
Pagi-pagi Bagas sudah sibuk dan membuat ribut dirumah Gauri. Kejuaraannya akan dilaksanakan hari ini, dan Bagas yang kelaparan mencari sarapan ke rumah Gauri. Ibunya yang juga tidak sempat membuat sarapan ikut Bagas ke rumah Gauri. Gauri yang baru bangun kaget dengan keributan dirumahnya. Alan yang melihat Bagas malah menertawakannya.
"Duh Lan, maafin ya gue pagi-pagi bikin ribut dirumah orang," malu Bagas.
"Gapapa Kak lanjutin aja," senyum Alan.
"Sana ihh napa bikin ribut aja sih, kalo berangkat dari rumah gue kan lebih jauh nanti ke stadion utama nya gimana sih," marah Gauri yang kesal ketenangan paginya diganggu Bagas.
"Gue cuma kepikiran kesini kalo nyari sarapan ... udah deh, ibu gue juga malah ikut juga kesini kan," goda Bagas.
Keributan belum berakhir karena Gauri dan Bagas sama-sama harus berangkat lebih pagi. Mobil Bagas dan mobil Faisal saling menghalangi satu sama lain. "Ga ada abisnya banget sih ini, sana lo kelar duluan ... " kesal Gauri meneriaki Bagas. Untuk kali ini Bagas mengakui kesalahannya karena tidak memarkirkan mobilnya dengan benar. Kini Bagas yang harus keluar dan pergi duluan meskipun belum selesai sarapan. Citra yang kasihan dengan Bagas akhirnya membuatkannya bekal untuk dimakan di tempat kejuaraan.
Bagas pergi sendiri karena ibunya masih ada perlu mengobrol dengan ibunya Gauri. Rencananya mereka akan menyusul ketika jam kejuaraan akan dimulai. Gauri juga harus lebih awal ke kampus untuk melakukan briefing dengan tim nya dan Satrio. Gauri diantar oleh Faisal yang juga akan berangkat ke kantor sekalian mengantar Alan ke sekolahnya.
Sedangkan keadaan pagi dirumah Caraka tampak lebih tenang dari biasanya. Beberapa pekerja yang biasa bekerja disana sedang pulang kampung. Lagi pula setelah Caraka pindah ke Sydney dan Fely juga sering pergi kesana, tidak banyak yang bisa dikerjakan oleh mereka. Setelah kemarin dirinya berhasil menyelesaikan sidang dengan lancar dan berhasil lulus dengan nilai yang sangat baik yaitu A, kini dirinya bisa sedikit bernafas lega. Salah satu bebannya berhasil diselesaikan dengan baik.
"Pergi jam berapa Ka?" tanya Fely sambil menyiapkan sarapan untuk Caraka.
__ADS_1
"Tunggu Bimo dateng kesini Nek, kita berangkat bareng kesana," jawab Caraka.
Caraka masih belum yakin untuk pergi ke lingkungan kolam renang seorang diri. Jadi dia meminta Bimo untuk menemaninya. Bimo kini bekerja magang di perusahaan kakeknya Caraka karena berhasil lulus lebih cepat dari mahasiswa seangkatannya.
Gauri kini sudah sampai di sekre BEM dan langsung melakukan briefing singkat dengan beberapa teman anggota BEM yang lain. Satrio masih belum datang tetapi sudah menitipkan tugas briefing kepada wakilnya. Diputuskan bahwa yang pergi ke tempat dan melakukan pelaporan langsung ada delapan orang termasuk Gauri dan Satrio. Dari empat orang itu nanti akan dibagi lagi menjadi empat tim dengan masing-masing dua orang didalamnya. Gauri dan Satrio berada di tim yang sama.
Gauri terus mengirim pesan kepada Satrio namun belum juga dijawab. "Kak Satrio kemana sih kok gabisa dihubungi ya?" tanya Gauri ke salah satu anggota BEM disana. "Biasanya kalo lagi gitu dia lagi dijalan, Satrio kan pake motor," jawab wakil ketua BEM yang tidak sengaja mendengar pertanyaan Gauri. Satrio pasti datang tetapi hari ini agak sedikit terlambat. Nantinya mereka akan berangkat dengan van kampus dan didampingi pembina mereka.
