
Caraka kemudian memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan dirinya tidak berhenti memikirkan apa yang dilihatnya tadi. Perasaannya yakin kalau laki-laki itu memiliki perasaan lebih terhadap Gauri, karena sebagai sesama laki-laki Caraka tau betul bagaimana tatapan mata seorang lelaki yang menyukai perempuan didepannya. Tatapan itu yang Caraka lihat dari Satrio di depan halte bis tadi.
Gauri mungkin tidak menyadarinya, tetapi Caraka merasakan ada yang berbeda dari Satrio. "Apa bener kalo mereka pacaran ya?" Caraka terus saja memikirkan hal itu. Sesampainya dirumah ternyata sudah ada Bimo yang berniat menginap malam ini. Melihat gerak-gerik berbeda dari Caraka, Bimo langsung tahu kalau ada sesuatu yang dipikirkannya.
Bimo menyusul Caraka ke kamarnya untuk menanyakan hal itu. Baru saja masuk, Caraka langsung menceritakan semua yang dilihatnya dan apa yang dipikirkannya kepada Bimo. Bimo hanya mendengarkan Caraka dengan baik sambil mengambil posisi duduk karena ini tidak akan berakhir dengan cepat. "Terus lo maunya gimana Ka?" tanya Bimo sesaat setelah Caraka menyelesaikan ceritanya.
"Gue gatau ... tapi gue juga gabisa diem aja," cemburu Caraka kepada Satrio yang lebih dekat dengan Gauri sekarang.
Bimo hanya tertawa dengan puas melihat Caraka yang sedang cemburu, hatinya panas melihat interaksi antara Satrio dan Gauri. "Yaudah lo sekarang harus mulai bergerak dong Caraka ... " ucap Bimo kesal karena mekipun diliputi rasa cemburu masih saja tidak punya keberanian untuk mendatangi Gauri secara langsung.
Ditambah lagi sekarang Gauri tahu jika Caraka sudah pulang ke Jakarta. Tidak perlu ada yang disembunyikan lagi diantara mereka. Caraka hanya perlu memberanikan dirinya untuk mengahadapi Gauri secara langsung. Bahkan jika perlu kini giliran Caraka yang lebih aktif mendekati Gauri. "Udah ga usah banyak mikir, besok langsung coba dateng ke cafe," ucap Bimo tidak sabaran.
Sementara dirumah Aura, Gauri sedang sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya. Aura melihat Gauri yang pulang diantar oleh Satrio tadi menjadi penasaran dengan hubungan mereka, dan memutuskan bertanya langsung kepada Gauri, "Kamu sama Satrio hubungannya gimana sih, Ri?" tanya Aura yang membuat Gauri otomatis berhenti menatap laptopnya dan beralih menatap Aura.
"Gimana?" tanya Aura lagi.
__ADS_1
"Gimana apanya? hubungannya yang kayak biasanya aja ... " jawab Gauri kepada Aura.
"Soalnya kalian itu terlalu deket tau ga sih? bener kamu ga ada rasa apa-apa sama Satrio?" tanya Aura semakin penasaran.
"Ga ada rasa apa-apa, Kak Satrio itu udah Gauri anggep kakak sendiri soalnya selalu bantuin Gauri." pandangan matanya kembali ke depan laptop.
Aura tetap tidak merasa puas dengan jawaban Gauri karena dirinya pernah menanyakan hal yang sama kepada Satrio tetapi mendapat jawaban yang berbeda. Satrio jelas memiliki perasaan lebih dari teman apalagi hanya sebagai kakak terhadap Gauri. Semua bantuan dan perhatian yang diberikannya jelas bukan sekedar teman saja. Karena Aura tahu apa yang dirasakan Satrio, sehingga membuatnya penasaran dengan yang dirasakan Gauri.
Paginya Caraka masih duduk-duduk di taman belakang sambil memperhatikan neneknya mengurus beberapa tanaman favoritnya. Fely yang merasa risih dengan tatapan aneh Caraka akhirnya berjalan menghampirinya. "Kamu ga berangkat ke kantor?" tanya neneknya yang kemudian duduk disampingnya. Caraka hanya menggelengkan kepala sambil meminum kopinya.
"Iya habis ini berangkat kok," jawab Caraka.
Sejak semalaman dirinya masih belum juga membulatkan tekadnya untuk menghampiri Gauri secara langsung. Caraka beralasan tidak ada pembahasan yang bisa dibahas oleh mereka karena sudah terlalu lama tidak bertemu. Mekipun Bimo sudah mengomelinya semalaman karena berpikir begitu, Caraka tetap saja tidak punya keberanian untuk menemui Gauri.
