
Gauri kaget melihat seseorang yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya. Seseorang yang selalu dirinya khawatirkan. Gauri tidak menyangka akan bertemu dengan Caraka disana. Bahkan sampai tidak menyadari mobil Caraka yang terparkir tepat di barisan depan.
Sama hal nya dengan Gauri, Caraka juga tidak kalah kagetnya. Bagas tidak memberitahu nya kalau Gauri juga akan datang hari ini. Bagas yang memperhatikan mereka dari cctv hanya bisa senyum-senyum sambil melihat mereka berdua yang tampak terkejut satu sama lain.
Tempat latiha yang sepi sama sekali tidak ada orang membuat suasana diantara mereka menjadi sangat canggung. Tidak ada yang bisa memulai pembicaraan duluan. Gauri duduk di kursi yang berjarak dua kursi dari yang diduduki Caraka.
Caraka yang melihat itu masih merasakan Gauri sepertinya tidak ingin ada dirinya disana. "Mau ketemu sama Bagas ya?" ucap Caraka memberanikan diri membuka pembicaraan. Gauri hanya menganggur dan kembali membuka ponselnya.
"Sorry kalo ternyata malah ketemunya gue bukan Bagas," ucap Caraka perlahan.
"Lo juga bukannya mau ketemu Kak Bagas?" tanya Gauri, tetapi tidak berani memandang Caraka.
Caraka juga menjawabnya dengan anggukan pelan. Membuat Bagas yang melihatnya dari cctv menjadi kesal karena kecanggungan keduanya.
Gauri mulai memberanikan diri bertanya kemana perginya Caraka selama seminggu ini. Caraka yang mendengar itu sebenarnya senang karena Gauri masih memikirkannya. Tetapi dirinya harus tetap menjaga ekspresi wajahnya. "Gue ke Singapura, ada urusan bisnis sama kakek," jawab Caraka sedikit melirik Gauri, menunggu respon yang akan diberikannya.
Dalam hati Gauri merasa lega karena ternyata tidak ada hal buruk yang terjadi dengan Caraka. Kini keadaan kembali hening. Namun, lagi-lagi Gauri tidak bisa menghentikan sifat naturalnya yang cerewet dan banyak bertanya.
"Terus? ga ada yang mau disampein ke gue?" tanya Gauri mulai memborbardir Caraka.
__ADS_1
"Maaf ... maaf buat semua hal bodoh yang udah gue lakuin ke lo, maaf gue jadi lelaki pengecut dan malah menghindar dan sembunyi tanpa jelasin yang sebenernya ke lo," jelas Caraka yang kini melihat ke arah Gauri dengan tatapan dalam.
Gauri menyadari Caraka yang sedang menatapnya, tetapi dirinya masih bersikeras tidak mau menatapnya kembali. Gauri kembali bertanya sebenarnya kenapa Caraka memilih pergi tanpa memberitahunya saat itu. Awalnya Caraka sempat ingin berterus terang kepada Gauri tentang kondisinya, tetapi dirinya tahu betul kalau saat ini pun dirinya masih belum benar-benar bebas dari itu.
"Gue ... gue ga punya pilihan lain Ri, gue ga bisa bikin orang yang gue sayang tersakiti karena gue."
"Terutama lo Gauri, sakit rasanya liat lo nangis ketakutan saat itu ... bahkan lebih sakit saat tau alasan lo nangis itu karena kebodohan gue," jelas Caraka.
Gauri akhirnya menatap Caraka. Dirinya mendekat dan kini duduk tepat di sebelah Caraka, "Gue saat itu rela bantuin lo apapun resikonya, gue malah lebih sedih waktu liat lo pergi gitu aja rasanya kayak apa yang gue lakuin itu ga ada artinya buat lo," ucap Gauri, menatap mata Caraka dalam. Caraka hanya bisa terdiam mendengar perkataan Gauri saat itu.
Bagas yang sedari tadi terus memperhatikan keduanya melalui cctv, kini pergi sebentar ke kamar mandi. Bagas merasa keduanya akan aman dan tidak akan terjadi sesuatu. Tidak lama dari Bagas yang pergi dari ruang cctv, terjadi korslet listrik pada lampu di daerah kolam renang.
Gauri langsung berteriak kaget karena sekarang keadaan disana benar-benar gelap. Hanya ada samar-samar sinar dari celah langit-langit yang tidak cukup untuk mereka saat ini. Melihat Gauri yang ketakutan, Caraka mencoba melihat ke sekitar untuk mencari kotak kontrol listrik.
