
Bimo membunyikan klakson dari arah parkiran untuk memberitahu Caraka sudah waktunya mereka pergi. Seharian itu Bimo dan Caraka berada di kantor milik Bimo di lantai empat gedung yang sama dengan cafe milik Aura. Banyak yang mereka bahas selama disana, tetapi sama sekali tidak bertemu dengan Gauri yang pagi hari tadi ada di cafe lantai bawah.
Kakek Caraka memintanya untuk menemuinya di kantor ada hal yang perlu dibicarakan. Karena itu Bimo akan mengantar Caraka ke kantor. Kebetulan Bimo juga perlu menyerahkan beberapa dokumen di kantor. Caraka bertanya kepada Bimo apa dia kenal dengan pemilik cafe di lantai bawah. Bimo mungkin memang langganan disana tetapi tidak pernah sempat untuk mengobrol dengan Aura.
"Tapi katanya lo pernah liat Gauri di cafe itu?" tanya Caraka penasaran.
"Iya sih, kayaknya yang punya cafe itu temenan sama Gauri soalnya gue sering liat juga dia disana," jawab Bimo yang memang sering melihat Gauri tetapi tidak pernah berpapasan langsung.
"Kalo sampe dia liat gue ada disana gimana ya?" gumam Caraka dengan dirinya sendiri.
Sesampainya di kantor Bimo menyuruh Caraka duluan saja turun karena dirinya akan memarkirkan mobilnya dulu sebentar. Lagipula Caraka sudah ditunggu oleh Surya sejak tadi, jika segera kesana kakeknya akan marah besar. Caraka kemudian turun dan langsung menuju ruangan kakeknya. Sementara Bimo ke tempat parkir untuk memarkirkan mobilnya di tempat biasanya.
Caraka diantar asisten kakeknya masuk ke ruangan Surya yang kebetulan sedang tidak sibuk saat itu. Semenjak sampai di Jakarta, Caraka memang belum sempat pulang. Dirinya menginap di rumah Bimo lalu melakukan beberapa hal lain. "Begitu pulang bukannya ke rumah malah kelayapan kamu," tegur Surya kepada Caraka. Mendengar omelan kakeknya Caraka hanya tersenyum.
"Jadi ada apa kakek panggil aku kesini?" tanya Caraka karena tidak biasa kakeknya memanggilnya untuk bertemu di kantor.
"Duduk dulu, nanti kakek jelasin." Surya berdiri dari kursinya dan pindah untuk duduk didekat Caraka.
"Gimana tapi kondisi kamu udah baik sekarang?" tanya Surya.
__ADS_1
Caraka memutar putar tubuhnya menunjukan dirinya baik-baik saja sekarang, "Selama bisa di kontrol baik kok."
Surya kemudian mulai menjelaskan maksudnya memanggil Caraka ke kantornya. Sebelumnya Caraka memang sudah tahu jika di masa depan dirinya lah yang akan mengambil alih perusahaan kakeknya. Karena itu bahkan di masanya masih menjadi atlit, berbeda dengan atlit lain yang mengambil jurusan olahraga, Caraka justru mengambil jurusan manajemen bisnis.
Kakeknya ingin Caraka sedikit demi sedikit belajar mengelola sesuatu dan memiliki tanggung jawab akan sesuatu. Sehingga Surya meminta Caraka mengelola beberapa gedung milik kakeknya. Salah satunya adalah gedung yang sekarang ditempati Bimo membuka konsultasi hukum miliknya juga cafe milik Aura. Sebelumnya Bimo yang secara tidak langsung mengelola gedung itu selama Caraka di Sydney.
Aura bahkan tidak menyadari itu karena selama ini dirinya membayar sewa melalui salah satu karyawan Bimo yang bekerja bersamanya di konsultasi hukumnya. Caraka cukup kaget karena dirinya tidak familiar dengan pengelolaan gedung. Namun, Surya mencoba meyakinkan cucunya itu jika itu bukanlah hal yang sulit. "Bimo nanti yang bantu kamu, kakek sudah menunjuk dia secara resmi menjadi asisten kamu," ucap Surya.
Caraka tidak bisa menolak karena sudah berjanji akan menuruti kemauan kakeknya. Sehingga mau tidak mau dirinya menerima tawaran tersebut. Total Caraka akan mengelola tiga gdeung milik kakeknya yang saat ini disewakan menjadi beberapa kantor di tengah Kota Jakarta. Caraka pun menemui Bimo di ruangannya berniat berkeluh kesah tentang hal ini.