Karena kesal dengan dirinya sendiri Caraka memutuskan berangkat ke kantor dan mencoba mengalihkan pikirannya. Tidak disangka dirinya bertemu Gauri yang sedang menunggu bis di halte yang tidak jauh dari rumah Aura. Caraka lalu memberhentikan mobilnya dan berpikir sebentar. Akhirnya dirinya memberanikan diri untuk menemui Gauri.
__ADS_1
Caraka memundurkan mobilnya dan berhenti tepat didepan Gauri. Gauri yang masih memainkan ponselnya tidak langsung menyadari mobil Caraka didepannya. Caraka lalu menurunkan kaca mobilnya dan menyapa Gauri. Gauri lalu kaget dengan apa yang dilihatnya dan hanya bisa terdiam melihat Caraka. "Ke kampus?" tanya Caraka dari dalam mobil.
Gauri tidak menjawab melainkan langsung berdiri untuk berjalan menjauh dari halte bis. Dalam hati Caraka merasakan ini tidak akan mudah, tetapi dirinya tidak akan menyerah dan akan terus berusaha mendapatkan Gauri kembali. Dari dalam mobil Caraka terus mengikuti Gauri, "Ri, please ada yang mau gue omongin," pinta Caraka kepada Gauri yang terus berjalan.
Untungnya bis yang ditunggu Gauri datang, tanpa melihat ke arah Caraka dirinya langsung menaiki bis itu. Seumur hidupnya Caraka tidak pernah memiliki sebuah inisiatif sendiri untuk mendekati seseorang. Sejak kecil hanya Gauri yang selalu memulai semuanya. Gauri yang selalu berinisiatif lebih dulu kepadanya. "Oke, ayo Caraka lo ga lakuin itu bukan gabisa ... itu karena lo gamau, lo pasti bisa Ka," gumam Caraka menyemangati dirinya sendiri.
Sedangkan didalam bis Gauri juga berbicara kepada dirinya sendiri, "Kenapa tiba-tiba ada Caraka sih." Gauri lalu memasang earphonenya dan mencoba melupakan yang terjadi tadi. Sepanjang jalan entah kenapa lagu yang terputar dari playlistnya semua berisi lagu yang mengingatkannya pada Caraka. Padahal Gauri sudah membulatkan tekadnya tidak akan dengan mudah luluh kepada Caraka.
Caraka harus mengakui kesalahannya dan menjelaskan semua padanya lebih dulu. Hal itu yang sekarang ada di pikiran Gauri. Alasan itu yang membuatnya tidak akan mudah begitu saja terhadap Caraka. Meskipun Gauri sendiri tidak yakin apa Caraka akan menyadari apa yang menyebabkan dirinya bersikap begitu kepada Caraka. "Dia kan dari dulu suka kurang peka, pasti ga akan sadar," ucap Gauri kesal.
Sesampainya di kantor, Caraka langsung mencari Bimo untuk meminta sebuah saran. Namun, ternyata hari ini Bimo mengambil cuti untuk mengunjungi makam ibunya karena hari ini tepat sepuluh tahun ibunya pergi meninggalkan Bimo dan ayahnya. Caraka merasa bersalah karena tidak mengingat itu, lalu mengubungi asistennya untuk mengirimkan karangan bunga kepada Bimo.
Karena Bimo tidak ada, Caraka pun memutuskan untuk mengerjakan pekerjaannya termasuk milik Bimo yang harus berkoordinasi dengannya. Caraka memfokuskan dirinya dengan pekerjaan agar tidak terus menerus memikirkan Gauri. Usahanya ternyata berhasil, tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul enam sore dan dirinya masih berada di ruangannya.
Beberapa karyawan yang lain sudah saling berpamitan untuk pulang, mereka juga sempat mengingatkan Caraka tetapi tidak sempat didengarnya. Hingga kini tinggal ada dirinya dan dua orang karyawannya yang juga sedang bersiap untuk pulang. Melihat itu dirinya pun segera membereskan pekerjaannya dan bersiap pulang. Ketika menatap layar komputer dan melihat bayangannya sendiri disana, Caraka hanya bisa tersenyum.
__ADS_1
Siapa yang sangka kalau kehidupannya sekarang menjadi seperti ini. Dahulu Caraka bermimpi menjadi pelatih renang setelah pensiun. Sayangnya Caraka harus mundur sebagai atlit renang karena sebuah alasan dan kejadian yang kurang baik, sehingga sulit untuknya bisa kembali ke dunia renang. "Bagas sekarang gimana ya kabarnya? Bagas juga dulu punya cita-cita yang sama kayak gue," ucap Caraka dalam kesendirian di ruangannya.