
Rumah Aura masih terlihat gelap dan tidak ada kehidupan. Rupanya mereka berdua masih tertidur lelap karena saat ini jam masih menunjukan pukul lima pagi. Tepat saat itu alarm ponsel Aura berbunyi, membangunkan pemiliknya yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut.
Tangan Aura bergerak meraih ponselnya untuk mematikan alarm, tetapi dikejutkan dengan telepon masuk dari Bagas. Aura langsung membuka matanya lebar tidak menyangka Bagas akan menelepon nya pagi-pagi seperti ini. "Halo," jawab Aura.
"Baru bangun?" tanya Bagas, suaranya terdengar segar tidak seperti seseorang yang bangun dari tidurnya.
"Iya ... kenapa pagi-pagi gini telepon?" tanya Aura heran.
"Ini kita on the way kerumah."
"Kita?" tanya Aura semakin heran.
Bagas menutup teleponnya sebelum menjawab pertanyaan dari Aura, meninggalkan Aura yang penasaran dengan maksud kata kita yang diucapkan Bagas tadi. Semakin membuatnya bingung karena suara Bagas terdengar segar. Bagas yang dirinya kenal bukan orang yang bangun dipagi hari.
Mendengar seseorang mengobrol dibawah, ternyata membangunkan Gauri. Didalam kegelapan kamarnya Gauri mencoba mencari ponselnya untuk mengecek pesan yang terakhir dirinya kirimkan ke Caraka. Terlalu sibuk semalaman membuat Caraka belum sempat membalas pesan dari Gauri.
"Ih belum dibales lagi." Gauri kesal dan segera bangun dari kasurnya.
Saat turun kebawa, Gauri mulai mencium harum masakan yang berasal dari dapur. Tidak biasanya jam segini Aura mulai memasak. Terutama setelah keduanya sibuk mengobrol hingga tengah malam dan tidur terlambat, biasanya Aura hanya akan membuat roti bakar yang mudah dibuat karena terlalu lelah di pagi harinya.
"Kok masak Kak? buat siapa?" tanya Gauri sembari berjalan turun dari tangga.
"Bagas ... tadi telepon katanya mau kesini, pasti numpang sarapan," jawab Aura sibuk menggunakan kedua tangannya membuat nasi goreng spesial.
Tidak lama terdengar suara mobil yang familiar di telinga keduanya. Gauri kemudian berlari kedepan untuk membukakan pagar yang masih terkunci. Alangkah kagetnya Gauri melihat Caraka juga ternyata ada disana. Senyumnya kini merekah seketika melihat kedatangan Caraka.
"Kok ga ngabarin mau kesini pagi-pagi?" tanya Gauri kepada mereka.
__ADS_1
"Gue udah telepon Aura kok ... " jawab Bagas langsung masuk kedalam.
Gauri menatap Caraka dengan senyuman yang kemudian dibalas dengan rangkulan hangat dari Caraka. Kebetulan Bimo tidak ikut dengan mereka karena ada sesuatu yang harus diurus olehnya. Didalam Bagas sudah duduk rapih di meja makan menunggu Aura menyelesaikan nasi goreng spesialnya.
Malu dengan keadaannya saat ini, Gauri kemudian bergegas ke atas untuk mandi sembari menunggu Aura selesai memasak. Seperti layaknya rumah sendiri Bagas dengan santai mengambil minum dan tidak lupa mengambilkannya untuk Caraka.
"Udah kayak rumah sendiri aja lo," ujar Caraka menerima gelas berisi air miliknya.
"Santai Ka, nantinya ini jadi rumah masa depan gue sama Aura," ucap Bagas percaya diri.
Aura yang mendengarnya hanya tersenyum sendiri malu dengan apa yang dikatakan Bagas. Hubungan mereka memang belum lama, tetapi Bagas selalu menunjukan keseriusannya kepada Aura.
Caraka memandang mereka sinis kemudian memalingkan pandangannya ke arah tangga menunggu Gauri segera turun. Sedari tadi dirinya merasa seperti nyamuk diantara dua orang yang sedang kasmaran ini. Caraka merindukan Gauri yang baru saja dilihatnya sepuluh menit lalu.
Gauri pun akhirnya muncul, kini dengan wajah yang lebih segar. Mereka pun berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Layaknya keluarga mereka saling melengkapi dan melindungi satu sama lain. Tidak ada yang mengetahui apa yang telah Caraka dan Bagas lalui semalam.