"Bim ... sibuk?" tanya Caraka sambil mengintip dari balik pintu ruangan Bimo.
Caraka lalu masuk sembari mengomel karena kakeknya, hal ini hanya bisa dilakukan Caraka kepada Bimo, "Gue diminta jadi pengelola tiga gedung milik Pak Surya (sebutan Caraka kepada kakeknya saat dirinya kesal)."
"Termasuk yang di tempat gue juga kan?" tanya Bimo yang sebenarnya sudah tahu itu.
"Iya ... bentar, lo udah tau tapi ga bilang ke gue," lirik tajam Caraka pada Bimo.
Bimo mencoba menjelaskan kalau tugasnya sebenarnya tidak sulit, dirinya hanya perlu mengawasi penyewa di gedung-gedung tersebut membayar sewanya tepat waktu. Juga memastikan tidak melakukan kegiatan diluar perjanjian sewa gedung. Mengelola tiga gedung sekaligus memang akan cukup sulit, tetapi Bimo berjanjia akan membantu Caraka.
__ADS_1
Sementara di cafe Aura sudah ada Gauri dan Satrio yang sedang melakukan sesuatu disana. Keduanya tampak sibuk sehingga tidak menyadari keadaan sekitar. Rupanya mereka sedang membuat beberapa poster promosi untuk cafe ini. Satrio juga sudah memposting kegiatannya itu dan mendapat reaksi baik dari beberapa mahasiswanya. "Anak-anak ada kegiatan terus gue rekomendasiin cafe ini," ucap Satrio bangga dengan yang dilakukannya.
"Oke ... thank you." kata Gauri menanggapi tingkah Satrio. Gauri berusaha keras untuk mempertahankan cafe ini. Selain demi Aura juga demi dirinya, karena Gauri masih menggantungkan hidupnya dari bekerja di cafe ini. Aura berniat untuk pulang ke kampung halamannya jika tidak berhasil menyelamatkan cafe ini. Gauri yang mendengar itu semakin bersemangat meneyelamatkan cafe, jika tidak dirinya tidak tahu nanti harus tinggal dimana jika Aura pulang kampung.
Tidak lama anak-anak yang dimaksud Satrio tadi datang dengan membawa banyak pasukan. Jumlahnya cukup banyak karena mereka adalah mahasiswa anggota club belajar di kampus mereka. Satrio hari ini berhasil melakukan hal yang membanggakan, tetapi Gauri tidak mau memperlihatkan itu karena takut Satrio besar kepala nanti. Satu persatu para mahasiswa itu menyapa Satrio, disana terlihat reaksinya yang tengil sambil melirik Gauri.
"Liat tuh Kak, bangga banget dia," kesal Gauri yang sibuk membantu Aura menyiapkan pesanan dan tidak menanggapi lirikan Satrio.
"Hahaha ... udah biarin aja bagus malah karena Satrio hari ini tiba-tiba kita banyak pengunjung," ucap Aura yang senang dengan banyaknya mahasiswa yang datang. Karena dengan melihat keadaan cafe yang ramai dari luar juga bisa menarik pengunjung yang lain untuk mampir.
Karena sudah berjanji akan langsung pulang setelah urusannya selesai, Caraka pun langsung menaiki mobilnya yang ada di kantor menuju rumah. Fely bersama Mbak Mimin juga sudah menyiapkan banyak makanan kesukaan Caraka. Keduanya tidak sabar menunggu Caraka untuk pulang. Selama hampir empat tahun di Sydney Caraka tidak pernah satu kali pun pulang.
Tidak lama terdengar suara klakson di pintu gerbang yang menandakan kepulangan Caraka. Fely yang tidak sabar langsung menyusul ke pintu depan untuk menyambut cucu kesayangannya itu. Begitu keluar dari mobil, Fely langsung menyambut Caraka dengan tangan terbuka untuk memeluk Caraka. "Aduh ... Nenek kangen banget tau sama kamu," ucap Fely memeluk Caraka erat.
"Aku juga kangen banget sama Nenek," ucap Caraka mengeratkan pelukannya.
"Kok kurusan sih? disana makannya pasti ga bener ya? Bimo kalo kesana ga ngasih tahu pesen Nenek ke kamu?" tanya Fely sambil memegang kedua pipi Caraka.
"Satu satu Nek tanyanya, ayo masuk aja dingin disini," jawab Caraka menggandeng Neneknya.
__ADS_1
Caraka selalu menjadi lelaki paling romantis kepada dua orang, yaitu Neneknya dan Gauri. Kedua orang wanita yang paling disayanginya.