Tiba-tiba Gauri menarik bajunya karena tidak mau ditinggal saat keadaan gelap seperti ini. Sambil menurunkan tangan Gauri, Caraka menjelaskan akan lebih berbahaya jika pergi bersama-sama. Caraka merasa lebih tahu tempat itu jadi lebih baik untuknya mencarinya seorang diri.
Sesaat setelah Caraka pergi, terjadi lagi percikan yang terasa lebih dekat dengan tempat dimana Gauri duduk dan membuat dirinya bangun dan berlari mencari Caraka. Terlalu kaget membuat Gauri berlari juga tidak melihat ke sekitar, dan tiba-tiba dirinya jatuh kedalam kolam. Suara jatuhnya Gauri kedalam kolam langsung mengagetkan Caraka.
"Ah Kak Caraka!" teriak Gauri.
__ADS_1
"Tolong ... gue takut ... gue ... gue gabisa berenang," ucap Gauri terpotong-potong hampir tenggelam.
Caraka panik dan langsung menghempaskan dirinya masuk kedalam kolam untuk menyelamatkan Gauri. Karena jika semakin ketakutan akan semakin parah nantinya. Caraka yang tepat berada diseberang kolam berenang dengan cepat menghampiri Gauri.
Untung saja kemampuan Caraka masih belum sepenuhnya hilang, terutama ada dorongan demi menyelamatkan Gauri. Caraka mengabaikan gejalanya yang tiba-tiba muncul demi Gauri. Dengan sigap Caraka meraih lengan Gauri dan mengangkatnya ke permukaan. Caraka menenangkan Gauri yang masih ketakutan, "Tenang Ri, ini gue ... tenang ada gue, gausah takut."
Gauri memberanikan dirinya untuk membuka mata yang dari tadi terpejam. Melihat sudah ada Caraka didepan matanya membuatnya sedikit tenang. Caraka terus memegang tangan Gauri dengan erat sambil membawanya ke pinggir dan menaikkan tubuh Gauri keatas.
Bagas yang juga panik berlari dari kamar mandi menuju tempat Gauri dan Caraka tadi berada. Dirinya semakin panik karena sempat mendengar teriakan Gauri. Ketika sampai Bagas kembali berlari menghampiri keduanya yang kini basah kuyup.
Gauri kaget karena melihat Bagas ternyata ada disana juga. Gauri lalu memukul pelan lengan Bagas karena tidak kunjung datang saat mati lampu awal tadi. Dirinya juga kesal merasa dikerjai oleh Bagas. Bagas lalu memeluk Gauri yang menangis lalu meminta maaf.
Caraka juga lalu menaikkan tubuhnya ke atas, tetapi tiba-tiba dadanya terasa sesak. Sebenarnya semenjak mati lampu awal tadi perasaannya tidak enak, tetapi diabaikan olehnya. Caraka dengan tenang mencoba mengatur nafasnya yang semakin berat. Namun, tubuhnya tiba-tiba berat pandangannya berbayang dan lama-lama semakin gelap. Caraka pun ambruk tepat dibelakang Gauri.
Bagas yang melihat lebih dulu Caraka yang ambruk langsung kaget dan bergerak cepat menghalangi kepalanya terbentur lantai. Gauri juga tidak kalah kaget melihat Caraka yang tiba-tiba seperti itu. Gauri panik dan hanya bisa menangis sambil beberapa kali memanggil nama Caraka.
Bagas lalu segera menelepon rumah sakit terdekat untuk mengirim ambulans dengan cepat kesana. Bisa terdengar Caraka yang mulai kesulitan bernafas dan terus memegang dadanya. Gauri menangis melihat Caraka seperti itu, "Please Kak lo kenapa? please jangan tinggalin gue, bertahan ... " ucap Gauri terus menerus. Tidak lama terdengar suara sirine ambulans mendekat.
Caraka lalu segera diberi selang oksigen darurat dan dibawa masuk kedalam ambulans. Gauri dan Bagas juga ikut masuk kedalam ambulans untuk menemani Caraka. Caraka masih mengeggam tangan Gauri selama didalam ambulans. Tubuhnya yang basah kuyup terlihat menggigil. Gauri sungguh tidak tega melihat keadaan Caraka sekarang ini.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Caraka langsung dibawa masuk ke UGD. Bagas mencoba menelepon Bimo untuk memberitahu keadaan Caraka. Gauri terduduk lemas di kursi tunggu sambil terus melihat ke arah dibawanya Caraka. Bagas lalu menutupi tubuh Gauri yang juga basah kuyup dengan jaketnya. Gauri memang sudah berhenti menangis, tetapi sekarang hanya terdiam.