
Dua hari setelah kejuaraan renang yang diadakan di stadion utama Jakarta, Caraka memutuskan untuk kembali ke Sydney. Dirinya hanya perlu menyelesaikan berkas-berkas terkait ijazahnya kemudian berangkat secepatnya. Caraka sudah menyelesaikan revisi tugas akhirnya dan mendapatkan tanda tangan dari dosen pembimbingnya. Selanjutnya hanya menunggu ijazahnya dirilis oleh pihak kampus. Pihak kampus berkata jika ijazah Caraka bisa dikirim soft file dan untuk cetakannya bisa dikirim melalui kurir.
Caraka membereskan beberapa bajunya dikamar untuk dibawa kembali ke Sydney. Bimo kemudian masuk untuk mengobrol dengan Caraka.
"Buru-buru amat sih baliknya, Ka?" tanya Bimo bingung melihat Caraka yang terkesan terburu-buru mengurus kembalinya dia ke Sydney.
"Gue harus cepet balik, ga ada yang bisa gue kerjain juga disini," jawab Caraka singkat.
"Lo kan bisa bantu kakek di perusahaan?" tanya Bimo.
"Gue masih ada sesi konsul disana ... terus rencananya gue malu lanjut S2 disana," ucap Caraka.
"Oke kalo itu keputusan lo, kalo ada perlu apa-apa lo bisa telepon gue." Bimo berlalu keluar dari kamar Caraka.
Ternyata Bimo diminta oleh Fely menanyakan hal itu kepada Caraka. Fely juga cukup kaget karena awalnya Caraka yang sangat ingin pulang ke Indonesia. Tetapi sekarang malah bersikeras untuk segera kembali ke Sydney. Fely tidak bermaksud melarang Caraka untuk kembali kesana, dirinya pun tahu kalau sesi konsultasi Caraka disana belum benar-benar selesai. Tetapi ini terkesan terlalu terburu-buru.
Di ruang sekre BEM Gauri sedang fokus dari pagi menyelesaikan tugasnya untuk melakukan editing video rekaman kejuaraan yang direkamnya bersama Satrio. Hari ini kebetulan Gauri tidak ada kelas jadi bisa fokus mengerjakannya dari pagi. Keadaan di sekre juga cukup sepi karena beberapa seniornya sedang sibuk dengan kuliahnya masing-masing, termasuk Satrio.
__ADS_1
Memang sudah beberapa hari Satrio tidak ke sekre BEM. Menurut anggota yang lain Satrio sedang dimintai tolong oleh dosennya melakukan beberapa projek. Satrio tidak benar-benar bisa menolaknya karena projek ini juga berkaitan dengan nilai mata kuliahnya. Karena itu Satrio minta tolong kepada Gauri untuk melakukan editing tanpa dirinya. Dia juga meminta kepada wakilnya untuk mengontrol anggota yang lain jika ada kesulitan mengerjakan tugas perihal kejuaraan kemarin.
Meskipun Gauri sudah menyanggupi tetapi tetap saja pekerjaannya menumpuk karena harus dikerjakan satu orang. "Aman, Ri?" tanya wakil ketua kepada Gauri yang tidak terlihat baik-baik saja. "Banyak banget yang harus di edit Kak, bingung harus beresin yang mana," lesu Gauri yang meskipun sudah mengerjakannya dari pagi tetap saja masih menumpuk. Kakak seniornya itu kemudian mencoba mencari bantuan untuk Gauri, siapa tau ada salah satu anggotanya yang bisa dimintai tolong.
Setelah berhasil menemukan satu orang yang bersedia membantu, awalnya Gauri cukup senang. Namun lama kelamaan Gauri gemas sendiri dengan cara bekerja anak ini. Seperti orang yang pertama memegang laptop, pergerakannya sungguh lambat dan banyak kesalahan disana-sini. Gauri yang menyadari itu segera mengucapkan terima kasih dan meminta teman sesama anggota BEM nya itu untuk berhenti membantunya. "Udah segini aja ya gapapa gue bisa lanjutin sendiri, lo mending bantu yang lain aja kali-kali ada yang butuh bantuan," ucap Gauri yang mencoba mengusirnya dengan cara halus.
Tidak terasa hari sudah menjelang malam, beberapa anggota yang lain ada yang sudah pamit pulang duluan. Sedangkan Gauri masih berkutat didepan laptopnya sambil memicingkan matanya yang mulai lelah menatap layar laptop. Meski sudah sekuat tenaga untuk tetap fokus, mata Gauri yang lelah ditambah mengantuk hampir saja mengalahkannya.
Tanpa dirinya sadari matanya tertutup secara tiba-tiba dan kepalanya hampir membentur keyboard laptopnya. Untung saja ada Satrio yang menahan kepala Gauri dengan tangannya. Gauri yang kaget tiba-tiba membuka matanya dan melihat ternyata ada Satrio disampingnya. "Kak Satrio? kapan datengnya?" tanya Gauri yang masih belum sadar betul. Satrio tertawa melihat tingkah laku Gauri, "Baru aja beres tadi terus liat dari bawah lampu di sekre masih nyala jadi gue kesini."