Satrio datang diwaktu yang tepat sebelum mereka berangkat menaiki van di tempat parkiran. Satrio langsung buru-buru meminta tukang parkir untuk memarkirkan motornya lalu berlari kearah van agar tidak tertinggal. "Sorry ... sorry gue telat, tadi briefingnya aman kan ya?" tanya Satrio kepada Gauri yang duduk disampingnya. Sambil mengembuskan nafasnya dalam Gauri hanya berkata, "Briefingnya aman," hampir saja dirinya bekerja sendiri didalam tim kalau sampai Satrio tadi tertinggal.
Keadaan stadion utama kini sudah sangat ramai dengan banyaknya suporter dan media yang meliput kejuaraan hari itu. Ditambah lagi diadakan mini bazar disekitar sana sebagai hiburan bagi penonton yang datang kesana. Perwakilan dari negara-negara yang mengikuti kejuaraan ini juga sudah hadir dan berada di ruang tunggu masing-masing. Staff mereka juga sudah sibuk berkoordinasi kesana dan kesini.
Sementara Bagas terlihat sedikit tegang. Dirinya tidak punya banyak pengalaman mengikuti kejuaraan besar seperti ini, ditambah karena diadakan di Jakarta itu menjadi bebannya juga. Ibunya juga sudah memberi kabar kalau dirinya dan Citra juga Alan sudah datang kesana dan duduk dikursi penonton. "Caraka sama Mike dulu tegang gini juga gas sih kalau ada kejuaraan kayak gini?" Bagas kini mengerti yang dirasakan sahabatnya itu.
Caraka juga sudah hadir bersama Bimo dan duduk di kursi penonton. Caraka memakai topi dan hoodie sehingga tidak begitu dikenali oleh orang-orang. Dari kejauhan ada seseorang yang melambaikan tangan padanya mengisyaratkan untuk menghampiri dirinya. Ternyata itu adalah pelatihnya yang selama ini masih komunikasi dengan Caraka.
"Gimana kondisi kamu Ka?" tanya pelatihnya khawatir karena terakhir kali Caraka ada di sebuah keadaan seperti ini dirinya ambruk dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Aman Pak sampai saat ini, saya ditemani Bimo jadi seharusnya tidak ada masalah," ucap Caraka.
"Tau kan Bagas sekarang yang gantiin posisi kamu?" tanya pelatihnya lagi.
"Tau Pak, dia pasti bisa bahkan lebih baik dari saya ... " senyum Caraka yakin kalau Bagas pasti bisa memenangkan medali emas hari ini.
Acara akan dimulai sebentar lagi. Gauri dan teman-temannya yang lain sudah berada di posisi masing-masing. Satrio yang bertugas memegang kamera sedangkan Gauri menulis beberapa momen baik yang perlu diabadikan. Satu demi satu perwakilan maju dan kejuaraan renang Asia pun dimulai. Suporter tim Indonesia tidak berhenti memberi semangat sama halnya dengan suporter dari tim negara yang lain.
Gauri mencoba memberi arahan kepada Satrio dimana posisi yang harus di rekam oleh kamera. Mereka cukup beruntung karena mendapat posisi duduk yang cukup baik dan memiliki akses yang cukup jelas ke arena kolam renang. Ketenangan dan kekompakan itu sayangnya tidak bertahan lama. Lagi-lagi mereka berada argumen tentang sisi mana yang baik untuk direkam dan yang tidak.
"Bukan kesana Kak, agak bawah dikit jadi para atlit nya keliatan waktu masuk kolamnya," kesal Gauri mengarahkan kamera Satrio sedikit kebawah.
"Bentar ga gitu dong, ini harus disini biar bagus Ri," ucao Satrio tidak mau kalah.
"Nih yang paling bener coba pegang kameranya sendiri nih .... " Satrio memindahkan kameranya ke arah Gauri. Gauri yang bingung sambil sedikit tertawa berkata, "Ih apaan sih kan tugasnya Kak Satrio."
Tanpa Gauri sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sejak tadi. Ternyata itu adalah Caraka yang posisi duduknya tidak jauh dari Gauri dan Satrio. Terlihat wajah cemburu Caraka saat melihat Gauri yang dekat dengan Satrio. Bahkan dimata Caraka perdebatan Gauri dan Satrio itu memperlihatkan hubungan mereka bukan sekedar teman. "Itu siapanya Gauri ya?" tanya Caraka dalam hatinya.
__ADS_1