
Gauri memperhatikan Aura dan Bagas dengan tatapan penuh kecurigaan. Sesekali keduanya saling bertatapan dan melempar senyuman penuh arti. Bagas akhirnya menyadari tatapan Gauri terus terarah kepadanya dan Aura. "Kenapa? Ada yang aneh?" tanya Bagas pura-pura biasa saja.
"Gapapa ... tiba-tiba kangen Kak Caraka gue," ucap Gauri beranjak dari kursinya.
Bagas lalu melihat kearah Aura kemudian tertawa bersama. Sehari saja Bagas diberi waktu bersama dengan Aura, pertahanannya selama ini langsung goyah. Selama ini Bagas memangĀ tertarik kepada Aura, tetapi tidak pernah berani memperlihatkannya.
Hari ini Gauri diantar ke kampus oleh Bagas. Sekalian mengantar Aura juga ke cafe nya. Sesampainya di kampus, Gauri tidak langsung turun melainkan mengatakan beberapa hal kepada Bagas.
"Kalo emang lo bener serius sama Kak Aura, gue titip jangan sampe lo nyakitin dia ... awas lo ya," ancam Gauri jika berani menyakiti Aura yang sudah dianggapnya sebagai kakak perempuannya.
"Iya oke tenang aja, udah sana ke kampus katanya udah ditungguin dosen," ucap Bagas membantu Gauri melepaskan seatbeltnya.
Gauri pun keluar dari mobil Bagas dan tidak sengaja bertemu Mila didepan gerbang kampus. Mereka pun masuk bersama-sama.
Sepanjang jalan banyak yang mereka obrolkan. Mila selama ini sibuk karena jadwal kuliahnya lebih padat dari pada Gauri. Membuat mereka jadi jarang sekali bertemu. Gauri juga bercerita tentang bagaimana Caraka membuatnya menjadi wanita paling beruntung di dunia. Caraka yang sebelumnya tidak pernah Gauri bayangkan bisa se romantis dan perhatian itu.
Kemudian ternyata mereka tidak sengaja bertemu dengan Satrio didepan kantin. Satrio sedang mengobrol dengan temannya sesama asisten dosen. Mila lalu menghampiri Satrio dan menyapanya ramah, tetapi Gauri hanya tersenyum dengan raut wajah canggung.
Karena tidak tahu akan kapan lagi mereka bisa bertemu, Satrio memberanikan untuk mengajak Gauri bertemu setelah urusannya dengan dosen selesai. Jika tidak begitu, mereka akan terus saling menghindar dan canggung satu sama lainnya. Satrio tidak ingin hubungannya dengan Gauri menjadi seperti itu, begitu juga Gauri. Akhirnya Gauri pun menerima ajakan Satrio.
Setelah beberapa hari tidak masuk kantor, Caraka pun datang dengan wajah penuh senyuman dan menyapa ramah semua karyawan. Bimo yang diam-diam berjalan dibelakangnya, hanya bisa geleng-geleng kepala tidak percaya dengan yang dilihatnya. Caraka hari ini terlihat sangat ceria tidak seperti Caraka yang biasanya.
Bimo kemudian mengikuti Caraka masuk ke ruangannya. Terlalu bahagianya sampai tidak menyadari jika Bimo sedari tadi sudah duduk di kursi dalam ruangannya.
__ADS_1
"Sadar lo heh, kayak kesambet tau ga pagi-pagi udah riang begitu," heran Bimo menggoda perilaku Caraka.
"Lo dari kapan ada disini?" kaget Caraka baru menyadari sahabatnya itu sudah duduk disana.
"Dari tadi gue jalan dibelakang lo, kita naik pake lift yang sama aja pasti lo gatau kan?" ucap Bimo tidak habis pikir dengan Caraka hari ini.
Caraka lalu menceritakan apa yang dilakukannya dengan Gauri seharian kemarin. Caraka bahagia karena berhasil membuat Gauri bahagia, terlebih lagi Gauri bisa diterima dengan hangat oleh kakek dan neneknya. Caraka juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Bimo karena mau mengcover pekerjaannya kemarin.
Tiba-tiba masuk lah asisten Caraka yang datang untuk memberitahukan adanya rapat siang ini. Setelah bolos beberapa hari, kini Caraka mau tidak mau harus menyelesaikan semua tugasnya yang tertunda. Baru saja datang, dirinya sudah ditodong agenda rapat siang ini.
