. "Ri, turun dulu bentar ... memori card rekaman yang pertama kebawa sama gue," ucap Satrio dibalik jendela. Gauri pun akhirnya turun dan mengambil memori card yang ada di Satrio. Dengan memori itu Satrio meminta Gauri untuk mengkopinya kedalam komputer BEM.
__ADS_1
Saat Gauri dan Satrio sedang mengobrol diluar van, mobil Caraka dengan tepat melewati mereka. Caraka pun bisa melihat jelas wajah Gauri dari dalam mobil. Wajah Gauri yang sudah lama tidak dia lihat, tetapi kini senyuman Gauri ditunjukkan kepada orang lain, bukan untuknya. Caraka kini berpikir bahwa Gauri sudah benar-benar melupakannya dan berpaling kepada orang lain. "Udah ga ada gunanya lagi deh gue balik ke Jakarta." Caraka jatuh terlalu dalam pada kesalahpahaman.