Gauri bahkan tidak banyak bertanya mengenai telepon dan pesannya semalam yang tidak kunjung di respon oleh Caraka. Gauri percaya jika Caraka merasa ini hal yang perlu dirinya ketahui, Caraka pasti akan bercerita padanya.
"Aku pagi ini ga ke cafe, ada urusan di kampus mau ketemu dosen," jelas Gauri.
Bagas menertawakan Caraka, bisa-bisanya dia berkata akan mengantar Gauri sementara mobilnya dibawa Bimo tadi pagi.
"Ngaco lo Ka, mobil kan dibawa Bimo ... lo kesini kan bareng gue."
"Udah semuanya gue anter aja ya," lanjut Bagas sembari tertawa meledek Caraka yang tidak menyadari mobilnya sudah dibawa Bimo.
Setelah menurunkan Aura di cafe dan Gauri di kampusnya, kini Bagas hanya berdua dengan Caraka. Bagas kemudian meminta saran kepada Caraka bagaimana cara menyatakan niat baiknya kepada Aura. Caraka tidak mengerti dengan yang dikatakan Bagas.
__ADS_1
"Niat baik? maksud lo apa?" tanya Caraka tidak langsung menangkap apa yang dimaksud Bagas.
"Iya ... gue ngerasa kalo Aura adalah orang yang gue cari selama ini," jawab Bagas.
"Gue mau ngelamar dia," lanjutnya.
Caraka yang sedang menyetir kemudian kaget dan langsung memberhentikan mobil Bagas ke pinggir jalan. Caraka tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut sahabatnya. Bagas yang selama ini terkenal tidak pernah serius terhadap wanita, akhirnya menemukan pelabuhannya.
"Jangan main-main lo," ancam Caraka.
Sahabatnya yang terkenal playboy ini memperlihatkan keseriusannya kepada Caraka, "Gue serius Ka, ga main-main nih."
"Baru ngelamar doang kan, nikahnya ga boleh ngeduluin gue pokoknya," kesal Caraka.
Caraka juga rupanya sudah memiliki rencana ke arah yang serius dengan Gauri. Caraka berniat mengajak kakek dan neneknya untuk menemui orangtua Gauri yang kini tinggal di luar kota. Mendengar Bagas akan melamar Aura, membuat Caraka berfikir harus bergerak lebih cepat.
"Ya, gue gatau sih masalah itu ... makanya lo juga jangan kebanyakan mikir sama Gauri, langsung aja," ujar Bagas.
"Gue sebagai kakak sepupunya udah restuin lo berdua." Bagas memegang pundak Caraka erat.
Rupanya di kampusnya sedang ada acara penerimaan anggota baru BEM. Gauri kembali mengingat masa-masa itu. Masa saat dirinya pertama kali bertemu dengan Satrio. Bagaimana Gauri berfikir kalau Satrio adalah senior yang sombong dan narsis.
Ternyata Satrio lah orang yang selalu ada disampingnya dan mendukung apapun yang dilakukan Gauri disaat sulitnya. Gauri cukup merindukan Satrio. Kini Satrio lebih sibuk menjelang kepergiannya ke Amerika. Gauri hanya bisa bertemu dengannya di kampus, itu pun jika Satrio ada jadwal mengajar.
Gauri pun coba-coba pergi ke aula untuk melihat anggota BEM yang sekarang dan beberapa mahasiswa baru di kampusnya. Gauri duduk di salah satu kursi paling atas di aula pertemuan kampusnya. Tidak lama seorang laki-laki yang dikenalinya naik ke atas panggung.
Dia adalah Satrio. Ketua BEM legendaris karena telah berhasil membawa BEM kampusnya banyak dikenal tidak hanya oleh kampus lain, melainkan institusi pemerintah terkait. Satrio memberi beberapa kata-kata untuk menyemangati para mahasiswa baru, terutama yang tertarik membagi waktunya demi kebaikan kampus dan bergabung di BEM.
__ADS_1
Seisi aula kemudian bertepuk tangan termasuk Gauri dengan senyumnya yang merekah ke arah Satrio. Meskipun terlihat samar, tetapi Satrio tahu jika seseorang dengan senyuman manis itu adalah Gauri. Menyadari Satrio melihatnya, Gauri pun memberikan tanda dua jempol kepadanya.
"Keren banget lo Kak ... bahagia terus ya."