Satrio sudah menunggu di sebuah restoran tidak jauh dari kampus mereka. Dahulu mereka biasanya banyak menghabiskan waktu bersama anggota BEM yang lain ditempat itu. Tidak mau terlambat, Gauri sedikit berlari dari gerbang kampus menuju restoran itu.
Buru-buru masuk, ternyata Satrio sudah menunggu Gauri disana, "Udah lama Kak?" tanya Gauri sembari mengatur nafasnya.
"Sorry Kak gue telat ya? tadi tiba-tiba ada urusan sama dosen penguji." Gauri mengambil buku menu.
Satrio juga mengambil buku menu yang berada didepannya seraya berkata, "Gapapa ... santai aja." Suaranya hampir tidak terdengar karena terlalu berhati-hati.
Meskipun hampir tidak terdengar, Gauri merasakan Satrio kini lebih berhati-hati kepadanya. Mereka memutuskan makan siang dahulu kemudian membicarakan hal yang ingin diluruskan bersama. Selama menunggu makanan datang udara disana terasa berat, keduanya sangat canggung dan tidak ada yang berkata apapun.
Setelah makan, Gauri lah yang memulai pembicaraan lebih dulu. Gauri merasa jika dirinya yang harus memulai ini, karena menurutnya dirinya yang membuat Satrio menjadi menjauhinya seperti ini. Saat itu Gauri juga merasa frustrasi karena Caraka yang tidak kunjung ada kabarnya. Gauri takut jika Caraka akan pergi menghilang lagi. Sehingga tidak memikirkan perasaan Satrio saat itu.
"Maafin gue ya Kak." Kalimat pertama yang Gauri ucapkan setelah keheningan antara keduanya.
__ADS_1
"Gue yang harusnya minta maaf Ri," ucap Satrio mencoba menghindari tatapan Gauri kepadanya.
"Liat gue Kak ... gue tau ga seharusnya gue kayak gitu ke lo," ucap Gauri menyesal.
Satrio akhirnya memberanikan mentapa Gauri, "Gue yang salah karena meskipun gue udah tau batasannya, gue masih maksain perasaan gue ke lo."
Gauri harus mengakui jika Satrio adalah orang yang sangat baik. Satrio pantas mendapatkan seseorang yang sungguh-sungguh mencintai dan menyayanginya. Seseorang yang bisa menerima semua kebaikannya. Gauri yang naif merasakan semua perhatian yang diberikan Satrio sebagai bentuk perhatian seorang kakak kepada adiknya.
"Sekarang gue udah relain deh lo sama cowo itu ... " ucap Satrio dengan gaya jahilnya.
Seraya tersenyum Gauri merasa sedikit lega jika Satrio bisa menerima itu, "Iya ... makasih ya."
"Gue bakal terus dukung lo dari belakang, kalo ada apa-apa diantara kalian lo tau kan harus kemana?" tanya Satrio serius.
"Ke parkiran kampus ... ambil helm gue terus minta lo ajak gue keliling lagi biar gue puas nangisnya," ucap Gauri tersenyum lega.
Rasanya lega setelah mengobrol langsung dengan Satrio. Kini mereka berdua sudah berjanji tidak akan saling menghindar lagi. Meskipun akan cukup sulit bagi Satrio melupakan perasaannya terhadap Gauri, tetapi keputusan yang dibuatnya untuk mendukung mereka adalah hal yang sangat dewasa. Satrio melakukan itu demi hubungan pertemanannya dengan Gauri.
Sementara di kantornya Caraka sedang berdebat serius dengan salah satu karyawan mengenai hasil laporan kerja mereka yang tidak sesuai dengan keinginannya. Pembawaan disiplin yang sudah dimilikinya sejak menjadi atlit masih ada dalam dirinya. Caraka tidak menyukai jika ada karyawan yang mengerjakan pekerjaannya setengah-setengah.
Selain pekerjaannya yang kurang memuaskan karyawan itu juga sampai membawa hubungan Caraka dengan kakek nya di perusahaan itu. Karyawan itu mengatakan jika bukan karena kakek nya, Caraka tidak akan bisa mendapatkan tempat di perusahaan itu. Caraka yang biasanya tenang hari ini tidak bisa menahan emosinya lagi.
Bimo akhirnya menghentikan perdebatan mereka. Caraka masih bersikap profesional kemudian menurunkan emosinya dan melanjutkan rapat mereka. Meskipun begitu karyawan itu tidak bisa mengelak dari tatapan dingin seorang Caraka Adhitama. Tatapan yang sama sekali tidak mereka harapkan, termasuk Bimo.
__ADS_1