Gauri akhirnya memutuskan untuk pulang dan sedikit buru-buru karena mengejar bis terakhir. "Yaudah deh, Gauri duluan Kak," pamit Gauri kepada Satrio yang sudah mengganti bajunya lebih santai. Ruangan sekre bagi Satrio sudah sebagai rumah keduanya, dirinya terkadang menyimpan bau bersih disana jika harus tiba-tiba menginap. "Iya udah sana entar ketinggalan bis," ucap Satrio melambaikan tangan kepada Gauri.
Caraka sudah berhasil mendapatkan tiket ke Sydney yang rencananya untuk lusa. Caraka akan berangkat sendiri karena Fely ada urusan dengan teman-temannya sedangkan Bimo diminta Surya menemaninya ke Surabaya untuk rapat direksi. Terkadang Caraka takjub dengan kesibukan orang-orang disekitarnya. Setelah mengundurkan diri sebagai atlit, Caraka banyak merasakan kalau mungkin ini yang dirasakan orang-orang tekdekatnya ketika Caraka hanya sibuk latihan tanpa ada waktu untuk mereka.
Semua proses pendaftaran S2 dirinya di University of Sydney. Caraka akan mengambil master bisnis disana tepatnya internasional bisnis. Caraka berencana akan mengikuti jejak kakeknya dan nantinya akan menggantikannya mengurus perusahaan. Nantinya Caraka berharap selama di Sydney dirinya sudah bisa memegang beberapa projek di perusahaan kakeknya itu seperti Bimo.
Bahkan sampai Caraka kembali lagi ke Sydney baik Bagas maupun Gauri tidak ada yang tahu kalau dirinya sempat kembali ke Jakarta. Lagipula Caraka memang berencana untuk merahasiakannya. Hanya dosen pembimbingnya dan pelatihnya yang mengetahui Caraka sempat ke Jakarta, selain dari keluarganya. Selama di Jakarta, Caraka masih belum berani berkeliling seorang sendiri. Dirinya masih cukup trauma dengan sorotan kamera di kejadian waktu itu.
__ADS_1
Meskipun begitu sebelum kembali lagi ke Sydney, Caraka ingin melihat keadaan ibunya Mike. Cukup lama dirinya tidak saling berkomunikasi dengannya. Caraka akhirnya pergi dengan mobilnya menuju rumah ibunya Mike. Menurut Bimo ibunya Mike belum pindah semenjak terakhir kali mereka kesana. Sebelum kesana Caraka mampir membeli beberapa buah dan kue-kue. Selama ini ibunya Mike masih perlu mengkonsumsi obat-obatan untuk mengontrol kondisinya.
Obat-obatan itu sengaja disiapkan oleh Caraka. Dulu tepat setelah kematian Mike, Caraka memutuskan untuk menjadi wali bagi ibunya Mike. Sehingga jika ada kebutuhan obat-obatan atau persetujuan rumah sakit mereka akan menghubungi Caraka. Semua itu dilakukan sebagai bentuk tanggung jawabnya kepada ibu dari sahabatnya. Tetapi tentu saja semuanya dirahasiakan dari orang-orang termasuk ibunya Mike sendiri. Yang tahu ini hanya dirinya dan Bimo yang selama ini dititipi ibunya Mike selama Caraka di Sydney.
Caraka sudah sampai di lingkungan tempat tinggal ibunya Mike. Dirinya tidak berani berjalan lebih dekat karena takut ketahuan oleh ibunya Mike. Caraka hanya diam didalam mobil mengamati dari kejauhan sambil menunggu kedatangan Bimo. Dirinya sengaja menghubungi Bimo karena harus memberikan buah-bahan dan kue-kue ini kepada ibunya Mike. Tidak lama Bimo datang sambil mengetuk kaca mobil Caraka.
Caraka menurunkan jendela mobilnya perlahan, "Kenapa ga lo aja sih yang ngasihin kesana?" tanya Bimo kesal karena dirinya juga banyak yang harus dikerjakan dikantor.
"Gabisa gue, entar ketahuan sama ibunya Mike," ucap Caraka.
"Ya terus kalo ketahuan kenapa? ibunya Mike kan udah kenal lo," jawab Bimo tidak habis pikir dengan sahabatnya itu.
"Setelah berita penyebab kematian Mike itu karena gue, gue belum pernah nemuin ibunya Mike," ucap Caraka menundukkan kepalanya.
Kasihan melihat Caraka, mau tidak mau Bimo menuruti keinginan sahabatnya itu. "Yaudah sini mana yang mau dikasihinnya, gue ga banyak waktu loh Caraka Adhitama."
Bimo menuruti keinginan Caraka dan berjalan mendekati tempat tinggal ibunya Mike. Dari luar rumah itu tampak sepi dan seperti tidak ada penghuninya. Sehingga Bimo harus beberapa kali memencet bel dari luar. Setelah beberapa saat akhirnya ibunya Mike keluar dengan berjalan perlahan. Ibunya Mike mengenali Bimo, karena Bimo beberapa kali mampir untuk melihat keadaannya. Selama ini Bimo selalu berkata kalau dirinya dari yayasan pemerintah yang membantu orang-orang seperti ibunya Mike itu.
__ADS_1